----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 5 Juli 1999

Sudahlah, Next Time Better

PENENTUAN jatah 65 kursi Utusan Golongan di MPR nanti, memang
wewenang KPU sepenuhnya. Tapi, kalau dari sekarang ini muncul
tuntutan agar parpol-parpol kecil saja yang menduduki kursi itu,
tentu ada persoalan. Paling tidak, ini berkaitan dengan adanya
parpol yang sudah tahu bahwa dirinya tidak akan memperoleh suara
di DPR.

Apalagi, sampai sekarang ini KPU belum menyelesaikan
penghitungan suara secar nasional. Agaknya, kesempatan inilah
yang digunakan oleh parpol yang sudah tak berpeluang duduk di
DPR, mulai mengincar kursi Utusan Golongan itu.

Pernyataan ini, muncul dari pengamat politik Indria Samego.
Menurut dia, jatah kursi untuk utusan golongan itu adalah non
partai politik. Sedangkan mereka yang duduk di KPU itu, adalah
perwakilan dari parpol.

Dari sini, rakyat srebenarnya sudah bisa mempertanyakan
integritas mereka sebagai politisi. Bagaimanapun juga, politisi
itu harus 'faith' jika kalah. "Ya sudah. Kalau kalah ngaku kalah
saja, dan 'next time better' (lain kali lebih baik, red)."

Jadi, menurut Indria, persoalan tentang bagi-bagi kursi jatah
utusan golongan itu sangat memalukan. "Utusan golongan itu
adalah wakil rakyat di MPR yang bukan atau belum terwakili dalam
DPR. Jadi, jangan membuat preseden yang tidak baik dan sangat
tidak mendidik itu," tegasnya.

Selain itu, ulah parpol gurem yang semakin keterlaluan di KPU
itu cukup membuat banyak kalangan prihatin. Ulah mereka bagi-
bagi uang atau korupsi, adalah pelanggaran etika politik.
Parahnya, desakan agar partai nol koma keluar dari KPU,
kelihatannya tidak membuat mereka lebih 'concern'.

"Parahnya, hal itu tidak membuat mereka menjadi serius
menyelesaikan masalah penghitungan suara nasional yang belum
juga final dan paling mendasar itu," katanya.

"Kalau sekarang kita mendengar mereka minta kursi di DPR, lalu
MPR, nanti kalau sudah mentok bisa-bisa minta kursi di DPA,"
katanya lagi.

Jadi lebih baik jangan 'memplintir-plintir' persoalan kursi
dengan argumen yang sangat tidak masuk akal. "Tingkah partai
gurem itu patut membuat kita wajar untuk bersedih. Seharusnya
para politisi harus berjuang mewakili parpol. Parpol yang
diwakilinya itu adalah alat artikulasi kepentingan pendukungnya
konstituennya," ujarnya.

Jadi, kursi Utusan Golongan yang diincar sekarang ini muncul
lantaran kegagalan dan 'over confidence' sejak awal partai-
partai gurem itu berdiri. Ditambah lagi, mereka juga tidak
memperhitungkan peluang mendapatkan kursi lewat aturan 'stembus
accoord'.

Sehingga, setelah mengetahui suaranya anjlok, barulah mereka
baru mengikat  peluang lewat 'stembus accoord' untuk menembus
dualisme peraturan yang mengikatnya. Termasuk, alasan yang
mengatakan bahwa mereka tak mau suaranya terbakar hangus sia-
sia.

"Apapun alasannya, tetap saja tidak bisa. Semua itu harus ada
ketentuannya untuk bagi-bagi kursi," tandasnya.(ANU)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Jul 1999 jam 07:06:44 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke