----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

SAPU BERSIH STATUS QUO: HABIBIE, GOLKAR dan DWIFUNGSI TNI
=======================================================
Browse ANTI KKN ONLINE:  http://members.tripod.com/kkn_ghalib

Salah satu agenda pembicaraan deklarator PKB
Abdurrahman Wahid dan ketum PAN Amien Rais di Jakarta
Sabtu (26/6) kemarin rupanya desakan dari mantan ketua
Muhammadiyah itu agar Gus Dur --yang kini juga
mengepalai organisasi Muslim NU yang terbesar di
Asia-- agar maju menjadi calon presiden alternatif.

Namun usul itu oleh Gus Dur sementara ini masih
ditepiskan. "Sebenarnya Amien minta saya untuk menjadi
salah satunya [calon alternatif], tapi sementara ini
saya tolak" katanya seperti dikutip Reuters dalam
wawancara mereka, Ahad.

Gus Dur menyampaikan hal itu ketika menggambarkan
kebimbangan yang tengah dirasakannya sebagai seorang
teman dekat ketum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri
dan sekaligus pemimpin organisasi Muslim yang
beranggotakan 40 juta orang.

"Secara pribadi saya mendukung Megawati (menjadi
presiden), tetapi saya tahu beberapa orang di kalangan
Islam tidak suka padanya," katanya.

Pada satu sisi MPR harus menghargai pilihan bahagian
terbesar rakyat Indonesia yang memilih PDI Perjuangan
--yang menyiratkan keinginan mereka menyaksikan Mega
menduduki kursi presiden--, namun pada pihak lain
tidak ada jaminan bahwa tokoh-tokoh Muslim lainnya
akan mendukung hal itu.

Partai berlambang banteng kekar itu sejauh ini masih
memimpin perolehan suara dengan 36%, meninggalkan
Partai Golkar yang baru 19% dan PKB 17%.

Boleh perempuan

Pertemuan para ulama NU yang berakhir Sabtu malam di
Rembang, Jateng, sekalipun menolak dianggap menudukung
calon presiden tertentu, namun menyatakan membolehkan
adanya presiden perempuan.

"Kami tegaskan, keputusan ulama ini tidak untuk
konsumsi dukungan atas pencalonan seseorang," kata KH
Nadzif Luhri Lc di Ponpes Roudlotut Tholibin.
"Keputusan itu murni untuk mendudukkan masalah bahwa
perbedaan pandang secara fikih mengenai kepemimpinan
perempuan, tiap kelompok memiliki dasar hukumnya."

Pertemuan 100 ulama NU dari berbagai kota besar di
Jawa itu sendiri kurang memusatkan diri pada isu
presiden perempuan, namun lebih menitikberatkan
kelompok-kelompok tertentu yang gemar mengutip
ayat-ayat Tuhan untuk membenarkan kepentingan politik
mereka.

Kebiasaan itu dinilai ulama NU akan merugikan
masyarakat dan mempertajam jurang pemisah antar
berbagai kelompok.

Seperti dikatakan KH Nadzif, ulama NU tidak mau
terjebak dalam polarisasi keberpihakan antara Megawati
Sukarnoputri dan BJ Habibie. "Kami tidak bermaksud
menjustifikasi pencalonan Mega. kami berusaha
mendudukkan masalah pada porsinya dan menyerukan
kepada semua pihak agar jangan mudah memainkan ayat
untuk kepentingan politik kelompoknya," kata Nadzif
sebagaimana dikutip Antara.

"Ulama sebagai kekuatan moral bangsa sangat menjaga
jarak dan menjauh dari upaya politis dukung mendukung
presiden," katanya lagi.

Namun begitu, wartawan Antara melaporkan, sejumlah
ulama keceplosan menyebut nama Megawati Sukarnoputri
dalam dialog tersebut sebagai calon yang seharusnya
mendapat dukungan dengan syarat tertentu.

UU tak bedakan

Sementara itu Mendagri Syarwan Hamid menyatakan,
undang-undang Indonesia dalam soal presiden tidak
mengenali jenis kelamin, apakah laki-laki atau
perempuan. "Presiden perempuan tidak ada masalah. Saya

bicara undang-undang yang tidak pernah membedakan,"
katanya seperti dikutip Antara di Denpasar, Ahad, saat
menghadiri sebuah lomba kesenian rakyat setempat.

Yang dipentingkan dalam UU adalah, apakah calon yang
bersangkutan sesuai aspirasi rakyat dan dipilih
melalui MPR serta memiliki kemampuan. Butir terakhir
itu menjadi penting karena siapa pun yang terpilih,
akan menghadapi beban berat membawa Indonesia keluar
dari krisis, katanya.

"Pemenang pemilu kali ini tidak akan dominan," kata
Syarwan. "Siapa pun yang tampil akan sulit
menyelesaikan persoalan bangsa ini jika kurang
didukung oleh si A atau si B."

"Yang paling baik adalah semacam kompromi sehingga
beban berat bisa ditanggung bersama," katanya yang
lalu merujuk pada istilah 'kepemimpinan kolektif' yang
katanya bisa mengakomodasi kemajemukan dan keberagaman
kemampuan komponen bangsa.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Jun 1999 jam 04:49:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke