---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- From: Satria Tidar ISLAM HARUS TINGGALKAN GOLKAR GOLKAR ALAT POLITIK SOEHARTO Setelah Soeharto berhasil mengambil alih kekuasaan, Soeharto mulai menjalankan strateginya agar kekuasaannya dapat diakui secara syah (legitimate) dan mendapat dukungan secara mutlak dari seluruh komponen bangsa, lewat pemilihan presiden di MPR (Soeharto selalu menginginkan calon tunggal dan dipilih dengan musyawarah bulat). Dan dengan dukungan mutlak ini, Soeharto dapat berkuasa secara mutlak. Dan dengan kekuasaan yang mutlak ini, Soeharto dapat bertindak semaunya, termasuk memperkaya diri, kekuarga, dan kroni-kroni-nya. Untuk maksud tersebut Soeharto menggalang 3 (tiga) basis kekuatan yang terdiri dari: ABRI, Birokrasi, dan Rakyat. Untuk mendapatkan dukungan ABRI, Soeharto tidak mengalami kesulitan karena Soeharto sendiri berasal dari ABRI (dengan pangkat Jenderal Penuh dan akhirnya mengangkat dirinya menjadi Jenderal Besar), dan sebagai presiden, Soeharto adalah Panglima Tertinggi ABRI. Dan untuk memperkokoh dukungan ABRI kepada Soeharto, mulai strateginya dengan menggalang "Konsensus Nasional" yang menempatkan 100 (seratus) utusan ABRI di DPR (yang otomatis menjadi anggota MPR), dengan Konsensus Nasional ini Soeharto telah dengan sengaja menyelewengkan Pancasila dan UUD'45 yang janjinya akan dilaksanakan secara "murni dan konsekwen", yang dilanjutkan dengan "Dwifungsi ABRI". Dengan Dwifungsi ABRI ini Soeharto dapat lebih mencengkeramkan kekuasaannya pada birokrasi, dengan menempatkan anggota ABRI menjadi Menteri, Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, bahkan Camat dan Lurah), dan pimpinan BUMN. Untuk mendapatkan dukungan dari birokrasi, Soeharto tidak mengalami kesulitan, karena sebagai kepala pemerintahan, Soeharto dapat memberikan instruksi kepada aparatnya (atau komando karena aparatnya juga anggota ABRI aktif). Hal ini makin nyata dengan strategi Soeharto dengan membentuk "Wadah Tunggal" bagi aparat pemerintahan dengan "Mono Loyalitas"-nya untuk memilih organisasi politik tertentu (Golkar). Soeharto mengangkat anggota MPR dari birokrasi ini sebagai utusan daerah dan golongan. Walaupun kekuasaannya telah mendapat dukungan dari pihak militer, akan tetapi Soeharto juga menginginkan agar kekuasaannya juga didukung oleh rakyat. Untuk merealisasikannya, Suharto mengambil langkah dengan mengadakan pemilihan umum, yang akan memilih wakil-wakil rakyat, dan kemudian memilih presiden. Untuk menghimpun kekuatan dari rakyat pemilih, Soeharto memerlukan partai politik yang dapat ikut ambil bagian dalam pemilihan umum. Untuk itu Suharto mendjadikan Sekber-Golkar, suatu organisasi massa yang didirikan oleh militer (Angkatan Darat) sebagai partai politiknya dengan nama Golkar. ISLAM DAN GOLKAR Soeharto menyadari bahwa agar dapat memperoleh dukungan mayoritas rakyat, Golkar harus mendapat dukungan masyarakat Islam, karena 90 % (sembilan puluh proses) penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Untuk menghimpun kekuatan Islam, Golkar memperkenalkan "Islam Jama'ah" yang kemudian hari dilarang karena ditentang oleh masyarakat Islam, karena ternyata telah menyimpang dari kaidah. Selanjutnya Soeharto mendirikan "Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila", sebuah yayasan untuk menghimpun dana (yang sebetulnya dari masyarakat Islam sendiri, dipotong gaji dari pegawai negeri), yang dipakai untuk "kepentingan Islam". Dan dengan dana tersebut telah dapat menjadikan masyarakat Islam, dengan dakwah-dakwah dan fatwa-fatwa para alim ulama dan pemuka-pemuka Islam yang selalu menekankan "taatlah kepada pemerintah", maka masyarakat Islam menjadi "terpasung" daya nalarnya dan menjadi masyarakat yang penurut. Akibatnya masyarakat Islam selalu dengan gegap gempita mendukung Golkar dalam setiap pemilu, sehingga Golkar selalu mendapat suara mayoritas. Masyarakat Islam tidak sadar bahwa dukungannya kepada Golkar yang secara gegap gempita tersebut hanya bermanfaat bagi Soeharto untuk terus-menerus mempertahankan kekuasaannya yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh Soeharto, keluaganya, dan konco-konconya untuk menggerogoti kekayaan negara. GOLKAR PASCA SOEHARTO Golkar pada pasca Soeharto ternyata adalah masih Golkar pada era Soeharto, dimana Golkar pada pasca Soeharto juga masih menginginkan adanya dukungan kekuasaanya dari pihak ABRI, terbukti bahwa pada sidang Istimewa MPR yang lalu masih enggan untuk menghapus "Dwi-Fungsi ABRI" secara total seperti yang dikehendaki oleh rakyat. Disamping itu pada masa pemerintahan pasca Soeharto (pemerintahan Habibie) masih mempraktekkan cara-cara pemerintahan yang koruptif dan kolutif persis seperti masa pemerintahan Soeharto (Ingat: bahwa Habibie mengaku Soeharto sebagai "guru besar"-nya) ISLAM HARUS TINGGALKAN GOLKAR Seluruh masyarakat Indonesia sekarang ini menghendaki adanya reformasi total untuk kembali ke pemerintahan yang demokratis, tidak ada campur tangan militer dalam pemerintahan (dwi-fungsi ABRI harus dikubur dalam-dalam di bumi pertiwi Indonesia tercinta), pemerintahan yang bersih, yang bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme. Keinginan masyarakat Indonesia ini mestinya juga merupakan keinginan seluruh masyarakat yang beragama Islam, mengingat bahwa 90% (sembilan puluh proses) penduduk Indonesia beragama Islam. Sehingga keinginan untuk mempunyai pemerintah yang demokratis, pemerintah yang bersih, bebas kari kolusi, korupsi, dan nepotisme, sangat ditentukan oleh masyarakat Islam. Akan tetapi keinginan masyarakat Islam ini tidak akan terwujud apabila masyarakat Islam masih mendukung Golkar. Maka masyarakat Islam, pemimpin-pemimpin Islam, kaum cendekia Islam, alim-ulama Islam, sadarlah bahwa selama ini kita semua telah menjadi alat politik Golkar, untuk mempertahankan kekuasaan dan mengeruk kekayaan negara. Wahai para pemimpin Islam, cendekia Islam, alim-ulama Islam, sadarlah bahwa anda selama ini telah memberi arahan yang keliru kepada umat Islam untuk mendukung Golkar. Menjadi kewajiban bagi para pemimpin Islam, cendekia Islam, alim-ulama Islam untuk menyadarkan umat Islam, bahwa kita semua telah diperalat, dan dibohongi oleh Golkar. Menjadi kewajiban bagi para pemimpin Islam, cendekia Islam, alim-ulama Islam untuk menyerukan dan mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk meninggalkan Golkar. Hai umat Islam di seluruh Indonesia KITA HARUS TINGGALKAN GOLKAR Jakarta, 24 Mei 1999 Satria Tidar ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 May 1999 jam 16:00:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
