---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Anda tahu bahwa yang paling berharga dalam hidup ini selain duit adalah kebebasan , artinya kita punya waktu untuk diri sendiri, tidak dihabiskan misalnya untuk bekerja 8 jam sehari. Duduk di kantor dan bertemu orang yang sama itu itu juga bertahun tahun dalam ruangan yang sama.Mendengarkan gosip basi dan meledek boss kita yang dablek dan bertampang sepahit kopi tubruk tanpa gula terutama di bulan tua ketika dompet kita begitu cekak,badan begitu penat dan rutinitas hidup yang monoton membuat kita berkhayal yang aneh aneh seperti menang lotto, menemukan botol Jin (O my Master, I will grant you three wishes ..) ,Ditaksir perawan Menteng atau Pondok Indah, di kejar tante girang yang duitnya melimpah. Atau diganduringi seorang homo bekas mentri yang kekayaan hasil nyabet orang miskinnya bakalan dibagi berdua dengan anda asal mau jadi permanen geplakan yg siap pakai.. Saya menulis ini dalam keadaan demam. Sambil menghisap thermometer , badan saya terasa gamang. Opss.. 100 farenheit lebih ini demam. Kata orang high fever seperti ini biasanya terjadi saat peralihan musim sedang berada dipuncak extrim. Tapi saya kira saya demam lantaran sedang bosan... Ya seperti anda, saya juga bosan dengan pekerjaan. Capek harus bangun pagi ( sejak saya pindah shift ) Capek harus memaksakan diri ke kamar mandi setiap jam 5 30 subuh hari, Bosan harus nyetir melewati jalan yang sama setiap hari untuk bertemu dengan orang yang sama. Seperti seorang pelaut yang terapung apung dalam kapal yang berlayar berbulan bulan, saya merasakan semua hari tidak ada bedanya, seakan hidup itu adalah sebuah cerita yang sudah tidak menarik lagi, saya kehilangan misteri.. Barangkali karena hidup itu butuh varian. Dan barangkali karena kita ini pada dasarnya adalah para petualang yang "terperangkap dalam pekerjaan " makanya kita bosan.. Okelah saya harus lebih realistis, Bekerja itu adalah bagian dari hidup. Tanggung jawab manusia pada dirinya atau keluarganya adalah memang bagian dari tradisi. Kita mencari duit untuk sekedar bertahan atau meneruskan kehidupan. Tapi apapun namanya bagi manusia pecinta freedom, pekerjaan adalah siksaan, Makanya saya sering merasa seperti berada dalam penjara walaupun sebenarnya di kantor masih bisa melihat Tammy yg seksi berlenggok menggetarkan setiap kali berjalan ke rest room. Walaupun saya masih bisa mendengarkan "Field of Gold "nya Sting atau " Berceuse" nya Faure ,atau Piano Sonata NO 14 " Pathetique" Beethoven. Yang membuat saya makin pusing barangkali adalah saya kehilangan waktu untuk diri sendiri. Karena sepertiga hari saya habiskan untuk sebuah bisnis yang bukan milik saya. Ya setelah hidup ini sendiri begitu pendek, kemudian dipotong sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk kerja dan sepertiga untuk istirahat dan menekan knop remote control TV, atau buang air besar di wc, waktu untuk diri sendiri kemana? Memikirkan itu semua timbul sebuah kongklusi, bahwa hidup yang nikmat itu sebenarnya hidup yang bebas tanpa punya keterikatan tapi mapan. Lengkapnya adalah pengangguran yang berduit... Bayangkan, anda tidak bekerja buat orang lain, anda punya waktu untuk diri sendiri, anda bisa kemanapun pojok dimuka bumi semau kaki anda melangkah, setiap bertemu dengan orang anda bakalan dihargai ( Duit Rules The World ) setiap kali mobil anda diparkirin sama Valet Parking Attendant anda akan disenyumi. ( Duits Rules Any Valet Parking Attendant in the World )Setiap kali date dengan perempuan mata duitan anda bakalan disuguhi segala galanya ( Duit can buy me love ) dan ini yang penting. Anda adalah boss, anda adalah master, semua orang adalah slave yang bisa dibeli,Bahkan setelah bikin maksiatpun anda bisa naik haji untuk menghapus dosa dosa. Saya demam, badan saya menggigil terus menerus. Saya sadar tulisan ini cuma sebagai bahan pelampiasan. Karena saya adalah manusia yang masuk golongan melata dalam mengarungi hidup, jelas saya tidak punya pilihan. Tapi kebosanan dengan pekerjaan, membuat saya berpikir lain, kadang kadang saya ingin sekali menjadi satpam disini. Bukan, bukan satpam seperti di Indonesia yang mesti berdiri diterik matahari atau hansip yang kerjanya ronda keliling kampung untuk mengintai maling juga mengintai pengantin baru sedang indehoy di balik terali jendela. Tapi satpam dalam gedung, ya yang kerjanya cuma duduk sendirian menghadapi selusin layar monitor dari tengah malam sampai pagi. Satpam seperti ini kurang resiko kerja karena berada ditempat tertutup. Bila ada maling, satpam ini juga tidak harus menghadapi sang kriminal dengan adu jotos, tapi tinggal memencet tombol memanggil polisi. Ya, saya bercita cita jadi satpam. Walaupun gajinya cuma berkisar dari 7 dollar sampai 15 dollar sejam, tapi jelas saya punya waktu untuk membaca dan menulis... Jika saya satpam sekarang ini, saya pasti sudah namatin 23 buku baru yang saya beli 2 bulan belakangan ini. Juga menulis puluhan artikel dengan tata bahasa dan ketikan yang tidak salah salah, dan bahkan barangkali saya bisa menulis buku..( ini cuma cita cita ) WOW... Itulah makanya saya ngiri dengan si Kamal, Teman Arab Tanah Abang yang tinggal di LA ini dengar dengar sekarang telah menjadi satpam menggantikan roomatenya yang pulang ke Afrika. Dan saya makin ngiri ketika mendengar dia sebentar lagi akan membeli note book computer. Sial..itu cita cita saya... Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 May 1999 jam 03:25:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
