---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- REFLEKSI KRISIS EKONOMI INDONESIA Saat ini, mid 1999, Indonesia tetap saja digerecoki oleh para cecunguk pecahan denawa rahwana soe yang menjelma dalam berbagai setan Indonesia. Namun cikal bakal kebangkitan telah nampak. Tidak ada hal2 mistis disini, seperti berbagai pertanyaan tentang �cakra manggilingan�. Ini semuanya adalah proses yang natural dan seharusnya terjadi, karena manusia, termasuk manusia Indonesia, selalu akan berusaha memperbaiki nasib mereka. Bangsat2 Setan akan selalu mengganggu, dan beberapa diantaranya yang menduduki posisi2 kekuasaan (wiranto, habibi dan kroni2nya) akan memperlama proses ini. (mind you, those fucked-up assholes bukan berbuat begitu karena mereka �wakil dajjal� atau retorik lainnya, yah sekedar memperoleh papan dengan underground parking, dan sandang Dior, alias mangas sahaja. Ini terus terang saja, memang membuat analisa manungsa jadi complicated : coba analisa apa motivasi Hariman jadi little dajjal ??). Perjuangan ini adalah sesuatu yang universal dan sangat manusiawi. Pandita masuk ke berbagai aspek manusia dalam usaha mendalami dan menjelaskan fenomena ini. Jalur pemahaman ini sangat sulit dan berliku, jauh lebih mudah ngablak mangap ditepu para tetua spiritual, baik shaman pendeta atawa kiyai. Komplikasi terakhir ini yang membuat pembahasan agama (dan penyimpangannya) selalu relevan. Tetapi kembali, hal yang secara sesungguhnya benar2 akan mengubah nasib bangsa kita adalah pemahaman ekonomi, dan pelaksanaannya secara jujur dan terarah, mengikuti kaidah2 norma hukum ekonomi (=fraksi Hukum Kejadian dibidang ekonomi). Lupakan segala skyhook yang bos ndobos, baik berbau propaganda politis (ingat sasono ?) apalagi agamis. Seperti halnya tuduhan agnostis, maka tuduhan pada penekanan ekonomi ini adalah smokescreen militer bablas tentang �capitalist without border� dari mereka yang tahu dua tidak tahu tiga, dan ke ge-er an peran kekuasaan. Tapi sudahlah, begitulah dunia. Manusia goblog cupet banyak. Jika mereka berkuasa, celakalah bangsa nya. Berikut ini adalah copy tanpa editing dari tulisan Eyang Pandita tahun lalu, 22 Februari 1998, di saat2 dark ages, denawa berkuasa. Saat ini, dengan munculnya ufuk mega, tulisan ini menjadi lebih menarik karena pandangan kedepannya yang tetap valid. Selain itu, in hindsight, anda dapat melihat apa yang terjadi pada negara2 tetangga yang disebut, Korea Selatan, Thailand dan Malaysia. (Text ini, berikut text2 Pandita lainnya, tetap accessible di gopher Apakabar, thanks to John). Silakan. ============== Analisa Ekonomi Pandita 3 Para cantrik tidak sabar untuk mendengar komentar Pandita tentang apa yang seharusnya dilakukan, bukan sekedar marah2 pada situasi saat ini. Untuk itu cantrik-editor telah memaksa Pandita duduk di perangin dipersawahan, sambil mendengar suara air dari kincir bambu dan memandangi ikan mas yang berseliweran di empang pinggir kali, untuk ngobrol dan dicatat. Setelah sedikit editing inilah sarinya, yang tetap dalam bentuk tanya jawab. Pembaca akan melihat efek bagus dari pemandangan alam terhadap seorang anak desa, jadi kalm dia. ** Apakah ada jalan keluar dari krisis ini ? Jawabnya tentu saja ada, negara Indonesia yang amat luas dengan penduduk begini banyak, tetap akan eksis kapanpun. ** Bagaimana bentuk jalan keluar ? Ada dua jalan, jalan alengka dan jalan biasa. Secara prktis pastilah jalan alengka yang diambil, karena rahwana berkuasa. Secara teoritis kita bisa membahas jalan yang �semestinya�, yaitu jalan biasa, sebagaimana suatu sane society menghadapi suatu problem. **Apa itu jalan Alengka ? Jalan alengka adalah jalan yang