---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk UCAPAN WIRANTO DAPAT DIPERCAYA? Oleh: Sulangkang Suwalu Ada orang yang sesuai kata dengan perbuatannya. Apa yang diucapkannya, itu lah yang diperbuatnya. Ia siap memikul semua risiko dari pendiriannya itu. Meskipun akibatnya cukup pahit bagi pribadinya. Misalnya Bung Karno. Bung Karno mengatakan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, jangan komunisto phobia. Sesuai dengan ucapannya itu, beliau dengan sepenuh daya berupaya menggalang persatuan yang berbasiskan Nasakom. Sikap beliau itu beliau pertahankan sampai akhir hayatnya, meskipun karena itu beliau meninggal dunia dalam masa tahanan kekuasaan Soeharto. Tapi ada pula orang yang tak sesuai ucapan dengan perbuatannya. Yang penting baginya kebahagian pribadinya. Sikap yang demikian menunjukkan salah satu ciri sikap munafik. Bagaimana dengan Wiranto? Apa kah ia akan bersikap jujur seperti Bung Karno, yaitu sesuai ucapan-dengan perbuatan, ataukah ia bersikap munafik, demi kepentingan dirinya sendiri? Mari kita ikuti Wiranto! ABRI MENINGGALKAN POLITIK PRAKTIS? Rakyat Merdeka (27/4) memberitakan bahwa inilah pengakuan jujur seorang jenderal, yang juga menjabat Menhankam/Panglima TNI, Wiranto, mengenai kelakuan ABRI di masa lalu. Tanpa tedeng aling-aling, Wiranto mengakui doss-dosa politik ABRI selama ini. Wiranto juga mengungkapkan pengakuan bahwa ABRI selama 32 tahun telah menyalahi dan mengingkari sumpahnya, karena mendukung satu kekuatan politik tertentu. Selama 32 tahun ABRI memperkuat single majority. Bahkan itu ditanamkan seolah-olah sudah menjadi bagian dari hidupnya. Padahal tidak mungkin ABRI memihak pada satu kekuatan sospol, karena itu mengingkari sumpahnya, kata Wiranto saat berbicara dalam rapat kerja gubernur seluruh Indonesia di gedung Depdagri, Jakarta, kemarin. Khusus tentang netralitas, Wiranto kembali menegaskan komitmen ABRI saat ini sudah meninggalkan panggung politik praktis. Kami sudah meninggalkan politik praktis, politik TNI adalah politik negara. Sumpah kami adalah bhayangkari negara dan bangsa Indonesia. Jadi kami setia pada negara. Dengan komitmen ABRI kembali ke fitrahnya, maka maknanya adalah tidak mungkin bagi ABRI memihak kepada satu komponen bangsa. Tidak mungkin ABRI memihak pada satu kekuatan sospol. Itu mengingkari sumpahnya. Bagi kami netralitas adalah pilihan yang tepat, sehingga menjamin pemilu jujur dan adil. Namun sayangnya, kata Wiranto masih banyak pihak memandang sebelah mata tekad netral ABRI. Karena itu ABRI menyadari bukan soal gampang meyakinkan tekad netral ABRI. Tidak gampang meyakinkan itu semua, karena selama 32 tahun ABRI memperkuat single majority. Ini adalah agenda berat. Tapi kami berjanji tekad kami ini tidak sebatas retorika politik, atau lips service atau rekayasa politik, tandas Wiranto seakan mengukuhkan janji kepada seluruh undangan yang hadir. Demikian Wiranto. Sampai dimana kebenaran janji Wiranto akan ditepatinya, melihat pengalaman selama ini? Untuk ini baiklah kita dengar apa yang dikatakan Dr Adnan Buyung Nasution. TENTARA MASIH SETENGAH HATI Untuk mengkaji: apakah benar-benar TNI telah meninggalkan politik praktis, ada baiknya dikemukakan disini pendapat Dr Adnan Buyung Nasution, yang dimuat dalam Media Dakwah (Dzulhijjah 1419/April 1999) yang berjudul "Indonesia Baru: Indonesia yang Demokratis". Menurut Adnan Buyung Nasution selama lebih 30 tahun pemerintahan Soeharto, tentara seolah-olah telah menjadi privelege tersendiri, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hal ini sebagai kompensasi (reward) dari kesediaan mereka dipergunakan Soeharto untuk mempertahankan kekuasannya. Sebagai alat penguasa, tentara selalu siap siaga mengintervensi berbagai institusi non negara, sekaligus menangkap dan memenjarakannya (punishment) para individu yang berani menyuarakan kepentingan politik lain, yang tidak sejalan dengan politik penguasa. Inilah yang menjadi penyebab lumpuh totalnya berbagai prasarana dan sarana demokratisasi selama pemerintahan Soeharto. Di era reformasi sekarang ini, sekalipun para petinggi tentara memperlihatkan komitmennya untuk mereformasi tentara, namun komitmen ini tampaknya masih harus diuji dalam kenyataan di lapangan. Saya khawatir pada tahapan sekarang, komitmen ini lebih merupakan reaksi sesaat atas begitu banyaknya kecaman bahkan hujatan masyarakat akibat terbongkarnya berbagai kasus pelanggaran hak azasi manusia oleh tentara semasa pemerintahan Soeharto. Sebagai bukti nyata tentara masih setengah hati dalam melakukan reformasi adalah kenistaan di dalam RUU Susunan dan Kedudukan MPR/DPR, tentara masih bersikukuh mempertahankan jatah kursi mereka di DPR tanpa melalui pemilu. Padahal jelas-jelas melanggar UUD 1945. Bahwa hal ini masih dipaksakan, menurut Prof Dr Ismail Suny, tidak lain lantaran Mendagrinya berasal dari tentara. Begitu pula halnya dengan masih dipertahankannya ketentuan mengenai azas tunggal di dalam RUU Partai Politik, dan terjadinya diskriminasi dalam pembebasan tahanan dan napol, serta terbitnya UU Unjuk Rasa, banyak pihak menduga sebagai policy petinggi-petinggi tentara yang digolkan melalui rapat Koordinasi politik keamanan (Rakor Polkam). Demikian Dr Adnan Buyung Nasution. Dengan memperhatikan secara seksama apa yang dikatakan Dr Adnan Buyung Nasution di atas, tentu dapat pula menjadi pertanyaan: apakah janji yang diucapkan Wiranto di atas hanya sebagai "reaksi sesaat" karena begitu banyaknya kecaman terhadap Wiranto belakangan ini? KESIMPULAN Sekiranya apa yang diucapkan Wiranto bahwa "ABRI telah meninggalkan politik praktis" bukan "reaksi sesaat", tetapi sungguh-sungguh jujur, tentu ucapannya itu akan disusul dengan penolakan atas diangkatnya ABRI menjadi anggota DPR mendatang. Masih duduknya ABRI dalam DPR, yang duduknya itu melalui pengangkatan, bukan Pemilu, bertentangan dengan UUD 1945, menunjukkan ABRI belum meninggalkan politik praktis. Waktulah nanti yang akan membuktikan: apa kah ucapan Wiranto bisa dipercayai, atau hanya ucapan seorang munafik?*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 May 1999 jam 20:04:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
