----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Republika, 13 Juli 1999

'Ada yang Sengaja Paksakan Hadirnya Pasukan PBB'

JAKARTA -- Menteri Koordinator Politik dan Keamanan
(Menko Polkam) Feisal Tandjung mensinyalir adanya
kelompok tertentu yang sengaja membuat suasana di
Timor-Timur (Timtim) tetap mencekam. Dia juga
menyatakan misi PBB di Timtim (UNAMET) cenderung
memihak kelompok antiintegrasi.

''Dewasa ini patut diduga adanya kesengajaan kelompok
tertentu menciptakan suasana mencekam di Timtim.
Tujuannya untuk mengesankan Timtim tidak kondusif
melaksanakan jajak pendapat yang pada akhirnya akan
memaksakan hadirnya pasukan PBB,'' kata Feisal di
depan Gubernur dan jajaran Pemerintah Daerah Timtim
di Dili, kemarin.

Pernyataan Feisal Tandjung tersebut diulanginya saat
memberikan pengarahan di depan Satgas P3T, Pangdam
IX Udayana, Danrem, dan Kapolda Timtim. Dia kemarin
memimpin 12 menteri anggota Kabinet Reformasi
Pembangunan sebagai Tim Pengamanan Masalah
Timtim.

Menurut Feisal, jajaran Pemda dan aparat keamanan
harus waspada terhadap kelompok yang terus
menciptakan suasana mencekam tersebut. ''Kita harus
mengajak semua pihak untuk dapat lebih mewujudkan
komitmennya dalam memelihara perdamaian dan
stabilitas,'' kata mantan Panglima ABRI ini.

Di sisi lain, Feisal juga menyatakan kecenderungan
sikap UNAMET yang berpihak kepada masyarakat
antiintegrasi. Dan, dia menyatakan akan segera
melakukan pembicaraan dengan tim pimpinan Ian Martin
itu guna menghindari kesalahpahaman terus berlanjut.

Diuraikannya, UNAMET dengan inti tiga komponennya
yaitu Komponen Politik yang bertugas menjamin keadilan
politik dan kebebasan berorganisasi, Komponen Elektoral
yang bertugas mengurus registrasi dan pemungutan
suara, serta Komponen Penerangan yang bertugas
menjelaskan kesepakatan tripartit
Indonesia-Portugal-PBB.

''Jika tugas UNAMET terkesan diragukan, tidak netral,
atau menyimpang, bisa saja terjadi karena tidak sesuai
dengan tugas tiga komponen tersebut. Apalagi, jika
cenderung memperlihatkan keberpihakan,'' ujar Feisal.

Di tempat yang sama, Menhankam/Panglima TNI
Jenderal TNI Wiranto menyatakan tidak ada alasan
menghadirkan pasukan PBB di Timtim. Menurutnya,
dalam perjanjian tripartit telah disepakati bahwa
tanggung jawab keamanan tetap dipegang Pemerintah
Indonesia sehingga tidak mudah mengubahnya.

Selain Feisal dan Wiranto, para menteri yang kemarin
datang ke Timtim adalah Menko Kesra dan Taskin
Haryono Soeyono, Mendagri Syarwan Hamid, Menlu Ali
Alatas, Mensos Justika Baharsyah, Men PU Rahmadi
Bambang S, Menag Malik Fadjar, Mentrans dan PPH
Hendropriono, Menpera Theo Sambuaga, Menneg
PPN/Ketua Bapennas Budiono, Menpangan dan
Hortikultura AM Saefuddin, Menpen Yunus Yosfiah, dan
Menkeh Muladi, serta Kapolri Jenderal Pol Roesmanhadi.

Menurut Feisal, kedatangan para menteri dalam jumlah
besar tersebut adalah untuk melihat dan mendengar
langsung keadaan di Bumi Lorosae itu. Sementara
menurut Alatas, itu menunjukkan keseriusan
Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan kesepakatan
tripartit dalam hal jajak pendapat Agustus nanti.

Tentang penundaan registrasi hingga 16 Juli mendatang,
Alatas menyatakan sebagai keputusan Sekjen PBB yang
telah dikonsultasikan dengan Pemerintah Indonesia dan
Portugal. ''Kami melakukan komunikasi secara kontinu,''
lanjutnya.

Menurut Alatas, situasi keamanan akan terus membaik
dan kondusif bagi terlaksananya jajak pendapat yang
dijadwalkan 21 atau 22 Agustus nanti. Dia menyatakan
pemerintah akan mengatasi kejadian-kejadian seperti
yang terjadi di Liquica dan Maliana lalu.

Sementara Dirjenpol Deplu, Nugroho Wisnumurti, menilai
kabar mengenai turunnya pasukan PBB di Timtim, hanya
merupakan spekulasi belaka. ''Spekulasi ini muncul
akhir-akhir ini karena ada konsentrasi kekuatan di
Darwin-Australia dan beritanya dibesar-besarkan,'' tutur
Nugroho seusai membuka seminar Pelaporan Hak Asasi
Manusia yang digelar Deplu dan UNHCR kemarin.

Konsentrasi kekuatan itu, paparnya, memicu spekulasi
seolah-olah Australia sudah siap untuk diterjunkan ke
Timtim sebagai pasukan penjaga keamanan PBB.
Padahal, tambah Nugroho, untuk menerjunkan pasukan
penjaga keamanan tak mudah. Dia mengatakan
penerjunan pasukan keamanan harus memenuhi
syarat-syarat antara lain; harus ada persetujuan dari
negara yang bersangkutan yaitu Indonesia dan ada
kesepakatan di Dewan Keamanan.

''Negara-negara besar di PBB akan berpikir dua-tiga kali
sebelum mengirimkan pasukannya untuk menjaga
ketenteraman di negara lain sebab selalu ada korban.
Dan korban ini sekarang dianggap sebagai risiko politik
dari pemerintah yang bersangkutan. Bisa jadi mereka
akan mendapatkan tekanan dari rakyatnya,'' tegas
Nugroho.

''Kita juga harus melihat apakah memang situasi di
Timtim begitu buruk, sehingga perlu diturunkan pasukan
penjaga keamanan. Memang ada tindak kekerasan tapi di
sana 'kan tak ada perang. Hal semacam ini harus
mendapat perhatian,'' tambah Nugroho.

Mengenai sikap Pemerintah Indonesia atas konsentrasi
kekuatan ini, Nugroho mengatakan, ''Karena ini
menimbulkan spekulasi, kita harapkan Pemerintah
Ausratralia lebih sensitif terhadap aspirasi rakyat
Indonesia.'' bsa/roh

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jul 1999 jam 08:37:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke