----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

REFLEKSI KRISIS EKONOMI  INDONESIA

Saat ini, mid 1999, Indonesia tetap saja digerecoki oleh para cecunguk 
pecahan denawa rahwana soe yang menjelma dalam berbagai setan Indonesia.  
Namun cikal bakal kebangkitan telah nampak.  Tidak ada hal2 mistis disini, 
seperti berbagai pertanyaan tentang �cakra manggilingan�.  Ini semuanya 
adalah proses yang natural dan seharusnya terjadi, karena manusia, termasuk 
manusia Indonesia, selalu akan berusaha memperbaiki nasib mereka.  Bangsat2 
Setan akan selalu mengganggu, dan beberapa diantaranya yang menduduki 
posisi2 kekuasaan (wiranto, habibi dan kroni2nya) akan memperlama proses 
ini.  (mind you, those fucked-up assholes bukan berbuat begitu karena mereka 
�wakil dajjal� atau retorik lainnya, yah sekedar memperoleh papan dengan 
underground parking, dan sandang Dior, alias mangas sahaja. Ini terus terang 
saja, memang membuat analisa manungsa jadi complicated : coba analisa apa 
motivasi Hariman jadi little dajjal ??).

Perjuangan ini adalah sesuatu yang universal dan sangat manusiawi.  Pandita 
masuk ke berbagai aspek manusia dalam usaha mendalami dan menjelaskan 
fenomena ini.  Jalur pemahaman ini sangat sulit dan berliku, jauh lebih 
mudah ngablak mangap ditepu para tetua spiritual, baik shaman pendeta atawa 
kiyai.  Komplikasi terakhir ini yang membuat pembahasan agama (dan 
penyimpangannya) selalu relevan.

Tetapi kembali, hal yang secara sesungguhnya benar2 akan mengubah nasib 
bangsa kita adalah pemahaman ekonomi, dan pelaksanaannya secara jujur dan 
terarah, mengikuti kaidah2 norma hukum ekonomi (=fraksi Hukum Kejadian 
dibidang ekonomi).  Lupakan segala skyhook yang bos ndobos, baik berbau 
propaganda politis (ingat sasono ?) apalagi agamis.  Seperti halnya tuduhan 
agnostis, maka tuduhan pada penekanan ekonomi ini adalah smokescreen militer 
bablas tentang �capitalist without border� dari mereka yang tahu dua tidak 
tahu tiga, dan ke ge-er an peran kekuasaan.  Tapi  sudahlah, begitulah 
dunia. Manusia goblog cupet banyak. Jika mereka berkuasa, celakalah bangsa 
nya.

Berikut ini adalah copy tanpa editing dari tulisan Eyang Pandita tahun lalu, 
22 Februari 1998, di saat2 dark ages, denawa berkuasa.  Saat ini, dengan 
munculnya ufuk mega, tulisan ini menjadi lebih menarik karena pandangan 
kedepannya yang tetap valid.  Selain itu, in hindsight, anda dapat melihat 
apa yang terjadi pada negara2 tetangga yang disebut, Korea Selatan, Thailand 
dan Malaysia.  (Text ini, berikut text2 Pandita lainnya, tetap accessible di 
gopher Apakabar, thanks to John).  Silakan.

==============


Analisa Ekonomi Pandita 3

Para cantrik tidak sabar untuk mendengar komentar Pandita tentang apa yang 
seharusnya dilakukan, bukan sekedar marah2 pada situasi saat ini.  Untuk itu 
cantrik-editor telah memaksa Pandita duduk di perangin dipersawahan, sambil 
mendengar suara air dari kincir bambu dan memandangi ikan mas yang 
berseliweran  di empang pinggir kali, untuk ngobrol dan dicatat.  Setelah 
sedikit editing inilah sarinya, yang tetap dalam bentuk tanya jawab.  
Pembaca akan melihat efek bagus dari pemandangan alam terhadap seorang anak 
desa, jadi kalm dia.

**  Apakah ada jalan keluar dari krisis ini ?
Jawabnya tentu saja ada, negara Indonesia yang amat luas dengan penduduk 
begini banyak, tetap akan eksis kapanpun.

** Bagaimana bentuk jalan keluar ?
Ada dua jalan, jalan alengka dan jalan biasa.  Secara prktis pastilah jalan 
alengka yang diambil, karena rahwana berkuasa.  Secara teoritis kita bisa 
membahas jalan yang �semestinya�, yaitu jalan biasa, sebagaimana suatu sane 
society menghadapi suatu problem.

**Apa itu jalan Alengka ?
Jalan alengka adalah jalan yang memasang pada prioritas nomor satu 
kelanggengan rahwana, baru prioritas berikutnya pada perbaikan ekonomi 
Indonesia.  Mengingat pervasiveness kultur alengka / KSI, maka ada banyak 
konstrain yang dipasang pada prioritas kedua dan seterusnya.  Jalan ini 
menjadi sebuah jalan sempit, yang penuh bahaya mengingat keterbukaan sistem 
terhadap dunia luar, yang sudah tidak lagi menganut sistem alengka.  Jalan 
ini pernah dibahas secara cukup mendalam dalam artikel2 Pandita sebelumnya, 
yaitu Operasi Lengser (OL).  Secara umum kekuatan masyarakat akan 
mengkristal kuat keatas, bagaikan Irak dibawah Saddam, atau Korut dibawah 
Kim.  Masih lebih baik dari mereka, Pandita bisa memastikan.  Bahkan mungkin 
kita semua bisa enjoy jalan ini lama2, terutama karena memang tidak ada 
pilihan lain.   Yang terburuk adalah jalan ini akan mengamankan KSI, karena 
kejahatan tidak dapat dibuka keluar tanpa retribusi.  Dan retribusi tidak 
dapat diterima oleh penguasa.

**Cukup tentang alengka.  Apa itu Jalan Biasa ?
Jalan biasa adalah jalan yang seharusnya diambil oleh suatu bangsa yang 
menderita karena tekanan ekonomi yang bersumber pada problema / kesalahan 
dimasa lalu, dan dampak dari hubungan internasional yang telah berubah.  
Jalan ini, setidaknya konsep Jalan Biasa ini sedang diusahakan secara amat 
keras, dengan berbagai variasinya di Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia.  
Berbagai hal yang spesifik mengenai suatu negara membuat pilihan Jalan Biasa 
ini beragam.  Hal-hal tersebut adalah kekuatan intrinsik bangsa, sifat / 
watak bangsa, kesiapan (preparedness) dari institusi ekonomi, severity dari 
problem, dan terakhir, kultur kekuasaan bangsa tersebut.   Hal yang sama 
adalah bahwa semua ekonomi ini jatuh dimulai dengan kekalahan kurs, akibat 
pent-up problems yang disebabkan oleh sistem perbankan yang kolusif, 
memberikan dana supermurah kepada pelaku ekonomi tertentu.  Yang membuat 
mereka melakukan banyak inefisiensi, dan investasi yang salah.  Semuanya 
akibat pemilihan sistem ekonomi ala Jepang, yang bisa kita sebut Ekonomi 
Konglomerasi.  Lawannya adalah Ekonomi Rakyat, seperti Taiwan.

** Bagaimana Analisa sistem lain ? Korea Misalnya ?
Faktor2 ini membuat berbagai solusi yang berbeda.  Korea Selatan misalnya, 
yang mengalami masalah yang sangat besar disektor perbankan dan moneter.  
Sebaliknya memiliki kekuatan besar dalam bentuk chaebol yang walaupun korup 
secara keuangan tetapi cukup kuat di sektor manajemen lainnya.  Termasuk 
Production dan Marketing.  Pengembalian kekuatan dari para industrialis 
hampir dapat dipastikan akan memberi jalan keluar pada ekonomi Korsel. 
Presiden Kim harus memutar bentuk para chabol menjadi bentuk entity yang 
tahan bantingan pasar internasional.  Reformasi hukum perburuhan adalah 
contoh agenda detail yang sangat penting, selain untuk membuat industri 
Korsel menjadi menarik bagi para investor asing, juga memungkinkan 
restrukturisasi industri menjadi lebih kompetitif.  Ini perlu dicatat, sama 
sekali tidak mudah mengingat kultur Korea yang kohesif, dan �janji� para 
boss tentang lifetime employment.  Mereka perlu mendefinisikan lagi bentuk 
hubungan industrialis yang lebih internasional.  Hal lain adalah 
restrukturisasi perbankan, problem yang sama yang dihadapi semua sistem 
ekonomi yang jatuh baru2 ini.
Dalam sektor lain, misalnya agrikultur, Korea tidak dapat berharap banyak.  
Ketergantungan pada dunia luar tetap akan selalu ada mengingat kekayaan alam 
yang terbatas, misalnya pada energi.  Sebaliknya keuntungan2 komparatif pada 
sistem manajemen yang telah ada, pada SDM yang memadai untuk kompetisi 
internasional, akan sangat membantu.  Jika dilakukan dengan benar, Korsel 
akan bangkit dengan cepat, terutama jika berhasil merestrukturisasi 
industri2 besarnya, dengan masuknya investor asing.  Mereka bahkan dalam 
posisi yang sangat baik untuk kemudian menggelontor pasar dunia dengan 
produk2 berkwalitas yang berharga sangat murah.  Selain menarik pangsa 
terbesar dari dana asing.

** Bagaimana dengan negara lain ?
Thailand mempunyai problem kekuasaan yang unik, sebaliknya dari di Indonesia 
yang mempunyai presiden yang sangat berkuasa, pemerintahan pusat Thailand 
menderita atas kekuasaan yang tidak kohesif.  Sehingga sangat mempersulit 
pengambilan keputusan tegas.  Ini adalah problem kultural yang dialami 
Thailand.  Dari sisi lain, krisis di Thai amat berat disektor properti dan 
kemewahan.  Tak ubahnya OKB yang besar pasak dari tiang.  SDM yang dimiliki 
cukup tangguh, hanya kalah oleh Korsel. Dan kultur keterbukaan tidak menjadi 
masalah besar.  Industri berbasis agro telah sangat maju, sehingga kesulitan 
pada kebutuhan mendasar rakyat tidaklah terlalu besar.  Penekanan pada 
industri yang mendukung domestik ekonomi, seperti agro, industri menengah 
dan pariwisata akan membantu.   Walaupun akan terjadi problem pada kaum 
menengah Thai yang tadinya telah merasa kaya, namun secara keseluruhan 
negara ini mempunyai prospek yang tidak jelek.  Restrukturissi hutang 
swasta, yang akan dijalankan secara terpimpin oleh pemerintah tampaknya akan 
lancar, dengan indikasi Jepang telah bersedia merollover.  Pada akhirnya, 
Thai dapat menjadi kompetitor kedua terbesar (setelah Korsel) untuk dana 
invstasi asing.   Dapat dikatakan bahwa Thai akan menjadi �anak baik� dari 
IMF kaena mungkin program IMF akan paling sempurna berjalan disana.

Malaysia mempunyai paling banyak kesamaan dengan Indonesia, dalam struktur 
politik yang monolit dan korup, oleh satu partai UMNO yang amat dominan.  
Krisis moneter yang dialaminya tidak sebesar Indonesia, tapi problem 
kekroposan industrinya mungkin sekelas, atau hanya berbeda sedikit dari 
Indonesia.  Faktor yang sangat menguntungkan bagi Malaysia terhadap 
Indonesia adalah kredibiliti penguasa politik yang masih sangat intact.   
Ini disebabkan karena kehancuran moral yang dialami kultur Mayasia tidak 
seberat disini.  Hal ini sangat menguntungkan dengan adanya kemungkinan 
Mahathir menggunakan kekuasaannya untuk tujuan kepentingan rakyat banyak 
tanpa beban.  Dan Mahathir memainkan kartu ini dengan baik, yaitu mendesak 
rakyatnya untuk melakukan bootstrap, perbaikan ekonomi tanpa bantuan asing, 
bahkan menolak IMF.  Kekayaan alam Malaysia, yang sebanding dengan Thai, 
tidak akan membuat problem ekonomi menyangkut kehidupan sehari2. Dan 
ketahanan ekonomi domestik mereka memungkinkan berjalannya suatu austerity 
program : Buy Malaysian, berjalan efektif. Mahathir masih harus melewati 
masalah moral / korupsi, tetapi mengingat besarannya yang terbatas dari dulu 
(mungkin hanya 5 � 10% dibanding 30 � 40 % disini) dan kontrol kekuasaan 
memusat, dia akan melewatinya tanpa banyak masalah.  Gerakan austerity untuk 
menggunakan produk domestik guna memperkuat ekonomi dalam negeri, sangat 
mungkin telah cukup untuk membail-out Malaysia setelah 2 � 3 tahun.  Tentu 
saja kedua ekonomi ini sangat membutuhkan reformasi perbankan.

** Sekarang yang terpenting, bagaimana dengan Indonesia ?
Indonesia mengalami krisis yang terburuk, karena rontoknya kepercayaan akan 
rupiah, yang disebabkan oleh alasan2 yang sama seperti baht ringgit dan won, 
telah �membongkar� borok2 regime Orde Baru yang telah merasuk dalam. Dalam 
skala korup, Indonesia adalah nomor satu di kawasan ini.  Jadi masalah laten 
/ kronis yang paling parah, telah terbuka sejak Januari 1998 kemarin.  Dapat 
didebatkan, seandainya Indonesia mendevaluasikan rupiah pada bulan2 awal 
krisis, mungkin krisis ini akat tetap terkontain pada masalah ekonomi.  
Sejak Januari, masalah menjadi meluas.  Selain bahwa jatuhnya rupiah juga 
melewati batas.  Jika Malaysia kemungkinan besar dapat lolos dari krisis 
dengan UMNO tetap intact, kecuali perubahan2 yang dilakukan dari partai 
sendiri, susah dikatakan hal yang sama untuk Golkar.
Semua sistem ekonomi diatas mempunyai kesamaan dalam pemilihan jalur Korea 
Selatan, yaitu pembentukan konglomerasi besar untuk menjadi lokomotif 
ekonomi negaranya, atau kita sebut Ekonomi Konglomerasi (EK).  Dibandingkan 
dengan jalur Taiwan, yang mendorong industri menengah kecil.  Dalam sistem 
seperti Indonesia, korupsi merupakan tanggungan yang harus dibayar, bahkan 
Jepang pun, pendiri sistem ini, mempunyai korupsi / kolusi pejabat pengusaha 
sekitar 3 % ekonominya.  Di Indonesia angka ini berkisar 30 � 40 %.  Padahal 
penyehatan ekonomi berarti pengefisienan, dan efisiensi tertinggi adalah 
dari penghilangan kebocoran yang sebesar itu.  Yang pada gilirannya sangat 
politis.
Jalur perbaikan yang diambil memang paling luas di Indonesia, selain jalur 
yang sama seperti Korsel, juga dapat dilakukan perbaikan ekonomi (dan 
demand) domestik seperti halnya Thai dan Malaysia, bahkan pada volume yang 
jauh lebih besar.  Indonesia memiliki sumber alam tambang yang terbesar 
diantara semuanya, dan potensi agroindustri yang bukan hanya akan mampu 
memberi makan rakyatnya sendiri, tetapi bahkan eksport potential yang lebih 
dari Thai.  Tetapi Indonesia juga memiliki sumber SDM yang terjelek dari 
semuanya, baik dalam keahlian manajemen maupun dalam keahlian2 khusus 
seperti agroindustri.

** Dengan pertimbangan diatas, apa yang seharusnya menjadi prioritas 
perbaikan ekonomi Indonesia ?
Seperti telah disebutkan, perbaikan harus mempunyai dua arah :
1.      Perbaikan neraca luar negeri. Melalui trade balance (eksport produk) dan 
capital flow (investasi asing).  Keduanya Indonesia mempunyai kelemahan2 
dibanding negara2 diatas, kecuali untuk investasi di hasil tambang, yang 
jauh lebih besar di Indonesia.  Capital flow pada investasi tambang harus 
mendapat perhatian khusus.  Di sektor lain akan sangat sulit.  Tidak ada 
barang manufaktur Indonesia yang mempunyai nilai lebih dibanding negara2 
krisis lainnya.  Pertarungan capital flow akan sulit.  Demikian juga trade 
flow non-migas.   Walaupun perlombaan untuk memperoleh devisa melalui dua 
jalur ini harus terus digalakkan, tetapi arah penekanan tidak bisa hanya 
pada selling-off to foreigners.   Harus lebih kearah peningkatan pasar 
domestik, yang pada ujungnya membuat daya tarik pada investasi domestik, 
dengan tujuan memasuki pasar Indonesia seperti dibawah ini.
2.      Peningkatan pasar domestik.  Dalam sistem Ekonomi Konglomerasi seperti 
diatas, pasar domestik secara tradisional dianggap sekunder.  Pemerintah 
bersama pengusaha (lepas dari pelaksanaan yang sangat korup di Indonesia, 
relatif bersih di Korea dst) mengusahakan kemajuan ekonomi dengan perluasan 
terpimpin melalui konglomerasi, yang berkiblat keluar negeri.  Ini harus 
diubah, menjadi kearah pengembangan pasar domestik.  Penguatan pelaku 
domestik, dan pembesaran multiplier dalam negeri.  Hal yang sama dilakukan 
oleh Malaysia dan Thai.  Mereka juga dalam posisi yang lebih maju mengenai 
hal2 ini, namun karena tidak adanya direct competition seperti pada point 1 
diatas, tidak menjadikan maslah bagi Indonesia.  Ekonomi dalam negeri yang 
dimaksud adalah pemenuhan kebutuhan dasar pasar domestik, yaitu sandang dan 
pangan.  Yang harus dibuat tidak menggunakan banyak devisa, dengan kata lain 
pemenuhan kebutuhan domestik secara domestik.

Kedua tujuan diatas mempunyai prasyarat masing2.  Kebutuhan pertama memaksa 
pemerintahan Indonesia untuk bersikap terbuka, mempunyai hukum / perundangan 
yang memenuhi kriteria internasional  (UU kebangkrutan, investasi, 
arbitrase, hak cipta dst).  Kebutuhan kedua mendesak adanya perubahan 
prioritas pada ekonomi Indonesia.  Secara struktural agroindustri harus 
digalakkan dengan setidaknya sampai kelevel Thai sekarang, memiliki badan 
pengendali bibit, pemuliaan tanaman dan ternak, teknik pertanian dan 
perkebunan yang andal, dan sistem distribusi yang kuat.   Dalam hal ini, 
berbagai pemikiran harus dimatangkan, apakah akan dilakukan melalui sistem 
konglomerasi lagi (dengan beberapa konglomerat mengontrol komponen input 
maupun output) atau sebaliknya dibuat sistem Ekonomi Rakyat ala Taiwan di 
sektor agroindustri.   Mengingat pengalaman kegagalan Ekonomi Konglomerasi 
selama ini, seharusnya dipikirkan secara serius agroindustri berdasar 
Ekonomi Rakyat, mungkin pemikiran Profesor Mubyarto dari Yogya akan sangat 
berguna.

Sektor industri menengah sebagai pensuplai produk domestik di Indonesia 
sangat lemah saat ini.  Ini disebabkan penyakit kronis dari budaya nasional 
disini (oleh Pandita dimaksudkan Kultur Sosial Indonesia � KSI).  Tidak 
adanya dukungan serius dari pemerintah untuk pengembangan industri pemenuhan 
domestik, semangat pedagang / makelar yang sangat prevalen dalam 
industrialis Indonesia, membuat sektor ini sangat lemah secara struktural.   
Pemerintah seharusnya menjadi motor untuk menggerakkan pengembangan industri 
menengah, dari sandang kertas sampai makanan olahan oleh pengusaha kecil 
menengah.  Keterpihakan ini juga seharusnya didukung dengan perlindungan 
dari kompetisi asing, sesuatu yang diametral dengan tujuan penarikan 
investasi asing dan harus menjadi catatan pada pelaksanaan investasi asing..

Kesemuanya ini tidak dapat dikerjakan melalui fiat / dekrit, karena krisis 
kepercayaan yang telah mendalam kepada pemerintah, selain tidak efektifnya 
tindakan2 semacam itu dimasa lalu.  Karena watak bangsa Indonesia selama 
ini, perubahan ini harus melalui contoh nyata yang dijalankan oleh penguasa. 
  Sangat diragukan bahwa penguasa status quo saat ini dapat melaksanakan 
perbaikan seperti ini.

** Secara hipotetis, anggap bahwa setelah 11 Maret nanti soeharto akan 
berubah ujud, apa yang seharusnya dia lakukan ?
Perubahan keberpihakan kearah Ekonomi domestik, seperti New Deal di Amerika 
dulu.  Pemerintah secara sangat aktif melakukan perubahan kepastian undang2, 
dan secara proaktif memberikan jalan bagi rakyat yang mampu untuk maju dan 
menjadi pengusaha yang berhasil, melalui pertarungan pasar bebas dalam 
negeri. Berarti pemerintah membantu dalam infrastriktur distribusi secara 
murah, dan mengijinkan atau mendorong rakyat untuk saling berdagang satu 
sama lain dalam pemenuhan kebutuhan mereka.  Secara praktis, pemerintah 
secara aktif mendorong lahirnya perkebunan buah2an untuk konsumsi dalam 
negeri dengan pembukaan kemungkinan seseorang investasi di kebun, prosesing 
dan hak2 kepemilikan secara efisien.  Juga akses kepasar umum, regional 
maupun nasional, standardisasi produk.  Indonesia memiliki pasar domestik 
yang cukup besar.
Juga untuk barang lain termasuk palawija, rempah.  Mungkin hanya beras yang 
diatur secara khusus.  Juga barang industri menengah seperti sandang, 
tekstil, garmen, sepatu dst.   Dalam Ekonomi Rakyat, maka pemerintah tidak 
boleh mencampuri kegiatan pasar, dan tidak boleh mengambil rente.  Bahkan 
mungkin perlu adanya tax-break untuk bisnis baru.  Sebaliknya sarana dan 
prasarana harus mendapat bantuan atau subsidi negara selama pengembangannya. 
   Pandita hanya dapat berbicara secara umum disini, detail selanjutnya 
harus dibahas secara spesifik.
Penekanan terhadap tujuan pertama, yaitu penarikan capital flow asing, akan 
sulit terjadi diluar sektor pertambangan.  Secara salah membabi buta kesemua 
sektor, bahkan mematikan kemungkinan lahirnya Ekonomi Rakyat seperti diatas. 
  Selain bahwa persaingan terhadap dollar-investment akan menjadi amat keras 
dengan Thailand, Malaysia, Philipina, dan China, sehingga hasilnya akan 
sangat tanggung.
Tentu saja, dari semuanya ini, jangka pendek adalah perserverance.  Dalam 
jangka pendek, yang dapat dilakukan adalah sama seperti perserverance di 
Malaysia, penghentian semua impor bareang mewah secara tegas.  Impor baju 
mobil dan perlengkapan kemewahan harus dilarang dengan tegas.  Dan dilakukan 
keterpihakan pada pengembangan Ekonomi Rakyat.  Walaupun kualitas kurang, 
semua substitusi juga harus dikembangkan secara lokal.  Produk yang tidak 
dapat dikembangkan atau disubstitusi lokal harus dipertimbangkan untuk 
dilarang dalam ekonomi domestik.
Dan tentu saja tak perlu disebutkan lagi, semua bentuk investasi yang tidak 
jelas kegunaan domestiknya, seperti IPTN atan Mobnas, harus dilenyapkan / 
dihilangkan subsidinya secara total.

** Selain hal-hal umum diatas, apa tindakan khusus yang dapat dilakukan  ?
Salah satu pemikiran sosial yang Pandita ingin kemukakan adalah 
dibangkitkannya semangat wiraswasta rakyat dengan memberikan akses dan 
jaminan pada kepemilikan lahan secara perorangan bagi pionir2 yang ingin 
berkembang di sektor agroindustri.   Salah satu program nyata adalah 
pembangunan sentra produksi dikawasan yang masih kurang penduduknya, seperti 
Kalimantan dan Sumatra, melalui reformasi kepemilikan tanah, dan program 
keahlian pertanian bagi pasangan2 muda untuk menjadi tuan ditanah sendiri, 
dan bekerja keras membangun tanah mereka sendiri (yang kepemilikannya 
didukung UU), tanpa ketergantungan kepada industri besar.   Pemerintah hanya 
perlu menyediakan prasarana legal dan infrastruktur dasar.  Komuniti2 yang 
terbentuk akan memiliki ketahanan ekonomi sendiri, dan dalam jangka panjang 
tidak akan jatuh karena ulah orang asing diluar negeri.  Selain bahwa hal 
ini akan sangat mendukung pola kultur yang berbeda sekali dari yang ada saat 
ini.
Bahkan pembangunan sentra distribusi ala Batam di Indonesia Timur akan jauh 
lebih berguna daripada Batam, yang tak mungkin bersaing dengan Singapura.  
Pangkalan udara dan laut dikawasan Maluku misalnya, akan menghidupkan 
ekonomi setempat, dan dapat menjadi transit ke Australia maupun pasifik, 
secara lebih menguntungkan daripada Batam.
Pulau Jawa saat ini tidak memungkinkan pengembangan agroindustri secara 
efisien, maka pemerintah harus secara tegas menentukan arah pengembangan 
domestik.  Banyak ekonom Indonesia yang telah ahli dalam hal-hal ini, yang 
harus dikembangkan.

Pembicaraan mengenai hal-hal ini akan terus berkesinambungan, tetapi secara 
khusus Pandita menyatakan bahwa masih jauh sekali masa depan Indonesia.  
Sampai kini Orba hanyalah satu percobaan dalam mengangkat harkat rakyat 
Indonesia.  Kita harus berani mengakui bahwa percobaan ini telah gagal, dan 
harus dilakukan cut-loss agar perbaikan dapat segera dimulai kearah yang 
baru.   Dengan percobaan, Pandita juga mengisyaratkan percobaan moral 
kultural, sistem pemerintahan amat terpusat ala matraman ini tidak 
memungkinkan perkembangan rakyat Indonesia secara sehat didunia modern ini.

** Wawancara ditutup dengan renungan bersama.

Indonesia Raya
Tanahku negeriku
Jayalah bangsaku.


Kumbokarno.  Pandita Alengka 22/2/98

=============
Message dikirim 2/8/99
Cantrik

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Aug 1999 jam 04:30:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke