----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

TEKAD, 7-13 Juni 1999

Indonesia sebagai Bangsa Baru

Oleh: Nurcholish Madjid

Hari ini, 7 Juni, bangsa Indonesia melaksanakan Pemilihan Umum.
Dengan Pemilu ini kita berharap dapat memasuki era yang
sebenarnya dalam cita-cita reformasi menuju masyarakat adil,
terbuka, dan demokratis. Pemilu yang demokratis memang
diharapkan bukan hanya oleh kita, tapi juga oleh dunia
internasional. Karena itulah mereka banyak memberikan bantuan,
bukan hanya teknis tapi juga finansial, untuk mendukung
terlaksananya Pemilu yang jujur dan adil: Pemilu yang benar-
benar berlangsung secara demokratis. Dengan Pemilu ini kita
masuk menjadi bangsa baru.

Kita adalah bangsa yang amat besar, bahkan terbesar kelima
setelah Cina, India, Rusia, dan Amerika. Wilayah tanah air kita
pun sangat besar, yang bentangan barat dan timurnya - Sabang-
Merauke - sama dengan bentangan London-Teheran. Tetapi harus
kita sadari bahwa, sebagai bangsa, Indonesia adalah bangsa
baru. Unsur-unsur bangsa Indonesia dengan budaya masing-masing,
seperti Melayu, Sunda, dan Jawa, misalnya, adalah "bangsa-
bangsa" dan budaya-budaya yang cukup tua dan mapan. Namun
tidaklah demikian dengan bangsa Indonesia. Keindonesiaan adalah
gejala mutakhir yang memperoleh eksistensinya terutama karena
proses-proses di masa kolonial Hindia Belanda dulu hingga
berdirinya Republik Indonesia.

Karena Indonesia dan keindonesiaan adalah gejala baru, dan
masih terus dalam tahap pertumbuhan dan perkembangannya hingga
saat ini, perlulah disadari adanya kesinambungan dan
kelestarian sebagai sumber rasa keabsahan dan keotentikan
sebagai bangsa. Namun, berbeda dari kebanyakan bangsa-bangsa
lain, kesinambungan dan kelestarian itu harus dicari tidak
hanya dari khazanah yang dengan tegas dan jelas merupakan
warisan seluruh bangsa Indonesia saja, melainkan juga dari
unsur-unsur yang menjadi titik-temu dari garis kesamaan utama
budaya-budaya Nusantara. Dari sinilah apa yang disebut civil
society itu dibangun, sehingga kita bisa mempunyai etika bangsa
yang mengakar pada dasar keruhanian budaya-budaya Indonesia.

Kita akan membuat kekeliruan yang gawat, jika kita hanya
memperhatikan segi-segi perbedaan kultural antara (suku) bangsa
kita. Kenyataan persatuan dan kesatuan negara kita sekarang ini
dapat ditafsirkan sebagai bukti tentang adanya titik-titik
kesamaan potensial antara semua unsur budaya Nusantara. Tafsir
yang sama dapat diterapkan kepada kenyataan mudahnya Bahasa
Melayu diterima sebagai bahasa nasional.

Di samping pengalaman penjajahan Belanda, rasanya sulit
diingkari bahwa salah satu faktor yang meratakan jalan menuju
kesamaan budaya Indonesia ialah agama Islam. Sebagai anutan
rakyat yang relatif merata sejak dari Sabang sampai Merauke,
khazanah peradaban Islam ini telah menyediakan rumus-rumus dan
konsep-konsep budaya nasional yang ternyata berlaku secara
efektif, seperti tercermin dalam dunia peristilahan, idiom dan
fraselogi sosial-politik nasional kita - seperti istilah-
istilah dewan, wakil, rakyat, musyawarah, mufakat, hukum,
hakim, mahkamah, aman, tertib, hal-hak asasi, wilayah, daerah,
masyarakat, adil, makmur, dan seterusnya yang banyak sekali.

Dalam ramuannya dengan unsur-unsur budaya lokal yang otentik
dan absah dari sudut pertimbangan nasional, unsur-unsur
khazanah peradaban Islam itu tumbuh menjadi  bahan yang tidak
mungkin diabaikan dalam perkembangan budaya Indonesia. Contoh
hal serupa itu banyak sekali, seperti terpantulkan dalam
pepatah yang berasal dari budaya suku Minangkabau: "bulat air
di pembuluh, bulat kata di mufakat." Kita mengetahui bahwa
pandangan sosial-politik di balik pepatah itu sekarang sudah
diterima sebagai bahan dari budaya sosial-politik nasional,
yaitu ide dan konsep "musyawarah-mufakat" yang dalam
pengertiannya yang sebenarnya menurut wawasan modern adalah
yang sekarang kita sebut "demokrasi." Memahami visi-visi
seperti ini memang membutuhkan sumberdaya manusia yang mapan
secara intelektual.

Kini sudah menjadi kesadaran yang cukup umum bahwa kemajuan
suatu bangsa lebih banyak ditentukan oleh sumber daya
manusianya daripada oleh sumber daya alamnya. Jika kita melihat
keadaan bangsa kita, Indonesia adalah bangsa ketiga terkaya di
dunia - sesudah Amerika Serikat dan Rusia - dalam hal sumber
daya alam. Tetapi tidak berarti bangsa kita adalah yang ketiga
di dunia dalam urutan kemakmuran. Sampai saat ini, biarpun
setelah mengalami kemajuan yang amat pesat dan dapat dikatakan
"exponential," tetapi kita masih tergolong bangsa miskin atau
terbelakang atau seuntung-untungnya, bangsa kelas menengah
bawah - yang masih cukup di bawah - apalagi setelah krisis
moneter hampir dua tahun ini. Sebabnya ialah meskipun kaya
dalam hal sumber daya alam, namun kita miskin dalam hal sumber
daya manusia.

Salah satu unsur sumber daya manusia itu, selain unsur keahlian
sebagaimana sering dibicarakan, ialah sikap kejiwaan atau mind
set yang bersifat mendorong kemajuan dan menopang kreativitas.
Nasib suatu bangsa, baik dalam arti kemajuan maupun
kemundurannya, sangat ditentukan oleh sikap kejiwaan mereka.
Sikap kejiwaan ini berada dalam bingkai budaya, dan tampil
secara nyata melalui pribadi-pribadi anggota masyarakat dalam
bentuk kepercayaan-kepercayaan  - atau etos-etos - dan cara
berpikir mereka.

Di sini kelestarian budaya menjadi amat penting karena
ketulusan serta kesungguhan berkepercayaan dan berpikir
memerlukan rasa keabsahan dan keotentikan. Kita tidak akan
memiliki kemantapan dalam kepercayaan, berpandangan hidup atau
menganut suatu etos, jika kepercayaan, pandangan hidup, atau
etos itu tidak kita rasakan sebagai absah dan otentik. Dan
biasanya rasa keabsahan dan keotentikan itu kita peroleh antara
lain karena adanya rasa kesinambungan dengan masa lalu dan
kelestariannya. Di sinilah kita bicara tema-tema seperti
keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.

Jadi, diperlukan kecakapan mengelola secara kreatif dinamika
ketegangan antara keperluan kepada kelestarian, atau
kesinambungan, dan kemampuan melakukan inovasi untuk memberi
responsi kepada zaman, atau - dalam bahasa kalangan pesantren -
diperlukan sikap-sikap "memelihara yang lama yang baik dan
mengambil yang baru yang lebih baik." Tantangan-tantangan ini
kiranya perlu menjadi visi dan agenda pemerintahan yang baru
setelah Pemilu ini.

Kita boleh berharap, kalau kita bisa mewujudkan visi baru
"memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang
lebih baik" ini, Indonesia akan menjadi negara demokratis
memasuki milenium baru tahun depan. Bahkan the third largest
democratic country in the world! Tetapi untuk mencapainya,
segi-segi primordial dari bangsa kita harus bisa
ditransendensikan sedemikian rupa sehingga mewujud dalam civil
society, dimana kita mempunyai nilai-nilai bersama yang tidak
lagi melihat hal-hal yang berkait dengan suku, ras, agama,
maupun golongan. Yang ada adalah suatu common platform:
Keindonesiaan dan kemodernan!*

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Jun 1999 jam 11:57:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke