----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

From: KOALISI NGO HAM Aceh

SELASA, 8 JUNI 1999
------

Pemilu Di Aceh Rusuh

BANDA ACEH (Waspada): Kekuatiran bakal terjadi kerusuhan pada saat
pencoblosan suara di Aceh, menjadi kenyataan. Selain pembakaran,
penyanderaan anggota KPPS, eksodus belasan ribu warga dan kontak senjata,
pengibaran bendera AM juga mewarnai pelaksanaan Pemilu di Aceh.

Sementara tingkat partisipasi masyarakat menggunakan hak pilihnya masih
sangat rendah, khususnya di Kabupaten Aceh Utara dan Pidie. Di Aceh Utara,
26 TPS yang dibangun di 26 kecamatan praktis kosong melompong dari kegiatan
pencoblosan, kecuali di Kecamatan Banda Sakti agak ramai, karena dekat
dengan instalasi militer. Sedangkan di Pidie, masyarakat yang memberikan
suara bisa dihitung dengan jari, seperti di Kecamatan Titue Keumala, yang
hanya diikuti 72 orang pemilih.

Namun, keadaan itu berbeda jauh dengan kabupaten eks DOM lainnya, yakni
Aceh Timur, dilaporkan pelaksanaan pencoblosan terselenggara dengan aktif
pada 80 persen dari 1.257 TPS yang tersedia. "Diperkirakan, hampir 100
persen pemilih terdaftar akan memberikan hak suaranya di kabupaten itu,"
kata sebuah sumber.

Sementara di daerah tingkat II lainnya, seperti Aceh Barat, Aceh Tengah,
Aceh Tenggara, Sabang, Simeulue, Aceh Singkil, Aceh Besar dan Banda Aceh,
pelaksanaan pencoblosan suara berjalan dengan baik, walau TPS baru ramai
didatangi para pemilih mulai pukul 09:30.

Ketua PPD Tk-II Pidie, Bismi Samaun, dalam laporannya ke PPD-I Aceh
menyebutkan, pada pelaksanaan hari pertama Pemilu 1999 di kabupaten itu,
telah terjadi serangkaian peristiwa pembakaran terhadap sejumlah sekolah
dan kantor pemerintahan, penyanderaan anggota KPPS, eksodus warga dan
pemancangan bendera AM serta kontak senjata.

Di Kecamatan Kembang Tanjong, telah dibakar balai desa, empat lokasi SMP
dan sebuah SD di Ie Leubeue. Di Kecamatan Pidie, SD Kampung Barat dibakar
orang tak dikenal sekitar pukul 07:30, di Kecamatan Simpang Tiga empat unit
SD serta satu unit SMP di Kecamatan Meureudu juga dibakar.

Sementara di Kecamatan Mutiara, seorang anggota KPPS dari Partai Golkar
bernama Keuchik A Gani, disandera oleh orang-orang tak dikenal sejak pukul
03:00 dan hingga kini belum diketahui nasibnya.

Bismi Samaun juga melaporkan, bahwa sekitar pukul 10:00 telah terjadi
kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata tak
dikenal di kawasan Blang Rhee, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie. "Namun,
hingga kini kami belum dapat mengetahui apakah ada korban jiwa," katanya.

Selain di Pidie, kontak senjata juga terjadi di Kecamatan Kuta Fajar,
Kabupaten Aceh Selatan. Namun, hingga berita ini dikirim, Waspada belum
menerima kabar mengenai siapa yang melakukan kontak senjata dan jumlah
korban dalam peristiwa itu.

Enam Kecamatan Gagal

Dari 19 kecamatan seluruhnya yang ada di Aceh Timur, enam kecamatan
diantaranya gagal melaksanakan Pemilu pada Senin (7/6). Enam kecamatan
tersebut terletak di wilayah barat Aceh Timur meliputi Kecamatan Rantau
Selamat, Peureulak, Rantau Peureulak, Nurussalam, Julok, dan Simpang Ulim.
Sedangkan Kecamatan Idi Rayeuk dan Darul Aman walaupun secara keseluruhan
tidak terlaksana Pemilu tetapi di masing-masing kecamatan ada tiga dan dua
TPS yang mengadakan pemilihan yang terletak di pusat kota kecamatan.

Di wilayah timur dan tengah Kabupaten Aceh Timur, semua kecamatan
melaksanakan Pemilu sesuai dengan rencana, kecuali di Kecamatan Manyak
Payed yang terdapat sedikit gangguan, karena setelah kemarin malam dua
kotak suara dibakar orang tidak dikenal, pada pagi Senin kembali 15 kotak
suara yang sudah sampai di KPPS diambil orang tidak dikenal dengan
membuangnya ke sungai.

Mengenai gagalnya pelaksanaan Pemilu di enam kecamatan, menurut informasi
yang berhasil Waspada peroleh di PPD II Aceh Timur, umumnya karena anggota
KPPS mendapat ancaman dari orang tidak dikenal dengan membawa senjata api
dan melarang pelaksanaan Pemilu.

Selain itu, beberapa daerah-daerah yang sudah dibuat TPS seperti di
Kecamatan Peureulak dan Rantau Selamat TPS dibakar pada malam harinya.
Sehingga pagi hari, petugas PPS tidak ada yang berani lagi menjalankan
tugasnya.

Di daerah yang gagal pelaksanaan Pemilu itu, yang ketakutan ternyata bukan
saja anggota KPPS dan masyarakat pemilih, tetapi para Camat dan Caleg dari
berbagai parpol juga tidak berani tinggal di tempat.

Umumnya mereka sudah mendapat ancaman jika mensukseskan Pemilu kemanannya
tidak akan dijamin. Bahkan salah seorang kepala Desa Kuala Parek, Kecamatan
Rantau Selamat ketika mengantar kotak suara disandera oleh orang yang tidak
dikenal.

Bupati Aceh Timur H Alauddin AE dan Kapolres Letkol Pol R Suminar yang
Waspada tanyakan tentang gangguan tersebut ketika memantau pelaksanaan
Pemilu di seputar kota Langsa, membenarkan hal itu.

Menurut bupati yang juga dibenarkan Kapolres, di daerah yang belum siap
pelaksanaan Pemilu itu akan dilaksanakan pada hari berikutnya, sesuai
dengan petunjuk dari KPU yang untuk Aceh bisa dilaksanakan selama tiga hari.

Pemilih TNI Dan Polri

Penyelenggaraan Pemilu tujuh Kecamatan dalam Wilayah Pembantu Bupati
Wilayah Bireuen dinilai gagal total. "Kecuali di kota Bireuen terdapat
sebuah TPS berlokasi di Lapangan tennis dilingkungan asrama Yonif-113/YS.

Para peserta Pemilu di Bireuen kebanyakan dari keluarga TNI dan Polri. Para
peserta Pemilu dari asrama Yonif-113/JS Km-7 Jalan Takengon diantar dengan
truk militer yang dikawal ketat pasukan Yonif-113 dengan senjata lengkap
dan petugas Hansip.

Pelaksanaan Pemilu di Bireuen nyaris gagal total karena Camat Jeumpa H
Djakfar Abbas, Pembantu Bupati Drs H Bachtiar Abdullah hingga hari "H"
menghilang. Begitu juga ketua PPK, panitia PPS, parpol hingga pukul 11.00
tidak datang ke TPS.

Danramil Bireuen Kapten Inf Zulkifli dan Kapolsek Jeumpa Lettu Pol Yudo
berhasil meminta PPK, Panitia PPS dan beberapa parpol sehingga pelaksanaan
Pemilu di TPS tunggal kota Bireuen dilaksanakan pukul 12:00 yang hanya
diikuti ratusan pemilih keluarga TNI dan Polri.

Kota Mati

Lhokseumawe bagai kota mati, karena adanya isu perang pada hari pencoblosan
Pemilu, Senin (7/6).

Suasana kota itu mencekam, karena toko-toko tutup. Mobilitas kendaraan umum
mulai jarang terlihat sejak Sabtu (5/6), menyusul Minggu (6/6) dan pada
hari 'H' Senin kemarin merupakan puncak keheningan, tanpa kendaraan roda
dua, tiga (beca) serta roda empat yang melintas di jalan raya.

Kesunyian itu hanya sekali-kali diusik oleh konvoi mobil pasukan aparat
yang melintas. Berseleweran keluar/masuk kota dan jalan-jalan desa, di
kawasan pemukiman penduduk kota gas ini. Jalan-jalan protokol, sampai pusat
perbelanjaan lengang tanpa aktifitas jual/beli.

Denyut kehidupan benar-benar lumpuh. Sebagian besar warga terkonsentrasi di
rumah mereka masing-masing. Banyak yang tidak datang ke Tempat Pemungutan
Suara (TPS) yang tersedia di lapangan hiraq Jln.Merdeka dan lapangan
Sudirman.

Dari 334 TPS di kabupaten Aceh Tengah, pada hari pertama pencoblosan, hanya
231 TPS yang ikut melaksanakan. 103 TPS sisa hari pertama dijadwalkan akan
dilaksanakan hari ini (Selasa 8/6).

Khusus untuk kecamatan Timang Gajah, dari 48 TPS yang ada, tidak ada satu
TPS yang melaksanakan kegiatan pemungutan suara. Bahkan ketika berita ini
diturunkan, Camat Timang Gajah Drs. Abdurrahman tidak berada di tempat.
Semua pihak telah berusaha "mencari" camat Timang Gajah, karena situasi
memungkinkan untuk pelaksanaan pencoblosan di beberapa tempat di kecamatan
itu.

Beberapa kecamatan lainnya yang belum sukses menyelenggarakan Pemilu dihari
pertama; Pegasing 11 TPS dari 27. Bukit 2 TPS dari 65, Bebesen 7 dari 40
TPS, Bandar 7 dari 65 TPS dan Silih Nara 17 TPS dari 73.

Hasil pantauan Waspada langsung kelapangan, hanya tiga kecamatan dari 9
kecamatan yang sukses melaksanakan pemungutan suara. Yakni Kecamatan
Bintang, Kota dan Linge. Khusus untuk kecamatan Bintang, walau suasana
mencekam, karena pada malam Kamis (3/6) kantor camat di pinggir Danau Laut
Tawar itu dibakar, namun camatnya bertekad tetap melaksanakan pemungutan
suara. (tim)

---------

Pembakaran Makin Marak

BANDA ACEH (Waspada): Aksi pembakaran gedung sekolah dalam minggu terakhir
ini tambah marak di beberapa kabupaten. Di kabupaten Aceh Selatan tiga
kantor kades dan puluhan kotak suara dibakar, di Kabupaten Aceh Utara dua
kantor camat juga dibakar.

Di Kabupaten Pidie, seperti yang terjadi Minggu (6/6) malam dan Senin (7/6)
dinihari, 17 unit sekolah dan kantor pemerintah dibakar kelompok tak dikenal.

Ke-17 sekolah dan gedung pemerintah yang dibakar itu adalah SD Negeri Ie
Leubeue, SLTP Kembang Tanjong (Kecamatan Kembang Tanjong), SD Negeri
Karieng, SLTP Blang Malu, SLTP Negeri Pulo Raya, Kantor SD Negeri No. 1
Simpang Tiga (Kecamatan Simpang Tiga), SLTP Negeri 2 Luengputu (Bandar
Baru), SLTP Negeri 2 Trienggadeng, SLTP NEgeri 3 Trienggadeng (Trienggadeng
Panteraja Negeri 2 Meureudu, SLTP Negeri 2 Peukan Pidie, SLTP Negeri
Sanggeu (Kecamatan Pidie), dan Kantor Camat Kembang Tanjong.

Aksi pembakaran kantor pemerintah dan gedung sekolah yang dilakukan
kelompok orang tak dikenal itu cukup meresahkan masyarakat karena tidak
sempat membantu memadamkan api yang terus menjalar ke banguan, kecuali
pembakaran SLTP Negeri 1 Beureunuen yang sempat dicegah/dibantu masyarakat
setempat, karena dilakukan sekitar pukul 06:00 saat masyarakat sudah bangun
dari tidur sehingga tidak sempat terbakar.

Dalam aksi pembakaran tersebut juga tidak ada bantuan dari mobil pemadam
kebakaran milik Pemda Pidie yang diminta tolong tidak berani keluar. Dalam
peristiwa itu tidak ada korban jiwa, selain harta benda dan dokumen sekolah
atau kantor.

Akibat aksi pembakaran itu, membuat sebagian besar camat dan kepala sekolah
yang menempati rumah dinas berdekatan dengan kantor atau sekolah terutama
di daerah pedalaman maupun kota tidak berani lagi menempatinya, sehingga
beberapa camat yang kantornya sudah dibakar dan khawatir akan dibakar sudah
eksodus atau pindah (mengungsi) ke tempat lain yang dirasa lebih aman.

Kapolres Pidie Letkol Pol Sirwandi Laut Tawar, mengakui malam minggu ini
terjadi aksi pembakaran orang tak dikenal, bahkan kondisinya semakin
mencekam karena kebakaran itu terus terjadi di mana-mana dan dilakukan di
malam hari saat warga sedang nyenyak tidur, sehingga sangat sulit untuk
memberikan pertolongan memadamkan kobaran api.

Dibakar

Senin (7/6) satu kantor dan dua sekolah musnah dibakar orang tak dikenal di
Aceh Utara.

Adapun kantor yang dibakar adalah kantor Inspeksi Depdikbud Kecamatan
Syamtalira Bayu, sedangkan sekolah SD Negeri Meugiet Samalanga dan SDN,
Panggoy Kecamatan Muara Dua.

Menurut keterangan warga masyarakat di daerah itu, peristiwa kebakaran
tersebut terjadi sekitar pukul 03:00 dinihari, masyarakat tidak ada yang
berani untuk membantu memadamkan api, karena takut sehingga gedung itu
musnah.

Di Aceh Selatan

Tiga Kantor Kepala Desa dibakar serta puluhan kotak suara di tiga kecamatan
di Aceh Selatan dirampas dan dibakar oleh sekelompok orang tak dikenal
Senin (7/6) dinihari.

Koresponden Waspada di Tapaktuan, Zamzamy Surya, melaporkan Senin malam,
tiga kantor Kepala Desa yang dibakar masing-masing di Desa Kuta Bahagia dan
Kampung Tengah, Kecamatan Kuala Batee serta Desa Trieng Meuduro, Kecamatan
Sawang.

Sementara perampasan dan pembakaran kotak suara terjadi di sembilan desa,
masing-masing di desa Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, desa Ladang
Neubok Kecamatan Blang Pidie serta tujuh desa di Kecamatan Kluet Utara.
Sebelum kotak suara itu dirampas dan dibakar, para Kepala Desa di sembilan
desa itu diancam oleh sekelompok orang tak dikenal. "Mereka beroperasi
sekitar pukul 03:00 dinihari," katanya.

"Untuk desa Krueng Batee dan Ladang Neubok, Pemilu tetap dilaksanakan
setelah kotak suara diganti. Namun untuk tujuh desa di Kluet Utara,
pelaksanaannya ditunda, karena masyarakat disitu masih takut diancam,"
papar Zamzamy, menirukan keterangan Wakil Ketua PPD-II Aceh Selatan, Dinar
Nyak Idin.

Selain peristiwa pembakaran kantor Kepala Desa dan kotak suara itu, menurut
Zamzamy, masyarakat juga dikejutkan dengan berkibarnya bendera Aceh Medeka
di dua lokasi, masing-masing di SMPN 1 dan SDN 1 Kuala Batee.

Kapolres Aceh Selatan, Letkol Pol Drs Gatot Subroto, ketika dikonfirmasi
Waspada Senin malam, membenarkan semua kejadian tersebut. "Kita sedang
selidiki kasus itu dan secepatnya menangkap para pelakunya," kata Kapolres.

Di Aceh Utara

Kantor Camat Kecamatan Samalanga dan Kecamatan Peudada Kabupaten Aceh
Utara, dilaporkan terbakar hingga menghanguskan seluruh inventaris penting
Senin (7/6) dinihari.

Camat Samalanga, Drs Azhari yang dikonfirmasi melalui telepon di kantor
Polsek setempat Senin, membenarkan musibah yang mengakibatkan seluruh
peralatan kantor pemerintahan tersebut musnah terbakar.

Petugas posko II Pemilu Kanwil Deppen Aceh menerima laporan dari posko
Kandeppen Aceh Utara tentang kebakaran kantor Camat Kecamatan Peudada
tersebut.

Camat Samalanga Azhari yang sedang berada di kantor Polsek Samalanga,
mengatakan, terbakarnya kantor camat itu diduga kuat dilakukan kelompok
bersenjata yang bertujuan ingin mengacaukan pemilu di kecamatan tersebut.

"Tidak diketahui pelakunya, karena ketika kejadian tersebut berlangsung
masyarakat tidak berani keluar rumah," katanya.

Kerugian fisik dan peralatan tulis akibat kebakaran tersebut mencapai Rp50
juta.

Menurut saksi mata di sekitar musibah kebakaran tersebut, warga tidak
berani keluar rumah memberikan pertolongan untuk memadamkan kobaran api dan
hanya terlihat para petugas keamanan menjinakkan si jago merah.

Upaya pemadaman kobaran api sulit dilakukan, karena kantor Pemadam
Kebakaran berada di Lhokseumawe yang berjarak sekitar 100 Km dari ibukota
Kecamatan Samalanga atau sekitar 64 km dari kota Sigli, ibukota kabupaten
Pidie.(tim)

----

Pengungsi Aceh Utara
Dan Pidie 48 Ribu

SAMALANGA (Waspada): Jumlah para pengungsi di Aceh Utara dan Pidie sejak
(26/5) hingga hari "H" Pemilu 7 Juni bertambah marak mencapai 48 ribu jiwa.

Para pengungsi itu berasal dari warga Desa Perwakilan Kecamatan Juli
Bireuen dari jumlah pengungsi awal 5.000 jiwa meningkat sekitar 10 ribu jiwa.

Pengungsi di Kecamatan Peudada dari 12 ribu jiwa bertambah sekitar 20 ribu
jiwa lebih dan Simpang Ie Rhob Samalanga yang mengungsi Jumat malam (4/6)
sekitar 2.000 jiwa dan pengungsi Ulee Glee Kecamatan Bandar Dua, Pidie yang
mengungsi Minggu malam (6/6) sekitar 16 ribu jiwa kondisinya semakin
memprihatinkan.

Pengungsian massal warga desa terpencil kecamatan tersebut karena Minggu
(6/6) petang sejumlah pasukan militer dilengkapi panser melancarkan operasi
ke desa-desa.

Ketua Satgana (Satuan Siaga Penanggulangan Bencana) Palang Merah Wilayah
Bireuen Susanto bersama tim paramedis diketuai dr Mahlil Rubi dan para
anggota lainnya Minggu kemarin memberikan bantuan kemanusiaan melakukan
pengobatan gratis bagi para pengungsi yang menderita sakit di Simpang
Mamplam dan Simpang Ie Rhob Samalanga.

Menyusul berbagai gejolak yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai
kecamatan di Kabupaten Pidie, termasuk kontak senjata aparat keamanan
dengan kelompok tak dikenal dan isu perang di Uleegle, dan Ulim Minggu
(6/6) malam, menye-babkan 20.000 lebih warga Uleegle Kecamatan Bandar Dua,
Ulim, dan Meureudu (mengungsi) ke berbagai masjid, sekolah dan tempat umum
lainnya.

Mengungsinya puluhan ribu warga di tiga kecamatan bertetangga itu karena
ketakutan dan trauma, kata sumber masyarakat.

Warga yang mengungsi tersebut berasal dari Desa Blang Rheue, Lhok Gajah,
Alue Keumiki, Cot Seutui, Mesjid Blang Rheue, Blang Cari, Bidok, Pantang
Cot Baloi di Kecamatan Ulim yang jumlahnya 8 Desa. Sementara di Kecamatan
Meureudu warga yang mengungsi yakni Desa Lhok Sandang dan Desa Sarah Mane.
Sedangkan di Uleegle Kecamatan Bandar Dua warga yang mengungsi itu
diperkirakan mencapai 17.000 jiwa berasal dari 32 desa, tambah sumber.(tim)

Di Uleegle Kecamatan Bandar Dua, para pengungsi itu sementara ditampung
atau menginap di beberapa Masjid, sekolah dan tempat-tempat darurat lainnya
di Kota Uleegle. Sedangkan di Kecamatan Ulim dan Meureudu warga pengungsi
itu berlindung di Masjid Kecamatan Ulim dan kemah-kemah yang dibangun di
halaman masjid tersebut.

Hingga berita ini dikirim jumlah pengungsi terus bertambah diperkirakan
20.000 jiwa lebih dari 42 desa. Masyarakat yang mengungsi tersebut karena
takut meletusnya perang besar di wilayahnya menyusul pasukan militer
melakukan ronda keliling desa.

Keberadaan aparat di sejumlah desa dimaksudkan untuk mengamankan
pelaksanaan Pemilu 7 Juni 1999. Sejak Minggu (6/6) malam suasana di wilayah
itu mencekam, pertokoan dan rumah-rumah penduduk tutup.

Sementara itu, hampir semua masjid dan meunasah dipenuhi jamaah shalat
Magrib dan Isya serta melakukan pembacaan surat yasin dan doa tolak bala,
memohon kepada Allah agar masyarakat Aceh dihindari dan dilindungi dari
bala peperangan.

Arus pengungsi di Uleegle Bandar Dua dan Ulim sudah mulai sejak pukul
20:00, setelah tersiar berita yang disampaikan tiga pengendara sepeda motor
berkeliling ke desa-desa, bahwa pasukan militer telah masuk ke desa-desa
dan perang akan terjadi secara besar-besaran, kata sebuah sumber.(tim)

----------end----------


Abdul Halim EL Bambi
Div Data & Informasi

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Jun 1999 jam 16:09:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke