----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Siapa manusia yang tidak menyukai pujian ? Anda ? Ah anda sedang ngibul, sok
humble dan rendah hati, banyak basa basi seperti pekerja Konsulat Indonesia
di LA yang pura pura ramah tapi diskriminasi terhadap status sosial
masyarakat Indonesia  yang diwakilinya . ( senyum melayani mahasiswa yang
berduit ,tapi hobby  mempersulit pekerja kurang duit ).

Saya tidak menyangkal, bangga kok menemukan tulisan puja puji pada Proletar
di milis ini, lihat hidung saya kembang kempis sekarang ini , lha dari Caraka
Gendenk sampai si Deo Patria, dari yang menyebut saya seorang penulis yang
sangat filosofis, sampai ada yang mengganggap saya ini calon sastrawan besar
kelak di kemudian hari. Tumpukan email yang berdatangan juga adalah bentuk
dari pujian yang sangat memabukkan. Seorang netter cewek, mengaku begitu
terharu pada beberapa puisi Proletar. Ada lagi yang mengaku matanya basah
ketika membaca pertualangan Bonang cs membela kaum miskin di kampungnya.

Tapi saya harus bilang, pujian itu mematikan daya kreativitas orang. Saya
mengalami sendiri proses ini, setiap kali saya merasa nyaman ,saya kehilangan
kreasi untuk menulis. Saya merasa begitu datar dan kering.

Seorang penulis barangkali seperti seniman. Dan kalau anda telah mencap saya
sebagai penulis biarlah saya katakan, penulis yang baik itu seperti seorang
komposer , kami memerlukan emosi, kami membutuhkan stimulasi, kami mengingini
sebuah situasi yang meledak ledak.

Seorang komposeryang baik  tidak bisa berkarya jika hatinya dalam keadaan
vacum.Kalaupun dia bisa menghasilkan sesuatupun, paling cuma sebuah komposisi
yang tidak punya jiwa dan warna. Jadi pada dasarnya seniman dan penulis itu
menyukai segala sesuatu yang over dosis, jatuh cinta yang berlebihan atau
frustasi yang belebihan adalah pendorong krativitas yang terbaik. Makanya
tidak heran jika Beethoven ,John Denver dan Mozart melahirkan karya
terbaiknya justru pada saat mereka dalam keadaan frustasi berat atau justru
dalam keadaan depres.Begitu juga Dostoyevski dan Steinbeck,

Okelah..bagaimanapun saya mesti berterima kasih  kepada para pemuji yang
menulis di sini. Walaupun terus terang semua pujian ini justru mengekang
kebebasan saya berkreasi. Lihat..setelah saya mereka puji, saya malah jadi
jarang menulis karena saya semakin berhati hati,pujian mereka membuat saya
semakin sok menulis ilmiah lantaran merasa " ada yang ngefans " lama lama
semua itu membuat saya bosan . Lalu jari dan otak sayapun beku teronggok
tidak berdaya di depan monitor.

Barangkali ini tulisan ini tidak berguna. Tapi jika anda masih mau membaca
juga saya akan katakan bahwa kritikan dan caci maki itu lebih penting dari
pujian.
Dalam hal ini  kritik merangsang orang untuk berpikir, makian membuat orang
tersinggung dan ini bagus karena  jika anda seorang penulis...anda memerlukan
semua emosi dan rasa marah  ini.

Sobron Aidit , walaupun tulisannya menjemukan dan pernah menjadi lawan ,
lebih penting bagi saya dari pada semua pujian. Karena  walau bagaimanapun
penghinaan dan makian dia justru berhasil membuat insting menulis saya bangun
kembali.Caci maki di antara kami sebenarnya justru memperkaya tulisan bagi
orang yang mau mengerti.  Terus terang saja kadang kadang saya merindukan
Hasan Rasyidi , saya lupa berterima kasih dengan orang satu ini. Tanpa dia
cerber  Bonang menjadi kurang menarik.

Anda nggak perlu berlagak menjadi penulis bila ingin menulis. Nggak usah
dengarkan suara suara bijak yang mengajak untuk menulis secara sopan. Nggak
usah bertele tele dengan kata kata mutiara dan ber filsafat ria. Ingat musuh
seorang penulis itu adalah rasa bosan. Jadi menulislah ketika anda sedang
marah atau frustasi, menulislah ketika anda sedang kebelet cinta buta,
menulislah ketika anda sedang over gembira.Menulislah ketika anda sedang
takut mati, menulislah ketika anda murka pada Tuhan, menulislah ketika anda
jatuh cinta pada Tuhan kembali.

Jangan membiarkan tokoh tokoh tenar menyetir cara berpikir anda.
Nggak usah terkagum kagum pada politisi,penyair, budayawan dan para nabi.
Nggak usah terperangah dengan para philosopher. Karena tiap orang itu pada
dasarnya adalah seorang filsuf jika mau sedikit meluangkan waktu berpikir
barang sedikit saja . Proses menjadi seorang filsuf itu sebenarnya cuma Think,
develop ,criticize and modify ( bahasa keren untuk : Mikir, lebih mikir,nyela
dan ngeralat atau bikin kesimpulan baru ).

Philopsher itu ngga ada bedanya dari kita. Pikiran mereka sebenarya adalah
pikiran yang telah banyak menghinggapi  orang banyak. Aristotle bilang "
Filsafat itu bermula dari rasa takjub " John Dewey bilang " ketika manusia
dalam kesulitan, manusia mulai berpikir "  Nah apa pikiran ini kan tidak
terlalu unik, tanpa kenal mereka atau pernah membaca buku merekapun, semua
orang hampir punya pikiran yang sama, yang membedakan mereka dari orang awam
adalah kemampuan mengekpresi  kedalam kata kata atau tulisan doang.

Pengaruh nama nama barat dan kesukaan kita pada teori-teori yang kedengaran
sangat ilmiah tanpa mau untuk mengolah pemikiran sendiri tanpa disadari
menghasilkan manusia penghapal repetisi teori dan slogan .

Nah anda sebagai penulis selain  harus mengindari kebosanan, harus punya
sesuatu pemikiran orijinal segar yang baru yang  bisa dipaparkan. Anda harus
bisa menulis berbagai macam objek. Jangan menulis tema yang sama berulang
ulang. Caraka Gendenk dan Marina sebenarnya sudah punya style yang baik.
Patria juga punya kemampuan yang sama. Cuma seperti orang yang punya gitar
tapi cuma bisa memainkan satu lagu yang sama berulang ulang. tulisan mereka
lama lama menjadi menjadi semacam pidato kenegaraan Suharto, tidak ada
sesuatu yang baru dan tema tema baru.

Penulis ini mestinya bilang thanks pada saya, kritikan ini akan membuat
tulisan mereka menjadi lebih baik dan karena saya bukan cuma sekedar memuja
muji yang selain bisa membesarkan kepala tapi juga memandulkan otak
mereka.Dan saya juga harus bilang thanks pada yang membaca tulisan kampungan
ini. Semua orang pada dasarnya mempunyai perasaan " penting, pintar dan
intelektual di atas rata rata " Itu biasa.Dalam istilah keren psikologi
namanya " Lake Wobegon Effect " Bagi saya pujian tidak pernah menghantarkan
seseorang keluar dari panorama fabrikasi diri  yang tidak real.

Itulah sebabnya saya selama beberapa hari ini turun dari gerobak ini milis.
Selain jemu membaca tulisan yang berulang ulang, saya tidak mendapatkan
stumulus dari para penulis.Bahkan ketika membaca kolomnya Jusfiq, saya suka
berpikiran, " kapankah dia bisa menulis dengan irama yang lain?" Di balik
maki memaki  dia ini, saya sebenarnya menemukan suatu kejujuran dan
kecerdasan Tapi ya lagi lagi..saya pikir,betapa bagusnya jika dia main gitar
sambil mulai belajar menyanyikan lagu-lagu baru.Karena lagu yang terbaik
sekalipun akan membosankan telinga jika terus menerus diulang..

Ah, lupakan saja..
Jangan jangan saya menulis ini juga lantaran sedang bosan.

Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Jul 1999 jam 20:35:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke