----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Bapak Badaksono adalah seorang konglomerat berbakat diplomat.
Dan seperti layaknya diplomat, dia pandai menyembunyikan
sesuatu, cengar cengir dan menipu lawan bicara dengan retorika
gundul gundul pacul yang mudah menjerat orang dalam perangkap
kata-kata muluk serta janji-janji palsu, persis seperti para birokrat di
Indonesian
Consulate di manapun di muka bumi ini  yang terbiasa membongkok pada
pak Konjen,keluarga pak Konjen, tamu Konjen dan semua orang tamu penting yang
mereka jemput dari air port seperti rombongan budak negroid pada white master
nya.

Bapak Badaksono memang selalu nampak arogan dan angkuh.
Tapi seperti Suharto pada almarhum bininya, atau pada para mentri yang
memang punya istri bertampang menakutkan,orang boleh segan terhadap
wibawa dan dompetnya, sedang di balik pintu rumah, Badaksono justru segan dan
sering keder terhadap bininya, itulah makanya saat Bu Badak menanyakan
tentang hasil penyelidikan lakinya pada Nisye, Pak Badak menjawab "Ah tidak
ada yang mesti dikhawatirkan bu, si Nisye cuma bosan berteman dengan teman
satu sekolahan, teman laki-lakinya itu cuma sahabat biasa" Wajah Bu Badakpun
perlahan nampak lega, awan kusut di mukanya sedikit sedikit menghilang. Tapi
setelah dia terdiam, Bu Badak malah membuat pernyataan yang mengejutkan.

" Mas, kita undang temannya Nisye itu lusa malam untuk dinner bersama
,gimana?" Tanya Bu Badak sambil membetulkan giwang berlian sebesar kacang
atom yang dibelinya di Amsterdam dua bulan yang lalu.

Pak Badak terkejut, dia berusaha mengelak,
" Bu, apa gunanya kita mengundang dia? "

" Yah supaya kita tau, bagaimana pergaulan Nisye di luar sekolahnya "
Jawab Bu Badak kalem tapi meyakinkan.

" Tapi...tapi bu.."Pak Badak masih terus berusaha mengelak.

" Sudahlah mas, ini juga buat kepentingan anak kita .oke?"Jawab bu Badak
kesal.

Pelototan Bu Badak berhasil memadamkan kebimbangan suaminya. Seperti eyang
Suharto yang konon ngeri pada bini lantaran sang Tien adalah keturunan
ningrat, makanya perlu disembah sembah, di turuni pokoke bangsawane kabeh,
Pak Badakpun surut menciut kembali ke ruang tamu. Terduduk di sofa dia
berusaha mencari jalan keluar. Bagaimana caranya mengundang cowok amatiran
itu tanpa menimbulkan pertentangan antara istrinya dan Nisye di meja
makan.Bagaimana caranya agar cowok itu tidak kelihatan begitu kere  sehingga
bisa  masuk ke stratosphire keluarga ini.

Setelah satu jam bersemedi di sofa, sambil meneguk Margarita pak Badak
akhirnya menemukan ilham. Dia segera berlalu menuju kamar dan menemui kembali
istrinya yang sedang terduduk memoles make up Elizaberth Arden di wajahnya
yang masih nampak meninggalkan sisa sisa kecantikan walaupun beberapa garis
usia mulai berseliweran seperti jembatan toll Slipi, Disentuhnya pundak
istrinya dengan rasa sayang, lalu dia berbisik dengan pasti ,

" Bu, saya setuju dengan idemu mengundang temannya Nisye itu. Tapi lebih baik
kita tidak beritahu  pada Nisye masalah ini , biarlah ini kita jadikan
semacam suprise "
Kata Pak Badak sambil berharap harap cemas.

Bu Badak berbalik dan memberi senyuman manis,
" Gitu tho mas, saya rasa itu ide bagus "

Pak Badak mengecup pipi istrinya dengan lembut,
" Jadi malam minggu ini, kita tidak jadi berangkat  ke Manila bu?"

" Ah lupakan saja mas , bulan depan saja nanti sekalian kita mampir
ke Manila setelah pulang dari mengecek rumah kita di Boston " Bu Badak
berdiri dan beranjak menuju kloset untuk mengenakan pakaian merek Caroline
Harrera.

" Mas, saya pergi ke tempatnya Susi dulu  , sampai ketemu nanti malam
ya mas, saya sudah suruh mbak Pur untuk masak pecel lele buatmu buat
lunch nanti " Bu Badakpun berlalu menuju garasi, Mas Basofi Sudirman ,supir
pribadinya yang penggemar fanatik dangdut yang bercita cita bikin album
dangdut sendiri nampak sudah stand by dengan kesetiaan seekor anjing gembala
Jerman.

Pak Badak segera menekan intercome membangunkan  AM Saefudin di pos satpam
yang sedang asik menekuni gambar setengah nude artis lokal di majalah Popular.

" Pak Paluwi, Tolong antar saya ke PI mall "  sergap Pak Badak cepat.

" Ya Pak, ya Pak ,ya pak " Jawab pak Paluwi  yang berjalan terbungkuk bungkuk
seperti rombongan budak yang bekerja di keratonan Jogja.setengah terbata bata
sambil meluruskan celananya yang tadi menjendol lantaran itu cover majalah.

Volvo kembali melesat keluar istana menuju Pondok Indah Mall, Sampai di Mall,
Pak Badak berputaran masuk dari butik ke butik. Di Versace dia membeli
beberapa pakaian laki laki dan celana ukuran 31,32 dan 33. Dia juga membeli
sepatu Salvatore Feragano ukuran 8 ,81/2 dan 9 sekaligus, Tidak hanya itu dia
juga membeli tali pinggang merek Perry Ellis juga ukuran 31 ,32 dan 33.
Membayar dengan American Express Platinum yang membuat pelayan toko tergiur
dan menelan air ludah berkali kali dan berharap " Aduh kalo si om mau ngajak
saya jadi bini ke lima, saya mau aja deh "

Setelah selesai Pak Badak langsung menuju ke mobil,AM Saefudin terkaget kaget
kembali karena Pak Badak masuk secara tiba tiba langsung menutup pintu mobil.
Secara tergesa gesa dia berusaha menyembunyikan  Majalah Popular bahan
khyalanannya itu lagi sambil merapikan celananya kembali.

" Pak Paluwi, Dengarkan baik baik ya,Tolong kirimi ini baju ,pakaian sepatu
ini pada temannya si Nisye besok siang. Bilang sama dia bahwa Keluarganya
Nisye mengundang dinner malam minggu depan "  Pak Badak nampak begitu serius
wajahnya nampak begitu bersungguh sungguh membuat pak Paluwi meringis dan
ber iya pak, iya pak setengah lusin kali.

" Bilang juga sama dia supaya tidak memberitahukan kedatangannya pada Nisye
juga tidak memberi tahu soal kiriman baju ini pada Nisye. Dan Pak Paluwi juga
jangan sekali kali memberi tahu soal ini pada siapapun apalagi pada ibu ,oke?
" Kata Pak Badak mencari kepastian.

" Pasti pak, siap pak, perintah pasti saya laksanakan pak," Jawab Pak Paluwi
mantap seperti para serdadu Kopassus dongo yang siap melaksanakan perintah
atasan untuk menculik para atkitivis dan mahasiswa , dan membunuh sebagian
dari mereka tanpa berpikir, tanpa argumentasi.

Pak Badakpun merasa lega walaupun tadinya sempat cemas lantaran dinner adalah
upacara ritual penting bagi istrinya yang very keratonan.Dalam dinner model
kerajaan ini, pakaian dan penampilan adalah sesuatu yang sakral. Walaupun
temannya si Nisye itu tidak punya arti penting baginya, entah kenapa dia
tidak rela bila ada semacam penindasan , eksekusi dan penghinaan dari
istrinya pada anak muda ini.

Tadinya sempat juga Pak Badak bimbang, buat apa semuanya ini dia lakukan?
Biarkan saja semuanya terjadi apa adanya, toh seperti ujung magnit yang
berlainan kutub,orang kelas bawah  dan kelas atas itu memang tidak bisa
berdiri bersisian.
Tapi bagaimanapun Nisye adalah anak kesayangan satu satunya. Tidak mungkin
baginya membuat perasaan putrinya hancur lantaran jurang kasta dalam hidup
ini  memisahkannya dari orang yang dia sukai. Biarlah dia memberikan sedikit
kebebasan bagi Nisye untuk mengenal dunia yang lain. Toh semakin bertambah
usianya nanti, Nisye bakalan mengerti bahwa  dunia mereka memang berbeda.

Matahari Jakarta masih tetap membakar seperti biasanya.Beberapa bencong
nampak mengamen di perempatan lampu merah. Mobil Pak Badak berhenti tepat
berdampingan dengan seorang bencong bergincu tebal yang dengan sigap langsung
membuyikan kecrekan dan menyayikan lagu " Gubuk Derita " wajahnya yang kurus
penuh  bekas bopeng yang ditutupi bedak murahan  berusaha untuk terus menerus
tersenyum seolah olah dia ingin memberi tahu dunia bahwa dia  bahagia, entah
untuk mengelabui siapa.

Di dalam volvo itu Pak Badak menatap pemandangan itu dengan rasa tidak
nyaman, kaca mobil yang seperempat terbuka mulai bergerak. Sang bencong
mendadak berharap kaca itu akan turun dan sang om menjulurkan tangan
memberikan uang.
Tapi orang miskin di mana mana memang selalu dihindari orang. Bahkan Tuhan
sendiri jarang mengabuli permintaan mereka. Maka tidak heran kaca mobil Pak
Badak justru naik keatas. Tidak, pak Badak yang punya yayasan sosial itu
melakukan ini bukan karena kikir, seperti biasa alibi orang berduit adalah "
Ah jika aku berikan ini uang, itu akan memanjakan mereka, membuat mereka
malas ,kenapa mereka ngga cari kerjaan aja dari pada ngamen dan ngemis ?"

Sedang sang bencong yang cuma di berikan asal knalpot dan debu juga punya
alasan," Ah orang kaya memang pada pedit semua ,memangnya gampang cari
pekerjaan ? elo orang bisanya teori doang," Kata sang bencong yang sebenarnya
adalah pria perkasa sejati sambil berlari menyebrang jalan untuk pulang ke
rumah kontrakan di daerah Pondok Pinang. Sujarwo nama bencong palsu itu
pulang untuk makan siang sebelum kembali melanjutkan babak perjuangan
berikutnya untuk survive  melanjutkan hidup di ibu kota.

Sujarwo terduduk di bangkunya yang reot sambil mengunyah gado gado campur nasi
sambil memandangi ijazah IKIP Muhamadiyah yang menorehkan namanya yang
tergantung di dinding.



Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jul 1999 jam 06:24:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke