----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

KEMENANGAN GOLKAR SECARA MUTLAK ?

Oleh : Ki Ageng Mangir

Kata Pengantar.

Tulisan dibawah ini adalah komentar penulis atas
kemenangan Golkar pada pemilu '97 yang lalu yang
telah dipublikasikan di milis 'Apakabar' pada tanggal
3 Juni 1997 - tanpa editing kecuali untuk memperjelas
maksud penulis dan pembetulan ejaan yang salah.
Barangkali tulisan ini bisa dipakai sebagai kilas balik
kira2 apa yang telah terjadi saat itu, agar tidak terulang
lagi pada Pemilu '99, mengingat hasil pemilu '97 telah
menghasilkan anggota DPR/MPR yang juga telah
mengukuhkan Soeharto sebagai Presiden ternyata
sama sekali tidak 'kredibel' atau tidak mencerminkan
kehendak rakyat. Karena itu Soeharto hanya mampu
bertahan beberapa bulan saja dan atas desakan dari
rakyat terpaksa 'lengser'. Mudah2-an kesadaran
berpolitik bangsa Indonesia sudah makin baik saat ini
sehingga tidak akan mengulang kesalahan yang sama
yaitu memilih wakil rakyat yang tidak 'kredibel' dan
tidak mencerminkan keinginan mayoritas rakyat yang
sebenarnya.

Mei '99.

Sampai dengan penghitungan suara sementara tanggal
2 Juni 1997, PPPmemperoleh 22,62%, Golkar - 74,31%
dan PDI  - 3,07% (Kompas, Selasa 3 Juni 1997) yang
sepertinya tidak akan banyak berubah sampai dengan
penghitungan suara berakhir. Hasil ini sangat
mengejutkan berbagai pihak mengingat suasana
kampanye yang dihiasi banyak kerusuhan dan ketidak
puasan terhadap sikap memihak Pemerintah maupun
ABRI sebagai penyelenggara Pemilu :

- GOLKAR sendiri "surprise" bisa melampaui target
70% oleh karena itu secara spontan kalangan
penyelenggara Pemilu termasuk Kepala Negara
mengatakan kepuasannya bahwa Pemilu 1997 telah
berjalan secara sukses (...untuk kemenangan
GOLKAR).
- Walaupun PPP mendapat kenaikan yang cukup
besar kali ini, dengan dukungan masa selama
kampanye (termasuk dukungan dari sebagian PDI -
Megawati), ternyata tidak cukup besar untuk bisa
mengurangi dukungan pemilih terhadap GOLKAR.
Sudah pasti ketidak percayaan ini akan muncul
dalam bentuk protes bahwa pelaksanaan Pemilu
tidak dilakukan secara asas luber.
- Yang paling menelan "pil pahit" adalah PDI -
Suryadi yang barangkali baru percaya bahwa
pendukungnya merupakan minoritas dari warga PDI
dan simpatisannya. Dengan sendirinya tidak terlepas
"keberhasilan operasi inteligent" pemerintah untuk
mengeluarkan PDI - Megawati dari aktivitas yang
berhubungan dengan Pemilu 1997 (... harap diingat
bahwa "beaya operasi inteligent" merupakan beaya
operasi keamanan pemerintah yang berarti uang
rakyat juga dalam kata lain uang rakyat digunakan
untuk membungkam suara rakyat yang berbeda
dengan suara Pemerintah). Sangat kecil
kemungkinannya bahwa PDI - Suryadi akan
melakukan protes dalam bentuk apapun (...karena
memang tujuan utamanya menggebosi suara PDI
secara keseluruhan).
- Yang tentunya lebih terkejut adalah GOLPUT yang
dipelopori oleh PDI-Megawati, kalangan mahasiwa,
LSM, pihak2 yang tidak mempunyai pilihan dan tidak
percaya bahwa Pemilu akan bisa menghasilkan
perubahan (... kearah lebih demokratis, dan
pemerintahan yang lebih bersih dari kolusi dan
korupsi). Dari data Kompas tanggal 3 Juni 1997 -
dari  124.740.987 pemilih yang telah melaksanakan
pilihannya adalah 111.216.306 (89,16%). Kelihatanya
GOLPUT bukan media yang 'effective' untuk
melaksanakan perubahan kecuali hanya dari "simbol
moral" yang dicoba untuk ditonjolkan. Barangkali
GOLPUT harus lebih banyak belajar dari "social
behaviour" dari masyarakat Indonesia berkenaan
dengan pilihan2.

Sebagai satu kenyataan adalah GOLKAR menang
mutlak seperti juga Pemilu2 yang terdahulu (...juga
mungkin pemilu2 yang akan datang). Kita bisa
melakukan protes segala macam tentang pelaksanaan
Pemilu, seperti dimasa-masa yang lalu, tetap saja
tidak akan bisa merubah hasil akhir. Barangkali kita
perlu mengkaji "kenapa" GOLKAR bisa menang dan
akibat2-nya pada tata masyarakat pada masa pasca
Pemilu 1997 sampai dengan pemilihan umum yang
akan datang.

Kajian subjective (opini) kenapa GOLKAR bisa
menang:

1. Memang sebahagian besar masyarakat (rakyat)
masih mendukung GOLKAR.
2. GOLKAR mendapat dukungan penuh dari ABRI dan
keluarganya.
3. GOLKAR mendapat dukungan penuh dari pegawai
negeri, BUMN dan keluarganya.
4. GOLKAR mendapat dukungan penuh dari kalangan
pamongpraja (penyelenggara pemerintahan Pusat
maupun Daerah) dan keluarganya.
5. GOLKAR mendapat dukungan penuh dari pengusaha
besar (baik pri ataupun non-pri).
6. Golongan 2,3,4,5 menggunakan segala daya (fasilitas
& dana sebagai penyelenggara pemerintahan, termasuk
intimidasi bila diperlukan) untuk mempengaruhi
masyarakat memilih GOLKAR demi kelangsungan
kedudukannya/posisinya.

Kalau memang asumsi diatas adalah betul,
kesimpulannya memang sistem yang dibentuk oleh
Pemerintah tidak mungkin bisa terpatahkan yaitu
"majority network link" (istilah penulis sendiri) dan
sangat 'effective' untuk kelangsungan Pemerintah
secara tak terputuskan sampai kapanpun (kecuali
"majority network link" ini bisa dipatahkan).

Yang menjadi pertanyaan kenapa "majority network
link" ini bisa menjadi "solid" dan sangat "dedicated"
terhadap Pemerintah (secara simbolik kepada Kepala
Negara). Tentunya hal ini tidak terlepas kajian strategis
yang dilaksanakan oleh Pemerintah dengan bantuan
lembaga2 strategis yang ada disamping penguasaan
Kepala Negara terhadap "social behaviour" masyarakat
Jawa - yang punya pengaruh besar terhadap masyarakat
Indonesia secara keseluruhan.

Barangkali sangat menarik kajian dari Proffesor Danys
Lombard pada bukunya "Nusa Jawa : Silang Budaya"
(yang sangat beruntung penulis bisa membacanya
setelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesai).
Yang barangkali bisa menerangkan sedikit kenapa
kondisi masyarakat bisa mendukung terjadinya
"majority network link" (.... tentunya sesuai dengan
interpretasi dari penulis sendiri).

Menurut Proffesor Danys Lombard masyarakat Jawa
yang berkembang dari kerajaan agraris telah
mengembangkan "konsep lingkaran - lingkaran
konsentris" yang pusat kerajaan (istana) sekaligus
pusat kosmologis yang berada dalam simbiosis
(perpaduan) dengan daerah sekelilingnya, tanpa unsur
pemisah, dalam kenyataan topografis maupun dalam
pandangan kenseptual. Kerajaan Mataram secara
"effective" melaksanakan pengaruhnya dengan raja
sebagai pusat kosmos sebagai lapis pertama dan
keluarga dekat sebagai Bupati sebagai lapis kedua
untuk perpanjangan tangan kekuasaan didaerah dan
petani sebagai lapis ketiga sebagai rakyat biasa yang
sepenuhnya sebagai pengabdi kepentingan raja.
Sedangkan kaum oposan - orang yang tidak tunduk
pada pengaruh kerajaan - menjadi "kaum pinggiran"
yang desa pingiran maupun hutan sebagai
persembunyiannya dan kejauhannya dari pusat
kekuasan bisa mengembangkan budaya pinggiran
yang lebih "independent".

Model Pemerintah order baru seperti yang sering
dikemukakan oleh beberapa pihak tidak lebih - sadar
atau tidak sadar - adalah kelanjutan "konsep lingkaran
konsentris" dari kerajaan Mataram dimasa yang lalu.
Dimana ABRI dan Pamongpraja adalah alat kekuasaan
yang secara 'effective' menjadi lapis kedua kekuasaan
untuk kepentingan pusat kosmologis (yang secara
simbolik diwakili oleh Kepala Negara) yang jaringannya
sampai ke pelosok desa, tidak memungkinkan adanya
"perbedaan persepsi/pendapat".

Bagaimana dengan "kelompok pinggiran" ?, secara
nature - alami - (hak manusia yang asasi) seseorang
bisa berbeda pendapat dalam satu dan hal lainnya
dengan manusia yang lain - termasuk dengan raja
(kalau raja itu dikatagorikan sebagai golongan manusia
juga). Dengan tidak adanya lahan tanpa pengawasan
'effective' dari ABRI dan Pamongpraja dan dengan tidak
adanya lagi lahan hutan untuk bersembunyi, kaum
pinggiran (... yang saat ini sebagian dari mereka juga
sudah "educated") yang berpikiran lebih "independent"
dari zaman dulu2-nya ada diantara kita, dikantong2
perkotaan yang menjadi kaum oposan yang tidak
diakui keberadaannya, dikejar2, dipenjarakan, kalau
mungkin dihapuskan dari muka bumi persada ini
(...apakah mereka itu bukan rakyat Indonesia ?).

Kalau pada masa yang lalu motivasi utama seseorang
untuk menjadi Bupati adalah :

- kedekatan dengan pusat kekuasan
- kehidupan yang lebih baik/layak dibandingkan dengan
golongan rakyat biasa
- kekuasaan sebagai wakil raja didaerah (seperti raja
kecil untuk didaerah)

Dan motivasi ini tidak beranjak dari zaman kerajaan
sampai dengan Pemerintah orde baru saat ini, kenapa
"majority network link" bisa terjadi :

1. Dengan konsep "Dwifungsi ABRI" dimungkinkan
kesejahteraan ABRI dijamin dan ditingkatkan (terutama
pimpinan2-nya) dari masih menjabat sampai dengan
pensiun (...asal tidak neko-neko).
2. Sebagai alat Pamongpraja (yang sebagian ABRI
juga) dengan kedekatannya dengan kekuasaan akan
terjamin kesejahteraannya dengan penangangan
project2 pembangunan (...barangkali sebagian bisa
dialokasikan sebagai "sumbangan sukarela" dari
pengusaha yang melaksanakan pembangunan -
kadang2 bisa juga berarti sumbangan paksa)
3. Kekuasanpun ada ditangan (apalagi untuk yang
ditempatkan sebagai penguasa daerah - seperti raja
kecil lah)
4. Pengusaha yang dekat dengan pemerintah
mendapat jaminan kelangsungan ekspansi usahanya
untuk menangani project pembangunan dan kalau
sangat dekat bisa ber-sama2 ikut partisipasi membuat
rencana pembangunan(...jadi kalau sudah disetujui
tidak ada pengusaha lain yang bisa melaksanakan)

Tidak heran bahwa sebagian besar rakjat mendukung
GOLKAR dan GOLKAR akan selalu menang (karena
sebagian besar rakyat ada dalam katagori diatas).
Yang dilaksanakan oleh sang penguasa pusat
kosmologis hanyalah menjaga kesimbangan agar
golongan pendukung utama sistim tersebut mendapat
pembahagian rejeki yang cukup dan dirasakan adil
(....bukan adil buat semua rakyat). Dan suatu
kenyataan yang pahit "social behaviour" mayoritas
masyarakat Indonesia memang baru sampai disitu
(...apakah bisa juga berarti mayoritas masyarakat
yang korup akan memilih pemerintah yang korup ?).

Kajian subjective (opini) masyarakat Indonesia pasca
Pemilu 1997 :

Dengan kemenangan GOLKAR secara mutlak pasti
akan membawa konsekwensi2 logis bagi masyarakat
bangsa Indonesia. Dengan asumsi Pemerintah dan
ABRI bisa mengatasi segala protes2 penyelenggaraan
Pemilu :

1. Rakjat secara sah telah memberi mandat kepada
GOLKAR (atau penyelengara Pemerintahan saat ini)
untuk melanjutkan Pemeritahan atas Republik
Indonesia (berdasarkan aturan yang saat ini berlaku
adalah sah secara hukum). Kalau asas demokrasi
dilaksanakan golongan yang lain seharusnya
menghormati hak tersebut.
2. Rakyat dengan sadar telah memilih kembali
Pemerintah yang berkuasa saat ini untuk melanjutkan
Pemerintahannya sampai dengan pemilu yang akan
datang dengan konsekwensi logis :

Secara positif:

-  pertumbuhan ekonomi kurang lebih 7% per tahun
bisa dilanjutkan
-  dengan sendirinya income percapita rakyat akan
meningkat (asal pemerintah bisa mengendalikan
inflasi)
-  tinggal landas untuk menuju masyarakat industri
bisa dilaksanakan

Secara negatif:

-  kolusi dan korupsi akan berjalan terus (karena ini
adalah kekuatan "majority network link")
-  tidak ada tempat untuk kaum oposan (yang dahulu
kaum pinggiran)
-  jangan berbeda pendapat dengan pemerintah
(....kecuali kalau ingin cari perkara)
-  jangan mencoba mempertanyakan sistim yang ada
apalagi merubahnya
-  GOLKAR/Pemerintah akan melakukan apa saja
untuk memenangkan Pemilu yang akan datang

Yang akan terjadi adalah seberapa masyarakat bisa
menerima kelemahan2 yang ada - konsekwensi negatif -
dan secara luas tidak menimbulkan implikasi yang
secara nyata merugikan kepentingan2-nya secara luas :

- kesejahteraan umum meningkat sesuai dengan
pertumbuhan ekonomi yang ada sehingga kesenjangan
bisa diperkecil
- rakyat mendapatkan pelayanan umum yang lebih
baik dan mudah dari aparat pemerintah
- pemerintah mengakomodasikan kepentingan kaum
oposan / kaum pinggiran sebagai satu bagian
masyarakat yang integral dengan tata sistim
masyarakat yang ada

Kegagalan GOLKAR atau Pemerintah untuk
melaksanakan program yang secara luas untuk
membela kepentingan rakyat kecil, yang akan
terjadi adalah :

-  suatu pressure secara terus menerus untuk
perubahan sistim yang ada, yang untuk
mempertahankan "majority network link" Pemerintah
akan memerlukan anggaran keamanan yang cukup
besar, yang sebetulnya uang rakyat yang dipakai
untuk meredam rakyat sendiri yang sebetulnya
sedang memperjuangkan haknya.
-  organisasi oposan akan makin mendapat
kepercayaan dari rakyat dan lebih siap sebagai
alternatif pengganti (mungkin akan membentuk
koalisi yang lebih solid dengan tujuan menyaingi
GOLKAR).
-  kesadaran dari sebagian "majority network link"
secara moral dijadikan alat untuk kepentingan
kekuasaan pusat kosmologis melebihi kepentingan
rakyat secara lebih luas (terutama dari ABRI dengan
Sapta Marga - nya) yang mungkin akan menyeberang
mendukung kearah perubahan.
-  timbul kesadaran yang lebih luas bahwa Pemilu
semata-mata sebagai alat pelestarian kelanjutan
Pemerintahan bukan untuk rakyat menyalurkan
aspirasi politik agar terjadi pergantian Pemerintah
yang akan melaksanakan perbaikan2.

Faktor tersebut tersebut diatas belum termasuk faktor
usia dan kesehatan Kepala Negara yang menjadi
"master mind" dari konsep sistim order baru yang
sedang berlaku. Kegagalan Kepala Negara
melaksanakan kewajibannya dengan baik karena
faktor usia dan kesehatan akan menimbulkan intrik
pengambilan kekuasan pada elite didalam "majority
network link" untuk melestarikan kekuasaan yang
ada ataupun kesempatan kaum oposan untuk
melaksanakan perubahan menuju Pemerintahan
yang lebih demokratis.

Kajian subjective (opini) kenapa Partai Politik /
GOLPUT tidak menjadi pilihan :

Dalam suatu masyarakat yang terkondisi (oleh
pengaruh yang sangat kuat dari "majority network
link" yang terdiri dari ABRI, pegawai negri, pegawai
pamong-praja, dan pengusaha besar) seperti saat ini,
pilihan bagi partai politik non GOLKAR agak serba
salah bahkan boleh dikatakan hampir tidak ada untuk
bisa mencapai kemenangan. Tapi bagaimanapun juga
harus diakui keseriusan PPP untuk berpartisipasi
secara aktif - mungkin hal ini yang menyebabkan
peningkatan suara yang mendukung PPP - dalam
memperjuangkan suara yang optimal dalam Pemilu
1997.

Pemerintah mempunyai kekuasan penuh, bahkan
menggunakan kekuatan "inteligent" ABRI, untuk
merontokkan PDI-Megawati yang mendjadi ancaman
perolehan suara GOLKAR pada Pemilu 1997 dan
menggantikan dengan PDI-Suryadi yang ternyata
memang hanya mendapat dukungan minoritas dari
kalangan PDI and simpatisannya. Sekali lagi untuk
melestarikan kekuasannya Pemerintah telah
melakukan strategi yang tepat (....lepas bermoral
atau tidak).

Secara jujur faktor "external" terutama pengaruh
sistim Pemerintahan saat ini yang menyebabkan
partai politik yang ada tidak berperan secara optimal
dan bisa menjadi pilihan dari pemilih yang ada.
Mayoritas Pemilih tidak mau ambil risiko untuk tidak
memilih GOLKAR mengingat konsekwensi negatif
yang mungkin menimpa dirinya ataupun keluarganya.

Lepas dari faktor "external" tersebut, ada juga faktor
"rational" disini, yaitu suatu pengandaian dari
masyarakat pemilih, bagaimana kalau GOLKAR
kalah ?:

- apakah pertumbuhan ekonomi 7% pertahun bisa
dipertahankan ?
- apakah income perkapita bisa terus meningkat ?
- apakah tinggal landas pembangunan menuju
masyarakat industri bisa dilaksanakan ?
- apakah pemerintah yang baru nanti juga tidak
korupsi dan kolusi ?
- apakah pengusaha akan dijamin kelanjutan
usahanya ?
- apakah pemerintahan yang baru betul akan lebih
demokratis ?

Kondisi "rasional" dari partai politik maupun kaum
oposan barangkali belum begitu kuat kondisinya
sehingga kaum pemilih dengan rasa aman bisa
menjawab pertanyaan tersebut diatas dengan
jawaban "ya" dan oleh karena itu memilih Partai
Politik.

Memang kondisi "rational" belum terjadi di
masyarakat Indonesia, lambat atau cepat kondisi
itu akan datang ke Indonesia. Oleh karena itu
sebaiknya kaum alternatif yang menghendaki
perubahan seyogyanya melakukan intropreksi
"bisakah mereka memberi jaminan bahwa perubahan
yang akan dilaksanakan semata-mata untuk kebaikan
rakyat dan kondisi akan lebih baik dari saat ini
apabila rakyat memberikan kepercayaan kepada
mereka ?"

Yang menjadi pertanyaan juga dengan kondisi
"rational" yang cukup mendukung, kenapa GOLKAR/
Pemerintah tidak yakin kalau secara mayoritas rakyat
akan mendukungnya tanpa melaksanakan praktek2
yang kurang terpuji untuk memenangkan Pemilu ?
Jawabannya tentu saja karena GOLKAR/Pemerintah
merasa khawatir akan kelemahan2 saat ini, yang
secara nyata tidak pernah diperbaiki, yaitu tidak
menjalankan pemerintahan secra bersih dan
berwibawa.

Kesimpulan :

Kemenangan GOLKAR/Pemerintah pada Pemilu
1997 akan merupakan bomerang yang akan
mempercepat arus keinginan kearah perubahan
apabila tidak desertai perubahan mendasar dari
GOLKAR/Pemerintah bagaimana cara untuk
mengakomodasikan kesejahteraan rakyat kecil
secara lebih meluas dan merubah sendiri tata
pemerintahan dengan sistim pemerintahan modern
yang lebih demokratis bukan meniru model konsep
lingkaran konsentris - mungkin secara tidak sadar -
yang sangat feodalistis.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai
suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan)
yang berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan
dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Juni '97

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 May 1999 jam 16:05:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke