----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, Senin, 2 Agustus 1999

Terjebak pada Kepentingan Individu. Elite Politik Kekanak-kanakan

JAKARTA (Media): Para elite politik khususnya yang berada di
Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih cenderung kekanak-kanakan. Dalam
jangka panjang sikap seperti itu akan membawa implikasi
ketidakpercayaan masyarakat.

Penilaian seperti itu mencuat dalam Bincang-Bincang Politikus dan
Intelektual Muda Sabtu lalu. Forum tersebut menampilkan sejumlah
sekjen partai politik serta pengamat dan ahli ilmu politik.

Pengamat politik yang juga dosen Fisipol UGM Cornelis Lay
mengatakan sifat kekanak-kanakan para elite politik akan mengancam
kehidupan demokrasi di masa mendatang. "Tingkat kekanakan yang
ditujukan elite politik khususnya di KPU, mempunyai implikasi
jangka panjang terhadap kepercayaan masyarakat. Munculnya sifat
itu karena konflik antara partai politik yang direalisasikan dari
dalam kubu atau faksi dan sekaligus tingkah laku politik di KPU,"
katanya kepada wartawan.

Seperti diketahui, kinerja KPU penuh diwarnai berbagai isu dan
sikap kontroversial. Selain meminta agar dapat masuk menjadi
anggota MPR/DPR serta isu-isu lain yang menyangkut uang, terakhir
sejumlah 27 dari 48 partai politik tidak menandatangani hasil
akhir pemilihan umum. Sikap mereka ini dikecam berbagai pihak.

Cornelis menilai konflik di KPU telah memperlihatkan bahwa lembaga
yang bernama partai tidak mampu membawa masa depan bangsa. "Mereka
terjebak oleh kepentingan individu," tandasnya.

Dia khawatir dengan adanya fenomena KPU yang demikian itu kini
telah berkembang pemikiran dari kalangan ahli politik yang
memaklumi tindakan Soekarno pada era 1955 untuk membunuh partai,
memaklumi sikap Soeharto yang meminta terjadinya fusi partai.
"Bahwa dari pemikiran seperti itu akan berkembang pemikiran bahwa
adalah sah-sah saja untuk membunuhi partai-partai yang sekarang
ada yang seharusnya menjadi bibit-bibit demokrasi. Saya termasuk
orang yang percaya bahwa melalui partai yang tumbuh bebas itulah
demokrasi akan berkembang," katanya.

Untuk memperjuangkan demokrasi jangka panjang Cornelis mengimbau
seluruh parpol yang ada di KPU untuk menghapus citra negatif yang
tumbuh karena sikap kekanakan oknum tertentu di KPU.

Sebaliknya Sekjen Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Hayono Isman
optimistis dengan KPU karena bagaimanapun juga KPU adalah sebuah
lembaga baru yang harus melalui proses trial and error. "Kita
harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk berproses dan ini
memang bisa berlangsung lama," katanya.

Menurut dia, apa yang terjadi di KPU itu dipengaruhi
ketidaksabaran masyarakat untuk segera melihat hasil akhir dari
kinerja KPU.

Hayono menambahkan, KPU juga merupakan salah satu korban dari
ketidakseimbangan politik yang terjadi. "Bahwa sebelum Megawati
pidato, telah terjadi ketidakseimbangan politik di mana kubu
Habibie memonopoli jalannya politik di Indonesia yang salah
satunya adalah mengorbankan KPU," katanya.

Karena itu dia menilai pidato Megawati Kamis lalu sebagai balance
of politics di Indonesia. "Sebelumnya politik di Indonesia
diwarnai oleh kelompok Habibie dan pesimisme PDI-P serta Megawati
untuk jadi presiden," katanya.

Dengan adanya pidato Megawati itu, kata Hayono, kini sudah ada dua
kubu yang kuat. Untuk itu dia mengimbau partai-partai politik
seperti PAN dan juga partai lain yang mengajukan calon presiden
untuk menarik calonnya karena dengan adanya dua kubu ini maka
mereka juga dipaksa untuk menetapkan pilihan di antara dua calon
tersebut.

Hayono juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan pencalonan
presiden alternatif. Alasannya, calon presiden alternatif itu
mengarah kepada tindakan-tindakan ademokratis karena pencalonannya
bisa jadi tidak melalui parpol peserta pemilu 1999.

Hadir juga dalam acara itu Wakil Sekjen PDI-P Haryanto Taslam,
Sekjen PKB Muhaimin Iskandar. Sedangkan Sekjen PAN Faisal Basri
tidak datang.

Berubah sikap

Pada kesempatan terpisah, Dirjen PUOD Depdagri Ryaas Rasyid
menjelaskan adanya kemungkinan perubahan sikap partai-partai yang
tidak menandatangani Berita Acara Penetapan Hasil Pemilu.

"Pak Rudini yang membujuk mereka untuk mengurangi suasana konflik
di lembaga tersebut," katanya kepada Media, Sabtu.

Selain itu, katanya lagi, sudah ada tanda-tanda beberapa partai
akan mengubah sikap. "Kita lihat saja Senin (hari ini--red)
nanti," ujarnya seraya menepis anggapan bahwa partai-partai
tesebut mengubah sikap karena pemerintah memenuhi bargain mereka.
"Tidak ada, tidak ada itu," elak Ryaas.

Menurut dia, pemerintah bersikap wait and see dan membiarkan
partai-partai tersebut menemukan jati dirinya sendiri.
(Nin/Yat/HA/P-1)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Aug 1999 jam 08:25:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke