----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

WASPADA SENIN, 19 JULI 1999
Dua peluru Nyasar Mendarat Di Tubuhnya

WANITA setengah baya, korban penembakan aparat di Matangkuli, masih
tergeletak tidak berdaya di ranjang perawatan. Air matanya hampir kering,
karena menangis setiap mengenang peristiwa tragis yang menimpa dirinya.


Sampai saat ini satu butir peluru masih bersarang di paha kanannya. Kata
dokter, "jika peluru tersebut diangkat saya akan lumpuh," ujar Mursidah
binti A. Gani, 33 (korban), warga Desa Parang Sikureueng, Kecamatan
Matangkuli, Aceh Utara, sambil mengusap air mata ketika memulai kisah
musibah yang menimpa dirinya, saat dijenguk Waspada di Klinik Bunda Jln
Darussalam Lhokseumawe, baru-baru ini.


Ibu lima putera/i ini yang ditinggal pergi suaminya Sofyan, 38, dua tahun
lalu, Senin (5/7) terkena dua butir peluru nyasar aparat ketika melakukan
sweeping (pemeriksaan) di Desa Parang Sikureueng Matangkuli.


Aparat melakukan sweeping di kawasan itu menyusul terjadinya kontak
senjata antara aparat Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) yang
menyebabkan seorang aparat Sertu Fransisco Dasilva bersama seorang
anggota Kamra tertembak di Desa Meunasah Mee, berjarak 1,5 Km dari tempat
tinggal korban.


Setengah jam setelah terjadi kontak senjata, enam truk aparat (pasukan
bantuan yang datang dari Lhokseumawe, melakukan penyisiran di Desa Parang
Sikureueng. Korban saat itu berada dalam kedai yang sekaligus tempat ia
berjualan nasi sehari-hari.


Pintu kedainya terbuka. Ia berada di dapur sedang mengaduk bumbu masak,
seketika itu baskom yang dipegangnya terkena peluru dan pecah
berhamburan. Bersamaan saya merebahkan diri, tiarap dekat Ummi Kalsum,
36, teman berjualan yang lebih dahulu tiarap ketika mendengar rentetan
tembakan dari luar, lanjut korban.


Pada saat itu mulai terasa perut sebelah kanan pedih, bersamaan paha,
sebelah kanan pula. "Saya kena tembak," kata Mursidah kepada temannya
Ummi Kalsum dalam keadaan gugup, sesuai kisah korban sendiri, sembari
menangis tersedut-sudu di klinik Bunda Lhokseumawe.


Kata dia, kelima putera/inya ketika itu tidak berada di tempat. Peristiwa
ini dialiminya pukul 18.00 Senin (5/7), sedang anak-anak berada di rumah
kakeknya (A Gani) di Desa Rayeuek, 2,5 Km dari tempat tinggal korban.


Iapun, pergi-siang hari berada di rumah orang tuanya mengurus kenduri
maulid. Menjelang petang, saya pulang membuat persiapan bumbu, bahan
persiapan berjualan nasi. Itu merupakan usaha korban sebagai penyambung
hidup, membiayai putera/inya yang masih kecil, sejak ia ditinggal pergi
suaminya dua tahun lalu.


"Saya tidak dapta membayangkan, andaikata saat itu ada anak-anak di
tempat. Mungkin pasti ada yang korban," katanya.


Kata dokter, saya harus menjalani perawatan sekitar satu bulan lagi di
klinik Bunda Lhokseumawe. Belum tahu dari mana biaya akan saya peroleh,
sedang suami saya sekrang tidak tahu alamatnya dimana. Sejak ia pergi
dari kampung halaman dua tahun lalu, tidak ada khabar berita.


Menurut korban, sejak ia terbaring dalam perawatan belum ada bantuan
biaya dari siapa-siapa. Dan yang sangat saya khawatirkan "bagaimana
keadaan saya nanti jika peluru di paha ini tidak bisa diangkat," kata
Mursidah menunjukkan pahanya yang cedera sambil menangis. (M Djakfar
Achmad)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Jul 1999 jam 08:42:58 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke