---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 21 Juni 1999 UNAMET Oleh Suyono Thamrin KENDATI suasana politik Indonesia masih diwarnai riuh rendah pasca Pemilu 7 Juni, namun persoalan Timor-Timur tetap harus mendapat perhatian serius. Isu Timtim bukan tidak mungkin akan menjadi PR penting pemerintahan baru. Apalagi, tampaknya, partai-partai besar memiliki perbedaan pandangan alam persoalan ini. Salah satu aspek yang sekarang mendapat perhatian adalah keberadaan UNAMET(United Nations Assessment Mission in East Timor). Bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Timtim, keberadaan UNAMET diharapkan bisa memecahkan masalah, bukan justru menciptakan persoalan baru. Berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB No 1246(1999) dinyatakan bahwa tugas UNAMET adalah to organize and conduct a popular consultation yang dijadwalkan mulai tanggal 8 Agustus sampai 31 Agustus 1999. Dalam melaksanakan jajak pendapat tersebut UNAMET yang diketuai Ian Martin dibantu oleh 241 orang staf internasional, 420 orang sukarelawan PBB, 280 orang polisi and 4.000 orang staf lokal serta 50 Perwira penghubung. UNAMET juga diharapkan dapat bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk komponen politik, komponen jajak pendapat dan kalangan informasi yang bertugas di Timtim. Kalau kita melihat tujuan jajak pendapat (integrasi atau merdeka), maka merupakan hal yang sangat bodoh apabila ada pihak-pihak yang berada di Timor Timur yang hendak mengacaukan pelaksanaan jajak pendapat tersebut. Justru bagi rakyat Timor Timur saat ini adalah saat yang sangat tepat untuk menunjukkan kedewasaannya dalam berbangsa dan bernegara dan sebagai bangsa yang berbudaya tinggi serta menghormati hak asasi manusia, demokratis dan anti terhadap semua jenis kekerasan dan kekejaman. Bagi pemerintah Indonesia, event jajak pendapat itu juga merupakan saat yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa penggabungan wilayah Timor Timur ke Indonesia sebagai propinsi ke 27 adalah bukan kehendak pemerintah Indonesia, melainkan kehendak beberapa faksi yang ada di Timor Timur saat itu. Terlepas apapun hasil akhir dari jajak pendapat ini, sepanjang pemerintah Indonesia telah berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan suasana damai di Timor Timur, maka terjawablah sudah semua keraguan bangsa-bangsa lain terhadap niat baik bangsa Indonesia. Ibaratnya, kita sudah melepas layang-layang, maka biarkan layang-layang itu terbang. Biarkan masalah Timtim kita selesaikan secara tuntas, jangan setengah-setengah. Jangan ada lagi kasus-kasus yang membuat segalanya hancur. Niat baik Indonesia untuk memecahkan persoalan yang sudah berlangsung puluhan tahun ini, jangan lagi dicemarkan oleh berbagai tindakan bodoh. Semua pihak harus menciptakan suasana yang kondusif. Bangsa Indonesia sudah terlalu lama dilanda krisis, karena itu, pemerintahan baru nanti, jangan lagi dibebani oleh persoalan Timtim. Biarkan pemerintah baru berkonsentrasi menuntaskan semua persoalan politik yang sudah sekian lama melilit bangsa ini. Kadang-kadang kita memang harus berdamai dengan membuat senjata di pabrik kita atau bahkan berangkulan dengan sama-sama membawa senjata. Tak apa, asal kita menang, untuk sebuah cita-cita yang baik pula.*** (Penulis, pemerhati politik, tinggal di Brisbane Australia) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Jun 1999 jam 12:07:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
