---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 10 Juli 1999 Capres Deadlock Perlu Alternatif? Menghembuskan isu bahwa pencalonan Presiden RI bakal mengalami deadlock sehingga perlu dipikirkan calon alternatif, sungguh sangat disayangkan. Karena selain pemikiran itu sangat tidak demokratis, juga ingin membawa negara ini untuk kembali ke zaman batu (primitif). Kami sebagai mahasiswa yang telah belajar cara berdemokratis dalam wawasan mikro di kampus, sungguh membuat hati geregetan. Panas di dada ini rasanya mendidih sehingga kalau tidak kuat menahannya bisa meledak. Bagaimana tidak, pertandingan belum dimulai, tapi sekelompok pimpinan telah menunjukkan seorang yang telah dijagokan oleh pemegang mandat rakyat terbanyak, dipertanyakan. Demokrasi itu mendidik kita agar yang kalah berbesar hati menerima kekalahannya dan yang menang berhati- hati melaksanakan tanggung jawabnya. Mekanisme yang paling fair sebagai aturan menang atau kalahnya suatu kompetisi adalah melalui voting (pemungutan suara). Walaupun perbedaan hanya dua suara, misalnya MPR dengan 700 (tujuh ratus) anggota yang memilih Megawati berjumlah 351 dan Habibie 349. Pihak yang menang merasa harus melaksanakan tanggung jawabnya secara "all out" dan yang kalah merasa terhormat serta siap mengoreksi jalan pemerintahan dimasa mendatang. Itulah cara berpikir seorang negarawan. Kepada yang menang jangan sampai lupa daratan. Selanjutnya kepada yang kalah bisa menjadi oposisi untuk mengontrol pemerintah yang menang. Kalau dalam kurun waktu tertentu pihak yang menang tidak mampu menjalankan tugasnya, dapat juga pihak oposisi membuka inisiatif untuk keputusan mosi tidak percaya melalui lembaga legislatif. Oleh sebab itu, dukunglah berjalannya proses demokratisasi ini dengan baik. Janganlah pimpinan partai dan pimpinan masyarakat mengada-ada dengan segala macam trik, dengan mempertanyakan gender, latar belakang dan tetek bengek layaknya orang tua yang sudah kembali cengeng seperti anak-anak. Tunjukanlah contoh yang patut diteladani. Kalau Megawati yang dicalonkan oleh PDI Perjuangan akhirnya tampil sebagai pengumpul suara terbanyak oleh pesta demokrasi, dukunglah secara fair. Rakyat tidak memikirkan siapapun yang menjadi Presiden. Pemimpin partai jangan macam-macam, rakyat perlu tenang, aman, cukup makan, sandang, papan, bebas beribadat, mencari kebahagiaan batiniah, hak-hak mereka dilindungi, jangan hanya kewajiban saja yang harus dikedepankan. Hargailah pengorbanan mahasiswa yang sudah merelakan nyawanya dan hentikan isu-isu yang mengakibatkan korban harta benda. Coba lihat dulu sebelum Soeharto lengser, pendapatan per kapita mencapai 1.050 dolar AS, sekarang tinggal 250 dolar AS. Berarti 13 miliar dolar AS hancur, ditambah 10 miliar dolar AS diambil dari devisa untuk mengatasi krisis moneter yang tidak kunjung reda. Harta benda yang rusak mencapai Rp 20 triliun (di Jakarta saja Rp 12 triliun), banyak badan usaha tutup (di Jakarta saja lebih kurang 800 perusahaan dengan karyawan lebih kurang 2.500.000 orang). Belum lagi banyaknya mahasiswa yang drop out karena tidak ada biaya, rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan dari 27 juta menjadi 140 juta. Apakah pemimpin partai politik dan leader masyarakat yang berpengaruh ingin melihat negara lebih hancur? Janganlah pak, bila bapak ingin melihat generasi muda ini tidak hilang, berpikirlah secara waras dan bertindak secara fair. Kami atas nama senat mahasiswa selalu tampil terdepan dalam era reformasi merasa perlu menyampaikan seruan ini!. (Ali Heru Wibowo, Ketua Senat Mahasiswa, STIE- IBEK) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jul 1999 jam 06:55:51 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
