----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

"DEBAT CAPRES" ATAU "MENGINCER MEGAWATI"

Oleh: M.D.KARTAPRAWIRA

     Mengikuti masalah perdebatan capres di media cetak maupun di media
elektronika sesungguhnya sudah jelas duduk-letaknya: mengapa Megawati tidak
ikut dalam debat capres yang diprakarsai oleh para mahasiswa. Dan dengan
demikian kalau orang tidak mempunyai tendensi untuk kepentingan-kepentingan
yang berbau busuk, tentu tidak ngotot jempalitan terus menerus memojokkan
Megawati. Ya, saya menyadari bahwa ini semua tentu tak lepas dari arus
proses politik dewasa ini dalam menghadapi pemilu Juni 1999 ini nanti.
Jelasnya: kekuatan-kekuatan lawan politik Megawati Soekarnoputri, lawan
politik PDI Perjuangan akan menggunakan kesempatan "Debat Capres" untuk
mendiskreditir Megawati/PDI Perjuangan.

     Setiap orang dapat menentukan pendapatnya tentang perlu tidaknya
berdebat. Megawati berpendapat tidak ada perlunya. Silahkan orang lain
mengungkapkan reaksinya, tanpa merendahkan martabat pihak lainnya. Lepas
dari itu, memang Megawati bukan pemimpin kelahiran kampus, dia pemimpin dari
akar bawah. Maka berdebat adu intelektual bukanlah lahannya, apalagi
berdebat dengan dengan doktor-doktor ilmu hukum-tatanegara, ekonomi
dsb."Megawati pasti akan kalah", kata Kwik Kian Gie. Lawan politik Mega
(pro-statusquo) telah lama mengincer akan titik-titik lemah Mega. Tapi
Megawati pun selalu waspada bahwa diincer.
Dan inceran-inceran yang sifatnya busuk itu bermuara pada penjegalan dan
penggebukan terhadap Megawati dan PDI-nya. Dia telah diincer sejak
terpilihnya menjadi Ketua Umum PDI versi Munas 1993. Dia dijegal melalui
intrik-intrik timbulnya DPD PDI kembaranan di Jatim, dia dikudeta melalui
kongres PDI Medan Suryadi Juni 1996, bahkan pada tgl. 27 Juli 1996 gedung
DPP PDI jalan Diponegoro 58 yang kala itu merupakan pusat gerakan reformasi
diserbu dengan akibat korban jiwa, raga dan hartabenda. Ya, kini diincer
lagi dari celah-celah Debat Capres. Ma'af, saya tidak suudhon terhadap
inisiatif mahasiswa (Forsal dan KM-ITB) mengadakan Debat Capres. Saya tetap
menghargai dan mendukung peranan mahasiswa dalam gerakan reformasi dewasa
ini. Tapi posisi Megawati/PDI Perjuangan mengenai persoalan keikut sertaan
dalam debat tersebut pun perlu dihargai dan dimengerti.

     Kita tinggalkan soal incer-inceran, kembali soal debat capres. Dari
segi kontitusional yang menentukan presiden itu bukan rakyat secara
langsung, tapi MPR. (Hal ini sudah berkali-kali dinyatakan oleh beberapa
orang, sesungguhnya enggan saya mengulangi lagi). Apapun yang dikatakan
dalam debat mengenai konsepsi,visi,program dll. tidak mempunyai arti, sebab
MPR-lah nanti yang menentukan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Presiden
terpilih nanti dalam menjalankan kekuasaan eksekutif tidak boleh mempunyai
konsepsi lain, program lain yang bertentangan dengan GBHN.
Bisa dipertanyakan, apakah capres yang hebat sekali berdebatnya berarti
jaminan sebagai presiden yang "baik"? Tentu saja tidak, setiap orang hal itu
tahu. Kalau itu ukurannya ya cari saja tukang debat, ahli pidato, pokrol
bambu dan semacamnya, tentu saja supaya afdhol harus yang bertitel Ph.D.,
DR., Prof.
Kalau Megawati memilih untuk diam tidak berdebat, tidaklah berarti dia takut
untuk berdebat. Tapi dia memilih untuk turun ke bawah berdebat/berdialog
dengan wong-wong cilik, yang aspirasinya akan diperjuangkan. Mochtar Buchori
pun dalam wawancaranya dengan BBC dua hari yang lampau, pada dasarnya juga
berpendapat demikian. Saya kira lebih bermanfaat pilihan demikian, dari pada
show akal-akalan intelektual yang hanya memuaskan para intelektuil, tapi
belum jelas manfaatnya bagi rakyat.
Lebih dari itu debat intelektual tersebut bisa dijadikan medan pembantaian
terhadap lawan politik (bagaimanapun bijaknya moderator) berkat penggunaan
money politics.
Money politics ini telah digunakan oleh kekuatan pro-statusquo dalam
pembinaan partai-partai politik baru,  dalam pengelolaan media massa,
penggerakan demonstrasi pro-statusquo dan pembaiyaan provokasi-provokasi
kerusuhan-kerusuhan dewasa ini. Jadi tidak mustahil kalau
money politics juga akan digunakan dalam debat capres tersebut untuk
mendiskrediter Megawati/PDI Perjuangan.

     Ada yang menekankan bahwa dengan debat capres tersebut, orang akan
mengetahui aspirasi, visi/konsepsi dan kwalitas calon-calon presiden. Dengan
demikian, kata Amien Rais, rakyat tidak akan terkecoh seperti "beli kucing
dalam karung". Dalam hubungannya dengan Megawati sesungguhnya rakyat sudah
tahu belang-belangnya "sikucing" Megawati, sebab dia langsung berdialog
dengan rakyat. Megawati selalu terbuka, tidak perlu sembunyi di dalam
karung. Sesungguhnya kalau mau serius, visi dan konsepsi Megawati bisa
dibaca dan dipahami setiap orang dari pidato-pidatonya, terutama pidatonya
pada pembukaan Kongres PDI Perjuangan di Bali Oktober 1998. Di antaranya
yang sangat penting yalah titipannya kepada peserta Kongres yang berupa Lima
Sikap Politik PDI Perjuangan:
Pertama: PDI tetap setia kepada Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila dalam
membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
hukum, sebagaimana cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;
Kedua: PDI menjunjung tinggi Kedaulatan Rakyat dan bertekad untuk senantiasa
melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat;
Ketiga: PDI menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia yang bersumber pada
perikemanusiaan yang berkeadilan dan ber Ketuhanan;
Keempat: PDI senantiasa bersama seluruh komponen bangsa, baik sipil maupun
militer (ABRI) bertekad mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa;
Kelima: PDI mendukung pelaksanaan politik bebas aktif atas dasar persamaan
hak dan derajat kemanusiaan dalam mewujudkan perdamaian dunia yang abadi.
(Dikutip dari Siar News Service, 10 Oct 1998)
Saya punya kesan bahwa Debat Capres telah digaungkan sebagai satu-satunya
cara untuk mengetahui sapirasi, visi dan konsepsi seseorang pemimpin.
Sehingga ketidak-ikutan Megawati dalam debat telah dijadikan sarana
diskreditasi terhadap Megawati/PDI Perjuangan. Pada hal cara untuk itu
banyak sekali.

     Bicara mengenai kwalitas Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin,
tidaklah semudah seperti mengukur kwalitas singkong. Dan juga tidak bisa
diukur berdasarkan kepintaran ngomomgnya di debat capres. Tapi yang jelas:
- Megawati Soekarnoputri disegani, dihormati dan didukung rakyat banyak;
- Dialah pemimpin pertama di era  rezim diktatorial-otoriter yang berani
muncul tanpa menghiraukan tekanan-tekanan penguasa;
- Dialah pemimpin parpol pertama yang muncul dari dukungan grass root,
melawan tradisi restu-restuan dari penguasa (Kalau ngak percaya tanya Rudini
yang pernah jadi Pembina Politik);
- Dia telah menunjukkan keteguhannya dalam perjuangan melawan Orde Baru,
meskipun terus menerus dincar untuk digulingkan; Sebagai banteng tak kenal
menyerah, terus nyruduk!
- Dia melalui jalur hukum terus maju pantang mundur untuk menegakkan
demokrasi, keadilan dan hukum di Indonesia.
Telah berpuluh-puluh jumlah gugatan PDI Perjuangan di pengadilan-pengadilan.
Dia menolak jalan kekerasan.
- Dia pemimpin yang bersih, dan bertekad berjuang untuk memberantas KKN.
Hal-hal tersebut di atas kiranya cukup untuk mengukur kwalitas dan bobot
Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin. Singkatnya, "Sikucing" Megawati
sudah lama menghancur-leburkan karung pembungkusnya, secara terbuka dan
glasnost bisa dinilai keberanian dan kemampuannya mengganyang tikus-tikus
perusak bangsa dan negara. Sekali lagi, apakah nantinya dia dipilih jadi
presiden atau tidak itu semua kompetensi MPR. Biarlah MPR menilainya,
sedangkan mereka yang berkepentingan mengincernya dalam Debat Capres
silahkan, tentu akan kecelik.
     Apa yang saya kemukakan di atas adalah sesuatu yang sudah banyak
diketahui orang. Jadi bukan semata-mata saya mau mengagung-agungkan
Megawati. Justru sebaliknya saya menentang pengagung-agungan, peng-kultusan
dan penjilatan terhadap seseorang pemimpin, sebab para pengkultus dan
penjilat itu biasanya orang-orang yang tidak bersih, yang bisa membahayakan
organisasi dan gerakan (reformasi). Kiranya sejarah pengalaman pahit
pengkultusan dan penjilatan terhadap Soekarno yang dilakukan oleh
pihak-pihak tertentu perlu dijadikan pelajaran.
(Lab.Studi Sosial Politik Indonesia No.87/1999  [EMAIL PROTECTED])

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 May 1999 jam 06:33:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke