----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Keluarga Tapebolong adalah keluarga kristen Protestan yang
jauh dari mapan. Kehidupan mereka sehari hari adalah seperti
kehidupan jutaan keluarga muslim yang terkapar yang bertebaran
seluruh tanah air.Mereka harus berjibaku habis habisan hari demi hari
sekedar memperpanjang napas dan sering terhempas.
Ibu Tapebolong adalah seorang ibu yang ikhlas ,religious dan dermawan
walaupun dalam keadaan terdesak "St Butet of Tebing Tinggi" ini - begitu
julukan teman teman gerejanya, masih mau menolong orang orang susah
seperti keluarga bu Supeni yang sebulan lalu kematian suaminya lantaran
tukang martabak ini berani melawan Paswalpres yang menegurnya untuk
jangan berhenti di seberang markas mereka di Tanah Abang sana.

Konon ketika kepala laki laki muslim yang taat dan tidak takut pada
siapapun kecuali Tuhan ini dikepruk para  laler ijo berseragam,tukang pukul
para diktator dengan popor, suara retak batok kepalanya terdengar sampai satu
blok. Wajahnya pecah dan dia berteriak " Allahu Akbar " yang menggema
mengalahkan azan mesjid sebelum rebah selama lamanya ke aspal  jalan.

Bonang adalah seorang kleptomanik kecil jelas saja. Dia juga orang Batak
yang kadang selalu nampak kurang basa basi dan sedikit rude. Tapi
sebulan yang lalu seperti ibunya, Bonangpun membantu keluarga Supeni
mengurus jenazah kepala rumah tangga itu. Seperti Ibunya hati Bonang
adalah sehalus daun putri malu, tersentuh sedikit dia akan langsung bergerak..

Ibu Tapebolong memasak dan memberikan sumbangan uang pada keluarga
Janda beranak 5 ini, dia juga patungan dengan teman teman untuk membantu
biaya penguburan di Pemakaman Islam di Karet Kubur.Tapi tidak se esktrim
putranya seorang Protestan Liberal, Bu Tape Bolong berhenti membantu
ketika batas ritualisme agama tiba.Sedang Bonang selain ikut memandikan
jenazah ,ikut sholat Ghaib walaupun cuma komat kamit dalam bahasa Indonesia,
Dia juga malah ikut mengaji nujuh  harian kematian pak Supeni. Berbekal peci
dan sarung pinjaman si Buyung, anak Padang yang sama sekali tidak kikir di
keluarga very kikir Abdul Latif di gang kelor yang pernah memalukan seluruh
etnis Padang di Jakarta lantaran pernah bikin organisasi PPS alias Pedagang
Pro Suharto sambil jualan stiker " I Love Suharto Family " di Pasar Senen yang
harganya kelewat mahal, tapi " bisa manjur menangkal preman yang mau
memeras toko anda" begitu janji si Latif..

Sedang keluarga Nisye di Pondok Indah , the  Badaksono family -adalah
keluarga muslim yang elit.Seperti layaknya keluarga papan atas, selain nampak
mentereng,terang benderang dan berkilauan karena memiliki corporation raksasa
seperti pabrik petrokimia,koran Republika ,2 tevelisi swasta,
dan dekat dengan kekuasaan, mereka  juga harus nampak dermawan dengan
menggalang fund raising membantu partai tertentu yang " banyak mikirin rakyat"
Pak Badak yang pernah naik haji plus plus plus 6 kali, misalnya mempunyai
yayasan sosial bernama BUWMM ( Bantuan Untuk Warga Miskin Mandiri ) yang bisa
juga berarti ( Bah..Uang dan Wanita Memang Mengasyikan ) dan seperti tradisi
di Tanah air tercinta, jelas laporan keuangan tidak pernah di edit, dan
konon 1 tahun setelah berdiri, kantor yayasan yang bermoto bahasa Arab"
Al fulus wal Umati " yang artinya kira kira "duit bukan untuk orang mati "
banyak mempekerjakan cewek cewek seksi ber rok mini.Mereka ini juga biasa
ikut perjalanan dinas Pak Badak mengunjungi negara negara Timur Tengah
( dengan pakaian sopan ) setelah itu mengenjungi Eropa ( dengan pakaian
super non sopan )

Bu Badak lain lagi, perempuan yang lebih banyak berbahasa Perancis dari
pada Kromo Inggil pesisir,lebih banyak menghabiskan waktunya ke cafe cafe
dan main judi di Monaco,Las Vegas dan Christmas Island." Judi haram kalau
kalah. Judi hahal jika menang " begitu yang sering Bu Badak bilang pada
teman teman. Ketika rombongan pajangan butik ini tertawa tawa mendengar
ocehan Bu Badak, si Ibu meneruskan " dan Jangan lupa 10 persen dari
kemenangan saya salurkan sebagai zakat untuk orang miskin.." Jelas meledaklah
tawa riuh perempuan perempuan top yang menggetarkan sudut ruang tamu yang
penuh pajangan impor dan grand piano ,suara cekakakan
mereka kadang terdengar para pembantu dan tukang kebon keluarga seperti
lolongan anjing hutan yang menyeramkan.

Tapi Nisye adalah keramik cantik spotless yang lahir lahir dari pabrik batu
bata.
Seperti ke ajaiban , sejak kecil dia telah mengenal konsep salah benar
entah dari mana. Barangkali tinggal di London bertahun tahun kebanyakan
sendirian jauh dari ortu disebuah dormitory elit, membuat pikirannya lebih
banyak menjelajah melalang rimba rimba kehidupan,mencari esensi dan
makna seperti layaknya para philosoper.

Tanpa sepengetahuan Ibu Bapaknya, dia mempelajari Islam secara lebih
dalam. Walalupun masih jarang sholat, Nisye bisa membaca Quran lantaran
pernah belajar pada seorang tua dari Libanon 3 summer  yang lalu
di London.Seperti Bonang, hati Nisye penuh dengan romantisme kemanusiaan.
Walaupun jarang mengkritik orang tuanya ( lantaran jarang bertemu )
dia tahu ada yang etis dalam keluarga haji dan hajah Badak ini..
Tapi jelas semua problemnya di simpan baik baik di dalam hati..

Hari ini Bonang , Batak yang humanis tersentuh penderitaan kaum
kecilnya seperti si Abung. Bonang juga sangat terganngu memikirkan
keluarga janda Supeni yang sekarang anak anaknya yang masih kecil
mulai menderita kurang pangan. Khoidir yang tertua berumur 12  tahun
sudah tidak bisa kerja jualan koran lantaran sedang terserang cacar air.
Dan yang termuda, bayi berumur 6 bulan mulai tubuhnya mulai biru
biru lantaran kurang susu. Hari ini  Bonang kurang banyak memikirkan
Nisye entah kenapa.

Dan Nisye selesai mandi sore juga mengalami gejala yang sama.
Walaupun sering melirik telepon genggam menunggu call dari Bonang,
pikiran dia masih terganggu dengan kehilangan Ardy, abangnya Tanti,
teman dekatnya disekolah yang  hilang ketika ikut demo mahasiswa.
Tanti terus menerus menangis setiap kali di call . Orang Tuanya
telah menyewa selusin lawyer dan detektive partikelir bahkan para
preman kampung buat mencari putra tunggalnya. Dan seperti yang
sudah sudah, bila berhadapan aparat semua orang seperti berhadapan
dengan The Great Wall di Cina sana. anda boleh meraung raung, anda boleh
melolong lolong, tapi bila keluarga anda tidak cepat cepat ditebus dengan
duit atau bisa menggertak Abri dengan koneksi orang gede, anak,bapak
atau abang anda akan masuk daftar orang hilang. Nasi telah menjadi basi,
orang yang anda cintai telah diekskusi...



[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 May 1999 jam 21:58:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke