----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

From: Ibrahim Isa
Bagaimanapun dibolak-balik ....
Inti masalah TimTim adalah "Hak bangsa-bangsa menentukan nasibnya sendiri"

Catatan : Ibrahim Isa atas Renungan  Sabam Siagian (Suara Pembaruan Daily,
25/4/99).
26 April 1999.

I) Saya betul-betul dihadapkan pada suatu kesulitan yang tampaknya tidak
bisa ditembus, untuk bisa memahami:  Mengapa seorang cendekiawan yang
berpengalaman seperti Sabam Siagian, seorang  pengamat sosial politik
Indonesia serta masalah internasional, sedemikian rupa berargumentasi dalam
alanisisnya mengenai 'keterlibatan Indonesia' di Timor Timur? Meskipun
menyebut masalah kolonialisme Portugis, tetapi ia menskip begitu saja
masalah perjuangan bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Maka ia
tidak bisa melihat bahwa masalah pokok yang ada di hadapan mata adalah
masalah hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Gagalnya
Indonesia di Timor Timur dikatakannya sebagai tidak berhasil-sepenuhnya
suatu sasaran yang orisinilnya adalah menciptakan tali kekeluargaan sebagai
bangsa Indonesia di daerah Timor Timur.

Dengan  menelusuri sebab-musabab dari "Revolusi Bunga" di Portugal (1974),
ia lalu  me-nyinggung  bahwa pencetus 'revolusi bunga' Portugal itu
berkembang jadi radikal dan  menempa hubungan erat  dengan partai Komunis
Portugal. Di sini Sabam Siagian, secara sadar atau tidak, mulai mencari
sebab-musabab perkembangan itu pada latar belakang 'perang dingin', dan
bukan  pada perubahan di Portugal dalam hubungan dengan koloni-koloninya,
khususnya TimTim, sebagai yang pokok.

Tetapi dalam metode analisisnya ini,  ia tidak konsisten. Karena tidak
diungkapkannya,  bahwa sesungguhnya alasan utama mengapa Orba mengerahkan
ABRI mengagresi (Desember 1975), menduduki dan 'meng-anschluss' Timor Timur
ke dalam wilayah Republik Indonesia, dengan dukungan AS dan Barat, ialah
karena Orba dan Barat khawatir bahwa Republik Demokratis Timor yang
diproklamasikan oleh Fretilin dan sekutunya, akan menjadi tumpuan  Komunis,
di wawasan antara benua Asia dan Australia, di tengah-tengah kepulauan
Nusantara, yang anti-Komunis (sekutu Barat).  Bila konsisten dengan
analisis latar belakang 'perang dingin' , maka menurut logika ini, memang
tindakan ABRI dan dukungan Barat tsb tidak terhindarkan.

Dengan menskip lagi pertumbuhan dan perkembangan penting di kalangan
kekuatan politik di Timor Timur yang berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur
dari Portugis, dinyatakannya  bahwa agresi militer Indonesia ke Timor
Timur, sebagai sesuatu yang sulit dihindarkan. Tidak dijelaskan mengapa hal
itu sulit  dihindarkan. Implisit berarti bahwa serangan militer Indonesia
terhadap Timor Timur itu suatu keharusan.. .. . yang akhirnya harus
dibenarkan(?)

II). Sebetulnya tidak terlalu sulit untuk melihat dan memahami bahwa
masalah inti dan utama dari masalah Timor Timur adalah masalah hak
bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Tidak sulit bagi kita
sebagai bangsa Indonesia untuk memahaminya, karena  dalam jangka panjang
kita berjuang melawan kolonialisme Belanda, melawan pendudukan militer
fasis Jepang dan lagi-lagi melawan  pendudukan  Belanda/Inggris sesudah
kita memproklamasikan kemerdekaan  Indonesia. Dalam perjuangan untuk
kemerdekaan nasional, bersamaan dengan itu kita melakukan 'nation
building', membina bangsa kita sebagai bangsa Indonesia yang bersatu dan
utuh, yang terentang dari Sabang sampai Merauke.

Dalam proses itu kita mengerti dan mengkhayati  bahwa bangsa-bangsa lain
yang menjadi tetangga kita, seperti Malaya, Singpore dan Serawak
(Kalimantan Utara), yang kini menjadi Malaysia dan Singapur; Birma,
Vietnam, Laos  dan Kamboja, dll, juga berjuang untuk kemerdekaan nasional
mereka. Juga terhadap Timor Timur kita punya pemahaman yang sama, bahwa
mereka itu adalah suatu bangsa yang berdiri sendiri yang mengalami
penderitaan ratusan tahun dijajah Portugis dan punya hak sebagai bangsa
untuk menentukan nasibnya sendiri. Bertolak dari pemahaman sejarah yang
jujur dan jernih, orang tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa segala macam
alasan - legal ataupun konstitusional -  yang dikemukakan untuk membenarkan
agresi Indonesia terhadap Timor Timur dan tindakan memaksa
'pengintegrasiuannya' dengan Indonesia, tak lain adalah  dalih belaka untuk
mempertahankan sesuatu yang salah.

Tokh akhirnya pemerintah Habibie mengambil sikap yang tampak sedikit banyak
sebagai mengakui bahwa rakyat Timor Timur, sebagai suatu bangsa, juga
punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Sayangnya perubahan sikap
pemerintah Habibie, yang  dari semula bersikeras mau mempertahankan status
Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia, bukan disebabkan dari timbulnya
kesadaran yang jernih dan jujur, tetapi dari kedudukan yang terpaksa.
Terpaksa, karena sudah begitu banyak korban yang timbul baik dikalangan
rakyat TimTim maupun di kalangan ABRI sendiri; sudah begitu keras kecaman
dan perlawanan dari masyarakat internasional, sudah begitu banyak ongkos
yang dihamburkan --dan last but not least, juga karena tekanan Barat yang
semakin berat agar Indonesia  keluar dari Timor Timur.

Sebagai bangsa yang berjuang untuk kemerdekaannya, kita menganggap bahwa
perubahan sikap pemerintah Habibie itu,  terutama karena ketidakmampuannya
menghadapi perjuangan rakyat Timor Timur untuk kemerdekaan nasionalnya.
Akhirnya Indonesia memaklumkan bahwa Timor Timur bisa menentukan sendiri:
apakah menerima status sebagai bagian dari Indonesia yang punya otonomi
luas, ataukah memilih untuk merdeka.

Namun ternyata haluan baru pemerintah Habibie juga tidak sungguh-sungguh,
tidak jujur. Sesudah atau bahkan jauh sebelum maklumat haluan baru
Indonesia itu diumumkan, sudah tampak gerak-gerik dan manuver dari
pemerintah Habibie dan ABRI yang berbeda dari pernyataannya bahwa rakyat
Timor Timur bebas memilih ataukah mau tetap inrtegrasi dengan Indonesia
atau mau merdeka. Elemen-elemen ABRI di TimTim giat mengorganisasi dan
mempersenjatai kekuatan milisia yang pro-integrasi dengan Indonesia. Pas
ukan-pasukan milisia pro-intergrasi tsb lalu mengadakan aksi intimidasi dan
teror terhadap rakyat yang pro-kemerdekaan Timor Timur. Timbullah
pertumpahan darah lagi yang berkepanjangan. Karena tekanan berbagai fihak,
khususnya dari PBB dan Barat, belakangan telah tercapai persetujuan antara
kekuatan yang pro-intergrasi dan yang pro-kemerdekaan. Diragukan berapa
lama persetujuan itu akan bisa bertahan, mengingat pengalaman lainnya
kata-kata dengan perbuatan di fihak pemerintah Indonesia. Apakah betul
pemerintah Indonesia ingin sungguh-sungguh membiarkan rakyat Timor Timur
menentukan nasibnya sendiri? Inilah yang diragukan.

Dengan segala hormat pada Sabam Siagian, seorang pengamat sosial dan
politik Indonesia dan masalah internasional, pandangan beliau mengenai
Timor Timur tidak sesuai dengan realita dan hasrat mayoritas rakyat Timor
Timur yang ingin merdeka, yang ingin menggenggam  nasibnya ditangannya
sendiri, tidak ditentukan atau 'diasuh' oleh Indonesia, atau siapapun.

Bagaimanapun dibolak-balik ....
Inti masalah TimTim adalah "Hak bangsa-bangsa menentukan nasibnya sendiri"

Catatan : Ibrahim Isa atas Renungan  Sabam Siagian (Suara Pembaruan Daily,
25/4/99).
26 April 1999.

I) Saya betul-betul dihadapkan pada suatu kesulitan yang tampaknya tidak
bisa ditembus, untuk bisa memahami:  Mengapa seorang cendekiawan yang
berpengalaman seperti Sabam Siagian, seorang  pengamat sosial politik
Indonesia serta masalah internasional, sedemikian rupa berargumentasi dalam
alanisisnya mengenai 'keterlibatan Indonesia' di Timor Timur? Meskipun
menyebut masalah kolonialisme Portugis, tetapi ia menskip begitu saja
masalah perjuangan bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Maka ia
tidak bisa melihat bahwa masalah pokok yang ada di hadapan mata adalah
masalah hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Gagalnya
Indonesia di Timor Timur dikatakannya sebagai tidak berhasil-sepenuhnya
suatu sasaran yang orisinilnya adalah menciptakan tali kekeluargaan sebagai
bangsa Indonesia di daerah Timor Timur.

Dengan  menelusuri sebab-musabab dari "Revolusi Bunga" di Portugal (1974),
ia lalu  me-nyinggung  bahwa pencetus 'revolusi bunga' Portugal itu
berkembang jadi radikal dan  menempa hubungan erat  dengan partai Komunis
Portugal. Di sini Sabam Siagian, secara sadar atau tidak, mulai mencari
sebab-musabab perkembangan itu pada latar belakang 'perang dingin', dan
bukan  pada perubahan di Portugal dalam hubungan dengan koloni-koloninya,
khususnya TimTim, sebagai yang pokok.

Tetapi dalam metode analisisnya ini,  ia tidak konsisten. Karena tidak
diungkapkannya,  bahwa sesungguhnya alasan utama mengapa Orba mengerahkan
ABRI mengagresi (Desember 1975), menduduki dan 'meng-anschluss' Timor Timur
ke dalam wilayah Republik Indonesia, dengan dukungan AS dan Barat, ialah
karena Orba dan Barat khawatir bahwa Republik Demokratis Timor yang
diproklamasikan oleh Fretilin dan sekutunya, akan menjadi tumpuan  Komunis,
di wawasan antara benua Asia dan Australia, di tengah-tengah kepulauan
Nusantara, yang anti-Komunis (sekutu Barat).  Bila konsisten dengan
analisis latar belakang 'perang dingin' , maka menurut logika ini, memang
tindakan ABRI dan dukungan Barat tsb tidak terhindarkan.

Dengan menskip lagi pertumbuhan dan perkembangan penting di kalangan
kekuatan politik di Timor Timur yang berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur
dari Portugis, dinyatakannya  bahwa agresi militer Indonesia ke Timor
Timur, sebagai sesuatu yang sulit dihindarkan. Tidak dijelaskan mengapa hal
itu sulit  dihindarkan. Implisit berarti bahwa serangan militer Indonesia
terhadap Timor Timur itu suatu keharusan.. .. . yang akhirnya harus
dibenarkan(?)

II). Sebetulnya tidak terlalu sulit untuk melihat dan memahami bahwa
masalah inti dan utama dari masalah Timor Timur adalah masalah hak
bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Tidak sulit bagi kita
sebagai bangsa Indonesia untuk memahaminya, karena  dalam jangka panjang
kita berjuang melawan kolonialisme Belanda, melawan pendudukan militer
fasis Jepang dan lagi-lagi melawan  pendudukan  Belanda/Inggris sesudah
kita memproklamasikan kemerdekaan  Indonesia. Dalam perjuangan untuk
kemerdekaan nasional, bersamaan dengan itu kita melakukan 'nation
building', membina bangsa kita sebagai bangsa Indonesia yang bersatu dan
utuh, yang terentang dari Sabang sampai Merauke.

Dalam proses itu kita mengerti dan mengkhayati  bahwa bangsa-bangsa lain
yang menjadi tetangga kita, seperti Malaya, Singpore dan Serawak
(Kalimantan Utara), yang kini menjadi Malaysia dan Singapur; Birma,
Vietnam, Laos  dan Kamboja, dll, juga berjuang untuk kemerdekaan nasional
mereka. Juga terhadap Timor Timur kita punya pemahaman yang sama, bahwa
mereka itu adalah suatu bangsa yang berdiri sendiri yang mengalami
penderitaan ratusan tahun dijajah Portugis dan punya hak sebagai bangsa
untuk menentukan nasibnya sendiri. Bertolak dari pemahaman sejarah yang
jujur dan jernih, orang tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa segala macam
alasan - legal ataupun konstitusional -  yang dikemukakan untuk membenarkan
agresi Indonesia terhadap Timor Timur dan tindakan memaksa
'pengintegrasiuannya' dengan Indonesia, tak lain adalah  dalih belaka untuk
mempertahankan sesuatu yang salah.

Tokh akhirnya pemerintah Habibie mengambil sikap yang tampak sedikit banyak
sebagai mengakui bahwa rakyat Timor Timur, sebagai suatu bangsa, juga
punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Sayangnya perubahan sikap
pemerintah Habibie, yang  dari semula bersikeras mau mempertahankan status
Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia, bukan disebabkan dari timbulnya
kesadaran yang jernih dan jujur, tetapi dari kedudukan yang terpaksa.
Terpaksa, karena sudah begitu banyak korban yang timbul baik dikalangan
rakyat TimTim maupun di kalangan ABRI sendiri; sudah begitu keras kecaman
dan perlawanan dari masyarakat internasional, sudah begitu banyak ongkos
yang dihamburkan --dan last but not least, juga karena tekanan Barat yang
semakin berat agar Indonesia  keluar dari Timor Timur.

Sebagai bangsa yang berjuang untuk kemerdekaannya, kita menganggap bahwa
perubahan sikap pemerintah Habibie itu,  terutama karena ketidakmampuannya
menghadapi perjuangan rakyat Timor Timur untuk kemerdekaan nasionalnya.
Akhirnya Indonesia memaklumkan bahwa Timor Timur bisa menentukan sendiri:
apakah menerima status sebagai bagian dari Indonesia yang punya otonomi
luas, ataukah memilih untuk merdeka.

Namun ternyata haluan baru pemerintah Habibie juga tidak sungguh-sungguh,
tidak jujur. Sesudah atau bahkan jauh sebelum maklumat haluan baru
Indonesia itu diumumkan, sudah tampak gerak-gerik dan manuver dari
pemerintah Habibie dan ABRI yang berbeda dari pernyataannya bahwa rakyat
Timor Timur bebas memilih ataukah mau tetap inrtegrasi dengan Indonesia
atau mau merdeka. Elemen-elemen ABRI di TimTim giat mengorganisasi dan
mempersenjatai kekuatan milisia yang pro-integrasi dengan Indonesia.
Pasukan-pasukan milisia pro-intergrasi tsb lalu mengadakan aksi intimidasi
dan teror terhadap rakyat yang pro-kemerdekaan Timor Timur. Timbullah
pertumpahan darah lagi yang berkepanjangan. Karena tekanan berbagai fihak,
khususnya dari PBB dan Barat, belakangan telah tercapai persetujuan antara
kekuatan yang pro-intergrasi dan yang pro-kemerdekaan. Diragukan berapa
lama persetujuan itu akan bisa bertahan, mengingat pengalaman lainnya
kata-kata dengan perbuatan di fihak pemerintah Indonesia. Apakah betul
pemerintah Indonesia ingin sungguh-sungguh membiarkan rakyat Timor Timur
menentukan nasibnya sendiri? Inilah yang diragukan.

Dengan segala hormat pada Sabam Siagian, seorang pengamat sosial dan
politik Indonesia dan masalah internasional, pandangan beliau mengenai
Timor Timur tidak sesuai dengan realita dan hasrat mayoritas rakyat Timor
Timur yang ingin merdeka, yang ingin menggenggam  nasibnya ditangannya
sendiri, tidak ditentukan atau 'diasuh' oleh Indonesia, atau siapapun.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 May 1999 jam 06:33:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke