---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Assalamu 'alaikum wr wb, Ternyata tentara TNI kita di masih tetap ada yang biadab. Kol Johny Wahab dgn tanpa peringatan memerintahkan prajuritnya untuk menembak rakyat Aceh yang tak bersenjata sehingga 28 orang tewas (hingga saat ini). Anehnya lagi rakyat yang sudah berlari2an tetap ditembaki, apa tidak biadab? Kasus ini ternyata dipicu oleh aparat TNI yang mencari satu anggotanya yang hilang. Ketika di suatu desa ada pengajian, mereka memukuli penduduk, hanya karena penduduk tsb berkata tidak tahu. Akhirnya terjadi saling membalas. Puncaknya adalah oknum tentara yang menimpuk batu ke kerumunan massa sehingga dibalas oleh massa. Dan aparat dengan enaknya menembakan senjata langsung tanpa peringatan. Tidak heran jika rakyat Aceh ingin merdeka. Saya saja, meski bukan orang Aceh, tapi pedih melihat kebiadaban tentara yang dipimpin Kol. Johny Wahab di sana. Sebaiknya pemerintah memecat Kol Johny Wahab sekarang juga dan mengganti dengan tentara yang mengerti adat istiadat rakyat Aceh. Korban Tewas Dilaporkan terus Bertambah LHOKSEUMAWE -- Korban tewas dalam kerusuhan antara warga sipil melawan pasukan TNI di Lhokseumawe, Aceh, pada Senin (3/5), terus bertambah. Kemarin, Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) Pemda Aceh Utara, TF Sani, melaporkan korban tewas yang semula diketahui 23, menjadi 28 orang. Data tambahan lima korban itu diketahui setelah pihak TPF Pemda Aceh Utara melakukan pengecekan di lokasi insiden. Disebutkan pula, kelima korban tewas tersebut juga akibat diterjang peluru, seperti yang dialami 23 korban lain yang diketahui sebelumnya. Tiga di antara korban terdapat seorang bocah berusia enam tahun dan seorang siswa sekolah. Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Munir SH, di Jakarta, kemarin, mengatakan jumlah korban tewas kemungkinan masih akan bertambah. Menurutnya, masih banyak korban luka serius dirawat di rumah sakit, dan ada pula korban tewas yang belum teridentifikasi atau tidak dibawa ke rumah sakit melainkan langsung dimakamkan oleh warga. ''Menurut laporan saksi kami di lapangan, ada indikasi beberapa korban tewas yang belum teridentifikasi dan juga tidak di bawa ke rumah sakit mencapai jumlah 65 orang,'' katanya, sambil menunjukkan daftar nama 23 korban tewas dengan usia bervariasi, mulai dari enam hingga 60 tahun. Dalam pandangan juru bicara DPP Partai Daulat Rakyat (PDR) Teuku Taufiqulhadi, meletusnya tragedi Lhokseumawe sangat menodai komitmen dan janji Presiden BJ Habibie dengan warga Aceh yang dicetuskan di Masjid Baiturrahman Banda Aceh beberapa waktu lalu. Ia melihat ada indikasi pihak keamanan tak serius menjabarkan dan membuktikan komitmen untuk mewujudkan kehidupan dan kesejahteraan rakyat Aceh yang lebih baik. ''Kami sangat mengecam tindakan militer di Aceh yang hingga kini tak bisa menyelesaikan kasus Aceh secara baik-baik dengan rakyat setempat, justru malah semakin memperburuk hubungannya dengan warga sekitar,'' kata Taifiqulhadi kepada wartawan di Jakarta, kemarin. Akibat lebih jauh kasus terakhir di Aceh itu, kata Ketua Departemen Humas PDR ini, dikhawatirkan akan semakin membuat rakyat Aceh tidak percaya pada pemerintah pusat dan hal itu akan sangat berpengaruh pada pelaksnaan Pemilu 7 Juni 1999 di provinsi tersebut. ''Upaya memboikot pemilu kini semakin intensif, apalagi berdasarkan data penduduk Aceh baru mencapai 40 persen yang mendaftarkan untuk ikut pemilu,'' paparnya. Kekhawatiran tentang mundurnya pemilu di Aceh akibat tragedi tersebut juga disuarakan Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu Pusat (Panwaslupus) Mulyana W Kusuma. Ia mengatakan situasi panas di Lhokseumawe bisa mempengaruhi pelaksanaan pemilu di daerah tersebut. ''Saat pendaftarannya saja sudah banyak mendapatkan hambatan. Ditambah lagi dengan situasi yang cukup mencekam seperti ini. Sedikit banyak, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pemilu nanti,'' ujarnya kepada wartawan, kemarin, di Jakarta. Menurutnya, jika ada gangguan keamanan di suatu tempat bisa dinilai mengganggu jalannya pemungutan suara pada 7 Juni mendatang, maka hari pencoblosan untuk daerah tersebut bisa digelar kembali setelah satu bulan kemudian. ''Ada klausul di undang-undang, jika karena kondisi memaksa sehingga tidak bisa dilakukan pemilu di suatu tempat, maka pemungutan suara bisa dilakukan kembali setelah satu bulan atau 30 hari dari hari H itu,'' katanya. Tapi, meski keamanan masih rawan di Aceh, Mendagri Syarwan Hamid menandaskan Pemilu 7 Juni tak akan ditunda di sana. ''Dasarnya, karena jumlah pemilih sudah mencapai sekitar 46 persen,'' katanya seusai acara konsultasi antara Presiden BJ Habibie dengan pimpinan MPR/DPR di Senayan, kemarin. Syarwan lebih jauh mengatakan bahwa kerusuhan di Lhokseumawe memang menjadi persoalan yang harus diselesaikan. Tapi, itu bukan berarti pemilu harus ditunda. ''Pendaftaraan pemilih di situ kan bisa saja diperpajang. Dan, KPU telah sepakat untuk memperpanjangnya,'' ujarnya. Menurut Mendagri, kerusuhan yang terus meuncul secara sporadis di Aceh adalah ulah sekelompok kecil yang sangat ekstrem. Itu tidak mencerminkan kondisi keseluruhan Aceh. Menyikapi tragedi tersebut, Menhankam/Panglima TNI Jenderal TNI Wiranto menyatakan menyesal. Dia berjanji akan segera mengusut dan menyelidiki insiden berdarah itu. Wiranto mengatakan pihaknya kini tengah mengusut dan menyelidiki latar belakang peristiwa tersebut serta tidak akan memberikan komentar terlebih dulu. ''Tentunya kita sekarang mengusut tuntas masalah itu. Dan, nanti setelah itu baru akan ada penjelasan resmi kepada Anda sekalian,'' katanya, seusai upacara serah terima jabatan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) dari Marsda TNI M Koesbeni kepada Marsda TNI Sonny Rizani di Terminal Haji Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, kemarin (4/5). Pada kesempatan terpisah, Kasum TNI Letjen TNI Sugiono menyatakan Gerakan Pengacau Liar (GPL) berada di balik peristiwa itu. Mereka, katanya, menggunakan massa sebagai perlindungan dalam menghadapi aparat keamanan. ''Mereka kan perlindungannya massa dan menembaki kita. Begitu kita balas, mereka telah punya perlindungan massa,'' kata Sugiono. Sementara Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Johny Wahab, yang dihubungi tadi malam masih menyatakan belum tahu siapa yang melakukan penembakan ke arah massa. ''Saya tadi siang menjenguk korban di rumah sakit. Waktu saya tanya dari mana arah tembakan, mereka mengaku tidak tahu. Jadi mereka (korban) sendiri bingung, siapa yang menembak mereka,'' ujarnya. Meski demikian, Johny mengakui aparatnya juga melakukan tembakan. Namun, katanya, itu sebagai upaya pembelaan diri karena aparat juga terkena tembakan dari arah massa. Johny menyatakan telah menemukan senjata jenis AK-47, yang sering digunakan anggota GPL. ''Bahkan, empat truk kami ditembaki sehingga ban dan kacanya pecah,'' tambahnya. Johny juga menyatakan situasi di lokasi kejadian kemarin sudah normal kembali. Meski berkurang intensitasnya, masyarakat melakukan kegiatan seperti biasa. Beberapa anggota masyarakat masih mengalami trauma dengan kejadian sehari sebelumnya. Versi Johny mirip dengan yang diutarakan Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen TNI AR Gaffar, yang mengatakan bahwa aparat terpaksa melepaskan tembakan untuk melindungi instalasi militer. Menurut Pangdam, apabila masyarakat -- yang diidentifikasi sebagai Gerakan Aceh Merdeka (GAM) beserta simpatisannya -- tidak dicegah masuk, akibatnya bisa lebih berbahaya lagi. Soalnya, kata dia, di Den Arhanud Rudal 001 itu tersimpan sejumlah rudal sebagai pengamanan negara dari serangan musuh. ''Masyarakat sudah dicegah masuk, namun tidak dihiraukan kendati telah diperingati dengan letusan senjata ke udara,'' paparnya. http://www.republika.co.id/9905/05/13325.htm ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 May 1999 jam 06:11:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
