---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- From: Pudji S.Sunarjo Saya tidak sependapat dengan Sdr. Mohamad Indoamnesia yang menyebut Andy Ghalib dengan sebutan Preman Agung. Tidak pantas manusia setingkat Ghalib disebut 'Agung', pada bagian manapun. Dengan hasil kerja yang Nol Besar, dia berani membeli mobil BMW seharga ratusan juta rupiah di tengah krisis ekonomi yang melanda sebagian besar masyarakat Indonesia. Saya tidak keberatan uang rakyat dipakai untuk beli mobil mewah jika dia menunjukkan hasil kerja yang baik (dalam hal pengusutan harta si mbah KKN Indonesia misalnya). Hasil sadapan telepon yang berisi obrolan dengan kawan karib sekampungnya yang kebetulan jadi presiden (hasil kudeta) menunjukkan bahwa Ghalib adalah produk tulen Orde Baru yang terus mencoba membodohi kita. Jika ditanya keseriusannya menangani pengusutan harta si mbah, dengan serius dia bilang bahwa Kejaksaan Agung sedang berusaha dengan serius, tapi hasilnya mana ? (kalau nggak becus ya mundur dong !, serius tapi nggak ada hasilnya berarti tak mampu). Jika ada yang menyodorkan data kekayaan si mbah, malah orang tersebut yang di'periksa' habis-habisan untuk dimintai data (saya juga bisa jadi Jaksa Agung kalau kerjanya hanya menunggu data, pak) Jalan-jalan ke Swiss, pulang dengan membawa 'angin surga' (kebohongan) padahal di sana di demo. Sekarang setelah ketahuan korupsi dia berdalih itu uang 'Gulat'. Ya, pergulatan dia dengan konglomerat KKN. Masak sumbangan untuk Gulat kok di deposito kan. (lagi-lagi mencoba menghina akal sehat kita). Bahkan seperti orang kebakaran jenggot Sdr. Teten dicaci maki dan diancam akan dikejar sampai liang kubur (kalau mau mati duluan silakan pak, jangan ngajak-ngajak orang lain). Pernah sekali waktu saya berbincang dengan seorang tukang kayu yang 'baca koran'. Isi perbincangan singkat tentang Andy Ghalib tersebut kurang lebih sebagai berikut : Bpk Tukang Kayu tersebut bertanya pada saya : "Bapak pernah lihat mukanya Andy Ghalib ?". lalu saya jawab : "Ya pernah, khan sering ada di TV atau di koran". kemudian dia berkata : " Bapak salah, itu bukan mukanya Andy Ghalib ". Saya agak heran mendengar pernyataannya. Lalu dia melanjutkan : "Mungkin yang tahu mukanya Andy Ghalib hanya istrinya". "Sebab", dia bilang. "Mukanya itu yang ditutupi celana, karena malu. Dan yang Bapak biasa lihat di TV atau di koran itu pantatnya, karena tidak tahu malu". Saya senang, dari percakapan tersebut saya sudah dapat merasakan bahwa sekarang seorang tukang kayu pun sudah bisa mulai kritis terhadap apa yang dia baca dan dengar. Sayapun yakin si Bapak Tukang Kayu tersebut sependapat dengan saya bahwa tidak pernah pantas seorang Ghalib disebut 'Agung' dalam konteks apapun. Untuk Andy Ghalib, saya ingat sebuah peribahasa yang berbunyi : Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Sama guru kurang ajar, korupsi ketahuan tanggung sendiri. (Mau pura-pura mengusut hartanya si mbah Guru nya KKN, kualat !). Untuk Sdr. Teten, saya salut. Teruskan perjuangan anda, kami masih mengharapkan orang-orang seperti anda yang peduli terhadap kebobrokan mental pejabat KKN. Kami akan terus mendukung anda ! (minimal dengan doa) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jun 1999 jam 16:40:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
