---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Republika, 5 Juli 1999 Wiranto: Jika Sudah Ancam-mengancam, Nanti yang Jadi Presiden Preman JAKARTA -- Menhankam/Panglima TNI Jenderal (TNI) Wiranto mengkhawatirkan munculnya isu-isu yang beredar menjelang Sidang Umum MPR sekarang ini. Isu-isu itu, menurut Wiranto, antara lain mengatakan kalau si 'A' batal jadi presiden pendukungnya akan ngamuk, atau kalau si 'B' terpilih rakyat akan berontak. ''Jika belum-belum sudah terjadi saling tekan, ancam-mengancam, nanti pasti yang terpilih jadi presiden adalah ketua preman,'' kata Wiranto saat memberikan sambutan pada acara Maulid Nabi Muhammad saw di Masjid Baitul Nuur, Jakarta, kemarin. Ikut hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh masyarakat Lebak Bulus Jaksel dan Habib Ali Bin Alwi Ba'agil itu antara lain KH Zainudin MZ, Drs Manarul Hidayah, Kaster Letjen TNI Susilo Bambang Yudoyono, Pangda Jaya Mayjen TNI Djadja Suparman, Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Nugroho Djajusman, Dan Kopassus Mayjen TNI Syahrir, serta sejumlah pejabat tinggi militer dan sipil lainnya. Tak kurang 15 ribu Muslimin dari penjuru Jakarta datang pada peringatan Maulid Nabi itu. Wiranto menambahkan dengan adanya kekhawatiran yang ditimbulkan oleh desas-desus tersebut hendaknya menjadikan masyarakat lebih waspada. ''Jika tidak hati-hati menghadapi desas-desus tersebut, kita akan terjebak dalam situasi chaos. Nanti yang dirugikan rakyat kecil,'' tegasnya. Lebih jauh Jenderal Wiranto menjelaskan, dengan munculnya isu- isu itu telah menyebabkan masyarakat, baik yang berada di luar negeri maupun di dalam negeri, mengkhawatirkan ''apakah kita [pemerintah/TNI/dan masyarakat] mampu mempertahankan stabilitas keamanan''. Menhankam/Panglima TNI juga meminta masyarakat harus bersabar menunggu hasil pemilu. ''Penghitungan suara sangat susah dilakukan. Makin susah karena diganggu oleh orang-orang tertentu. Oleh karenanya membutuhkan usaha yang keras dan dukungan dari semua pihak, sehingga hasil penghitungan tersebut dapat diterima oleh kita semua,'' paparnya. Setelah hasilnya diumumkan, lanjut Wiranto, bangsa Indonesia akan menghadapi SU MPR. Dalam SU tersebut apa pun pendapat yang mungkin terlontar, katanya, hendaknya dilakukan dengan cara yang etis, sopan, bermoral, serta terhormat. ''Kalau semuanya itu dilaksanakan, tidak akan terjadi konflik dan saling serang,'' tukasnya. Dalam kesempatan itu, Wiranto kembali menegaskan bahwa yang berhak menjadi presiden mendatang adalah putra Indonesia terbaik, yang dipilih secara fair dan demokratis. Selanjutnya, menghadapi tugas berat pemerintah dalam SU MPR nanti, Wiranto mengharapkan umat Islam tidak terpengaruh oleh provokasi-provokasi negatif seperti aksi dukungan cap jempol dengan darah. ''Jangan diikuti. Hadapi semua dengan kesabaran dan tawakal,'' katanya. Agar tidak terperangkap oleh isu-isu yang menyesatkan, prinsip yang harus dipegang erat oleh umat Islam, kata Wiranto, adalah mengembangkan sikap tabayyun. ''Artinya selalu mencari kejelasan terhadap semua hal. Harus tetap dijaga secara sadar untuk dapat memilih dan membedakan mana hal yang baik dan hal yang buruk,'' tegasnya. Wiranto juga mengungkapkan keheranan terhadap beberapa kelompok atau orang di dalam negeri yang tidak mau tahu bahwa pemilu yang dilaksanakan bulan lalu telah berlangsung secara jujur dan adil (jurdil). ''Pemilu kemarin mendapat acungan jempol dari pengamat luar negeri. Mengapa orang dalam negeri sendiri tidak mempercayainya? Itu perlu disesali.'' Bukti pengakuan internasional tersebut, sambung Wiranto, terlihat dari meningkatnya kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia. ''Saat ini investor mulai berdatangan kembali, nilai rupiah kembali menguat, dan suku bunga telah turun menjadi sekitar 20 persen saja. Kepercayaan tersebut bukan datang begitu saja,'' katanya. Momentum peringatan Maulid Nabi kali ini, kata Wiranto, agar dapat dijadikan untuk mengingatkan komponen masyarakat terhadap agenda reformasi. ''Kita bangun suasana kebersamaan dan persatuan agar semuanya bisa berpikir jernih dan arif, sehingga dapat memberikan sumbangan yang terbaik bagi kemajuan bangsa.'' Mubalig Zainuddin MZ dalam kesempatan itu memberi pandangan tentang kriteria pemimpin dalam kacamata Islam. Menurutnya, contoh paling mudah pemilihan pemimpin dalam Islam adalah ketika memilih imam. Dikatakan Zainuddin, kriteria imam yang harus dipilih adalah pertama orang yang paling alim di tempat tersebut. Dalam konteks bernegara, lanjutnya, alim berarti ia punya konsep, berpandangan jauh ke depan, dan mampu membawa bangsa ini ke luar dari kesulitan. ''Kalau ada dua orang yang sama alimnya, maka pilihlah di antara orang tersebut orang yang lebih fasih. Jika kedua orang tersebut masih memiliki keunggulan yang sama, maka pilihlah yang paling senior,'' papar dai berjuta umat itu.(lha) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Jul 1999 jam 07:06:58 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
