----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

GHALIB BEBAS MELENGKAPI DERETAN TANGGAPAN MINOR PEJABAT ASAL SULSEL

Akhirnya prediksi yang ada di masyarakat, bahwa bakal ada usaha-usaha dari
penguasa untuk membebaskan Andi M Ghalib terbukti sudah. Komandan Puspom TNI
Mayjen Jasri Marin hari Kamis (29/7) menegaskan belum ada cukup bukti awal
adanya tindakan dugaan suap yang dilakukan Jaksa Agung (non aktif sementara)
Andi M Ghalib. Sebab, menurut Jasri dari rekening yang diperiksa, keperluan
para penyumbang adalah untuk mendukung kegiatan Persatuan Gulat Seluruh
Indonesia (PGSI).
Tapi anehnya, justru The Nin King dan Prayogo Pangestu yang disebut-sebut
menyumbangkan uangnya ke rekening Ghalib telah menjadi tersangka penyuapan.
Bahkan Teten Masduki dan Bambang Widjojanto dari ICW akan menjadi tersangka
dalam kasus pencemaran nama baik A.M. Ghalib.

Bebasnya Ghalib menambah panjang daftar urutan pejabat asal Sulawesi Selatan
yang dianggap minor, akan tetapi mempunyai power bargain politik yang amat
kuat.
Setelah Beddu Amang dengan kasus Bulog dan rumah mewahnya di Amerika, kemudian
Nurdin Halid
dalam kasus Dana Cengkeh,Baramuli dengan kasus Money Politic di Sulawesi Utara,
lalu Ghalib dalam kasus dugaan korupsi oleh ICW.
Bahkan BJ. Habibie sebenarnya dianggap minor juga, karena pada saat beliau
mulai memegang tampuk presiden, maka beliau mengangkat beberapa orang Pejabat
Tinggi negara yang setara menteri, asal Sulawesi Selatan, hingga muncul istilah
SDM ( Semua Dari Makassar ), meskipun sebenarnya Habibie itu bukan asli
Sulawesi Selatan. Bahkan dalam tubuh Habibie tidak mengalir sedikitpun darah
Bugis,Mandar, Toraja atau Makassar. Hanya kebetulan beliau lahir di Pare-pare,
sekitar 200 km dari Ujung Pandang.
Dan hebatnya, semua pejabat tinggi tersebut, meski dikenakan suatu kasus,
seberat apapun, dengan bukti sebanyak apapun,mereka bisa lolos dari jerat
hukum, dan bahkan ada yang tidak mencapai tingkat untuk meneruskan penyidikan,
seperti Ghalib.
Bisa jadi pejabat tinggi asal SulSel yang agak aman posisinya dari tanggapan
minor adalah, Yunus Yosfiah, menteri penerangan, yang pada saat ini apa yang ia
lakukan sesuai dengan apa yang ia katakan. Bahkan teramat reformis, terlebih
pada saat ia membubarkan Korpri di Departemen Penerangan, padahal umum
mengetahui bahwa Korpri itu adalah salah satu ujung tombak Golkar dalam
mengumpulkan suara pada saat Pemilu.
Dengan munculnya dugaan dan tanggapan minor terhadap Pejabat Tinggi asal
SULSEL, maka pada saat beliau-beliau ini dikenakan suatu kasus, bermunculan
aksi yang membela akan kebenaran dari para pejabat tersebut. Seperti pada kasus
Ghalib,  saat dugaan korupsi dimunculkan oleh ICW, maka berdatanganlah para
Tobarani Sulawesi Selatan, yang siap membela hingga tetesan darah terakhir,
bahwa Ghalib tidak bersalah sebagaimana yang disangkakan oleh Teten Masduki dan
kawan kawan. Bahkan ketika Teten Masduki berada di Ujung Pandang, kelompok pro
Ghalib ini mencari dan menteror Teten Masduki.
Semestinya, bila muncul adanya dugaan kesalahan yang dilakukan oleh pejabat
tinggi asal Sulawesi Selatan, dan kemudian sang pejabat bersangkutan merasa
dirinya tidak bersalah, maka berilah dukungan kepada Pejabat yang bersangkutan
agar bersedia menghadapi pemeriksaan bahkan pengadilan atas kasus tersebut, dan
buktikan bahwa diri para pejabat tinggi itu memang tidak bersalah.
Betapa lebih terhormatnya bila kasus itu masuk di gelanggang pengadilan dan
ternyata tidak terbukti kebenarannya, berarti ada kebanggaan pada masyarakat
Sulawesi Selatan, bahwa orang SulSel itu berani menghadapi apapun demi
membuktikan dan membela kebenaran dengan jalan yang benar dan terhormat.
Buktikan bahwa demi kebenaran, orang Sulsel tidak pernah memprioritaskan emosi
atau pabambangan na tolo dalam mempertahankan kebenaran. Karena orang Sulsel
senantiasa selalu mempergunakan prinsip Pasitabai, berani menghadapi siapapun ,
dimanapun dan kapanpun dalam mempertahankan kebenaran dan harga dirinya, dengan
cara yang jantan, one by one.
Buktikan bahwa orang Sulsel tidak pernah berlindung dibalik kekuasaan, kelompok
atau berlindung dibalik ketakutan, karena orang Sulsel selalu berlindung kepada
moral dan nuraninya sendiri yang senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran,
keadilan , kebenaran dan kesucian hidup.
Bukan dengan mengundang dan membiayai para Tobarani untuk memberikan pernyataan
tidak bersalah melalui aksi demo , dan juga bukan dengan melakukan tindakan
serangan balik, yakni mengancam akan membeberkan kesalahan dan kasus pejabat
tinggi lainnya, bila penyidikan atas dirinya diteruskan. Bukankah hal ini sama
dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Mungkin , tokoh asal Sulawesi Selatan yang patut menjadi suri tauladan dalam
menghadapi berbagai macam konflik kala menduduki suatu jabatan, adalah Jenderal
M. Yusuf, yang senantiasa berani menghadapi berbagai macam rintangan dalam
bentuk apapun.  Sendiri tanpa melibatkan siapapun, karena beliau tahu, bahwa
persoalan yang muncul terhadap dirinya adalah hak dan kewajiban bagi dirinya
untuk menyelesaikannya sendiri, tanpa melibatkan atau mengkambing hitamkan
siapapun.
Semakin tinggi pohon tumbuh maka akan semakin keras diterpa angin dan badai.
Semakin berisi padi, maka akan semakin merunduk.(karaeng losari 290799 -
[EMAIL PROTECTED])

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Aug 1999 jam 04:27:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke