---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Stockholm, 25 Juni 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. MENYATUKAN KAUM MUSLIMIN SEBAGIAN DARI METODE DA'WAH RASULULLAH SAW. Ahmad Sudirman Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA. Masih jawaban untuk saudara Dodi Supriadi (Indonesia). Tanggal 24 Juni 1999 saudara Dodi Supriadi mengirimkan kembali tanggapannya terhadap tulisan "[990624] Langkah nyata untuk menyatukan visi dan misi partai-partai politik berasas Islam yang mengacu kepada Undang Undang Madinah". Dimana tanggapan saudara Dodi Supriadi adalah, "Sekarang saya sedikit tahu pandangan dan pola fikir bapak dalam misi membangkitkan Islam kembali, mungkin langkah pertama yang Bapak tawarkan adalah sebuah pertemuan dari semua pihak Islam misalnya dalam suatu musyawarah untuk menentukan jalan bersama dengan berpedoman kepada UUM dan DR. Namun timbul pertanyaan lagi dari saya berkaitan dengan apa yang telah Bapak ungkapkan dahulu dan berkaitan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah dalam penegakkan Kalimatullah sehingga dapat terbentuk sebuah UUM dan DR, dan juga pengalaman-pengalaman dari bentuk-bentuk perjuangan yg tidak mencontoh Rosul yang akhirnya gagal. Pertanyaan tersebut adalah: Bukankah tawaran solusi yang Bapak tawarkan itu tidak mencontoh apa yang telah diusahakan oleh Rosulullah dalam penegakkan daulah ? karena apa yang Rosul contohkan adalah menandingi sebuah daulah dengan daulah dalam bentuk hijrah ke Madinah dan menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lawan. Dimana manhaj da'wah Rosulullah adalah Amanu-Hajaru-Jahadu. Jadi masalahnya disini adalah Proses penegakkan kembali daulah yang berdasarkan UUM dan DR itu berdasarkan apa yang dicontohkan rosul (sunnah fi'liyah) atau tidak? karena sehebat apapun rencana dan usaha bila tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan Rosul itu bisakah disebut sebagai ibadah? Karena dalam manhaj perjuangan Rosul itu kemenangan bukanlah tujuan tertinggi, karena bila kemenangan menjadi tujuan tertinggi akibatnya memperbolehkan kita menggunakan cara apa saja (usaha yang baik tapi tidak mencontoh rosul), Kemenangan itu adalah Karunia dari Allah SWT setelah para penegak kalimatullah itu bersabar dalam perjuangannya dengan mencontoh apa yang telah dicontohkan Rosulullah sebagai bentuk keta'atan kepada Rosul. Kesimpulannya apa yang Bapak tawarkan itu tidaklah mengikuti Manhaj Nubuwwah, atau bisa Bapak jelaskan lagi?" (Dodi Supriadi, 24 Juni 1999). Baiklah saudara Dodi Supriadi. Allah telah berfirman "Sesungguhnya kamu ini ummat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (Al Anbyaa',21: 92). "Dan sesungguhnya kamu ini ummat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku" (Al Mu'minun,23: 52) Kemudian kalau kita kembali mempelajari da'wah Rasulullah SAW ketika masih di Mekkah yang hampir memakan waktu tiga belas tahun, seperti yang ditulis dalam tulisan "[990409] Langkah-langkah awal untuk membangun kembali Daulah Islam Rasulullah di abad millennium yang modern". Dimana saya menulis, "Pertama, mencontoh metode da'wah Rasulullah semasa masih di Mekkah, yaitu setelah menerima perintah "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang teramat mulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (Al 'Alaq: 1-5). Setelah menerima wahyu pertama ini, maka istri Rasulullah yang dicintainya Sitti Khadijah yang pertama mengimani dan masuk Islam. Kemudian setelah mendapat perintah "Hai orang yang berselimut: Bangunlah dan berilah peringatan. Besarkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu, jauhilah perbuatan ma'siat, janganlah kamu memberi, karena hendak memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu" (Al-Muddatstsir: 1-7), maka mulai Rasulullah secara sembunyi - sembunyi menyebarkan Islam kepada sahabat-sahabat terdekatnya, Abu Bakar Siddiq, Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurahman bin 'Auf, Thalhah bin 'Ubaidillah, Abu 'Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah bin Khathab (adik Umar bin Khathab), Said bin Zaid Al 'Adawi (suami Fatimah bin Khathab. Sahabat-sahabat inilah yang mendapat gelar As Saabiquunal awwalun, yaitu orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam. Dakhwah secara sembunyi-sembunyi ini dilancarkan kurang lebih tiga tahun. Jadi disini Rasulullah tidak melibatkan diri langsung dengan kaum kafir Quraisy dibawah pimpinan Walid bin Mughirah untuk menyebarkan Islam, melainkan berada diluar system orang-orang musyrik dan kafir Quraisy. Inilah yang disebut metode dakhwah Rasulullah secara sembunyi-sembunyi atau rahasia. Selanjutnya setelah turun perintah memberikan dakhwah secara terang-terangan dengan turunnya ayat "Maka jalankanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik"(Al-Hijr: 94). "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat"(Asy-syu'ra: 214), maka Rasulullah secara terang-terangan menyebarkan Islam dan sekaligus berpaling dari kaum kafir dan musyrik Mekah. Disini Rasulullah tidak mengadakan kompromi atau melalui cara damai, karena Allah telah menugaskan untuk menyiarkan Islam dan berpaling dari orang-orang yang menentang Islam secara terang-terangan. Inilah yang disebut dengan metode dakhwah Rasulullah secara terang-terangan tanpa kompromi. Kedua, membangun masyarakat muslim dalam rangka pembinaan dan penguatan akidah Islam dan pengenalan lebih jauh tentang Islam sebagaimana inti yang tercantum dalam surat-surat yang diturunkan di Mekkah, seperti masalah akidah, ketauhidan, sejarah Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, dakhwah, surga dan neraka, sifat-sifat manusia, golongan-golongan manusia, kejahatan syaitan dan kemuliaan malaikat dan ilmu pengetahuan. Dimasa melakukan da'wah secara terang-terang inilah Rasulullah mengadakan pembentukan jamaah yang terbuka disuatu tempat yang dikenal dengan nama Aqabah pada tahun kesebelas Hijrah, sehingga lahirlah apa yang disebut dengan ikrar Aqabah pertama. Dalam melakukan ikrar Aqabah ini beberapa utusan suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah sekarang), yaitu Abu al-Haitsam bin Thayyiban, Abu Umamah Asad bin Zujarah, 'Auf bin Harits, Rafi' bin Malik bin 'Ajlan, Qutbah bin 'Amir bin Hadidah dan Jabir bin 'Abdullah bin Rubab mengikrarkan di depan Rasulullah untuk memeluk Islam. Kemudian pada tahun ke duabelas kenabian, dilakukan ikrar Aqabah kedua dimana datang tujuh puluh dua orang muslim dari Yatsrib di musim haji dan menerima Islam, juga sekaligus mengundang Nabi untuk datang ke Yatsrib. Pemimpin mereka Bara bin Marur menyatakan atas nama orang-orang Yatsrib memberikan jaminan dan perlindungan yang diperlukan Nabi. Nabi memilih dua belas orang dari muslimin Yatsrib dan diangkat sebagai pemimpin. Sembilan orang dari suku Khazraj dan tiga orang dari suku Aus. Yang dari Khazraj adalah Asad bin Zararah, Rafi' bin Malik, Ubadah bin Shamit, Sa'ad bin Rabi', Mandzar bin 'Amr, 'Abdullah bin Rawaha, Bara bin Marur, 'Abdullah bin 'Amar dan Sa'd bin 'Ubadah. Dari suku Aus adalah Usaid bin Hudnair, Sa'd bin Khaitsmah dan Rafa'ah bin 'Abdul Mundzar (Ibnu Sa'd, Ath-Thabaqat al-Kubra, Beirut, 1960. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo, 1955. Majid 'Ali Khan, Muhammad The Final Messenger, Delhi, 1980). Ketiga, melakukan hijrah, dimana setelah Rasulullah menerima perintah "...Dan orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo'a: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zhalim penduduknya..." (An-Nisa: 75)". "Telah diizinkan (berperang) bagi oran-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya, Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: 'Tuhan kami hanyalah Allah'. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja gereja, rumah rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa" (Al Haj,22: 39-40). "Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas" (Al Baqarah: 190). Jadi kalau saya hubungkan dengan tulisan "[990624] Langkah nyata untuk menyatukan visi dan misi partai-partai politik berasas Islam yang mengacu kepada Undang Undang Madinah", maka sebenarnya Rasulullah SAW telah mencontohkan dengan mengadakan ikrar Aqabah pertama dan kedua ketika masih di periode Mekkah. Kalau kita telusuri lebih dalam lagi tentang usaha untuk menyatukan visi dan misi partai-partai politik berasas Islam tersebut, maka sebenarnya usaha tersebut adalah suatu usaha secara politis yang tanpa kompromi. Mengapa? Kita pelajari kembali visi dan misi untuk menyatukan partai-partai politik berasas Islam itu yaitu, "membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan Islam dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam yang berdasarkan akidah Islam dengan konstitusi yang mengacu kepada Undang Undang Madinah yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras." Nah sekarang, kita ambil dua hal saja dari visi dan misi itu yaitu, pertama, mengenai Allah yang berdaulat. Kemudian yang kedua, tentang menerapkan musyawarah dan penetapan peraturan, hukum dan undang undang didasarkan pada Al Qur'an dan Hadist. Kalau kita ambil Allah yang berdaulat, berarti bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul-Nya (Sunnah). Jadi apa yang sekarang berlaku di Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya yaitu, rakyat yang berdaulat, artinya kekuasaan ada ditangan rakyat, maka dengan dipilihnya Allah yang berdaulat, jatuhlah sistem rakyat yang berdaulat sebagaimana yang dianut di hampir semua negara-negara sekuler dengan demokrasi baratnya. Kemudian, kalau kita ambil musyawarah dan penetapan peraturan, hukum dan undang undang didasarkan pada Al Qur'an dan Hadist, maka sistem pengambilan suara mayoritas atau terbanyak dalam menetapkan peraturan, hukum dan undang undang seperti yang berlaku dalam sistem demokrasi barat, menjadi gugur (sebagai bahan tambahan bisa dibaca tulisan [990510] Sekali lagi tentang Islam tidak mengajarkan pemeluknya untuk menetapkan dan membuat suatu hukum harus selalu melalui pengambilan suara mayoritas seperti yang diajarkan oleh sistem demokrasi barat. di http://www.dataphone.se/~ahmad/daftar.htm ). Jadi dengan saya mengajukan enam hal seperti yang ditulis dalam tulisan "[990624] Langkah nyata untuk menyatukan visi dan misi partai-partai politik berasas Islam yang mengacu kepada Undang Undang Madinah" yaitu, 1. Allah yang berdaulat. 2. Menerapkan musyawarah. 3. Menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil. 4. Membuat anggaran dasar mengacu kepada Undang Undang Madinah. 5. Keanggotaan tidak dilihat dari nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras. 6. Penetapan peraturan, hukum dan undang undang didasarkan pada Al Qur'an dan Hadist. Sebenarnya itu merupakan suatu usaha penyatuan visi dan misi yang tanpa kompromi dengan sistem Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya yang sekuler, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah yang menerapkan aqidah Islam tanpa kompromi ketika dihadapkan kepada sistem yang dianut oleh pihak kaum kafir Quraish dibawah Penguasa Walid bin Mughirah. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah, maukah partai-partai politik berasas Islam itu mendiskusikan dan menerima tawaran yang saya sampaikan itu?. Sekarang bola ada di tangan para pemegang dan pelaksana partai-partai politik yang berasas Islam. Terakhir adalah, sebenarnya saya menawarkan pemikiran ini bukan hanya kepada partai-partai politik berasas Islam saja, tetapi juga kepada partai-partai politik berasas pancasila yang mempunyai basis kaum muslimin, seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Begitu juga saya menawarkan kepada Darul Islam, Hizbullah, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan organisasi-organisasi masa lainnya yang berasas Islam. Marilah kita bersatu untuk tegaknya Islam secara menyeluruh. Insya Allah. Inilah sedikit jawaban dari saya untuk saudara Dodi Supriadi. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Jun 1999 jam 14:15:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
