----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Ternyata PKI sekarang berusaha mencuci tangan dari dosa2 yang mereka
lakukan. Boengkoes, misalnya, eks tapol PKI yang baru dibebaskan ini
membantah telah menculik dan menyiksa Jenderal Ahmad Yani, padahal anak
jenderal Ahmad Yani sendiri menyaksikan kebiadaban Boengkoes ini ketika
menculik dan menyiksa Bapaknya.

Sekarang PKI berusaha menerbitkan buku putih untuk memutar-balikkan fakta
sejarah, seolah2 mereka tidak pernah membantai 7 jenderal serta ribuan warga
lainnya. Sementara eks PKI lainnya seperti Pramudya Ananta Toer sekarang
bergabung di PRD dan siap membina anak2 di PRD sebagai kader Neo PKI.

Soeharto memang biadab, tapi PKI juga sama biadabnya. Seorang penjahat,
tidak bisa menimpakan dosanya ke penjahat lainnya.

PKI memang telah bangkit kembali, meskipun dengan nama lain.

Berikut berita di Detik tentang kebohongan PKI.

Soeharto Bertemu Anak Ahmad Yani
"Pak Harto Bukan Pembunuh Yani "
Reporter: Budiono Darsono
detikcom, Jakarta -Putra-putri Jenderal Ahmad Yani, Rabu (05/05/1999)
bertemu Soeharto di Jl.Cendana No.8 Jakarta Pusat. Isu retaknya hubungan
keduanya dimentahkan. "Isu bahwa Pak Harto berencana bunuh bapak kami tak
beralasan,"kata Amelia Yani.

"Dulu koran-koran yang menulis, Soeharto memusuhi Yani. Padahal kami tidak
pernah mengatakan hal itu. Barangkali wartawan menganalisa dan membuat
kesimpulan sendiri,"tutur putri tertua A.Yani, Ruli Yani. Dan saat bertemu
dengan Soeharto itulah, kata Ruli, ia dan adik-adiknya menanyakan secara
langsung kejadiannya sebenarnya seperti apa.

"Dan ternyata dugaan kami tidak keliru. Tidak terjadi apa-apa di antara ayah
kami dengan Pak Harto,"lanjut Ruli. Saat peristiwa memilukan yang kemudian
dikenal dengan tragedi G 30 S PKI itu, Jenderal A Yani menjabat sebagai
Menpangad. Sedangkan Soeharto yang berpangkat Mayjen menjabat sebagai
Pangkostrad.

Hubungan keduanya, kata Ruli, baik-baik saja. "Bahkan kalau Bapak sedang ada
tugas lain, Pak Hartolah yang menggantikan posisi Bapak,"jelas Ruli. Apalagi
keduanya, kata Ruli, pernah sama-sama bertugas di Jawa Tengah. "Lantaran
keduanya sama-sama pendiam, seolah-olah hubungan keduanya tidak baik,"kata
Ruli.

Dengan latar belakang seperti itulah, Ruli pun kemudian menyatakan, bahwa
sangat tidak beralasan Soeharto merencanakan pembunuhan atasannya, dalam hal
itu A.Yani. "Isu yang menyatakan bahwa Pak Harto yang merencanakan dan
berusaha membunuh A.Yani sangat tidak beralasan,"tandas Ruli.

Dalam pertemuan yang disebutkan penuh dengan rasa kekeluargaan itu, juga
dibicarakan mengenai ulah sejumlah mantan Tapol dan Napol PKI yang setelah
keluar dibebaskan dari tahanan menyatakan dirinya tidak bersalah. "Pak Harto
minta agar masyarakat agar hati-hati, karena orang-orang PKI selalu berusaha
memutarbalikan fakta,"kata Ruli yang didampingi ketiga adik perempuannya.

Contoh pemutaranbalikan fakta itu kata Ruli, telah dilontarkan oleh
Boengkoes, tapol PKI yang belum lama ini dibebaskan. "Pak Boengkoes
mengatakan tidak ada penyiksaan. Bagaimana sih perasaannya,"tambah putri
A.Yani lainnya, Amelia Yani. "pada 1965 kami menyaksikan dengan mata kepala
sendiri proses penculikan dan penyiksaan terhadap bapak kami,"kata Amelia
dengan mata berkaca-kaca.

Amelia lantas menjelaskan, dalam pertemuan itu Soeharto juga menjelaskan
mengenai tokoh-tokoh PKI bersama-sama anteknya telah menyiksa para jenderal.
Dan Ruli pun menyatakan, jika saja mantan tapol PKI itu berniat meluruskan
sejarah, justru saat tokoh-tokoh seperti Soebandrio, Omar Dhani masih hidup.
"Sehingga tuntas dan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah,"tandas
Ruli.

Soeharto, kata Ruli, juga membeberkan bahwa Kolonel Latief tidak pernah
melaporkan adanya tentara tak dikenal yang akan melakukan pemberontakan. "Ya
kalau bapak-bapak ingin tanya sendiri, silakan langsung tanya ke Beliau. Pak
Harto bersedia memberikan penjelasan. Dari penjelasan Beliau itu memang
betul Latief datang ke RSPAD, tetapi tidak menemui Pak Harto. Dan Pak harto
juga tidak tahu ada peristiwa apa,"tutur Ruli menceritakan apa yang
dilontarkan Soeharto.

http://www.detik.com/berita/199905/19990505-1800.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 May 1999 jam 06:09:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke