----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

From: KOALISI NGO HAM Aceh

Organda Ancam Stop

Operasi Angkutan


BANDA ACEH (Waspada): Organda Aceh mengancam akan menghentikan secara
total seluruh operasional angkutan umum di daerah ini, bila pemerintah
pusat tidak segera menarik PPRM dan pasukan non-organik lainnya dari bumi
Aceh.


"Kami memberikan waktu selama satu bulan, terhitung sejak 3 Juli 1999,
kepada pemerintah pusat untuk menarik PPRM (Pasukan Pengendali Rusuh
Massa) dan pasukan non organik lainnya dari Aceh," tegas Ketua DPD-I
Organda Aceh, Drs. Kamaruddin THB kepada wartawan di Banda Aceh, Sabtu
(3/7).


Keputusan ini disepakati setelah DPD-I Organda Aceh melakukan rapat
pengurus dan instansi terkait serta pertemuan dengan pengusaha angkutan
sehubungan dengan maraknya peristiwa pembakaran dan pengrusakan terhadap
kenderaan angkutan umum di Aceh.


Kata dia, bila sampai batas waktu yang diberikan PPRM dan pasukan non
organik lainnya masih bercokol di Aceh, maka Organda Aceh akan
menginstruksikan semua anggotannya untuk menghentikan seluruh kegiatan
yang berkaitan dengan pengangkutan, baik penumpang maupun barang.


Bagi anggota yang melanggar instruksi ? "Kita tidak dapat akan kompromi
dan secara organisasi akan memberikan sanksi tegas kepada mereka," ucap
Ketua DPD Organda yang juga Ketua DPD-HIPPI Aceh ini.


Kata Kamaruddin, bila PPRM dan pasukan non-organik lainnya sudah ditarik
dari bumi Aceh, maka Organda siap bersama-sama dengan seluruh komponen
masyarakat di daerah ini untuk memulihkan kondisi keamanan Aceh.


Mengapa harus PPRM dan pasukan non-organik ? Menurut dia, karena selama
keberadaan mereka di Aceh telah muncul berbagai peristiwa-peristiwa yang
sangat diluar dugaan. Bahkan, adanya ratusan ribu pengungsi tidak
terlepas dari keberadaan PPRM. "Saya mendengar sendiri dari para
pengungsi, bahwa mereka mengungsi dari desanya karena takut dengan aparat
keamanan," ungkapnya.


Maraknya peristiwa-peristiwa tersebut, kata Kamaruddin, telah membuat
para pengusaha harus menanggung kerugian materil mencapai miliaran
rupiah. Selain itu, para sopir tidak mau mengoperasikan mobil karena
takut dengan ancaman-ancaman keamanan.


Sejak terjadinya pembakaran terhadap empat unit bus, 4 Juni lalu, menurut
Ketua Organda Aceh ini, bus-bus angkutan umum praktis hanya beroperasi
siang hari, karena tidak berani jalan malam. "Bahkan, sejak hari ini
[kemarin-Red], bus yang beroperasi hanya tujuh unit, berarti tidak sampai
10 persen dari bus yang biasanya beroperasi sampai ratusan unit.
Sedangkan untuk jenis angkutan barang, praktis tidak ada yang
beroperasi," tambahnya.


Tidak beroperasinya truk-truk angkutan barang ini, menurut Kamaruddin,
disebabkan adanya pengutipan liar yang dilakukan oknum aparat keamanan di
kawasan Aceh Timur. "Dalam operasinya, oknum tersebut menahan truk
pengangkut kelapa sawit yang lewat berkisar Rp. 1,5- 2 juta sebagai
tebusannya," jelasnya berdasarkan laporan dari Organda Aceh Timur.


Selain itu, pengusaha angkutan barang enggan mengoperasikan kenderaanya
karena merajalelanya kawanan bajing loncat di kawasan Aceh Barat, Aceh
Timur dan Aceh Utara. "Malah, kawanan bajing loncat ini tak segan-segan
menguras habis isi truk yang mereka jarah," katanya.


Kalau kondisi keamanan yang mencekam dalam bidang transportasi seperti
ini terus berlanjut, ia mengkhawatirkan akan berpengaruh terhadap harga
sembako. "Betapa tidak, dengan tidak beroperasinya truk pengangkut
barang, otomatis harga sembako akan melambung dan rakyat juga yang jadi
korban," katanya.


Karenanya, Organda Aceh mengimbau agar pihak-pihak yang bertikai dapat
bersama-sama kembali menyadari tugas alat transportasi umum yang sangat
urgent untuk kelancaran mobilitas perhubungan dan perekonomian rakyat.
"Keamanan dalam bidang transportasi dapat dijaga dan tidak diganggu demi
kehidupan masyarakat luas," demikian Drs. Kamaruddin THB. (b07)


----------end----------

Warga Diculik, Anggota Koramil

Ditembak, Kantor Camat Dibakar


LANGSA (Waspada): Seorang warga bernama Nazaruddin hilang setelah diculik
orang-orang mengendarai truk bertuliskan PPRM,sedangkan seorang anggota
Koramil tewas dibunuh orang sipil bersenjata menyusul dibakarnya kantor
kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur Sabtu(3/7) dinihari.


Pembakaran yang dilakukan orang tak dikenal terhadap bangunan sarana umum
di Aceh, dan belum mampu diatasi pihak berwajib terus berlanjut Sabtu
(3/7) dinihari giliran Kantor Camat Julok, Kabupaten Aceh Timur disulut
api hingga jadi abu yang pelakunya masih misterius.


Keterangan yang berhasil dihimpun Siaran Minggu Waspada, orang-orang
misterius melakukan aksi pembakaran disaat warga sedang tidur lelap
sekira pukul 3:00 dini hari.


Sedangkan Camat Julok T. Syamsuddinsyah mengatakan, ketika api sudah
berkobar penjaga malam Muhammad yang tidur di rumah samping kantor
sebenarnya sudah mengetahui kantor terbakar tetapi tidak berani keluar
untuk memberi pertolongan.


"Begitu juga penduduk sekitar, mereka sebenarnya banyak yang ingin
membantu memadamkan namun takut keluar dari rumah," tambahnya.


Alasan ketakutan tersebut, tambah Syamsuddinsyah, sangat wajar karena
masyarakat sudah sering mendengar biasanya kalau yang melakukan
pembakaran terhadap gedung-gedung pemerintah di daerah lain sering
dilakukan oleh kelompok bersenjata.


Mengenai kerugian akibat kebakaran tersebut, kata Syamsuddinsyah lagi,
diperkirakan mencapai Rp. 0,5 miliar terdiri dari gedung dan perangkat
yang ada di dalamnya.


"Tidak ada satu barang yang berhasil diselamatkan," katanya seraya
menjelaskan ketika dia datang ke TKP sekitar pukul 04:00 dinihari
semuanya telah menjadi abu.


Walaupun kantor sudah terbakar, tambahnya lagi, para staf kantor camat
tetap juga melayani kebutuhan masyarakat. Karena pihaknya sudah
memerintahkan agar semua aktifitas yang berkaitan dengan pelayan tidak
boleh terhenti.


Untuk itu, sejak Sabtu semua kegiatan kantor camat dipindahkan ke rumah
dinas camat yang berjarak sekitar 200 meter dari kantor yang terbakar
tersebut.


Anggota Koramil ditembak


Serda M.Sufi anggota Bintara Pembinaan Desa (Babinsa) Koramil 0103/23
Kecamatan Makmur Leubu, Aceh Utara, Jumat (2/7) malam ditemukan telah
menjadi mayat di parit jalan negara kawasan Desa Cot Tufah, Kecamatan
Gandapura persis di depan SPBU Simpang Leubu.


Masyarakat menemukan jasad prajurit TNI-AD itu sekitar pukul 22:00,
dengan luka tembak di pangkal lengan kanan satu liang dan di pinggang
kiri kanan dua liang tembus ke perut, masyarakat tidak berani untuk
mengambilnya, dan langsung diberitahukan kepada pihak berwajib di sana,
ujar warga di sekitar tempat penemuan mayat itu.


Sekitar pukul 24:00 Dan Dim 0103 Aceh Utara Letkol. Inf. Giyono bersama
Komandan PPRM Bravo Lhokseumawe, tiba ke tempat penemuan mayat prajurit
TNI itu, kemudian jenazah tersebut dibawa ke RS.Korem 011/Lilawangsa di
Lhokseumawe sekitar pukul 03:00 Sabtu kemarin untuk divisum.


Ka. Penrem 011/Lilawangsa Letda Inf. Eddy Harianto kepada SMW membenarkan
peristiwa penembakan anggota Babinsa Koramil Kecamatan Makmur Leubu itu,
Alm M. Sufi sekitar pukul 18:00 keluar dari kantor ingin pulang ke
rumahnya di Geureugok, Kecamatan Gandapura, sekitar 10 Km dari kantornya.


Namun belum sampai ke rumah, korban di duga dicegat Gerakan Bersenjata
Pengacau Keamanan (GBPK), kata Ka. Panrem, dimana korban diambil dan
siapa yang membunuhnya masih dalam pelacakan aparat keamanan, ujarnya.


Jenazah Alm. Serda M. Sufi, Sabtu (3/7) pagi dibawa pulang ke kampung
halamannya di Laweung, Kabupaten Pidie, diantar oleh Perwira Seksi
Administrasi (Pasi Min) Kodim 0103 Aceh Utara Lettu Inf. Soegianto
bersama rekan korban yang dikawal dua truk militer. (tim)


----------end----------


Meski Dihadang,

Warga Tetap Mengungsi


SIGLI (Waspada): Meski dihadang aparat keamanan, namun gelombang
pengungsian masih terus terjadi. Mereka terus berjalan kaki puluhan
kilometer untuk sampai ke kamp pengungsian di kompleks masjid Abu Di
Beureueh, Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie, seperti yang terlihat
Sabtu (3/7) siang.


Arus pengungsian yang terjadi Sabtu (3/7) siang dilakukan ribuan
masyarakat dari beberapa desa pedalaman Kecamatan Geumpang, Pidie. Mereka
bergabung dengan saudaranya dari Kecamatan Tangse yang sudah sepekan
menempati kamp-kamp pengungsian di komplek masjid Abu di Beureunuen
Mutiara dan masjid/pesantren Darussadah Teupin Raya Kecamatan Geumpang
Tiga, kata sumber koordinator panitia pengungsi di Beureunuen.


Untuk sampai ke lokasi pengungsian ribuan masyarakat Geumpang itu
terpaksa harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer karena aparat
keamanan menghadang setiap kendaraan sekaligus meminta para pengungsi
kembali ke rumahnya masing-masing.


Ribuan warga desa di Geumpang dan sebagiannya lagi dari tangse, mulai
bergerak menuju Beureunuen, sejak pagi hari dengan menggunakan bus,
pikap, truk, dan labi setelah mereka berjalan kaki puluhan kilometer.


Ironisnya para aparat mencegat mereka dan diperintahkan untuk kembali ke
desa masing-masing. Begitu juga bagi mereka yang membawa berbagai
perbekalan digeledah. "Aparat memeriksa kami ketika melitasi pos
penjagaan, semua kami diminta pulang atau tidak melanjutkan perjalanan ke
kamp lokasi pengungsian," kata seorang pengungsi.


Permintaan/perintah aparat itu tidak menjadi rintangan bagi masyarakat
yang tetap melanjutkan rencananya. Sehingga mereka terpaksa berjalan kaki
mencapai puluhan kilometer. "Tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali
mengungsi dan masjid Abu Di Beureuen kami merasa lebih aman," kata
Muhammmad.


Aksi jalan kaki sampai puluhan kilometer dilukiskan sangat memprihatinkan
apalagi mereka yang terdiri dari pemuda/remaja, wanita/pria, orangtua,
dan anak-anak di bawah umur yang masih harus digendong, tentunya
bertambah beban yang cukup berat dalam perjalanan. "Bagi kami yang masih
muda-muda memang tidak masalah karena tenaganya masih kuat, tapi
bagaimana dengan orangtua dan anak-anak, jangankan berjalan kaki,
diangkut dan digendong saja sangat sulit, ujar Muhammad lagi, yang
mengaku akhirnya mereka baru dijemput mobil, setelah jalan kaki puluhan
kilometer melewati pos pemeriksaan aparat.


Karena tak mendengar ajakan itu, akhirnya aparat juga membiarkan warga
untuk mengungsi.Memang ada ajakan untuk kembali ke kampung halaman tetapi
ditolak bahkan keterangan Dandim dibantah sejumlah pengungsi yang
menyebutkan, mereka takut kepada aparat, maka terpaksa mencari alternatif
dengan tidak melewati pos aparat sehingga menerobos lewat jalan
setapak.(b18)


----------end----------


Saksi: Sebelum Dibakar,

Bus Dikejar Mobil Taft


LHOKSEUMAWE (Waspada): Nasib malang menimpa bus penumpang umum
CV.Anugerah BL 7691 A, milik perusahaan Kurnia Grup, yang dibakar orang
tak dikenal bermobil Taft Rocky di kawasan Blang Tamu Cot Batee
Geuleungku, Kecamatan Samalanga, Aceh Utara, Jumat (2/7).


Menurut saksi mata kepada Siaran Minggu Waspada, Sabtu kemarin, jauh
sebelum terjadi pembakaran, bus berbadan lebar yang sarat dengan
penumpang sudah dikejar oleh mobil Taft Rocky, bahkan terjadi selip
menyelip di jalan raya, yang berbukit-bukitan dengan belokan tajam.


Sekitar 200 meter dengan lokasi pembakaran, supir bus CV. Anugerah itu
sempat menyenggol Rocky itu yang nyaris jungkir balik ke jurang Cot Batee
Geuleungku, namun sopir Taft itu berhasil menguasai mobilnya, walaupun
samping kanan mobilnya peot.


Adegan kejar-kejaran itu bagaikan di film, kata saksi mata yang tidak
bersedia namanya disebutkan, membuat penum-pang bus Anugerah jadi
jantungan, seraya mengingatkan sopir itu supaya berhati-hati. Tahu-tahu
dalam aksi kejar-mengejar itu terdegar suara letusan senjata api, membuat
Ruslan supir Anugerah itu mendadak berhenti.


Salah seorang penumpang Taft itu segera turun seraya memerintahkan supir
untuk memajukan kendaraannya ke semak belukar sekitar lima meter dengan
badan Jalan Negara Banda Aceh-Medan sebelah utara jalan (arah kanan dari
Medan).


Setibanya di lokasi itu, penumpang taft memerintahkan kernet bus untuk
membukakan bagasi, seraya menyuruh penumpang untuk mengambil barangnya
masing-masing dan menjauh, kata saksi mata itu. Sedangkan masyarakat di
sekitar begitu mendengar letusan senjata api dan mobil penumpang itu
sudah menjauh dari jalan, juga ikut lari bersama-sama dengan penumpang
bus itu, kata warga di TKP.


Orang dalam mobil taft itu segera menyirami bensin dan menyalut api pada
bus tersebut, sedangkan sopir dibawa ke arah barat, sedangkan masyarakat
dan penumpang sudah lari ke Simpang Tambu sekitar 500 meter dari lokasi
itu untuk menyelamatkan diri.


Masih menurut saksi mata, penumpang mobil taft itu ada mengenakan baju
loreng dan baju preman lengkap dengan senjata api di tangannya, sehingga
tidak ada warga masyarakat yang berani membantunya, ujar warga masyarakat
di lokasi kejadian itu. Bahkan ada warga yang tidak sempat menutup pintu
kedainya, kata dia.


Sampai Sabtu (3/7) bangkai bus Anugerah yang jauhnya 86 km arah barat
kota Lhokseumawe, masih menjadi tontonan masyarakat, pembakaran bus itu
menjadi pembicaraan hangat masyarakat di daerah ini, karena sebelumnya
bus penumpang umum perusahaan Kurnia Grup milik putera Aceh Pidie itu
juga sudah dibakar, bersama dengan pembakaran bus CV.Pelangi di kawasan
Kabupaten Pidie, sebulan lalu.


Akibat pembakaran bus penumpang umum, membuat pemilik kendaraan tidak
berani melakukan operasi busnya di sore dan malam hari. Sehiingga
masyarakat kesulitan alat transportasi jarak jauh antar kota dan antar
Provinsi di daerah Istimewa Aceh.(tim)


----------end----------


Letusan Senjata

Bubarkan Mahasiswa


SIGLI (Waspada): Warga kota Sigli Kabupaten Pidie, Sabtu (3/7) siang
terkejut mendengar suara letusan senjata api. Hal ini terjadi ketika truk
pasukan PPRM patroli di kawasan Kota Sigli kepergok dengan kelompok
mahasiswa sedang mencari derma untuk pengungsi di Beureunuen dan Glumpang
Tiga.


Tembakan itu dilakukan aparat keamanan, kata saksi mata, bertujuan hanya
untuk membubarkan aksi mahasiswa yang sedang mencari derma/sumbangan
untuk pengungsi.


Awal kejadiannya, kata sumber itu, saat beberapa mahasiswa sedang mencari
derma di pertokoan Alun-Alun Sigli, tiba-tiba datang aparat keamanan
melarang kegiatan mereka. Dua di antara mahasiswa ditangkap untuk
dimintai keterangan. Melihat temannya sudah ditangkap aparat, yang
lainnya melarikan diri ke arah pendopo atau persimpangan Jalan Kembang
Tanjong jembatan Benteng.


Karena melarikan diri itu, membuat aparat keamanan terpaksa melepaskan
tembakan ke udara beberapa kali sambil mengejar mereka yang lari itu.
Sampai di ujung jembatan Benteng, aparat kembali melepaskan tembakan ke
udara sebagai peringatan agar mahasiswa itu tidak lagi melarikan diri.
Akhirnya sebanyak delapan orang mahasiswa itu berhasil digiring ke
Makodim Pidie untuk dimintai keterangan yang lebih lanjut, kata sumber.


Masih menurut sumber masyarakat, sejak terdengar letusan senjata yang
bertubi-tubi. Warga kota langsung masuk ke rumah masing-masing dan
sejumlah toko ditutup di kawasan Alun-Alun. "Kalaupun ada yang kebetulan
tidak berada di dekat rumahnya, mereka terpaksa mencari perlindungan ke
rumah penduduk atau toko terdekat dan untuk sementara tidak berani lagi
keluar, kata sumber.


Sebaliknya, tambah sumber itu, sebagian masyarakat lain yang kebetulan
saat kejadian itu terjadi berada di Kota Sigli dan tidak tahu apa yang
terjadi, berupaya ingin mengetahui di mana asalnya suara dentuman peluru
tersebut. Setelah tahu mereka pun diam saja.


Informasi yang Waspada terima menyebutkan, tembakan pasukan aparat ke
udara sempat menghentak hati masyarakat yang ada di kawasan tersebut dan
sekitarnya, mereka mengira kembali terjadi kontak senjata antara aparat
dengan kelompok bersenjata yang tak dikenal.


Suasana mencekam dan aksi mengurung diri di rumah-rumah dan toko yang
dilakukan warga Kota Sigli hanya berlangsung sebentar saja, sekitar 1
jam, setelah itu mereka kembali membuka toko dan keluar rumah untuk
melakukan aktivitasnya seperti biasa, kata seorang tokoh masyarakat Kota
Sigli. Dilaporkan dalam aksi muntahan peluru yang dilakukan aparat
keamanan itu tidak ada korban jiwa, kecuali hanya sejumlah mahasiswa yang
dibawa ke Makodim Pidie.


Dandim Pidie Letkol Inf.Iskandar MS membenarkan, peristiwa letusan
senjata yang dilakukan aparat keamanan di kawasan Kota Sigli itu. Hal
itu, tambah Dandim, terpaksa dilakukan karena sejumlah mahasiswa
bersikeras tidak mau mendengar seruan petugas untuk menghentikan aksi
pencari derma atau bantuan untuk pengungsi itu.


Namun setelah mereka diberi pengarahan selama satu jam di Makodim,
akhirnya ke delapan mahasiswa yang sempat dijaring itu dilepas kembali.
"Mereka tidak kita apa-apakan. Kecuali hanya diberi nasehat," kata
Dandim. (tim)


----------end----------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Jul 1999 jam 06:05:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke