----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Republika, 16 Juni 1999

PEMENANG PEMILU
Antara Koalisi dan Oposisi

Hari 'H' pemilu telah kita lalui bersama dengan suka-ria.
Di beberapa TPS sempat kita saksikan -- baik langsung
maupun melalui media massa -- memperlihatkan luapan
kegembiraan warga setempat tatkala penghitungan suara
hasil pencoblosan dimulai. Saat itu, di samping jumlah
warga yang menyaksikan bertambah, juga nampak jelas,
ekspresi wajah mereka benar-benar memancarkan sinar
demokrasi mulai muncul di negeri ini. Pertanda awal
yang baik tentang kualitas pemilu pertama di era
reformasi, yang tidak saja luber tapi juga jurdil, di tangan
kita sendiri. Bukan di tangan pengamat asing atau IMF
segala.

Perhitungan suara tengah berjalan, kini bahkan sudah
mendekati separuh dari total pemilih (sebanyak 115 juta
pemilih). Hasilnya pun semakin jelas. Ada parpol yang
masuk sepuluh besar, ada yang lima besar (PDI-P, PKB,
Golkar, PPP, dan PAN). Bahkan sudah mulai nampak pula
parpol-parpol yang akan lolos atau 'gol' ke Senayan.

Jauh sebelum pemilu, para pakar dan pengamat sudah
memprediksi bahwa koalisi riel di MPR tidak bisa
dihindari. Sebab, realitas menunjukkan bahwa terjadi
persaingan ketat yang cukup signifikan di antara parpol
lima besar tadi. Ini indikasi kuat kebenaran prediksi tadi.
Dan, menunjukkan tidak ada parpol yang menang mutlak,
kecuali menang relatif. Di sinilah, persoalan koalisi riel
atau koalisi yang beneran di satu pihak; dan membangun
oposisi di pihak lain, menjadi wacana politik yang urgen
dan determinan.

Katakanlah adanya urun rembuk para elite parpol,
sehingga tercapai koalisi antara PDI-P, PKB, dan PKP
misalnya, mencapai suara mayoritas di MPR. Maka
seyogyanya, mereka harus diberi kesempatan yang luas
untuk membentuk pemerintahan yang sah untuk lima
tahun ke depan. Pemerintahan hasil koalisi itu harus
merepresentasikan pemerintahan yang demokratis, yang
legitimate sehingga merupakan pemerintahan yang kuat
dalam menjalankan roda kehidupan yang stabil, baik
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

Sedangkan parpol yang tidak masuk koalisi hendaknya
jangan pasif. Termasuk di antara lima besar, sebaiknya
mempunyai komitmen politik yang jelas tentang
demokrasi. Artinya menegakkan demokrasi bukan
monopoli parpol yang berkuasa. Namun, juga menjadi
tanggung jawab moral politik parpol di luar ring
kekuasaan untuk menegakkannya, antara lain dengan
membangun oposisi yang kuat dan efektif.

Perlu disadari, bahwa pemerintahan koalisi dan kelompok
oposisi dalam suatu sistem politik dan ketatanegaraan
yang kuat adalah ibarat dua muka pada sebuah koin
demokrasi. Demokrasi yang sehat dan sejati harus
dibangun bersama, di antara semua elemen bangsa. Baik
mereka yang berada di level suara struktur kekuasaan,
maupun mereka yang berada di dataran infrastruktur
politik (termasuk oposisi, pers, mahasiswa, LSM, dan
sebagainya). Sehingga tercipta chek and balance dalam
politik dan ketatanegaraan yang sehat.

Dengan demikian, kita akan menyaksikan demokrasi
sejati lahir dari rahim Ibu Pertiwi yang bernama
Indonesia Baru, dengan masyarakat madani sebagai
landasan sosiologis. Maka persepsi dan harapan saya,
bahwa membentuk pemerintahan yang demokratis sama
dan sebangun dengan membangun oposisi yang kuat.
Profil oposisi yang efektif adalah sesungguhnya
membangun demokrasi itu sendiri.

Untuk mencapai itu, spirit reformasi harus dipelihara dan
konsisten diimplementasikan, termasuk amandemen
UUD 45. Hasil amandemen supaya memposisikan oposisi
dalam konstitusi, sehingga keberadaannya menjadi lebih
berwibawa dan lebih konstitusional. Demi keutuhan
bangsa dan integritas nasional, para elite politik yang
lolos ke Senayan harus ikhlas dan lapang dada dalam
menerima kenyataan hasil pemilu nanti.

Penampilan karakter yang demikian mendukung proses
pendewasaan jati diri kita sebagai bangsa maupun
sebagai nation state dalam berpolitik dan berdemokrasi
secara arif. Agar terpeliharanya kepentingan nasional
yang utuh dan komprehensif, maka singkirkan egoisme
murahan dalam diri elite politik dan parpolnya, sehingga
prinsip-prinsip demokrasi dapat ditegakkan secara jujur
dan konsisten dalam koridor negara kesatuan RI.

Damrah Mamang
Fakultas Hukum
Universitas As-Syafi'iyah Jakarta

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Jun 1999 jam 11:00:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke