----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

B e r t e m u    l a g i   d e n g a n
PRAMUDYA  ANANTA  TOER

Amsterdam, 8 Juni 1999
Oleh: Ibrahim Isa

I.) Sejak dilangsungkannya Sidang Biro Pengarang Asia-Afrika di Den
Pasar, tahun 1963, baru 36 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 1 Juni
1999 y.l., , saya jumpa lagi dengan Pramudya Ananta Toer di Schiphol,
Amsterdam. Ia datang dari perlawatannya ke Amerika dan Canada. Ia
berkunjung ke Belanda bersama istrinya Maimunah dan Ucup < Jusuf Isaac,
mantan Wakil Sekjen Wartawan Asia-Afrika>. Pada hari  itu, puluhan
kawan-kawan Indonesia yang ada di Belanda, termasuk teman-teman Belanda,
datang menjemput.  Beberapa teman ada yang membawa poster besar
bertuliskan :�Selamat Datang'.  Ucup  sangat terkesan dengan sambutan
yang hangat itu: " Luar biasa", katanya pada saya.

Sedangkan saya sendiri, yang ikut menyambut Pramudya c.s. , karena
keterlambatan dari Singapore Airline yang mereka tumpangi, sudah merasa
tidak sabaran lagi. Kok, lama sekali mereka  tidak muncul-muncul. Begitu
mereka  muncul dari pintu duane, saya sungguh amat gembira bercampur
heran,  melihat Pram begitu  begitu sehat tampaknya.  Tapi  kemudian
kesan ini tidak lengkap. Sebab, menurut pemeriksaan dr. MayLie Siaw yang
oleh panitia penyambutan di Holland diminta untuk memperhatikan
kesehatan Pram, Pramudya dan juga Ucup betul-betul harus dengan
sungguhs-ungguh memperhatikan kesehatan mereka. Mereka sudah tidak muda
lagi.  Saya yakin di Jerman dan Paris nanti, kawan-kawan di sana juga
akan sangat memperhatikan kesehatan Pram dan rombongannya. Tokoh
Pramudya Ananta Toer,  sudah menjadi aset nasional berharga  yang amat
langka. Maka, kesehatannya perlu dijaga baik-baik.

Ben Anderson, tokoh ilmuwan Amerika, pakar tentang Indonesia, dalam
salah satu wawancaranya belum begitu lama, ketika ditanyakan wartawan
siapa tokoh Indonesia yang bisa dikatagorikan pahlawan, mengatakan bahwa
dia tidak gampang menilai  siapa pahlawan di Indonesia. Tetapi Ben
mengagumi tiga tokoh yang punya karakter, punya moralitas, punya
integritas. Ketiga orang itu, menurut Ben Anderson, pertama  adalah
Pram, lalu Soe Hok Gie, dan Mr Yap Thiam Hien.  Ben  bilang Pram  adalah
orang yang tidak pernah tunduk pada penindasnya..  Dengan segala
penderitaannya Pram toh bisa menciptakan karya sastra yang luar biasa.
Ben selanjutnya menandaskan bahwa ia  juga angkat topi kepada temannya
yang sudah lama meninggal,  Soe Hok Gie. Yang walaupun aktif melawan
PKI, tetapi pada waktu pembantaian masal, penangkapan dan pengiriman
keBuru, dia satu-satunya orang yang pada waktu itu berani mengatakan di
pers bahwa ini salah. Dia satu-satunya orang yang menyatakan begitu pada
tahun 60-an. Yang ketiga, tentunya almarhum Pak Yap. Dia bersedia
membela orang-orang yang sudah pasti akan dihukum mati. Yang notabene
adalah lawan politiknya. Tapi dia berusaha keras membela mereka sebaik
mungkin. Walaupun karena itu dia sendiri tentu rugi. Karena jadi dibenci
oleh penguasa. Demikian Ben Anderson.

Uraian Ben, teristimewa  mengenai Pram, itu benar sekali. Memang,
begitulah saya mengenal  Pram sejak dulu .

Ketika kami omong-omong sebentar di ruangan istirahat di Rode Hoed pada
tanggal 6 Juni , Pram  masih ingat betul peristiwa  di Bandung pada
akhir tahun limapuluhan, ketika diadakan Musyawarah Nasional Untuk
Perdamaian .Disitu  hadir pula  wakil dari World Peace Council (Wina,
Austria), seorang penulis  berbangsa Irak.. Pimpinan Munas Untuk
Perdamaian minta kepada saya, yang waktu itu kebetulan duduk di Komite
Perdamaian Indonesia Pusat, untuk mendiskusikan dengan Pram, yang hadir
dalam Munas sebagai salah seorang utusan,  bagaimana kita bersama
melanggengkan dan  mensukseskan jalannya Munas. Ketika Pram
memperlihatkan pidato yang akan dibacakannya, memang  di dalam teks
pidatonya itu, ada bagian-bagian yang mengkritik keras fihak militer
ketika itu. Memang, waktu itu tentara  sudah lama bertindak otoriter dan
opresif terhadap rakyat. Tentara (Angkatan Darat) menggunakan
kedudukannya  sebagai penguasa SOB (Staat van Oorlog en Beleg, UU
Darurat Perang), untuk  main kuasa, main tangkap, main berangus, dsb.
Kritik Pram terhadap fihak militer itu sepenuhnya benar. Tetapi pinpinan
Munas minta pertimbangan Pram, bagaimana caranya agar bagian-bagian yang
bersangkutan dari pidatonya itu  jangan sampai bisa digunakan sebagai
dalih oleh fihak tentara untuk mengganggu bahkan menghentikan
samasekali  sidang. Tetapi Pramudya keras bertahan untuk tetap
menyatakan dimuka forum Munas Perdamaian, kritiknya terhadap  tentara
yang sewenang-wenang.

Betul saja, seusai Pram berpidato, tentara mancarinya  dan kalau tidak
salah sesudah diinterogasi, Pram ditahan. Terhadap fihak militer Pram
tetap mempertahankan pendiriannya, tetap mengkritik tentara. Saya lupa
berapa lama tentara menahan Pram  ketika itu. Peristiwa  yang saya alami
sendiri itu,  membenarkan observasi Ben Anderson bahwa Pram memang orang
tidak pernah mau tunduk terhadap penindasan.

II.) Kunjungan Pram ke Holland, akan disusul kemudian ke Jerman dan
Paris, dipenuhi oleh acara yang padat sekali.Saya khawatir,  mungkin
tidak ada waktu lagi bagi saya untuk dengan leluasa ngomong-ngomong
dengan Pram. Saya merasa ingin sekali  bertukar fikiran dengan Pram..
Ketika pada tanggal 6 Juni dilangsungkan pertemuan di Rode Hoed,
Keizersgracht 102, Amsterdam, yang diselenggarakan  oleh Komite
Penyambutan Pramudya di Holland, dengan mengundang sampai tiga ratus
lebih tamu, saya hnya ada sedikit kesempatan, barangkali hanya beberapa
menit, bicara dengan Pram. Dalam dialog kami itu , Pram juga menekankan
tentang keharusan untuk bisa mendengar orang yang punya pendapat berbeda
dengan kita. Sampai disitu saja pembicaraan kami, karena pertemuan
segera dimulai lagi.

Dalam pertemuan tanggal 6 Juni itu, saya tidak ada kesempatan untuk
ambil bagian dalam diskusi mengenai pembicaraan Pramudya.. Mengingat
dari publik begitu banyaknya yang ingin bicara dalam diskusi.

Pembicaraan Pram pada hari itu, yang amat menjadi perhatian saya ialah
kepedulian Pram yang amat besar terhadap  masalah "nation-building".
Pram menandaskan betapa  pentingnya nasion Indonesia meninjau kembali,
mengadakan pengkoreksian, melakukan pelurusan terhadap budaya dan
sejarahnya sendiri. Karena selama lebih dari 30 tahun, Orba telah
melakukan pembohongan dan pemalsuan sejarah yang paling besar dalam
kehidupan Republik Indonesia.  Pengkoreksian terhadap kebohongan sejarah
itu belum pernah dilakukan hingga saat ini. Hanyalah atas dasar
pelurusan sejarah dan pengkoreksian atas kebohongan-kebohongan Orba,
bisa dilakukan penulisan sejarah yang benar, atas dasar mana dilanjutkan
usaha  "nation building" dengan dasar yang sehat.

Masalah lainnya yang dikemukakan Pram, yang bagi saya merupakan hal
baru, ialah tentang sifat Indonesia sebagai negeri maritiem. Bila
Indonesia diurus  sebagai suatu negara maritiem sebagaimana seharusnya,
maka akan terhindarlah Indonesia dari ulahnya angkatan darat yang
menjadi penguasa tunggal itu. Kan aneh, kata Pram, masa negeri maritiem
diurus oleh angkatan darat. Sebagai negara maritiem , seyogianya  diatur
sesuai dengan sifatnya sebagai negeri maritiem.  Maka lautan akan
memainkan perannya sebagai penghubung dan pemersatu diantara pelbagai
bangsa dari nasion Indonesia. Karena negara maritiem diurus oleh
angkatan darat, maka lautan telah berfungsi sebagai pemisah dan
rintangan untuk persatuan dari pelbagai pulau dan bangsa di Indonesia.

Mengenai masalah bangsa, Pram mengajukan stelling  bahwa adalah lebih
tepat mengatakan bahwa Indonesia adalah suatu nasion, dan bukan suatu
bangsa. Ini juga baru bagi saya. Ini mungkin cara berfikir yang bisa
membantu untuk  memahami apa itu nasion Indonesia, agar bisa  memberikan
sumbangan masing-masing dalam usaha �nation building'.Yang namanya
bangsa itu, menurut Pram, adalah Jawa, Sunda, Bugis, Minang, Aceh,
Batak, Minahasa, Ambon, dll. Kesatuan dan keutuhan dari bangsa-bangsa di
Indonesia, itulah namanya nasion Indonesia. Nasion Indonesia adalah
suatu nasion yang "Bhinneka Tunggal Eka", berbeda-beda tetapi satu.
"Unity in Diversity".

Salah satu stelling Pram: Proses "nation building" Indonesia belum
selesai. Dalam hal ini Bung Karno adalah pemimpin pertama Indonesia,
yang paling memberikan perhatian besar pada  masalah ini. Memang, aya
ingat betul betapa Bung Karno, selama tiga tahun lebih, ketika Indonesia
berada di bawah pendudukan Jepang, menggunakan semaksimal mungkin
kesempatan yang ada padanya, untuk melakukan pendidikan politik pada
rakyat Indonesia dalam rangka usaha �nation-building' itu. Bung Karno
telah meriskir dituduh �kolaborator fasis Jepang', demi memperoleh
konsesi politik dari Jepang, untuk menggembleng rakyat Indonesia
mengenai pentingnya berbangsa, bernegara dan melakukan pembagnunan
nasion Indonesia. Beliau melakukan perjalanan keliling sampai ke pelosok
tanah air untuk memenuhi misinya sebagai "nation-builder".Sejak
proklamasi kemerdekaan Bung Karno sebagai Presiden RI, tidak
mengendorkan, tetapi bahkan mempergiat usaha "nation building" itu.
Setiap kesempatan beliau gunakan untuk mendidik seluruh bangsa Indonesia
ke tujuan tsb.

Lalu dalam pembicaraannya itu, Pram menekankan berulangkali, tentang
arti penting dan keharusan adanya  k e b e r a n i a n   bagi setiap
orang yang bercita-cita keadilan.. Bila tidak ada keberanian, maka akan
sama saja dengan ternak, dan akan diperlakukan sebagai hewan, kata Pram.
Keberanian perlu ditanamkan dalam diri setiap pencinta kemerdekaan dan
demokrasi. Tanpa keberanian berjuang, cita-cita itu hanya tinggal
harapan kosong belaka. Tentu, saya fikir, bukan saja harus berani,
tetapi juga harus pandai berjuang. Hal itu merupakan kearifan
pejuang-pejuang kemajuan pada masa lampau, yang telah terbukti
keunggulannya.

Namun, ada beberapa hal yang dikemukakan Pram dalam pertemuan itu yang
memerlukan pemikiran lebih mendalam.

Pertama mengenai pemilu kali ini. Pram sangat skeptis.  Karena aparat
yang melaksanakannya adalah birokrasi Orba yang lama itu. Sepintas lalu
bisa saja dikatakan demikian. Sesudah jatuhnya Suharto yang disebabkan
oleh menggeloranya gerakan reformasi dengan mahasiswa di barisan
pendobraknya, seyogianya bisa dilihat dan dialami sendiri, bahwa ada
perubahan tertentu dalam situasi politik Indonesia. Sementara kebebasan
demokratik, yaitu kebebasan menyatakan pendapat, dicabutnya kekangan
terhadap media cetak dan elektronik, kebebasan berorganisasi sampai
membangun partai politik sudah merupakan kenyataan kongkrit. Dalam
pemilu kali ini 48 parpol ambil bagian, termasuk partai yang paling kiri
dan progresif, PRD. Birokrasi Orba masih ada peranan dalam pemilu,
tetapi lebih besar lagi adalah peranan parpol, LSM, KIPP dengan 300.000
aktivis dan sukarelawan, beserta ratusan pemantau dari masyarakat
internasional. Ini adalah perbedaan yang nyata dibandingkan dengan
pemilu-pemilu rekayasa zaman jaya-jayanya Orba. Rakyat juga antusias
ambil bagian  dengan aktif. Antara lain dengan dibentuknya posko-posko.
Ini adalah suatu kemajuan yang perlu dinilai dengan tepat, disambut dan
dikembangkan lebih lanjut.  Ini bukan gejala yang membikin orang jadi
skeptis. Bila jutaan massa rakyat ambil bagian dalam suatu kegiatan
politik di mana terdapat sedikit banyak kebebasan demokratis, maka itu
adalah suatu pertanda yang positif ke arah kemajuan.Untuk mencapai
pemilu yang sungguh-sungguh  �luber' dan �jurdil' diperlukan adanya
perjuangan lebih lanjut dan adanya kepercayaan pada massa rakyat yang
luas, dan juga diperlukan optimisme.

Kedua, mengenai partai-partai yang tergolong kekuatan reformasi yang
ambil bagian dalam pemilu. Memang, jika  diukur dari kehendak subyektif
yang mengharapkan situasi sudah jauh berubah , parpol-parpol yang ada
yang digolongkan kekuatan reformasi itu, seperti PDI Perjuangan, PKB,
PAN, PUDI, PRD dan mungkin masih ada lagi, dari segi tujuan dan program
politik, kwalitas pimpinan dan kader-kadernya maupun jumlah, belum
ideal. Tetapi, biar bagaimanapun mereka adalah kekuatan yang punya
potensi untuk mencegah kembalinya rezim Orba yang lama. Pemerintah yang
sekarang ini,  memang masih ORBA yang lama dengan tambal sulam di sana
sini.. Tetapi bila kekuatan reformasi seperti yang disebut diatas,  bisa
mencapai keunggulan atas Golkar dan kekuatan "Statusquo", jika mereka
bisa bersatu dan kerjasama , termasuk mengadakan aliansi dan koalisi;
maka tidaklah salah mengharapkan adanya pemerintahan yang lebih baik
bagi Indonesia sesudah pemilu. Suatu pemerintah yang lebih demokratis,
lebih transparan, lebih bersih. Dengan demikian peluang bagi  kekuatan
yang betul-betul demokratis dan progresif, untuk lebih berkembang dan
mengkonsolidasi diri menjadi lebih besar.

Dalam hal bersatu melawan kekuatan "Statusquo" dan retrogres, adalah
arif berpedoman pada stelling, �memperkecil  sasaran sekecil mungkin ,
dan , memperbesar seluas mungkin kekuatan yang bisa dipersatukan'.

Ketiga, mengenai golongan cendekiawan dan angakatan muda. Pramudya
mengkonstatasi, tidak ada satupun dari kaum intelektuil Indonesia yang
berani tampil untuk memprotes rezim Suharto ketika terjadi  pembantian
massal pada tahun-tahun 1965-1966 dst, juga  dalam peristiwa Tg Periok,
Lampung, Aceh, Timor dll, dimana Orba dengan sewenang-wenang melakukan
opresi dan  pembunuhan masal terhadap rakyat sendiri. Seluruh kaum
intelektuil Indonesia ketika itu �tiarap' demi untuk kelangsungan
hidupnya. Mereka menjadi kaum �yes-man' , menjadi tawanan dari budaya
�panutan'.

Kemudian, sesudah ada reaksi publik dalam pertemuan itu,  Pram  mengubah
sedikit stellingnya dengan mengatakan, kalaupun ada intelektuil yang
berani, itu pengecualian, seperti Mokhtar Pakpahan.

Tanggapan saya ialah bahwa di mana saja di dunia ini, di dalam
perjuangan revolusioner untuk kemerdekaan dan kebebasan , ataupun dalam
perjuangan reformasi,  demokrasi, dan hak-hak azasi menusia,
kenyataannya sudah menjadi hukum, bahwa yang berani itu jumlahnya
sedikit saja, minoritas. Yang banyak adalah yang ada ditengah-tengah.
Yang reaksioner dan kepala batu, yang ngotot mempertahankan "Statusquo"
itu juga adalah minoritet. Yang berani yang jumlahnya sedikit itu, jika
ulet dan pandai berjuang serta pandai bersatu dengan kekuatan yang patut
dipersatukan, dalam proses berangsur-angsurbertambah besar jumlah dan
kekuatannya, sehingga akhirnya mengungguli kekuatan "Statusquo".

Di Indonesia ketika dilancarkannya pembantaian terhadap rakyuat dan
digulingkannya Presiden Sukarno, kaum intelektuil yang potensiil bisa
dan mau berlawan, yang mau menyatakan protesnya, sesungguhnya tidak
sedikit.  Tetapi mereka keburu dipenjarakan atau dibunuh. Teror reziim
Suharto begitu ganas dan meluasnya sehingga mereka terpaksa menempuh
cara yang subtil dalam melakukan perjuangannya.

Yang akhirnya sempat menghindarkan diri dari pengejaran, pergi  keluar
negeri juga tidak tinggal diam, seperti Prof. Ernst Utrecht alamarhum,
Siauw Giok Tjhan mantan menteri penerangan dalam kabinet zaman Revolusi
Agustus, juga mantan Ketua Baperki; drs Go Gien Tjwan, mantan direktur
Kantor Berita Nasional Antara, dll. Tidak sedikit yang kebetulan sedang
di luarnegeri, dan  tidak bisa pulang, tidak  henti-hentinya melakukan
kegiatan kontra propaganda melawan rezim Suharto dengan menggunakan
berbagai organisasi dan forum iternasional. Dalam bulan Januari 1966,
ketika sedang gencar-gencarnya Suharto membantai rakyat Indonesia,
sebuah  Delegasi Indonesia dalam Konferensi Trikontinental di Havana,
setelah berhasil menyingkirkan "delegasi" kiriman dari Jakarta, yang
dikuasai oleh militer, telah tampil di forum internasional tsb, dimuka
ratusan utusan dari Asia, Afrika dan Amerika Latin, menyatakan protes
sekeras-kerasnya terhadap pembantaian massal yang dilakukan rezim
Suharto-Nasution terhadap rakyat Indonesia, sekaligus Delegasi
Indonesia  menyerukan bantuan solidaritet internasional untuk rakyat
Indonesia. Konferensi Trikontinental di Havana selanjutnya telah
mengambil sebuah resolusi mengenai Indonesia yang mengutuk rezim Suharto
dan menyerukan solidaritas rakyat sedunia terhadap perjuangan rakyat
Indonesia .

Di dalam Delegasi Indonesia di Havana itu, terdapat  sejumlah intlektuil
yang patriotik dan mau serta  berani berjuang demi keadilan.. Antara
lain, Wiyanto SH, wakil Indonesia di Sekretariat Juris AA di Conakry,
Guinea, yang datang bersama anggota Sekretaariat Juris AA lainnya,
Fadiala Keita, Jaksa Agung Republik Guinea. Semua anggota Delegasi
Indonesia di Konferensi Trikontinental  dicabut paspornya, termasuk
Wiyanto SH. Ketua Delegasi Indonesia ke Konferensi Trikontinental dicap
oleh pemerintah Indonesia sebagai "pengkhianat bangsa". Ketika Wiyanto
kembali ke posnya di Conakry sudah ditunggu oleh Dubes Indonesia di
Guinea untuk dicabut paspornya. Halmana ditolak keras oleh Wiyanto dan
fihak pemerintah Guinea.

Karena Sekretariat Juris AA senantiasa mengambil sikap yang tegas
mengutuk rezim fasis Suharto dan pembantaian yang dilancarkannya, maka
Suharto telah memerintahkan KBRI, untuk mengusahakan digesernya Wiyanto
dari Sekretariat Juris AA dan menggantikannya dengan seorang Sekretaris
KBRI, Hasyim Jalal. Tapi usaha itu gagal.

Sejumlah  intelektuil Indonesia lainnya, yang kebetulan ada di
luarnegeri dan tidak bisa kembali, telah menerbitkan majalah berbahasa
Inggris sperti a.l. "Indonesian Tribune" , "OISRAA Bulletin", dan yang
berbahasa Indonesia:"Suara Rakyat Indonesia" Semua publikasi itu selama
bertahun-tahun sejak berdirinya Orba telah menerbitkan tulisan-tulisan
yang melawan tindakan-tindakan fasis dan pelanggaran hak-hak manusia
Indonesia dari Orba.; serta menyerukan solidaritas internasional bagi
rakyat Indonesia. .  Kaum intelektuil ini melakukan perlawanan terhdap
rezim Suharto menurut situasi dan keadaan mereka masing-masing, tapi
mereka tetap melakukan perlawanan yang terus menerus.

Di atas tadi sudah dikutip penilaian Ben Anderson terhadap Pram sendiri,
sebagai intelektuil, dan kepada intelektuil Soe Hok Gie dan Mr Yap Thiam
Hien.Selanjutnya kita juga mengenal nama-nama seperti Budiman
Sudjatmiko, Buyung Nasution, Arief Budiman, Gunawan Muhamad, G.J.
Aditjondro, Bintang Pamungkas, dll. Mereka semuanya adalah intelektuil
Indonesia. Ada dari mereka itu , yang semula bersama Orba, seperti
Buyung Nasution dan Arief Budiman,  kemudian menyadari adalah salah
menyokong Orba, lalu membanting setir melakukan perlawanan terhadap
Orba. Intelektuil seperti itu juga merupakan kekuatan demokratis yang
perlu dipersatukan. Kesedaran itu mereka peroleh melalui praktek itu
sendiri. Sebagaimana halnya banyak pejuang yang memperoleh kesadaran
baru melalui praktek perjuangan itu sendiri.

Jadi,  bukan tidak ada intelektuil Indonesia yang berani melakukan
perjuangan.  Bukanlah semuanya �tiarap'. Kenyataan menunjukkan bahwa
kekuatan pendobrak yang mendongkel Suharto sampai terguling dari kursi
kepresidennya adalah kaum mahasiswa (tergolong intelektuil) dan
intelktuil muda lainnya yang bermarkas di universitas-universitas di
seluruh Indonesia. Maka seyogianya kita berpandangan optimis dan positif
terhadap kaum intelektuil Indonesia, maksudnya di sini adalah
intelektuil muda dan juga intetektuil yang lebih tua.
Dalam perlawanan itu,  mereka, seperti lapisan masyarakat lainnya, juga
mengalami jatuh bangunnya perjuangan.

Demikianlah  sedikit kesan dan  tanggapan terhadap pembicaraan menarik
dan berharga oleh Pramudya Ananta Toer, novelis Indonesia paling besar
dewasa ini, dan  yang berpandangan luas dan progresif. Pembicaraan
Pramudya Ananta Toer pada hari tanggal 6 Juni itu, telah membuka fikiran
yang lebih luas, serta telah juga memberikan inspirasi dan dorongan
kepada pendengarnya, khususnya pada generasi muda.

Banyak-banyak terima kasih Pram!
*   *   *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Jun 1999 jam 16:07:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke