---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Republika, 5 Juli 1999 RI-BELANDA; Sebuah Komentar Membaca ulasan pada rubrik Opini Harian Umum Republika edisi 29 Juni 1999 dengan topik ''Antara Indonesia dan Belanda: Siapa Sebenarnya yang Berutang?'' dan ''Belanda Berpikir Secara Legalistik'', saya terdorong untuk memberikan komentar. Pertama saya salut kepada Republika, harian tercinta saya, yang telah menampilkan topik tersebut. Tidak banyak media massa yang mau dan berani mengulas topik tersebut, malah ada salah satu media cetak nasional kita (tidak usah saya sebutkan namanya) yang hampir selalu ''membela'' negeri Belanda. Selama saya tinggal di negeri Belanda, dari masa Orde Baru sampai sekarang, hampir semua berita mengenai Indonesia yang saya temui di negeri ini adalah berita-berita yang sangat negatif. Singkatnya, Indonesia dijadikan suatu negara yang dibenci oleh mereka. Hanya kalau ada promosi pariwisata di Indonesia atau kalau ada sesuatu ''proyek kemanusiaan'' yang ''dibantu'' oleh mereka, baru ditampilkan sesuatu yang ''agak bagus''. Saya pernah protes atas salah satu ''Aksi Indonesia'' mereka yang mengajarkan tentang Sejarah Indonesia yang disiarkan di televisi sekolah, yang cuma menayangkan kemiskinan di Indonesia, ''kekejaman'' Pemerintah Indonesia (dari mulai pemerintahan Soekarno sampai Soeharto), tanpa sedikit pun menyinggung kekejaman penjajahan mereka di Indonesia selama lebih dari 300 tahun. Malah dibilang bahwa rakyat Indonesia sangat ''menghargai'' masa penjajahan Belanda tersebut dengan hanya memunculkan orang-orang pro-Belanda yang diwawancarai oleh mereka. Singkatnya, sejarah kekejaman mereka di Indonesia, tidak banyak diketahui, malah tidak diketahui. Mereka menutupi, malah melecehkan sejarah mereka sendiri. Tetapi, kalau mereka ditanya sejarah pendudukan Jerman di Belanda dari tahun 1942-1945 -- yang cuma tiga setengah tahun itu -- wah, mereka tahu sampai detilnya. Bahkan sampai sekarang (menurut survei terakhir), 75 persen dari generasi muda Belanda masih sangat membenci orang-orang Jerman, walaupun mereka tidak mengalami sendiri pendudukan Jerman tersebut pada Perang Dunia Kedua. Saya pernah katakan pada mereka, mereka katanya ''tahu'' dari mana didapatkannya kekayaan Soekarno dan Soehato, tetapi apakah mereka tahu dari mana datangnya kekayaan Ratunya (termasuk Ratu terkaya di Eropa dan di dunia, menurut majalah Forbes)? Kalau orang-orang Yahudi selama Perang Dunia Kedua dapat kompensasi miliaran dolar, masa penduduk Indonesia yang dijajah selama lebih dari 300 tahun tidak dapat kompensasi, berapa jumlah rakyat Indonesia yang mati selama penjajahan mereka, mengobarkan perang, menguras kekayaan di negeri ini. Buku Di Bawah Bendera Revolusi karangan Ir Soekarno mengupas semuanya itu. Dan sikap (attitude) kebanyakan orang-orang Belanda terhadap bangsa kita sebagaimana diulas dalam buku itu, saya pikir sampai sekarang tidak banyak berubah. Jadi, mental penjajah dan kebanggaannya sebagai negara yang sempat menjajah antara lain Indonesia, masih lekat pada mereka. Nah, apakah tidak ada LSM atau perorangan -- seperti Simon Wiesenthal (yang memburu penjahat perang terhadap orang-orang Yahudi dan menuntut diberikannya kompensasi bagi orang-orang Yahudi yang menderita selama perang dunia kedua tersebut) -- di Indonesia yang bisa menuntut Belanda? Atau kita tidak bisa menuntut karena kita sudah ''dihadiahi kemerdekaan'' oleh Belanda? Kita memang tidak perlu ''membenci'' orang-orang Belanda sebagaimana mereka membenci orang-orang Jerman. Apa yang kita tuntut adalah keadilan, tidak saja untuk generasi masa lalu, tetapi juga generasi sekarang dan masa datang. Bravo untuk penulis kolom tersebut dan bravo juga untuk harian Republika! Terimakasih. Nama dan Alamat Ada pada Redaksi ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Jul 1999 jam 07:06:32 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
