---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 12 Juli 1999 Ujian Politik Belum Selesai Oleh : Zurnyta Aziz Banyak sudah ujian yang telah dilalui oleh bangsa Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, telah menggeser keyakinan dan superioritas otoriter menuju suatu yang telah terbuka atau demokrasi termasuk dominasi di bidang kemiliteran. Runtuhnya fondasi-fondasi politik yang ditopang oleh nilai-nilai yang tertutup, terbatas dan eksklusif, telah membuka jalan tumbuhnya keyakinan baru, politik baru serta semangat baru. Satu lagi ujian buat bangsa setelah beberapa ujian yang telah selesai seperti agenda reformasi menggeser Soeharto, serta ujian untuk besok yang akan datang seperti Sidang Umum MPR dan pemilihan presiden. Pemilu 7 Juni 1999 lalu merupakan keberanian bangsa Indonesia untuk mengadakan reformasi dan inovasi perubahan ke arah yang lebih baik. Walau didapat berbagai risiko seperti instabilitas, waktu, pengurasan tenaga serta uang yang tak terhitung jumlahnya untuk melaksanakan hajatan besar bangsa ini. Dengan keberanian ini Indonesia telah mencapai prestasi politik tersendiri. Pertama; pendidikan politik bagi masyarakat bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, dilindungi oleh hukum dan UUD 45. Kedua; disamping pendidikan politik bagi warga negara juga pendidikan politik bagi penguasa, bahwa negara ini adalah milik bersama, tidak bisa seenaknya dewek, tidak bisa semau gue seperti yang selama ini terjadi. Sebagai warga kita acungkan jempol pada Pemilu yang terlaksana dengan aman dan tertib. Dari hasil Pemilu menunjukan PDI Perjuangan menduduki urutan teratas. Menyusul Golkar, PKB, PPP dan PAN. Namun disisi lain, secara hati nurani sebagai warga negara yang cinta tanah air merasa cemas. Tak dapat kita bohongi perasaan cemas itu, PDI Perjuangan identik dengan Megawati Soekarno Putri, identik dengan Soekarno presiden pertama Indonesia, identik dengan banteng bermata merah saga dan bermulut putih, identik dengan massa brutal dan menakutkan. Tanpa bermaksud mendiskriminasi, namun itulah fakta. Tak semua rakyat menginginkan. Apalagi mahasiswa, kaum terpelajar, cendikiawan, alim ulama dan sebagian komponen bangsa lain. Dari sudut pandang mahasiswa misalnya PDI Perjuangan kurang dekat dengan mahasiswa seperti PAN, PPP, PUDI, PBB atau PK yang digandrungi oleh komponen bangsa yang dijuluki sebagai kaum intelektual dan calon insan-insan pembangunan. PDI Perjuangan kenyataannya kurang memiliki pendukung dari civitas akademika. Masih dari sisi lain, selama bergulirnya reformasi yang dipandu oleh mahasiswa berserta tokoh-tokoh pro reformis, kita bertanya dimana ibu Megawati mempunyai visi reformasi yang jelas, visi ekonomi yang jelas, visi politik yang jelas serta visi-visi lain seperti sosial kemasyarakatan dan yang paling penting adalah visi keagamaan. Sementara kita pun tak ingin partai status quo kembali bercokol. Posisi Partai Golkar di lima besar merupakan ujian poliik. Kenapa tidak? Banyak pihak meramalkan bila Partai Golkar naik, maka akan memperlambat proses penggulungan status quo. Penulis adalah mahasiswa jurusan Bahasa Inggris FPBS IKIP Padang ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jul 1999 jam 06:53:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
