----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

APARAT  KEAMANAN  INDONESIA  MENANTI  D-DAY  DI  TIMOR  TIMUR

Habibie sudah berjanji, Wiranto sudah menyanggupi, Alatas mengelak, dan,
seka-rang, Habibie menantang minta bukti, dan Wiranto mengatakan, TNI
sama sekali tidak bersalah. Masalah kekerasan, khususnya ulah milisi
milisi pro-integrasi yang bersenjata, terus berkemelut di Timor Timur,
sekalipun para petinggi Republik membantah, mengelak dan berbalik
menyerang. Tetapi semua itu ada batasnya, Indonesia yang masih ditindih
krisis, tidak bisa terus-menerus berkiprah dan berkelit. Senin lalu,
Sekjen PBB Kofi Annan melaporkan ulah milisi-milisi yang didukung TNI
itu kepada Dewan Keamanan. PBB sekarang mempertimbangkan akan mengirim
tim perwira militer untuk mendampingi aparat Indonesia di TimTim.
Laporan redaksi di Hilversum .

Tinggal tiga minggu lagi, sebelum Sekjen PBB pada tanggal 13 Juni nanti
menyampaikan kesimpulan tentang situasi keamanan di Timor Timur dan
keputusan dan usulan kepada Dewan Keamanan PBB. 13 Juni itulah D-Day,
atau hari penentu bagi PBB untuk membuktikan tekad dan kemampuannya
untuk mewujudkan hak hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Timor Loro
Sae. Bagi PBB yang pada pertengahan 70an terpuruk oleh Perang Dingin
sehingga tak berdaya menyelamatkan Tim-Tim dari invasi, sekarang tiba
saatnya untuk, sebutlah, menebus dosa. Sekarang Amerika Serikat dan
Dunia Barat menyaksikan Indonesia merosot dan terancam disintegrasi, dan
tidak ingin melihat TNI berantakan. Oleh karena itu, juga atas desakan
Indonesia, maka Persetujuan New York 5 Mei mempercayakan tanggungjawab
keamanan hampir sepenuhnya kepada TNI, yang notabene terlibat dalam
konflik di Tim-Tim itu sendiri.

Jadi 13 Juni juga akan merupakan D-Day bagi Indonesia, bagi diplomasi
Jakarta dan khususnya bagi aparat TNI dan Polri untuk membuktikan kepada
dunia bahwa Indonesia menghormati komitmen internasionalnya di Timor
Timur. Kenyataannya, milisi-milisi pro-Jakarta terus beraksi, dan aparat
keamanan Indonesia membiarkan saja. Bahkan missi PBB di TimTim UNA-MET
sempat menjadi saksi, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana
seorang berseragam loreng TNI melatih milisi di Atsabe. Laporan Kofi
Annan kepada Dewan Keamanan Senin lalu merupakan peringatan pertama.
Annan terang-terangan menyebut adanya kekerasan yang berkelanjutan oleh
milisi milisi bersenjata yang menyerang penduduk sipil yang pro-
kemerdekaan. Bahkan mereka beroperasi dengan sepengetahuan tentara
Indonesia dan sekarang juga menyerang kaum pro-integrasi yang moderat,
ujar Kofi Annan.

Tetapi Sekjen PBB tidak mengambil langkah baru, kecuali menimbang
perlunya mengirim liaison officers, atau misi perwira militer, yang akan
diperbantukan pada aparat keamanan Indonesia, untuk membantu 280
penasehat polisi sipil yang tidak bersenjata. Jadi, Kofi Annan yang
kabarnya akrab dengan Menlu Ali Alatas itu masih menyimpan suatu benefit
of the doubt, tetapi seberapa jauh kredibilitas yang tersisa ini dapat
dimanfaatkan setelah insiden diplomatik seperti usulan perubahan tanggal
jajak pendapat secara sepihak, dan terutama jika gelombang kekerasan di
Tim-Tim berlanjut. Kuncinya sekarang terletak pada kesungguhan pihak
Indonesia untuk memaksa pihak-pihak yang bersangkutan supaya meletakkan
dan melucuti senjata dalam waktu dekat. Sekaligus PBB harus mengupayakan
mundurnya pasukan TNI dan melucuti gerilya Falintil.

Tetapi, masalahnya sebelum semua itu, adalah, bersediakah unsur-unsur
TNI di TimTim menghentikan in-subordinasinya terhadap Pangab dan
Presidennya di Jakarta? Itulah tragiknya apabila suatu persetujuan
internasional mengandalkan kepercayaannya pada salah satu pihak yang
terlibat konflik, yang juga dilanda krisis setelah tiga dasawarsa
menjadi aparat kekuasaan Soeharto.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 May 1999 jam 06:17:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke