---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- From: KOALISI NGO HAM Aceh Jenderal Wiranto:Aparat Segera Hancurkan Pengganggu Keamanan Aceh Serambi-Jakarta Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto menegaskan, tindakan aparat untuk mengatasi ganguan keamanan Aceh, sebelum Pemilu adalah menetralisir. "Tapi, setelah Pemilu, tindakan yang diambil adalah menghancurkan semua pengganggu keamanan Aceh dan semua kekuatannya," kata Wiranto dalam dengar pendapat dengan Komisi I DPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, Jumat (2/7). Dalam dengar pendapat itu, Wiranto yang didampingi KSAD Jenderal Subagyo HS dan Kapolri Jenderal Roesmanhadhi, menjelaskan, penghancuran kekuatan para pengganggu keamanan Aceh akan dilakukan melalui operasi kepolisian oleh Pasukan Penindak Kerusuhan Massa (PPRM) dibantu aparat Kodam I/Bukit Barisan. Jenderal Wiranto menjelaskan, sejak operasi militer di Aceh dihentikan pada Agustus 1998 lalu, keamanan di Aceh diserahkan kepada aparat, pemerintah, dan masyarakat setempat. Namun, perkembangannya ternyata tidak makin membaik, tetapi semakin meminta perhatian. Stabilitas keamanan dan pembangunan di Aceh telah diganggu kelompok bersenjata yang telah menimbulkan korban jiwa dan harta benda, terutama di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan belakangan ini menjalar ke Aceh Barat. Bila hal ini tidak diambil tindakan tegas dan bijaksana, kata Menhankam, dikhawatirkan akan dapat mengancam integritas negara kesatuan Republik Indonesia. Gangguan keamanan di Aceh mulai Mei- 29 Juni 1999, kata Pangliam TNI, telah mencapai taraf perlawanan bersenjata, di antaranya adalah gangguan keamanan sebanyak 98 kali, 45 di antaranya merupakan aksi bersenjata. Kerugian akibat aksi bersenjata itu adalah 98 orang tewas, dan 176 luka-luka, 373 rumah dibakar, 13 kantor dibakar, 11 mobil dibakar. Wiranto juga mengatakan, dalam Rencana Strategi (Ranstra) 1999- 2004, akan dibentuk empat Kodam baru, yakni Kodam I/Iskandarmuda untuk Aceh, Kodam XVI/Pattimura, Kodam IX/Tanjung Pura, dan Kodam X/Lambung Mangkurat. Pembentukan Kodam I/Iskandarmudar di Aceh, katanya, diperkuat dengan adanya permintaan pemerintah dan sebagian masyarakat setempat. Netral Manhankam juga kembali menegaskan komitmen TNI untuk netral dalam SU MPR mendatang. "Mengenai netralitas TNI dalam SU MPR, TNI komit untuk netral, namun bukan berarti TNI tidak menggunakan hak dan kewajiban politiknya," katanya. Menanggapi pertanyaan anggota dewan, Menhankam/Panglima TNI mengatakan bahwa dalam pengamanan SU MPR mendatang, Polri akan dikedepankan sebagai inti kekuatannya. Dalam kaitan itulah maka Polri telah meningkatkan operasi rutin dengan menindak kejahatan, yang dipadukan dengan pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Polda Metro Jaya direncanakan akan mengerahkan 21 ribu personilnya untuk mengamankan SU MPR, serta ditambah dengan kekuatan cadangan dari unsur TNI dan potensi masyarakat. (son) --------------------- Lagi, Bus Umum Dibakar Serambi-Banda Aceh Bus Anugerah BL 7391-A yang datang dari arah Medan menuju Banda Aceh, kemarin (2/7) menjelang magrib, dibakar orang-orang tak dikenal bersenjata api di Desa Blang Tambue Kecamatan Samalanga, Kabupaten Aceh Utara. Sebelum dibakar, penumpang dan awak bus diminta turun. Sejumlah warga masyarakat di sekitar ruas jalan tersebut hanya bisa menyaksikan pembakaran bus dari kejauhan. Mereka tidak ada yang berani mendekat. Tapi, setelah kelompok orang bersenjata pergi dari tempat itu, warga beramai-ramai datang ke tempat pembakaran bus. Sumber-sumber Serambi mengabarkan, sebelum dibakar, kelompok orang tak dikenal itu meminta para awak bus dan penumpang turun. Kabarnya, para penumpang juga diminta mengambil barang-barang bawaannya. Semua penumpang, dikabarkan sangat ketakutan. Mereka dengan tergesa-gesa mengemasi barang bawaannya lalu ditumpukkan di tepi jalan. Tak seorangpun penumpang yang diturunkan di tempat itu disakiti. Pengemudi, setelah busnya dibakar lalu meninggalkan tempat itu. Sampai tadi malam, sebagian besar penumpang bus meneruskan perjalanan dengan kendaraan lain. Beberapa penumpang sempat mendapat tumpangan dari mobil-mobil pribadi yang melintas di tempat itu ketika menuju ke arah Banda Aceh. Dalam waktu singkat, bus Anugerah tersebut hangus dan semua fasilitasnya ikut terbakar. Salah seorang karyawan kelompok Bus Anugerah yang dihubungi Serambi di Banda Aceh tadi malam mengatakan, Bus Anugerah tersebut berangkat dari Medan pukul 09.00 WIB menuju Banda Aceh yang dikemudikan oleh Ruslan. "Kami sudah mendapat laporan tentang pembakaran terhadap bus kami tersebut. Sedangkan nasib pengemudinya dan seluruh penumpang yang diangkut belum diketahui. Sampai malam ini, kami belum mendapat kontak dengan Ruslan," kata karyawan bus Anugerah kepada Serambi tadi malam. Awal Juni lalu, empat unit bus umum juga dibakar kelompok orang bersenjata yang tak dikenal. Keempat bus yang dibakar pada 5 Juni 199 di Pidie adalah Anugrah BL 7526 A, Pelangi BL 7409 A dibakar di kawan Masjid Pante Raja, Kurnia BL 7350 PB, dan Pusaka BL 7387 dibakar di kawasan Batee Iliek (perbatasan Pidie-Aceh Utara). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa-peristiwa pembakaran bus itu. Sebab kelompok pelaku memerintah penumpang untuk turun dari bus. Begitupun, kepanikan luar biasa sempat melanda, terlebih-lebih saat para "musafir" itu mencari tempat perlindungan. (tim) ------------------- Ketakutan, Warga Teunom Bunuh Diri Serambi-Meulaboh Seorang warga Desa Blang Rame, Kecamatan Teunom, Aceh Barat, dilarikan ke RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh setelah ditemukan terkulai akibat minum racun rumput jenis DMA di belakang rumahnya sekitar pukul 12.30 WIB, Jumat (2/7) kemarin. Korban yang diketahui bernama Ali Mukasah (65), tiba di UGD RSU Cut Nyak Dhien sekitar pukul 18.00 WIB. Sekitar 20 menit kemudian atau pukul 18.20 WIB ia meninggal dunia meski sempat ditangani Dokter Herman. Menurut Suminah (istri korban) ketika ditemui Serambi, Jumat (2/7) malam di ruang UGD, suaminya nekat bunuh diri karena merasa takut tinggal di desa itu. Lebih-lebih lagi, selama ini sering datang orang ke rumah dan malam-malam menggedor pintu. "Dihantui rasa takutlah maka suami saya itu nekat minum racun. Sebelum meninggal, suami saya itu juga sering mengeluh. Mau pulang ke Jawa tidak ada uang. Tinggal terus di disini (maksudnya di Desa Blang Rame) merasa takut," ujar Suminah dengan bola mata yang berkaca-kaca duduk di depan pintu ruang UGD sambil termenung. Menurut Suminah, ibu dua anak itu, sebelum suaminya nekat minum racun, sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (2/7), korban telah berusaha menggantung diri di belakang rumah pada pohon jengkol dengan menggunakan kain sarung. Namun, niat korban digagalkan menantunya, Misdi. Dijelaskan, yang pertama kali melihat korban gantung diri adalah anaknya sendiri yaitu Suratmi (16). Begitu melihat ayahnya sudah tergantung di pohon jengkol, Suratmi langsung memanggil abang iparnya (Misdi) minta tolong. "Begitu saya datang, saya lihat ayah memang sudah tergantung di pohon jengkol. Lehernya terikat kain sarung. Untung cepat saya peluk. Setelah itu, saya bawa masuk ke dalam rumah," ujar Misdi kepada Serambi. Anehnya, lanjut Suminah, setelah berusaha gantung diri, bukan tambah sadar dan tenang. Tetapi selang beberapa jam, menjelang shalat Jumat, sekitar pukul 12.30 WIB korban meminum racun jenis DMA yang memang sering tersedia di rumah untuk membasmi hama pada tanaman. Saat meminum racun itu, korban sengaja bersembunyi dekat kandang ayam di belakang rumahnya. (za) ------- Massa Remaja Obrak-abrik Kantor Camat Serambi-Panton Labu Sekelompok remaja berseragam SMP, pagi kemarin merusak serta mengobrak-abrik dokumen di Kantor Camat Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Ribuan lembar blanko pemungutan pendapatan daerah diserak sampai ke pekarangan dan jalan depan kantor tersebut. Saat aksi itu berlangsung, sejumlah staf dan pegawai kantor camat hanya bisa menonton dan tidak ada yang berani melarang aksi tersebut. Keterangan yang diperoleh menyebutkan, sekelompok remaja tanggung berseragam sekolah secara dadakan datang ke kantor camat. Mereka memecahakan kaca jendela bagian samping persis di ruang unit pelayanan pendapatan daerah. Bukan hanya ruangan yang diporakporandakan, tapi mereka juga membawa dokumen yang ada di dalam kantor ke luar ruangan lalu merobek-robeknya. Usai melampiaskan kemarahannya, kelompok remaja berseragam sekolah itu keluar dari ruangan kantor menuju ke arah barat. Beberapa staf kecamatan mengatakan tak berani melarang karena takut menjadi korban amukan. "Kami hanya melihat ketika siswa merobek- robek dokumen pajak," kata tiga wanita yang bekerja di kantor camat tersebut. Kegiatan Kantor Camat Tanah Jambo Aye, sejak awal Juni 1999 lalu memang agak "mandeg". Camat Drs H Amiruddin Hamzah bahkan sudah lama tidak masuk kantor, dan keadaan kantor sudah lama tidak dibuka. Sehingga hampir sebulan terakhir ini, semua pegawai kantor, nyaris tidak bertugas. "Macetnya" aktivitas di kantor camat itu, membuat banyak warga sangat kecewa. Sebab, banyak warga yang ingin mengurus KTP dan surat keterangan lainnya, tapi tak bisa terlayani. Dalam pengamatan Serambi, sejak aksi pembakaran kantor camat dilakukan sekelompok orang tak dikenal di berbagai kecamatan, aktifitas pegawai Kantor Camat Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktiya (Aceh Utara), dan Simpang Ulim (Aceh Timur), terlihat vakum. Masyarakat tidak lagi mendapatkan pelayanan dari kecamatan. (ib) <center> ---------------------------- Berita Minggu, 04 Juli 1999 </center> <center>Mohon Maaf! Kepada Pembaca Serambi Dimana Saja Berada, Kami Sangat Memohon Maaf Atas Ketidakhadirannya berita/info Selama Dua Hari, Disebabkan Ada Sedikit Gangguan Tehnis untuk Mengakses Berita di Internet. *** </center> Koramil Makmur Kembali Berduka *Serda M Sufi Tewas Bersimbah Darah *Warga Pidie Ditemukan Tergantung di Beutong Serambi-Lhokseumawe Belum lagi kasus pembunuhan atas sertu Purwanto terungkap, Koramil Kecamatan Makmur, Aceh Utara, kembali berduka. Jumat malam lalu, salah seorang anggotanya, Serda M Sufi ditemukan tewas yang penyebabnya ada yang menyebutkan karena tembakan. Pelaku pembunuh, hingga Sabtu (3/7) kemarin, masih misterius. Jenazah M Sufi ditemukan masyarakat Geureugok, Kecamatan Gandapura, dalam keadaan kaku bersimbah darah di pangkal sebuah jembatan lintasan Medan-Banda Aceh sekitar pukul 20.00 WIB Jumat. Masyarakat di tempat penemuan jenazah kepada Serambi mengabarkan bahwa korban berdomisili di Geureugok. Tapi, mereka yakin bahwa dihabisi bukan di kawasan Geureugok. Sebab, sepanjang sore hingga ditemukan jasad anggota TNI itu di kawasan dimaksud tidak terdengar suara letusan senjata api. "Diduga korban dibunuh di tempat lain dan dibuang di sini," sebut seorang warga ketika dihubungi, siang kemarin. Sementara itu, warga kecamatan Beutong, Aceh Barat, Jumat, menemukan satu mayat laki-laki yang tergantung di pohon rambung dengan posisi kaki mencecah tanah. M Yahya, lelaki itu, adalah warga Desa Kumala, Kabupaten Pidie, dan dikabarkan telah "menghilang" sejak seminggu lalu. Penuh luka Seperti dikutip Antara, Dandim Aceh Utara, Letkol (Inf) Giyono di Lhokseumawe, Sabtu, membenarkan salah seorang anggotanya ditemukan tewas di Geuruegok, dengan kondisi tubuh korban penuh luka bekas penganiayaan. Menurut keterangan masyarakat, korban mengalami luka di beberapa bagian anggota tubuhnya. Namun, warga yang mengaku melihat penemuan jenazah M Sufi tidak bisa memastikan secara jelas lubang mirip lubang peluru di tubuh korban, karena pada saat ditemukan jasadnya terbungkus jaket hitam. Meski ditemukan sekitar pukul 20.00 WIB, kabarnya, jenazah korban keganasan Petrus itu baru diambil oleh aparat keamanan dari lokasi temuan pukul 04.00 Sabtu dinihari setelah sepasukan aparat tiba dari Lhokseumawe dan memboyongnya ke RS Kesrem 011/Lilawangsa. Korban dikebumikan di Geureugok, siang kemarin. Menurut versi keluarga korban, serda M Sufy "diculik" kelompok sipil bersenjata dalam perjalanan dari Koramil Makmur menuju rumahnya, sekitar pukul 18.30 WIB, sedangkan mayatnya ditemukan di Gandapura, sekitar 20 KM dari tempat kejadian perkara (TKP). Kalangan dokter di RS Kesrem-011/Lilawangsa memperkirakan Serda M Sufy sudah tewas sekitar sepuluh jam sebelumnya dengan bekas penganiayaan benda tumpul dan beberapa bagian anggota tubuh korban ditemukan luka. Sebelum pembunuhan Serda M Sufi, seorang anggota Koramil Makmur lainnya, Sertu Purwanto, pertengahan Juni lalu, juga tewas bersimbah darah setelah didor seorang pria bermobil jeep yang menggunakan senjata api laras panjang di kediamannya. Almarhum Purwanto ditembak di hadapan isterinya ketika pasangan itu sedang mengemas-ngemasi barang perabotan rumah tangganya untuk pindah ke Lhokseumawe. Diculik? Dari Kecamatan Kuta Makmur dilaporkan, seorang pria bernama Nasruddin, Jumat malam, sekitar pukul 19.00 WIB "diculik" sekelompok orang bersenjata api dan berseragam militer yang dilukiskan menggunakan truk ketika melintasi jalan menuju Buloh Blang Ara. Menurut kakak korban kepada wartawan di Lhokseumawe, kemarin, korban pada saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Lhokseumawe ke Buloh Blang Ara dengan menggunakan sepeda motor. Namun, di tengah perjalanan, kelompok bersenjata itu menyetopnya dan langsung memukuli serta "mencampakkan" korban beserta sepeda motornya ke dalam truk. Sampai kemarin keluarga korban belum mengetahui secara pasti di mana korban saat ini dan siapa yang menculiknya. "Kalau dengar- dengar dari orang ia diculik aparat. Kalau benar ia diculik, siapapun penculiknya tolong beritahukan kepada kami di mana ia berada. Kalau sudah mati tolong nampakkan jenazah," mohon kakak korban. Nasruddin, dikabarkan, adalah warga Nisam yang beristrikan warga Matangkuli dan mencari nafkah dengan usaha dagang di Kuta Makmur. Membusuk Sementara itu, masyarakat Kecamatan Beutong, Aceh Barat, menemukan seorang pria bernama M Yahya (50) tewas tergantung di sebuah pohon rambung di kawasan proyek irigasi Jeuram-Ulee Jalan. M Yahya yang belakangan diketahui asal Desa Keumala Pidie itu ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB, Jumat (2/7). Saat ditemukan, korban sudah membusuk dengan posisi kaki menyentuh ke tanah. Sedangkan lehernya terikat dengan kain panjang. Beberapa jam setelah ditemukan oleh warga Desa Meunasah Krueng, korban dikebumikan di pemakaman umum desa setempat sore itu juga tanpa dilakukan visum dokter. Sebelum meninggal, korban yang berstatus sebagai petani datang ke tempat adik kandungnya M Latif di Desa Meunasah Krueng, Beutong, bersama istri dan anaknya dengan tujuan untuk berobat. Menurut keterangan kepala Desa Meunasah Krueng, M Yasin Hasyim, kepada Serambi, Sabtu kemarin, korban ditemukan tewas tergantung setelah dilakukan pencarian oleh warga setempat selama satu minggu sejak korban menghilang dari rumah adik kandungnya M Latif. Jarak dari rumah adiknya itu dengan lokasi korban ditemukan, lebih kurang satu kilometer. Sebelum ditemukan meninggal, korban memang sering pulang pergi antara Pidie-Beutong. Kedatangan korban ke rumah adiknya itu, selain untuk berobat, juga untuk membantu M Latif bertani. Bahkan, anak dan istrinya sejak korban meninggal tetap tinggal bersama adik kandungnya di Desa Meunasah Krueng. Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polsek Beutong. Menurut Kades Meunasah Krueng, sebelum korban ditemukan tim pencari yang dipimpinnya, sempat tercium bau busuk sekitar pohon rambung (pohon getah), tempat korban ditemukan. "Begitu kami mencium bau yang tidak sedap, pencarian itupun kami pusatkan di dikawasan itu juga. Lebih kurang tiga jam mencari, korban kami temukan tergantung di pohon rambung dengan posisi kaki menyentuh ke tanah. Sedangkan kondisi mayat sudah mulai membusuk," ujar M Yasin.(tim) --------------------- Aparat Bubarkan Aksi Pengutipan di Jalan Serambi-Sigli Aparat keamanan di Pidie, Sabtu (3/7), membubarkan aksi pengutipan sumbangan jalanan yang dilakukan sekelompok mahasiswa/i. Dalam peristiwa itu, sempat terdengar letusan senjata yang dilepas ke udara, dan beberapa pengutip sumbangan sukarela itu ditangkap aparat dari Makodim Pidie. Aksi pengutipan sumbangan itu berlangsung di simpang Jembatan Benteng Kota Sigli. Menurut Dandim Pidie, Letkol Inf Iskandar MS kepada Serambi via telepon, aparat telah melakukan langkah persuasif untuk menghentikan pengutipan yang dilakukan mahasiswa-- sebagian wanita. Tapi, katanya, tindakan persuasif yang dilakukan aparat itu tidak diindahkan, sehingga terpaksa dilepaskan tembakan ke udara sebagai peringatan. "Tembakan ke atas supaya mereka menghentikan misinya," ungkap Iskandar. Mengenai "diamankannya" delapan mahasiswa, menurut Dandim Iskandar, mereka bukan ditangkap, tapi terjaring oleh aparat karena tak mau menghentikan misinya. Setelah mendapatkan pengarahan sekitar 45 menit di Makodim, mereka disuruh pulang. "Tak ada yang ditahan," jelas Iskandar. Suara tembakan yang lokasinya hanya berjarak sekitar 50 meter dengan Pendopo Pidie, membuat warga Kota Sigli ketakutan. Apalagi, ada isu yang merebak tembakan tersebut sedang terjadi kontak senjata. "Kami betul-betul panik dan ketakutan," kata seorang warga. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.30 Wib membuat warga panik dan semua masuk dalam rumah. Begitu pula sejumlah pegawai yang kantornya berada tak jauh dari lokasi tembakan segera mengambil posisi yang lebih aman. "Kami betul-betul panik, apalagi peristiwanya di kawasan jantung kota," sebut seorang pegawai salah satu kantor yang dekat dengan aksi muntahan senjata. Begitu melihat aparat menuju ke arah mereka, dengan moncong senjata siap tembak, mahasiswa ketakutan. Karena itu, mereka terpaksa lari dari lokasi pengutipan derma sukarela. Apalagi, sejumlah angkutan kota--jalan itu jalur angkutan--dihentikan oleh aparat. "Kami sangat takut, moncong senjata aparat diarahkan kepada kami," sebut seorang mahasiswa. Kelompok mahasiswa itu, tidak menduga aparat akan berbuat seperti itu terhadap kerja kemanusiaan yang mereka lakukan. Mereka tambah takut dan gemetar ketika aparat melepaskan tembakan saat terjadi pengusiran. "Kami hanya bekerja sukarela untuk rakyat banyak," tambah seorang mahasiswa. Penasihat Posko Mahasiswa Pidie, Azhari Ibrahim kepada Serambi, Sabtu (3/7) mengatakan misi sosial yang dilakukan belasan mahasiswa itu atas inisiatif semua mahasiswa Pidie. Apalagi, kutipan sukarela itu untuk membantu masyarakat pengungsi di Masjid Abu Beureueh dan Masjid Teupin Raya. Karena itu, tambah Azhari, kegiatan kemanusiaan yang dilakukan di Kota Sigli kemarin dilaksanakan di dua titik. Satu kelompok dipusatkan di simpang Jembatan Benteng, sedangkan satu kelompok lagi mengambil posisi di simpang Jalan Garot. "Jumlah mereka semua mencapai 32 orang," katanya. Melihat situasi sangat mencekam saat pembubaran, sebanyak 14 mahasiswa yang sedang berada di Simpang Jembatan Benteng kocar kacir. Delapan orang berhasil diamankan aparat, sedangkan lainnya berhasil melarikan diri. Sementara 18 mahasiswa yang berposisi di simpang Jalan Garot, juga kabur setelah mendapatkan informasi tentang situasi di Benteng. Para mahasiswa di Pidie, menurut Azhari, sangat menyesalkan sikap aparat yang mengusir mahasiswa. Mereka sedang melakukan misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat eksodus. "Kami tidak memaksa dan memeras orang. Kami hanya butuhkan kesadaran setiap pelintas jalan," kata Azhari.(tu) ------------------- Kantor Camat Julok Dibakar Serambi-Kuta Binjei Kantor Kecamatan Julok, Aceh Timur, Sabtu (3/7) dinihari, musnah dilalap api setelah dibakar orang tak dikenal. Bangunan yang terletak di pusat kota Kuta Binjei dan bersisian dengan jalan negara Medan-Banda Aceh itu kini hanya tinggal puing saja. Keterangan di beberapa masyarakat yang dihimpun Serambi hari Sabtu, api diperkirakan sudah menyala sekitar pukul 01.00 WIB. Adanya masyarakat yang mengetahui kantor ini dibakar, tidaklah mengherankan. Sebab, selain berlokasi di pusat kota, kantor camat Julok berdekatan dengan terminal bus pembantu. Apalagi, tak jauh di belakang kantor camat, terdapat markas koramil kecamatan setempat dan tak sampai 1 KM terdapat pula Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Julok. Namun, Muhammad (43), penjaga kantor camat, kepada Serambi mengaku tak tahu kapan api mulai memangsa karena ia tertidur di salah satu ruangan di kantor tersebut. Ia baru sadar, ketika api mulai marak di ruang kerja Camat Julok Drs T Syamsuddin Syah. Menyadari kenyataan tersebut, Muhammad spontan berlari keluar, serta menjerit minta pertolongan. Namun, tidak seorang pun yang datang untuk memberi pertolongan. Sementara api semakin membesar, dan Muhammad mengaku tidak mampu menjinakkan api, apalagi ia gugup, sehingga tidak dapat berbuat apa-apa untuk menjinakkan api. Camat Julok, Aceh Timur, Drs T Syamsuddin Syah, menjawab Serambi, Sabtu (3/7) siang, berkeyakinan sekali kantornya dibakar oleh orang tak dikenal. Sebab, sudah diperiksa tidak satupun kawat listrik ataupun hal lain yang berkemungkinan menjadi penyebab kebakaran. Dikatakan, berdasarkan keterangan dari sumber di kepolisian yang disampaikan kepada camat, ada terdapat bau minyak lampu di beberapa tempat sisa pembakaran di ruangan kantor camat tersebut. Namun, camat tidak mengetahui lebih lanjut bukti-bukti lain yang didapat dari pihak keamanan. Menurut camat, ia baru mengetahui kantornya terbakar, via telepon sekitar pukul 03.00 WIB yang disampaikan oleh salah seorang pegawainya. Kebetulan pada saat kejadian itu, camat mengaku berada di Langsa. Baru sekitar pukul 04.15 WIB sampai di lokasi kantornya yang sudah tinggal puing dan bara api itu. "Saya hanya bisa tertegun dan tidak habis pikir mengapa kantor camat yang jadi sasaran kemarahan mereka," katanya. Dijelaskannya, kerugian secara menyeluruh mencapai Rp 500 juta, plus kehilangan arsip-arsip penting berupa surat tanah dan surat-surat lainnya. Kerugian yang paling utama adalah bangunan kantor camat tersebut. Secara keseluruhan permasalahan pembakaran kantornya, sudah dilaporkan secara rinci kepada pihak atasannya. Dikatakan juga, roda pemerintahan tetap akan berlangsung seperti biasa. Operasionalnya akan berlangsung di rumah dinas camat. Diminta kepada warga masyarakat kecamatan setempat, untuk tetap berurusan seperti biasanya. "Masyarakat tidak perlu cemas. Segala urusan tetap akan dilayani dengan baik," jelasnya.(tim) ---------------------------------------- By Divisi Kampanye Koalisi N.G.O-HAM Aceh Halim EL-Bambi ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Jul 1999 jam 06:04:44 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
