----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

SYNDROOM MEGAWATIFOBIE - PENGHALANG PROSES REFORMASI

Oleh: M.D.Kartaprawira*)

Pemilu juni 1999 meskipun mengandung kekurangan-kekurangan, secara
keseluruhan adalah pemilu jurdil dan sah karenanya. Sedang
kecurangan-kecurangan yang disinyalir terjadi, harus diselesaikan secara
hukum. Tetapi tidak harus menegasikan hasil pemilu secara keseluruhan.

Kemenangan PDI Perjuangan di dalam pemilu 7 juni 1999, dengan perolehan 33%
dari jumlah suara peserta pemilu, membuktikan adanya pengakuan terhadap
Megawati sebagai pemimpin rakyat. Kalau kita bandingkan dengan pemilu-pemilu
di era rezim Orde Baru jenderal Suharto, maka pemilu 7 juni '99 ini
merupakan pencapaian yang patut kita puji.

Kalau kita mencermati kelanjutan proses pemilu, tampaklah bahwa budaya
demokrasi kita ternyata masih pada level primitif. Partai yang kalah, belum
bisa menerima kekalahannya secara jantan. Mereka bukannya melakukan
introspeksi untuk mencari sebab-sebab kekalahannya, tapi malah melakukan
jurus lain (yang lebih primitif) untuk menjegal lawannya yang menang dalam
pemilu. Kesadaran membudayakan demokrasi belum ada. Yang ada hanya keinginan
untuk menangnya sendiri. Dengan segala cara. Singkatnya, paradigma Orde Baru
masih tetap dipertahankan.

Secara etika demokrasi seharusnya partai yang menang dipersilahkan membentuk
pemerintahan. Megawati Soekarnoputri seyogyanya tidak dihalang-halangi untuk
dipilih jadi presiden di dalam SU MPR (sesuai prosedur UUD'45). Sedang
partai-partai yang kalah (urutan no.2-5) tidaklah perlu ngotot mencalonkan
presidennya. Adalah dagelan yang tidak lucu, partai yang kalah kok ngotot
mencalonkan presidennya. Dimana etika demokrasi? Apakah tidak tahu diri?,
sehingga tercermin keserakahannya yang diselubungi dengan advokasi yuridis
formil?

Jadi, produk demokrasi tsb. kini sedang mengalami percobaan. Bila terjadi
penolakan Megawati sebagai presiden di SU MPR nanti, tidak dapat disangsikan
adanya rekayasa dari aliansi ("komplotan") kelompok-kelompok tertentu untuk
menjegal Megawati. Di sini jelas syndroom megawatifobie terus berkembang.

Syndroom megawatifobie itu bukan hal yang tiba-tiba muncul, tapi sudah mulai
berjangkit ketika Megawati turun berkampanye bagi PDI pada pemilu 1987,
dimana perolehan suara PDI melambung ke atas. Mulai saat itulah tokoh
politik Mega sudah membuat rasa takut dan kekhawatiran bagi elite politik
Orde Baru. Syndrom Megawatifobie sudah mulai tumbuh di dalam jiwanya.

Sejak tahun 1993 (tatkala dia dipilih menjadi ketua umum PDI) syndroom
tersebut berkecamuk dengan hebat.
Yang pertama-tama kejangkitan fobie adalah bos rezim Orde Baru jendral
H.M.Soeharto. Apakah fobie tersebut timbul secara alamiah karena jiwanya
yang angkara murka, atau karena bisikan dari dukun-dukunnya, sehingga
Megawati Soekarnoputri dipandangnya sebagai momok menakutkan yang bisa
menggoyang kekuasaannya. Fobie tersebut meskipun tidak diumbar dengan segala
kata-kata intrik dan siasat, tapi justru berwujud tindakan-tindakan konkrit
berupa pukulan-pukulan berat yang membikin Mega dan PDInya agak  sempoyongan.

Pukulan pertama setelah Megawati terpilih menjadi Ketua Umum PDI (1993)
ialah rekayasa adanya DPD PDI kembar di Jawa Timur. Gubernur Jatim jenderal
Basofi Sudirman (sekarang mantan gubernur) dengan kepala batu tidak mau
mengakui DPD yang resmi diakui oleh DPP PDI.
Pukulan-pukulan selanjutnya ialah direkayasanya Kongres PDI di Medan 1996
yang menelorkan keputusan Soeryadi sebagai Ketua Umum. Ini suatu kudeta
kasar yang didalangi oleh penguasa Orde Baru.  Logislah kalau kemudian
penguasa hanya mengakui PDI-nya Soeryadi sebagai yang legal, sedang PDI-Mega
dinyatakan illegal. Peristiwa penyerbuan gedung DPP PDI di Jl. Diponegoro
oleh gerombolan PDI Soeryadi-Hutapea, yang di backing oleh gerombolan
berambut cepak berbadan kekar adalah suatu teror yang sangat biadab. Sebab
tidak hanya mengakibatkan kerusakan harta-benda, tapi juga jiwa raga.
Mengenai blokade terhadap bermacam-macam perizinan bagi PDI-Mega adalah
sesuatu yang sudah logis terjadi. Kejadian-kejadian tersebut di atas adalah
mata rantai akibat phobi terhadap Megawati Soekarnoputri. Tapi Megawati
tidak begitu saja bisa dieliminir, berkat jiwanya yang tatag, teteg, teguh
dan tegar dalam perjuangan tanpa kekerasaan untuk menegakkan hukum, keadilan
dan demokrasi di Indonesia.

Kelengseran jenderal Suharto dari tahta presiden RI, yang dijungkir balikkan
oleh gerakan mahasiswa, telah mengubah udara politik Indonesia yang pengap
oleh kediktatoran. Mulai mengalir udara sejuk reformasi. Sehingga kata
"reformasi" selalu ditempelkan di dalam pidato, interview, artikel dan
diskusi-diskusi. Bersamaan dengan itu syndroom megawatifobie berganti
format. Meskipun demikian tetap jelas bahwa sisa-sisa phobi ala Suharto
terhadap Megawati masih kentara dan terasa. Bagaimana pun keras teriaknya
"reformasi", mereka yang selama 32 tahun jadi gedibal dan tukang penthungnya
diktator Suharto, tidak mungkin sekonyong-konyong jadi reformatif.

Cerminan syndroom fobie yang kedua ini tampak dengan jelas semasa menjelang
dan sesudah pemilu.
PDI Perjuangan yang selama kampanye pemilu telah menunjukkan tanda-tanda
kemenangannya mengakibatkan syndroom fobie tersebut berjangkit mencapai
klimaksnya pada kubu pro-status quo dan sebagian kelompok "reformis".
Fobie ini berkembang melalui kanal yang bernuansa agamais, yaitu perasaan
takut dan khawatir kubu azas-Islam akan kemenangan kubu azas-kebangsaan, di
mana golongan kristen dianggap punya posisi relatif kuat di dalam PDI
Perjuangan. Di samping itu terjadi juga komplikasi perkembangan fobie akibat
bergabungnya kubu pro-status quo di dalamnya.

Fobie ini telah menimbulkan segala macam tingkah dan perbuatan yang mengarah
pada penjegalan Megawati Soekarnoputri dalam perjalanan ke kursi kepresidenan.

PDI Perjuangan yang menampilkan sejumlah besar (relatif) caleg non muslim
telah menimbulkan banyak reaksi di kalangan parpol-parpol Islam.
Kekhawatiran parpol-parpol Islam terhadap kemenangan PDI Perjuangan antara
lain didasarkan pada alasan: bahwa pemerintahan yang didominasi orang-orang
non muslim tidak akan melaksanakan aspirasi rakyat yang mayoritas muslim.
Maka muncullah  manouver-manouver yang tidak terpuji dengan tujuan
mengalahkan PDI Perjuangan dalam pemilu: MUI mengeluarkan fatwa agar ummat
islam tidak memilih partai yang calegnya didominasi orang non-muslim.
Sasarannya jelas ditujukan kepada PDIP. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa
fatwa tersebut tidak mendapat tanggapan ummat Islam, yang akibatnya
perolehan suara parpol-parpol Islam jeblok semuanya. Sedang PDI Perjuangan
sebaliknya mengalami kemenangan gemilang.

Sesudah pemilu dimunculkan lagi manuver dengan mengeploitir simbol-simbol
Islam: perempuan tidak boleh jadi pemimpin. Jelas pula manuver tersebut
ditujukan untuk menjegal Megawati Soekarnoputri di dalam SU MPR. Di samping
dalil tsb. berkwalitas sebagai khilafiah, pemunculannya sebagai manuver
bertendensi tak terpuji cukup transparan. Mengapa ketika Tutut sudah
diisukan sebagai calon pengganti ayahnya (HMS), tidak muncul isu gender
semacam di atas? Apakah hal ini tidak membuktikan bagaimana korelasi antara
Orde Baru (HMS) dengan penyebar isu gender? Mengapa mereka diam seribu kata
akan praktek di negara Republik Islam Pakistan dan Banglades, yang punya
perdana menteri perempuan (Tokoh nomor-I di dalam negara)?

Memang berdasarkan prinsip demokrasi tampaknya manuver
-manuver tersebut syah-syah saja. Tapi kita seharusnya mengartikan demokrasi
tidaklah sebagai keidentikan dengan 'kebebasan' melakukan manuver-manuver
tidak fair.
Seharusnya parpol-parpol yang menamakan dirinya pro-reformasi dan antistatus
quo lebih hati-hati dalam melakukan manuver-manuver. Sebab dengan
keterlibatannya dalam manuver-manuver tersebut jelas akan merugikan barisan
pro-reformasi dan anti-status quo. Dengan demikian mereka secara langsung
atau tidak langsung menguntungkan kekuatan pro-stats quo, yang masih terus
bertahan.

Setelah Megawati Soekarnoputri pada tanggal 29 Juli 1999 mengucapkan pidato
politiknya (sehubungan dengan kemenangan PDI-P dalam pemilu) banyak
pertanyaan yang telah dilontarkan oleh pihak-pihak tertentu ketika Megawati
sedang "diam", terjawab. Misalnya mengenai Dwifungsi ABRI, Amandemen UUD'45,
Timor Timur, Pengadilan terhadap Suharto, soal muslim-nonmuslim, dll.
Lebih dari itu item-item tersebut tidak hanya merupakan pertanyaan, tetapi
dijadikan bahan untuk mengadakan serangan-serangan terhadap Megawati (karena
anak Bung Karno?) sebagai pelampiasan fobie yang telah berakar di dalam
jiwanya. Kalau mereka itu orang-orang angkatan '50-an ya maklum saja, tetapi
kalau mereka anak dan cucunya, ya sangat disayangkan.

Soal pro-kontra terhadap Pidato Politik Megawati Soekarnoputri adalah soal
biasa dalam alam demokrasi. Hanya saja kalau syndroom megawatifobie itu yang
mendasarinya untuk pandangan kontranya, maka bagaimanapun baiknya apa yang
dipidatokan Megawati, selalu saja mereka akan mencari-cari hal-hal apa saja
(entek amek - kata orang Jowo) yang bisa digunakan untuk menyerang politik
Megawati Soekarnoputri. Kalau fobie tersebut terus saja dilancarkan oleh
pemimpin politik, dan lembaga-lembaga politik/masyarakat untuk kepentingan
politik golongan maka akibatnya tentu akan lebih mengotori udara politik
Indonesia yang saat ini sudah begitu kotor.

Perkembangan politik dewasa ini telah membuktikan bahwa rakyat sudah tidak
bisa lagi dibodohi dan tidak bisa ditakut-takuti lagi dengan segala macam
manuver yang bersumber pada megawatifobie. Melalui intrik debatcapres,
isu-gender, isu muslim-nonmuslim, isu keislamannya meragukan, isu pendidikan
rendah, isu kehidupan pribadi, isu anak diktator, isu tidak kapabel, dll,
dsb.: terbukti tidak bisa menghancurkan kepercayaan dan kecintaan rakyat
terhadap Megawati Soekarnoputri. Sementara pemimpin yang memamerkan
kepandaiannya bicara, pidato, berdebat, titel kesarjanaan yang dijejer
panjang, tidak berhasil menarik kepercayaan rakyat. Dan PDI Perjuangan
menang dalam pemilu.

Lahirnya ide "poros tengah", "fraksi Islam" di mana Amien Rais ikut aktif
membidaninya sangatlah disayangkan. Dengan manuvernya yang mengusulkan agar
Gus Dur menjadi capres alternatif, tampak jelas usaha meminggirkan Megawati
Soekarnoputri sebagai capres di SU MPR November mendatang. Tidaklah salah
kalau orang menganggap ide "poros tengah"-"fraksi Islam" dengan manuver "Gus
Dur Capres Alternatif" - adalah syndroom megawatifobie dalam format lain.
Dan hal ini tidak akan menjernihkan situasi politik dewasa ini.

Sebagai penutup perlulah ditekankan bahwa manuver-manuver berlandaskan
fobie-fobie tersebut selainnya tidak fair dalam kehidupan politik, juga bagi
sipenderita penyakit tersebut akan mudah terjerumus pada manuver-manuver
bersifat suudhon dan fitnah. Kita bangsa Indonesia yang sekarang sedang
menapak ke jalan reformasi haruslah menyadari hal itu. Perjuangan untuk
penegakan demokrasi yang berbudaya dalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat di Indonesia perlu membuang jauh-jauh fobie-fobie tersebut,
supaya tidak mengganggu proses reformasi yang kini sedang diperjuangkan,
demi penegakan demokrasi, hukum dan keadilan.

Proses reformasi akan lebih lancar lagi, apabila seruan Megawati
Soekarnoputri kepada para pemimpin warisan Orde Baru diterima dengan
kesadaran dan keiklasan: "Inilah saat untuk mempersilahkan para pemimpin
warisan Orde Baru untuk mawas diri dan secara suka rela turun dari
singgasana kekuasaan masa lalu. Karena mulai hari ini, Indonesia akan terus,
bergerak kedepan, dan karenanya menolak status quo untuk dipertahankan",
demikian seruan Megawati dalam Pidato Politik 29 Juli 1999.


(Lab.Studi Sosial Politik Indonesia No.94/1999; [EMAIL PROTECTED])

---------------------
*) Peneliti pada Lab.Studi Sosial Politik Indonesia (LSSPI) dan Stichting
Azie Studies (SAS) di Nederland.
Isi artikel tidak harus sesuai dengan posisi LSSPI dan SAS.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Aug 1999 jam 04:31:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke