---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Republika, 11 Juli 1999 Fenomena 'Sumpah Darah' Pengantar: Aksi Sumpah dengan cap jempol darah oleh para kader dan simpatisan PDI Perjuangan untuk mendukung Megawati sebagai Presiden RI Ke-4 telah mengejutkan masyarakat luas. 'Sumpah Darah' yang diawali di Jawa Timur dan kemudian meluas ke daerah- daerah lain itu menyentak kesadaran masyarakat untuk memepertanyakan kembali seberapa jauh masyarakat kita memahami dan menghayati arti demokrasi. Berikut ini disajikan pandangan dan komentar beberapa pembaca. Kebangkitan 'Tribal Political Culture' Adegan sumpah darah, yang dilakukan para pendukung Megawati, dengan membuat stempel cap jempol dari darah, memang ''mengesankan''. Secara simpel, orang akan membayangkan film- film klasik dan mistik seperti koboi dan Indian, film seri Hercules, Xena: The-Warrior Princess, Sinbad, Voodoo, Tarzan, dan semacamnya. Dilihat dari paradigma sosiologi politik, partisipasi politik serupa itu lazim terjadi pada masa-masa sebelum abad ke-19. Merupakan keanehan apabila hal tersebut terjadi menjelang milenium kedua; dan menjadi tantangan bagi para social scientist untuk menyelidiki fenomena sosial yang seolah berlawanan dengan jarum jam tersebut. Di saat bangsa Inodnesia berusah bangkit mengejar ketertinggalan di bidang politik (baca: Demokratisasi) melalui berbagai proses yang esensinya seputar institusionalisasi, modernisasi, dan rasionalisasi, di lain pihak terjadi sumpah darah yang esensinya justru berlawanan. Apabila masyarakat Indonesia dipandang sebagai sebuah sistem, maka sumpah darah itu merupakan sebuah perilaku sosial yang tertinggal, atau lazim disebut cultural lag, menurut teori William F Oghburn. Dukungan politik dengan menggunakan sadisme serta eksploitasi emosi yang tidak manusiawi merupakan perilaku sosial suku-suku primitif (tribe), yang mengkultuskan sesuatu secara mistis dan jauh dari landasan rasional. Kekhawatiran yang muncul adalah snow-ball effect dari sumpah darah tersebut berupa munculnya respons sporadis yang bernilai serupa, sehingga kemudian menjadi ''kebangkitan budaya politik tribal (Tribal Political Culture)'', baik dari pendukung PDI- Perjuangan maupun partai-partai lain. Sumpah darah, hanya salah satu dari tribal political culture, yang dapat menjadi pemicu lahirnya varian tribal political culture lainnya. Bagi proses demokratisasi, tri2bal political culture merupakan sebuah kemunduran. Ia menjadi semacam organisme pembusuk bagi bangunan demokrasi. Bagi gerakan reformasi di Indonesia, sudah tentu ia bersifat kontraproduktif. Karena tribal political culture tersebut tidak menonjolkan aspek kemanusiaan (seperti mekanisme dialog dan penalaran), bahkan menonjolkan pemaksaan, ancaman psikologis, maupun kekerasan, dan semua ini tidak edukatif. Dipandang dari paradigma religius, tidak ada satu agama pun di Indonesia yang menggunakan praktek-praktek sumpah darah. Bahkan sepanjang pengalaman penulis, Islam dan Kristen sangat menentang praktek-praktek seperti itu, karena tidak manusiawi dan menyerupai tradisi jahiliyah atau paganisme. Jika aksi sumpah darah tersebut berlanjut dan mampu menjadi instrumen penekan terhadap proses politik, maka itu berarti eksistensi tribal political culture sudah absah (legitimate) di dalam sistem politik. Dan sekali ia mampu mengambil peran, maka ia akan terlembaga. Hal mana sangat berbahaya bagi kehidupan sistem politik demokratis, ibarat kanker ganas yang sanggup merusak seluruh sistem, sampai akhirul kalam. Oleh karena itu, menjadi tanggungjawab semua pihak yang masih percaya pada demokrasi dan moralitas, untuk mencegah tribal political culture mengambil peran dan eksis. Dibutuhkan kearifan semua pihak -- terutama dari partai yang terkait -- untuk menyadarkan pengikutnya melakukan partisipasi politik secara lebih cerdas dan manusiawi. Chalid Utomo Kepala Departemen Kaderisasi DPD PAN Jakarta Selatan Jl Buncit Raya Pulo 8-N Jakarta Selatan Sikap yang Berlebihan Sumpah Darah yang dilakukan oleh para simpatisan PDI Perjuangan dalam upaya mereka menunjukkan dukungan sepenuh hati terhadap pencalonan Megawati sebagai presiden RI ke-4 merupakan sikap yang sangat berlebihan. Sebagai partai yang menyandang nama ''demokrasi'', tentu pemimpin dan anggota PDI Perjuangan mengerti betul arti demokrasi, termasuk untuk pemilihan presiden. Kalau suara terbanyak dari anggota MPR memilih Megawati, tentu beliau akan menjadi Presiden RI ke-4. Jadi, tidak berarti memperoleh suara pemilih sekitar 35 persen saja dalam pemilu lalu seolah sudah otomatis menduduki kursi kepresidenan. Ini harus dipahami bersama, dan tidak perlu kebulatan tekad dengan Sumpah Darah segala, karena hanya akan mengeruhkan suasana saja. Kalau rakyat kecil yang tidak tahu hal ini, kemudian ingin Sumpah Darah, tentu sebaiknya pemimpin partai memberi tahu dan mendidik pengikutnya. Jadi bukan malah mengorganisasikannya melalui PRRT (Perjuangan Rakyat untuk Reformasi Total). Saya terkejut waktu membaca ucapan Bambang, kader PDI-P kepada Tabloid Adil No 40/Tahun ke-67: ''Apa pun akan kami lakukan demi Mega. Kami siap mati.'' Sebagai bangsa yang beragama, saya kira sikap ini tidak saja keterlaluan; bahkan sudah mengarah kepada mempertuhankan Mega. Kepada saudara-saudara seiman (saya seorang muslim) yang berada di lingkungan PDI-P, melalui tulisan ini saya ingin menyeru untuk bertobat dan menghentikan gerakan Sumpah Darah ini, karena sikap yang mengiringi Sumpah Darah tersebut sudah termasuk syirik. Kita kaum muslimin tahu semua bahwa dosa syirik tidak akan diampuni oleh Tuhan, kecuali menjalani tobat nashuha dan syiriknya ditinggalkan. Kemerdekaan, kebebasan mengeluarkan pendapat dan kebebasan pers yang kita perjuangkan melalui reformasi janganlah dicemari dengan pemaksaan kehendak, melecehkan pendirian orang lain, dan mau menang sendiri. Saya melihat Sumpah Darah masuk ke kategori ingin memaksakan kehendak dengan tindakan yang berbau mengancam. Hendaknya masing-masing kita (baik secara pribadi maupun kelompok) yang ingin menikmati dan mengekspresikan kemerdekaannya, pada saat yang sama harus menghormati kemerdekaan orang/kelompok lain yang tingkatan kemerdekaannya tidak kurang dari yang kita miliki. Oleh karena itu kalau ada yang setuju presiden wanita, silakan; yang tidak setuju dan mungkin malah berdasarkan keyakinan agamanya, ya silakan juga. Kita tidak perlu berkelahi. Mari saling menghormati dan saling menghargai. Mari kita persilakan anggota-anggota MPR kita memilih presiden yang berkualitas terbaik dalam pengertian segala-galanya, sehingga bangsa ini dapat bangkit lagi. Terakhir, saya ingin ingatkan kepada semua pihak bahwa umat manusia ini bersaudara karena diturunkan dari pasangan Adam dan Hawa. Persaudaraan kita yang sebangsa dan setanah air tentu menjadi lebih dekat dibandingkan dengan hanya sesama umat manusia. Oleh karena itu marilah kita akhiri silang sengketa yang ada; dan marilah bersabar menunggu hasil akhir pemilu dan pemilihan presiden serta pembentukan pemerintahan baru. Suheimi Nurusman Cipulir, Jakarta Sebuah Fenomena Kemusyrikan! Semakin ironis rasanya, masyarakat kampus kita terpaksa melihat stigma politik yang dilakukan para pengikut Megawati. Bukan masyarakat kampus saja sebetulnya yang merasakan ''kegelisahan'' dengan melihat ulah para pendukung Megawati tersebut, tapi juga masyarakat luas pada umumnya. Pertama, adalah sebuah arogansi, ketika Megawati menolak diajak debat calon presiden yang diselenggarakan Forsal belim lama ini. Alasan penolakan itu pun terlihat apologis. Bisa jadi, ia memang tak mengizinkan kita melihat plat form partainya, apalagi untuk ikut memperjuangkannya di Senayan. Padahal hal-hal tersebutlah yang substansial, yang akan membawa perubahan (reformasi) yang sebenarnya. Barangkali Megawati sendiri sedang berada dalam kegamangannya, terperangkap oleh berbagai kepentingan orang-orang yang ada di belakangnya. Kedua, menanggapi fenomena sumpah darah, Megawati kembali pada ''kebiasaan''-nya: Diam. Kalau kita kaji dan kita kembalikan kepada Alquran dan As- Sunnah, aksi sumpah darah itu sangat bertolak belakang dengan ajaran agama. Tidaklah etis di hadapan-Nya dengan mengatakan: ''Hidup-mati untuk Mega''. Ironis sekali. Bukankah setiap kali kita menghadap-Nya, kita selalu mengikrarkan ''Innassholati wanusuku wamahyaya wamamati lillahirobbil Alamin''? Shalat, ibadah, hidup, dan mati kita adalah hanya untuk-Nya, tempat kita berasal dan di mana tempat kita akan kembal kepada- Nya. Nah dari telaah dari doa (iftitah) yang kita panjatkan tersebut, jelas sumpah darah adalah fenomena kemusyrikan. Karenanya para pelaku sumpah darah sudah saatnya bertobat. Ketiga, Megawati dan terutama orang yang di belakangnya (Kwik Kian Gie, dkk), mengandalkan dan memanfaatkan momentum ''Tragedi 27'' Juli sebagai umpan matang untuk mengumpulkan massa -- yang mayoritas adalah muslim. Tragedi 27 Juli sangat berimbas dan mempunyai implikasi signifikan terhadap ''psikologi massa'', sehingga massa cenderung ''memperjuangkan'' Megawati sebagai calon Presiden RI. Itulah salah satu yang disebut massa emosional. Sedangkan dalam agama Islam, pengambilan keputusan pada saat emosi, tidak berkepala dingin, akan menghasilkan putusan yang jelek (emosi) pula. Bukankah akan lebih baik bila Megawati memberikan wacana politik dan demokrasi yang ''dewasa'' terhadap para pendukungnya? Terakhir, walaupun ada korelasi, tidak terlalu signifikan kalau suara terbanyak pasti akan mulus menuju kursi kepresidenan. Karena yang memilih presiden adalah wakil-wakil yang ada di Senayan sana. Megawati sebaiknya mencoba membuka diri, agar rakyat yang sudah bodoh tidak terlalu dibodoh-bodohi dengan dalih-dalih jitu, yang sebenarnya hanya apologis semata. Sebagai pimpinan PDI Perjuangan, megawati akan lebih baik membuat statement, komentar afirmatif pribadi, yang tidak disiapkan oleh ''sutradara''. Toyib At-Tanjaraniy Mahasiswa PAI/Tarbiyah IAIN Sunan Gunungdjati Bandung ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jul 1999 jam 06:53:21 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