memasang pada prioritas nomor satu kelanggengan rahwana, baru prioritas berikutnya pada perbaikan ekonomi Indonesia. Mengingat pervasiveness kultur alengka / KSI, maka ada banyak konstrain yang dipasang pada prioritas kedua dan seterusnya. Jalan ini menjadi sebuah jalan sempit, yang penuh bahaya mengingat keterbukaan sistem terhadap dunia luar, yang sudah tidak lagi menganut sistem alengka. Jalan ini pernah dibahas secara cukup mendalam dalam artikel2 Pandita sebelumnya, yaitu Operasi Lengser (OL). Secara umum kekuatan masyarakat akan mengkristal kuat keatas, bagaikan Irak dibawah Saddam, atau Korut dibawah Kim. Masih lebih baik dari mereka, Pandita bisa memastikan. Bahkan mungkin kita semua bisa enjoy jalan ini lama2, terutama karena memang tidak ada pilihan lain. Yang terburuk adalah jalan ini akan mengamankan KSI, karena kejahatan tidak dapat dibuka keluar tanpa retribusi. Dan retribusi tidak dapat diterima oleh penguasa. **Cukup tentang alengka. Apa itu Jalan Biasa ? Jalan biasa adalah jalan yang seharusnya diambil oleh suatu bangsa yang menderita karena tekanan ekonomi yang bersumber pada problema / kesalahan dimasa lalu, dan dampak dari hubungan internasional yang telah berubah. Jalan ini, setidaknya konsep Jalan Biasa ini sedang diusahakan secara amat keras, dengan berbagai variasinya di Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Berbagai hal yang spesifik mengenai suatu negara membuat pilihan Jalan Biasa ini beragam. Hal-hal tersebut adalah kekuatan intrinsik bangsa, sifat / watak bangsa, kesiapan (preparedness) dari institusi ekonomi, severity dari problem, dan terakhir, kultur kekuasaan bangsa tersebut. Hal yang sama adalah bahwa semua ekonomi ini jatuh dimulai dengan kekalahan kurs, akibat pent-up problems yang disebabkan oleh sistem perbankan yang kolusif, memberikan dana supermurah kepada pelaku ekonomi tertentu. Yang membuat mereka melakukan banyak inefisiensi, dan investasi yang salah. Semuanya akibat pemilihan sistem ekonomi ala Jepang, yang bisa kita sebut Ekonomi Konglomerasi. Lawannya adalah Ekonomi Rakyat, seperti Taiwan. ** Bagaimana Analisa sistem lain ? Korea Misalnya ? Faktor2 ini membuat berbagai solusi yang berbeda. Korea Selatan misalnya, yang mengalami masalah yang sangat besar disektor perbankan dan moneter. Sebaliknya memiliki kekuatan besar dalam bentuk chaebol yang walaupun korup secara keuangan tetapi cukup kuat di sektor manajemen lainnya. Termasuk Production dan Marketing. Pengembalian kekuatan dari para industrialis hampir dapat dipastikan akan memberi jalan keluar pada ekonomi Korsel. Presiden Kim harus memutar bentuk para chabol menjadi bentuk entity yang tahan bantingan pasar internasional. Reformasi hukum perburuhan adalah contoh agenda detail yang sangat penting, selain untuk membuat industri Korsel menjadi menarik bagi para investor asing, juga memungkinkan restrukturisasi industri menjadi lebih kompetitif. Ini perlu dicatat, sama sekali tidak mudah mengingat kultur Korea yang kohesif, dan �janji� para boss tentang lifetime employment. Mereka perlu mendefinisikan lagi bentuk hubungan industrialis yang lebih internasional. Hal lain adalah restrukturisasi perbankan, problem yang sama yang dihadapi semua sistem ekonomi yang jatuh baru2 ini. Dalam sektor lain, misalnya agrikultur, Korea tidak dapat berharap banyak. Ketergantungan pada dunia luar tetap akan selalu ada mengingat kekayaan alam yang terbatas, misalnya pada energi. Sebaliknya keuntungan2 komparatif pada sistem manajemen yang telah ada, pada SDM yang memadai untuk kompetisi internasional, akan sangat membantu. Jika dilakukan dengan benar, Korsel akan bangkit dengan cepat, terutama jika berhasil merestrukturisasi industri2 besarnya, dengan masuknya investor asing. Mereka bahkan dalam posisi yang sangat baik untuk kemudian menggelontor pasar dunia dengan produk2 berkwalitas yang berharga sangat murah. Selain menarik pangsa terbesar dari dana asing. ** Bagaimana dengan negara lain ? Thailand mempunyai problem kekuasaan yang unik, sebaliknya dari di Indonesia yang mempunyai presiden yang sangat berkuasa, pemerintahan pusat Thailand menderita atas kekuasaan yang tidak kohesif. Sehingga sangat mempersulit pengambilan keputusan tegas. Ini adalah problem kultural yang dialami Thailand. Dari sisi lain, krisis di Thai amat berat disektor properti dan kemewahan. Tak ubahnya OKB yang besar pasak dari tiang. SDM yang dimiliki cukup tangguh, hanya kalah oleh Korsel. Dan kultur keterbukaan tidak menjadi masalah besar. Industri berbasis agro telah sangat maju, sehingga kesulitan pada kebutuhan mendasar rakyat tidaklah terlalu besar. Penekanan pada industri yang mendukung domestik ekonomi, seperti agro, industri menengah dan pariwisata akan membantu. Walaupun akan terjadi problem pada kaum menengah Thai yang tadinya telah merasa kaya, namun secara keseluruhan negara ini mempunyai prospek yang tidak jelek. Restrukturissi hutang swasta, yang akan dijalankan secara terpimpin oleh pemerintah tampaknya akan lancar, dengan indikasi Jepang telah bersedia merollover. Pada akhirnya, Thai dapat menjadi kompetitor kedua terbesar (setelah Korsel) untuk dana invstasi asing. Dapat dikatakan bahwa Thai akan menjadi �anak baik� dari IMF kaena mungkin program IMF akan paling sempurna berjalan disana. Malaysia mempunyai paling banyak kesamaan dengan Indonesia, dalam struktur politik yang monolit dan korup, oleh satu partai UMNO yang amat dominan. Krisis moneter yang dialaminya tidak sebesar Indonesia, tapi problem kekroposan industrinya mungkin sekelas, atau hanya berbeda sedikit dari Indonesia. Faktor yang sangat menguntungkan bagi Malaysia terhadap Indonesia adalah kredibiliti penguasa politik yang masih sangat intact. Ini disebabkan karena kehancuran moral yang dialami kultur Mayasia tidak seberat disini. Hal ini sangat menguntungkan dengan adanya kemungkinan Mahathir menggunakan kekuasaannya untuk tujuan kepentingan rakyat banyak tanpa beban. Dan Mahathir memainkan kartu ini dengan baik, yaitu mendesak rakyatnya untuk melakukan bootstrap, perbaikan ekonomi tanpa bantuan asing, bahkan menolak IMF. Kekayaan alam Malaysia, yang sebanding dengan Thai, tidak akan membuat problem ekonomi menyangkut kehidupan sehari2. Dan ketahanan ekonomi domestik mereka memungkinkan berjalannya suatu austerity program : Buy Malaysian, berjalan efektif. Mahathir masih harus melewati masalah moral / korupsi, tetapi mengingat besarannya yang terbatas dari dulu (mungkin hanya 5 � 10% dibanding 30 � 40 % disini) dan kontrol kekuasaan memusat, dia akan melewatinya tanpa banyak masalah. Gerakan austerity untuk menggunakan produk domestik guna memperkuat ekonomi dalam negeri, sangat mungkin telah cukup untuk membail-out Malaysia setelah 2 � 3 tahun. Tentu saja kedua ekonomi ini sangat membutuhkan reformasi perbankan. ** Sekarang yang terpenting, bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia mengalami krisis yang terburuk, karena rontoknya kepercayaan akan rupiah, yang disebabkan oleh alasan2 yang sama seperti baht ringgit dan won, telah �membongkar� borok2 regime Orde Baru yang telah merasuk dalam. Dalam skala korup, Indonesia adalah nomor satu di kawasan ini. Jadi masalah laten / kronis yang paling parah, telah terbuka sejak Januari 1998 kemarin. Dapat didebatkan, seandainya Indonesia mendevaluasikan rupiah pada bulan2 awal krisis, mungkin krisis ini akat tetap terkontain pada masalah ekonomi. Sejak Januari, masalah menjadi meluas. Selain bahwa jatuhnya rupiah juga melewati batas. Jika Malaysia kemungkinan besar dapat lolos dari krisis dengan UMNO tetap intact, kecuali perubahan2 yang dilakukan dari partai sendiri, susah dikatakan hal yang sama untuk Golkar. Semua sistem ekonomi diatas mempunyai kesamaan dalam pemilihan jalur Korea Selatan, yaitu pembentukan konglomerasi besar untuk menjadi lokomotif ekonomi negaranya, atau kita sebut Ekonomi Konglomerasi (EK). Dibandingkan dengan jalur Taiwan, yang mendorong industri menengah kecil. Dalam sistem seperti Indonesia, korupsi merupakan tanggungan yang harus dibayar, bahkan Jepang pun, pendiri sistem ini, mempunyai korupsi / kolusi pejabat pengusaha sekitar 3 % ekonominya. Di Indonesia angka ini berkisar 30 � 40 %. Padahal penyehatan ekonomi berarti pengefisienan, dan efisiensi tertinggi adalah dari penghilangan kebocoran yang sebesar itu. Yang pada gilirannya sangat politis. Jalur perbaikan yang diambil memang paling luas di Indonesia, selain jalur yang sama seperti Korsel, juga dapat dilakukan perbaikan ekonomi (dan demand) domestik seperti halnya Thai dan Malaysia, bahkan pada volume yang jauh lebih besar. Indonesia memiliki sumber alam tambang yang terbesar diantara semuanya, dan potensi agroindustri yang bukan hanya akan mampu memberi makan rakyatnya sendiri, tetapi bahkan eksport potential yang lebih dari Thai. Tetapi Indonesia juga memiliki sumber SDM yang terjelek dari semuanya, baik dalam keahlian manajemen maupun dalam keahlian2 khusus seperti agroindustri. ** Dengan pertimbangan diatas, apa yang seharusnya menjadi prioritas perbaikan ekonomi Indonesia ? Seperti telah disebutkan, perbaikan harus mempunyai dua arah : 1. Perbaikan neraca luar negeri. Melalui trade balance (eksport produk) dan capital flow (investasi asing). Keduanya Indonesia mempunyai kelemahan2 dibanding negara2 diatas, kecuali untuk investasi di hasil tambang, yang jauh lebih besar di Indonesia. Capital flow pada investasi tambang harus mendapat perhatian khusus. Di sektor lain akan sangat sulit. Tidak ada barang manufaktur Indonesia yang mempunyai nilai lebih dibanding negara2 krisis lainnya. Pertarungan capital flow akan sulit. Demikian juga trade flow non-migas. Walaupun perlombaan untuk memperoleh devisa melalui dua jalur ini harus terus digalakkan, tetapi arah penekanan tidak bisa hanya pada selling-off to foreigners. Harus lebih kearah peningkatan pasar domestik, yang pada ujungnya membuat daya tarik pada investasi domestik, dengan tujuan memasuki pasar Indonesia seperti dibawah ini. 2. Peningkatan pasar domestik. Dalam sistem Ekonomi Konglomerasi seperti diatas, pasar domestik secara tradisional dianggap sekunder. Pemerintah bersama pengusaha (lepas dari pelaksanaan yang sangat korup di Indonesia, relatif bersih di Korea dst) mengusahakan kemajuan ekonomi dengan perluasan terpimpin melalui konglomerasi, yang berkiblat keluar negeri. Ini harus diubah, menjadi kearah pengembangan pasar domestik. Penguatan pelaku domestik, dan pembesaran multiplier dalam negeri. Hal yang sama dilakukan oleh Malaysia dan Thai. Mereka juga dalam posisi yang lebih maju mengenai hal2 ini, namun karena tidak adanya direct competition seperti pada point 1 diatas, tidak menjadikan maslah bagi Indonesia. Ekonomi dalam negeri yang dimaksud adalah pemenuhan kebutuhan dasar pasar domestik, yaitu sandang dan pangan. Yang harus dibuat tidak menggunakan banyak devisa, dengan kata lain pemenuhan kebutuhan domestik secara domestik. Kedua tujuan diatas mempunyai prasyarat masing2. Kebutuhan pertama memaksa pemerintahan Indonesia untuk bersikap terbuka, mempunyai hukum / perundangan yang memenuhi kriteria internasional (UU kebangkrutan, investasi, arbitrase, hak cipta dst). Kebutuhan kedua mendesak adanya perubahan prioritas pada ekonomi Indonesia. Secara struktural agroindustri harus digalakkan dengan setidaknya sampai kelevel Thai sekarang, memiliki badan pengendali bibit, pemuliaan tanaman dan ternak, teknik pertanian dan perkebunan yang andal, dan sistem distribusi yang kuat. Dalam hal ini, berbagai pemikiran harus dimatangkan, apakah akan dilakukan melalui sistem konglomerasi lagi (dengan beberapa konglomerat mengontrol komponen input maupun output) atau sebaliknya dibuat sistem Ekonomi Rakyat ala Taiwan di sektor agroindustri. Mengingat pengalaman kegagalan Ekonomi Konglomerasi selama ini, seharusnya dipikirkan secara serius agroindustri berdasar Ekonomi Rakyat, mungkin pemikiran Profesor Mubyarto dari Yogya akan sangat berguna. Sektor industri menengah sebagai pensuplai produk domestik di Indonesia sangat lemah saat ini. Ini disebabkan penyakit kronis dari budaya nasional disini (oleh Pandita dimaksudkan Kultur Sosial Indonesia � KSI). Tidak adanya dukungan serius dari pemerintah untuk pengembangan industri pemenuhan domestik, semangat pedagang / makelar yang sangat prevalen dalam industrialis Indonesia, membuat sektor ini sangat lemah secara struktural. Pemerintah seharusnya menjadi motor untuk menggerakkan pengembangan industri menengah, dari sandang kertas sampai makanan olahan oleh pengusaha kecil menengah. Keterpihakan ini juga seharusnya didukung dengan perlindungan dari kompetisi asing, sesuatu yang diametral dengan tujuan penarikan investasi asing dan harus menjadi catatan pada pelaksanaan investasi asing.. Kesemuanya ini tidak dapat dikerjakan melalui fiat / dekrit, karena krisis kepercayaan yang telah mendalam kepada pemerintah, selain tidak efektifnya tindakan2 semacam itu dimasa lalu. Karena watak bangsa Indonesia selama ini, perubahan ini harus melalui contoh nyata yang dijalankan oleh penguasa. Sangat diragukan bahwa penguasa status quo saat ini dapat melaksanakan perbaikan seperti ini. ** Secara hipotetis, anggap bahwa setelah 11 Maret nanti soeharto akan berubah ujud, apa yang seharusnya dia lakukan ? Perubahan keberpihakan kearah Ekonomi domestik, seperti New Deal di Amerika dulu. Pemerintah secara sangat aktif melakukan perubahan kepastian undang2, dan secara proaktif memberikan jalan bagi rakyat yang mampu untuk maju dan menjadi pengusaha yang berhasil, melalui pertarungan pasar bebas dalam negeri. Berarti pemerintah membantu dalam infrastriktur distribusi secara murah, dan mengijinkan atau mendorong rakyat untuk saling berdagang satu sama lain dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Secara praktis, pemerintah secara aktif mendorong lahirnya perkebunan buah2an untuk konsumsi dalam negeri dengan pembukaan kemungkinan seseorang investasi di kebun, prosesing dan hak2 kepemilikan secara efisien. Juga akses kepasar umum, regional maupun nasional, standardisasi produk. Indonesia memiliki pasar domestik yang cukup besar. Juga untuk barang lain termasuk palawija, rempah. Mungkin hanya beras yang diatur secara khusus. Juga barang industri menengah seperti sandang, tekstil, garmen, sepatu dst. Dalam Ekonomi Rakyat, maka pemerintah tidak boleh mencampuri kegiatan pasar, dan tidak boleh mengambil rente. Bahkan mungkin perlu adanya tax-break untuk bisnis baru. Sebaliknya sarana dan prasarana harus mendapat bantuan atau subsidi negara selama pengembangannya. Pandita hanya dapat berbicara secara umum disini, detail selanjutnya harus dibahas secara spesifik. Penekanan terhadap tujuan pertama, yaitu penarikan capital flow asing, akan sulit terjadi diluar sektor pertambangan. Secara salah membabi buta kesemua sektor, bahkan mematikan kemungkinan lahirnya Ekonomi Rakyat seperti diatas. Selain bahwa persaingan terhadap dollar-investment akan menjadi amat keras dengan Thailand, Malaysia, Philipina, dan China, sehingga hasilnya akan sangat tanggung. Tentu saja, dari semuanya ini, jangka pendek adalah perserverance. Dalam jangka pendek, yang dapat dilakukan adalah sama seperti perserverance di Malaysia, penghentian semua impor bareang mewah secara tegas. Impor baju mobil dan perlengkapan kemewahan harus dilarang dengan tegas. Dan dilakukan keterpihakan pada pengembangan Ekonomi Rakyat. Walaupun kualitas kurang, semua substitusi juga harus dikembangkan secara lokal. Produk yang tidak dapat dikembangkan atau disubstitusi lokal harus dipertimbangkan untuk dilarang dalam ekonomi domestik. Dan tentu saja tak perlu disebutkan lagi, semua bentuk investasi yang tidak jelas kegunaan domestiknya, seperti IPTN atan Mobnas, harus dilenyapkan / dihilangkan subsidinya secara total. ** Selain hal-hal umum diatas, apa tindakan khusus yang dapat dilakukan ? Salah satu pemikiran sosial yang Pandita ingin kemukakan adalah dibangkitkannya semangat wiraswasta rakyat dengan memberikan akses dan jaminan pada kepemilikan lahan secara perorangan bagi pionir2 yang ingin berkembang di sektor agroindustri. Salah satu program nyata adalah pembangunan sentra produksi dikawasan yang masih kurang penduduknya, seperti Kalimantan dan Sumatra, melalui reformasi kepemilikan tanah, dan program keahlian pertanian bagi pasangan2 muda untuk menjadi tuan ditanah sendiri, dan bekerja keras membangun tanah mereka sendiri (yang kepemilikannya didukung UU), tanpa ketergantungan kepada industri besar. Pemerintah hanya perlu menyediakan prasarana legal dan infrastruktur dasar. Komuniti2 yang terbentuk akan memiliki ketahanan ekonomi sendiri, dan dalam jangka panjang tidak akan jatuh karena ulah orang asing diluar negeri. Selain bahwa hal ini akan sangat mendukung pola kultur yang berbeda sekali dari yang ada saat ini. Bahkan pembangunan sentra distribusi ala Batam di Indonesia Timur akan jauh lebih berguna daripada Batam, yang tak mungkin bersaing dengan Singapura. Pangkalan udara dan laut dikawasan Maluku misalnya, akan menghidupkan ekonomi setempat, dan dapat menjadi transit ke Australia maupun pasifik, secara lebih menguntungkan daripada Batam. Pulau Jawa saat ini tidak memungkinkan pengembangan agroindustri secara efisien, maka pemerintah harus secara tegas menentukan arah pengembangan domestik. Banyak ekonom Indonesia yang telah ahli dalam hal-hal ini, yang harus dikembangkan. Pembicaraan mengenai hal-hal ini akan terus berkesinambungan, tetapi secara khusus Pandita menyatakan bahwa masih jauh sekali masa depan Indonesia. Sampai kini Orba hanyalah satu percobaan dalam mengangkat harkat rakyat Indonesia. Kita harus berani mengakui bahwa percobaan ini telah gagal, dan harus dilakukan cut-loss agar perbaikan dapat segera dimulai kearah yang baru. Dengan percobaan, Pandita juga mengisyaratkan percobaan moral kultural, sistem pemerintahan amat terpusat ala matraman ini tidak memungkinkan perkembangan rakyat Indonesia secara sehat didunia modern ini. ** Wawancara ditutup dengan renungan bersama. Indonesia Raya Tanahku negeriku Jayalah bangsaku. Kumbokarno. Pandita Alengka 22/2/98 ============= Message dikirim 2/8/99 Cantrik ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Aug 1999 jam 04:30:10 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
