---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 4 Agustus 1999 Acehsetra ACEH adalah Tegal Kuru. Luka menganga di antara darah, amarah, dan cita-cita menjadikan tanah lebih bermakna bagi umat. Aceh adalah perang agung Bharatayuda serambi yang hanya memberi kenangan duka kanak-kanak. Lihatlah bayi-bayi menangis tanpa tahu untuk apa ia menangis. Lihatlah ibu-ibu, orang-orang tua, laki-laki setengah umur, menatapi kebisuan tanahnya yang menebar amis darah. Apa yang harus diperbuat? Haruskah mereka dinistakan? Kehidupan (normal saja) sudah tidak memberi kesempatan untuk menarik nafas, mengapa masih harus ditambah dengan kerisauan yang tak berkesudahan. Kepada siapa jawaban dimintakan? Tiba-tiba, Kunthi (ibu utama para ksatria) melintasi genangan darah yang masih menyebar aroma anyir. Ia tidak lagi menangis. Hatinya sudah disesaki oleh kabut. Pekat menyesakkan, tapi memberinya keteguhan untuk melangkah. Dihampirinya dua anak muda, Karna dan Arjunakah itu? Bukan. Tapi, tapi mereka sama-sama mengunus pedang, sama-sama siap menerkam, sama-sama tidak peduli (lagi) tangis bayi yang menggedor-gedor telinganya. Kunthi menyeret seorang yang di kepalanya berhias bendera. Diajaklah ia ke pinggir lapangan. "Tidakkah kau masih anakku? Mengapa kau musuhi saudaramu sendiri. Apa untungnya memutuskan tali persaudaraan dan saling berbunuhan." Kunthi lirih bertutur. Tapi tentu saja anak muda itu tidak bergeming. Dalam dadanya sudah berkobar keyakinan bahwa apapun yang terjadi negerinya harus dimerdekakan. Darmaning satriotomo, sudah tidak bisa ditawar. Sedangkan menjunjung tinggi darma adalah kemutlakan. Tidak ada lagi harapan bagi Kunthi. Anak-anaknya sudah mempunyai perhitungan-perhitungan sendiri. Mengharapkan karna kembali dalam pangkuannya adalah kemustahilan, tapi melepaskan Pandawa tanpa restu juga dosa besar. Ia harus memilih, membiarkan darah terus membanjir atau ikut meyakini bahwa kemerdekaan adalah jawaban dari semua soal. Hatinya belum berhasil dirayu, kesedihan masih bergunung- gunung. Tapi Kunthi meninggalkan Tegal Kuru. Darah dibiarkan memercik di kainnya. Toh tak ada lagi yang bisa ia perbuat, kecuali menunggu kepastian membentangkan kenyataan. Dua anak muda yang sejak tadi saling berhadapan, sudah mulai menerjang. Mereka sama-sama dikdaya, sakti- mandraguna, pandai olah kridaning gegaman. Tak ada yang unggul, tak ada yang kalah. Karna Tanding. Begitulah, rakyat yang menonton di bibir Tegal Acehsetra membisu, dicekap kegugupan. Tidak tahu siapa yang harus dibebani, siapa yang harus diikuti. Dua ksatria yang tengah berperang itu, sama-sama memberikan kebanggaan. Sementara, dewa-dewa (yang bertahta di Khayangan Jakarta Raya) berpesta pora. Bersama para hapsari (atau dengan para gundiknya) menaburkan bebunggaan ke tanah Aceh. Ada rasa lega setelah itu keharusan sudah terjadi. (IRWAN) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Aug 1999 jam 08:25:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
