----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: Apa Kapluk

Sudah cukup...?
Masih mau lagi...?

Setelah puluhan nyawa rakyat melayang percuma dalam insiden simpang
KKA, maka gaung referendum dan Aceh Merdeka tidak lagi senyaring dulu.
Apalagi setelah pemerintah mengirimkan pasukan PPRM yang katanya juga
disusupi TNI dan Kopassus maka semakin ciutlah nyali rakyat.

Sekarang kita mau apa lagi. Mana suara-suara lantang yang dulu
berteriak-teriak referendum dan Aceh Merdeka itu. Menghilang. Kalau
pemilik suara lantang itu adalah oknum TNI, maka kini dia sedang
berehat, menunggu saatnya menjalankan skenario selanjutnya. Kalau
pemilik suara lantang itu adalah GAM, maka kini mereka sedang sembunyi
meringkuk dibawah dipan karena takutnya dengan kedatangan PPRM yang
mirip-mirip dengan DOM ke-tiga.

Dan mungkin sekarang rakyat sudah semakin dewasa untuk tidak begitu
gampang saja diprovokasi oleh pihak jahanam biadab itu. TNI,
kebiadabannya memberondong rakyat tanpa senjata sudah diterima oleh
semua pihak yang masih memiliki hati nurani. Tak ada kepada siapa kita
harus mengadu atas tindakan apapun yang telah dilakukan anjing pembunuh
itu kecuali kepada Yang Maha Kuasa. Kalau kita menentang, maka kitapun
akan menjadi korban sia-sia. Sekali lagi kata-kata bosan ini saya
ucapkan: Sudahlah cukup nyawa rakyat yang telah menjadi korban, jangan
ditambah lagi.

Masih tentang TNI, bagaimanapun mereka adalah menjalankan tugas. Tidak
ada tentara dibelahan dunia manapun yang membiarkan aksi separatis
berjalan begitu saja, apalagi kalau sampai jiwa dan kehormatan mereka
terancam. Ini yang harus kita cam-kan. Sehingga sepatutnyalah kita
perlu sangat mengherankan mengapa aparat-aparat itu membiarkan
sekelompok massa mengadakan ceramah-ceramah agitasi yang tujuannya
adalah membakar massa agar berjiwa "nasionalisme Aceh" yang
ujung-ujungnya diarahkan agar menjadi anarkis dan destruktif.

Dari pengamatan saya, yang sebenarnya gaung referendum itu dicetuskan
oleh mahasiswa-mahasiswa di ibukota provinsi Aceh, Banda Aceh, dimana
di kota itulah bertaburan para mahasiswa calon-calon intelektual
cendekia dimasa depan dari puluhan universitas. Gaung itu akhirnya
bergema keseluruh Aceh, dan gema paling kuat dipantulkan dari Aceh
Utara. Tapi sekarang, kesannya seolah-olah suara referendum itu
ber-mainstream di Aceh Utara, lebih tepatnya lagi Lhok Seumawe.
Buktinya tulisan referendum/GAM bertebaran disetiap sudut kota Lhok
Seumawe. Mulai dari jalan aspal, rambu lalu lintas, trotoar, pagar
kota, sampai ke billboard penuh dengan tulisan referendum dan bendera
Aceh Merdeka. Lalu lihatlah di kota Banda Aceh, nyaris seperti tidak
terjadi apa-apa, tulisan referendum hampir tidak kelihatan, apalagi
lambang GAM, jelas tidak ada.

Lalu berjalanlah ke sebelah timur Aceh, sepanjang perjalanan lepas dari
kota Lhok Sukon hampir tidak kita temukan tulisan-tulisan ataupun
tanda-tanda referendum/GAM hingga sampai ke Medan Sumatera Utara.

Apa artinya ini?.

BERSAMBUNG

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 May 1999 jam 05:06:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke