---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PRO-STATUS QUO AKAN MENANG?! Oleh: Sulangkang Suwalu Tiada suatu kelas yang berkuasa, yang akan menyerahkan kekuasaannya secara sukarela. Itu sudah menjadi pengetahuan umum. Begitu pula lah Soeharto yang lengser dari kekuasaannya pada 21 Mei 1998. Soeharto mundur bukan dengan sukarela, melainkan terpaksa karena kuatnya tekanan gerakan mahasiswa dan rakyat yang menuntutnya mundur dari kekuasaannya. Ketidak-sukarelaannya itu tercermin dari tidak dikembalikan mandatnya kepada MPR, melainkan kekuasaannya dioverkan pada BJ Habibie, yang anak didik politiknya lebih 20 tahun. Soeharto yakin Habibie akan menyelamatkannya, akan melanjutkan politik fasis yang telah dijalankannya selama 32 tahun berkuasa. Untuk itulah maka Habibie dengan berpura-pura sebagai kaum reformis membentuk kabinet "reformasi". Dengan bekerjasama dengan DPR warisan Soeharto, dipersiapkannyalah UU Pemilu, yang pada pokoknya tetap memberi peluang besar bagi kemenangan statusquo, kemenangan Soeharto secara tidak langsung. Tampaknya agar Soeharto jangan sampai berkuasa lagi (meskipun secara tidak langsung), maka Kemal Idris mengimbau parpol-parpol peserta pemilu agar dalam daftar caleg, tidak terdapat pendukung-pendukung Soeharto. Lebih lengkapnya inilah yang dikatakan Kemal Idris tersebut. DAFTAR CALEG HARUS BERSIH DARI PENDUKUNG SOEHARTO Pada saat parpol-parpol yang akan ikut pemilu sedang sibuk-sibuknya menyusun daftar caleg (calon legislatif) ada imbauan menarik dari Ketua Barisan Nasional (Barnas) letjen (Purn) Kemal Idris. Dia menyatakan hendaknya daftar caleg masing-masing parpol harus bersih dari pendukung Soeharto. "Saya imbau," kata Kemal Idris, "agar masing-masing parpol memperhatikan hal ini. Jangan masukkan pendukung Soeharto ke dalam daftar caleg. Karena itu hanya akan menimbulkan masalah. Mari bersama-sama membuat MPR mendatang bersih dari orang-orang Soeharto." Masalah ini penting, karena menyangkut masa depan Indonesia. Kita kan bersama-sama sedang mengusahakan terciptanya Indonesia baru. Mana itu mungkin terwujud, jika orang-orang Soeharto masih bercokol di MPR. Tidak mungkin. Mereka yang sudah kotor dengan lumpur KKN itu justru akan menghambat proses menuju Indonesia baru. Kami perlu mengingatkan hal ini, karena merasakan pengalaman yang luar biasa besarnya selama 52 tahun. Dia merasakan betapa sistem kotor yang diciptakan pemerintahan Soeharto sulit untuk diperbaiki kembali. Negara kita lebih bagus dipimpin orang-orang yang tidak pernah ikut Orba". Menurut Kemal Idris, wajah-wajah baru dalam pentas politik Indonesia relatif bersih dari korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). Soal kemampuan dan pengetahuan bisa diasah, tapi kalau soal mental sulit untuk diperbaiki. Mereka, khususnys pengikut Soeharto, itu sudah terbiasa dengan cara dan sistem Orde Baru. Sistem itu tak bisa dilanjutkan. Mereka yang tampil harus berjiwa reformasi. Yang lama tidak memiliki jiwa reformasi karena sudah kotor dengan cara-cara lama. Pokoknya MPR dan lembaga tinggi negara lainnya harus bersih dari orang-orsng semacam itu. Bagaimana kemungkinan hasil imbauan Kemal Idris tsb? Apakah ada yang memperhatikan dan memenuhi, atau ada pula yang akan mengejek Kemal Idris? Berbagai kemungkinan tentu saja terbuka. BUNUH DIRI BAGI PARPOL PENDUKUNG SOEHARTO Parpol-parpol peserta pemilu, yang jumlahnya 48 itu, dapat dibagi dalan 3 kelompok menghadapi imbauan Kemal Idris tsb. Masing-masing kelompok akan melihat dari segi kepentingan mereka masing-masing. Akan ada yang mendukung, yang setengah-setengah dan yang menentang. Marilah kita cermati pendirian kelompok-kelompok tersebut. Kelompok pertama ialah kelompok yang di masa Soeharto berkuasa saja sudah menuntut Soeharto turun, sudah menuntut dicabutnya lima UU Politik tahun 1985, menuntut dihapuskannya dwifungsi ABRI. Karena sikap politik mereka yang menentang Soeharto itu, mereka dituduh subversi dan dijebloskan ke dalam penjara. Mereka diantaranya ialah Budiman Sudjatmiko dengan Partai Rakyat Demokratis (PRD) dan Bintang Pamungkas dengan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI). Ada atau tidak adanya imbauan Kemal Idris, agar dalam daftar calegnya jangan terdapat pendukung Soeharto, sudah dengan sendirinya akan mereka lakukan. Caleg-calegnya tentu yang mendukung reformasi secara total. Imbauan Kemal Idris hanya akan memperkuat pendirian mereka saja. Kelompok kedua yaitu kelompok yang partai politiknya berdiri setelah Soeharto dipaksa turun oleh kekuatan mahasiswa dan rakyat, yang menuntut dilakukannya reformasi secara total. Diantaranya ialah PAN, PKB, PKP. Dalam batas tertentu termasuk PDI Perjuangan. Partai-partai itu tentu akan memperhatikan imbauan Kemal Idris itu. Tentu saja akan mereka pertimbangkan untung ruginya bagi masing-masing parpol yang bersangkutan, terutama bila sepenuhnya bekas pendukung Soeharto tidak dimasukkan dalam daftar caleg. Maklumlah, besar kemungkinan diantara anggotanya juga terdapat bekas pendukung Soeharto. Sikap mereka akan setengah-setengah. Kelompok ketiga ialah kelompok yang partai politiknya sudah merupakan kepanjangan tangan Soeharto di masa Soeharto berkuasa, seperti Golkar, PPP dan PDI (Budi Hardjono). Bagi PPP, PDI dan Golkar (yang kini menjadi partai) memenuhi imbauan Kemal Idris sama dengan bunuh diri. Misalnya bagi Hamzah Has, yang kini menjadi Ketua PPP. Belasan tahun ia mendukung Soeharto. Jika ia memenuhi imbauan Kemal Idris, sama dengan PPP tidak mencalonkan Hamzah Has. Padahal semua calegnya adalah bekas pendukung Soeharto. Hal ini juga berlaku bagi PBB, yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra. Meskipun PBB lahir sesudah Soeharto lengser. Yusril Ihza Mahendra sejak tahun 1995 adalah penulis pidato-pidato resmi Soeharto yang anti demokrasi. Dan kini ia dijadikan capres oleh PBB. Bila PBB memenuhi imbauan Kemal Idris maka Yusril tidak akan diajukan sebagai caleg, apalagi capres. Suatu hal yang mustahil. Dari kelompok ketiga ini tidak tertutup kemungkinan akan mengejek Kemal Idris. Sebab, mereka mengetahui, berkat Kemal Idris mengepung Istana Merdeka 11 Maret 1966 dengan pasukan "liarnya", Supersemar bisa lahir dan Supersemar itulah yang mempercepat Soeharto naik ke tangga kekuasaan. Jadi, Kemal Idris adalah pendukung Soeharto. Sekarang telah anti Soeharto. Tapi bisa saja mereka tidak mengejek Kemal Idris yang kini bersikap menentang kekuasaan Soeharto, bila mereka memperkirakan: Kemal Idris kini bersikap demikian untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Harap dimaklumi. Dengan demikian imbauan Kemal Idris arti praktisnya tidak banyak. Namun arti politiknya cukup besar. Kemal Idris telah menyadari betapa jahatnya politik anti demokrasi dari Soeharto selama 32 tahun. Ia tidak ingin terulang lagi. Ia ingin adanya Indonesia baru yang demokratis. Dengan demikian bagaimana kemungkinan hasil pemilu mendatang? Untuk ini baiklah kita simak apa yang dikatakan George Aditjondro. ADITJONDRO MERAMALKAN: STATUS QUO MENANG Menurut Rakyat Merdeka (25/4) George Aditjondro mengemukakan bahwa dirinya pesimistis kelompok reformis akan menang dalam pemilu mendatang ini. Menurut Aditjondro ada beberapa indikasi yang bisa dikemukakan mengapa dalam pemilu nanti tetap aliansi partai-partai pro-statusquo yang menang. Pertama, relung-relung politik bagi partisipasi rakyat dan partai-parta secara optimal, sedikit demi sedikit ditutup, oleh pemerintahan Habibie dan DPR yang masih berorientasi statusquo. Kedua, PKB, PAN dan PDI Perjuangan belum menunjukkan kedewasaan politik untuk berbicara soal aliansi membendung status quo. Dalam beberapa hal, isu yang mereka angkat sebenarnya cukup responsif dan progresif. Misalnya PAN yang berani membuka wacana federalisme, mendukung referendum dan membuka tabir rasialisme terhadap warga negara keturunan Tionghoa. Sayangnya, dalam beberapa hal tiga partai ini masih terlihat oportunis. Terkesan ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mereka terlihat masih memanfaatkan satu sama lain. Juga tokoh-tokoh ketiga partai ini tak bicara ketika partai yang menentang rezim Orde Baru diperlakukan secara diskriminatif. Yang tak kalah penting, George belum melihat adanya sistem yang membuat pemilu jurdil. Misalnya masih terbuka peluang praktek money politics yang dilakukan kroni Cendana. Kalau memang ketiga partai yang cukup besar tersebut commited terhadap pemilu jurdil, praktek-praktek seperti itu harus dibongkar. Demikian George Aditjondro. Kritikan Aditjondro kepada ketiga partai tersebut tepat sekali. Betapa tidak! Sekiranya mereka tidak "ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan" tentu mereka akan menolak UU Pemilu yang diciptakan DPR warisan Soeharto, karena UU Pemilu tersebut masih memberi hak kepada Presiden untuk mengangkat 38 orang dari ABRI untuk menjadi anggota DPR. Itu jelas tidak konstitusional. Semua anggota DPR harus dipilih. Tetapi karena yang penting bagi mereka bukan konstitusional atau tidaknya pengangkatan 38 ABRI di DPR, melainkan bagaimana bisa segera dapat berkuasa melalui Pemilu, maka hal itu tidak mereka tolak, mereka terima saja. Juga diskriminasi terhadap partainya kelas buruh, yaitu PKI, masih berjalan, seperti yang selama 32 tahun dilakukan Soeharto. Padahal Pancasila dan UUD 1945 menjamin hak hidupnya PKI. Hal itu dibuktikan baik ketika revolusi fisik (1945-1950), maupun masa demokrasi parlementer (1950-1959) di mana Mukaddimah UUD 1945 diover sepenuhnya menjadi Mukaddimah UUDS RI 1950, juga di masa Demokrasi Terpimpin. Karena itu harapan George Aditjondro supaya ketiga partai itu membongkar sistem pemilu yang tidak jurdil, yang diskriminatif, adalah benar sekali sebagai upaya untuk memenangkan kaum reformis dalam pemilu mendatang. Jika ketiga partai tsb tidak mau membongkarnya, jangan menyesal kemudian bila aliansi partai pro-statusquo menang dalam Pemilu mendatang. KESIMPULAN Menang atau kalah kaum reformis dalam Pemilu mendatang, banyak tergantung dari sikap partai politik reformis sendiri, terutama PAN, PKB, PDI Perjuangan. Apakah mereka berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945, atau mereka hanya memanfaatkan kesempatan supaya dapat berkuasa saja. Jika mereka hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, maka ramalan George Aditjondro tentu akan jadi kenyataan.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 May 1999 jam 20:16:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
