----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

RAJA BAMBU : Waspadai Komunis

Raja Bambu yang selalu bingung, dibingungkan lagi. Bapak yang paling top
dan bapak bapak lain mengatakan : Waspadai Komunis.
Karena Raja Bambu ini, orang yang patuh, saya pikir : Apa sih artinya mewaspadai ? 
Bagimana sih mewaspadai Komunis ? Apa saya perlu nglirik
sini, nglirik sana, nguping sini nguping sana ? Apa saya dan kawan
kawan harus melakukan usaha intelijen ? Apa saya harus mencurigai
kenalan atau bukan kenalan, asal mereka mau menolong proletar, atau
membantu marhaen. Apa saya harus melaporkan pada bapak polisi kalau
ada orang yang mau menolong tani dan buruh yang hidupnya marjinal?
Raja Bambu sendiri memang tidak tertarik pada faham komunis. Setahu
Raja, di sistem komunis semua alat alat dan modal produksi dikuasai
negara. Negara yang mengatur segala galanya. Jadi semua industri,
pertanian dan kekayaan negara dikuasai negara. Ini berarti semua itu
dikelola oleh birokrat dan biasanya hal hal yang dipegang birokrat jadi bejat.
Korea Utara moprot, Jerman Timur brantakan, Russia megap megap.
Cina dan Vietnam katanya komunis, tetapi mengarah ke ekonomi liberal.
Hasil musawarah Raja Bambu mengenai Komunis adalah : Jangan sekedar
menganjurkan untuk waspada saja. Kita harus berusaha agar Komunis
nggak bisa berkembang di bumi Indonesia ini. Biasanya Komunis mendapat
lahan yang subur kalau buruhnya hidupnya susah. Komunis dapat tumbuh,
kalau pak tani tidak berhak atas tanahnya sendiri, atau kalau pak tani
terjirat dalam sistem ijon. (cengkeram lintah darah).
Jadi Raja Bambu berpendapat : Selain dari "waspada" saja, marilah kita,
termasuk bapak bapak penguasa, membuat Indonesia menjadi lahan yang
TIDAK subur untuk faham komunis.
Mari kita usahakan agar pak tani mempunyai hak atas tanah sendiri.
Mari kita bantu pak tani, agar pupuknya tersedia dengan harga murah. Mari
kita lengkapi pak tani dengan hasil riset kita mengenai beras dan
penanaman beras. Pasti para petani, yang berjumlah besar itu, menjadi lebih makmur.
Begitu pula buruh pabrik, buruh pelabuhan, buruh apa saja dapat kita
usahakan agar mereka dapat hidup layak. Undang undang perburuhan harus
benar kita jalankan agar mereka tidak di-ekplotasi mentah mentahan oleh
majikan dan birokrat yang korup.
Disamping itu, bapak bapak yang merasa dirinya raja atau raja kecil, supaya
selalu mendengar AMANAT PENDERITAAN RAKYAT. Berbuatlah sesuatu
yang nyata, jangan sekedar menyerukan untuk "mewaspadai"
Kalau Indonesia ini, menjadi lahan yang TIDAK SUBUR untuk tumbuhnya
faham komunis, komunis tidak akan tumbuh.
Raja Bambu, dalam keterbatasannya, setidak tidaknya sudah mengambil
"action". Dua kali seminggu, bersama janda mantan duta besar RI, kami
membuat dan mengedarkan seratus dua puluh nasi bungkus. Sapinya Raja Bambu yang dua 
itu, bulan muka sudah akan menjadi milik pemeliharanya.
Pada waktu itu jumlah sapinya sudah akan menjadi tiga ekor. Tujuh
kambing Raja Bambu juga akan menjadi milik pemeliharanya, hanya
dengan perjanjian, jangan disate. Dijual boleh.
Dalam skala kecil Raja Bambu sudah mencoba: Pemerataan. Apa Raja
Bambu rugi ? Ya, nggak juga. Setiap hari saya masih bisa ngelus ngelus
sapi dan kambing. Barangkali juga Raja Bambu akan mulai tanam jamur
dengan Upik istrinya dik Bowo. Katanya, hasilnya lumayan.
Raja Bambu hanya mengharapkan agar bapak bapak pemimpin besar,
juga mau bertindak yang agak nyata. Kata kata yang hebat itu, nggak
dimengerti oleh rakyat sederhana, seperti Raja Bambu. Katanya orang
sono : Do something.
Dari pertapan Blitar,
Salam Reformasi,
Raja Bambu, prihatin.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 May 1999 jam 15:09:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke