---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, Senin, 2 Agustus 1999 Wiranto Sesalkan TNI Tetap Dituding tidak Reformis JAKARTA (Media): Panglima TNI Jenderal Wiranto menyesalkan adanya pihak yang memberi kesan kepada masyarakat seolah-olah militer sebagai kelompok status quo dan tidak reformis. Dia mengharapkan agar dalam melihat TNI, tidak hanya kepada fisik semata, "Tetapi misi dan visinya juga harus diperhatikan," kata Wiranto pada seminar nasional Menuju Pemerintahan Baru di Jakarta, Sabtu. Menurut dia, pemikiran yang dikembangkan seolah-olah TNI tidak reformis akan berbahaya bagi kehidupan demokrasi yang sedang dikembangkan. "TNI tidak pernah ragu dalam mereposisi dirinya untuk kemajuan bangsa," tegasnya. Dia mengingatkan agar semua pihak berhati-hati dan tidak terjerumus ke dalam 'liberalisme politik' yang akan membawa implikasi yang tidak menguntungkan bagi bangsa dan negara. Karena itu, jelasnya, dalam melaksanakan agenda reformasi terutama demokratisasi diperlukan pemahaman terhadap masalah disiplin nasional secara lebih mendalam. "Tanpa disiplin nasional, bangsa Indonesia tidak memiliki arah dan kendali. Jadi di sini diperlukan konsistensi dari komponen masyarakatnya dalam mematuhi hukum dan agenda reformasi. Itu namanya disiplin, tanpa ini kita tidak punya arah dan kendali," ujar Wiranto lagi. Sangat penting Pemahaman terhadap masalah disiplin nasional, menurut dia, sangat penting. Sekarang ini semua pihak perlu melakukan konsolidasi pemikiran untuk melakukan langkah apa yang terbaik guna menggugah disiplin nasional kepada masyarakat, katanya. "Menyimak kehidupan negara-negara di dunia, tanpa disiplin nasional tidak mungkin negara kita bisa maju," katanya. Wiranto lalu menunjuk contoh Jerman, Jepang, Korea, dan Singapura yang masyarakatnya disiplin. Menurut dia, dari disiplin nasional akan muncul kepatuhan terhadap hukum sebagai rambu-rambu yang harus disepakati masyarakat dalam mengimplementasikan kebebasan. Karena dengan kebebasan yang ada rambunya, demikian ungkap Wiranto, bangsa Indonesia akan dapat menuju pada kehidupan yang harmonis. Dia juga mengemukakan bahwa TNI akan selalu bersikap netral dalam kehidupan perpolitikan nasional. Jalan yang dipilih ini mempunyai jarak yang sama dengan seluruh kekuatan politik yang ada. Sebab, jelasnya, TNI adalah bhayangkari negara yang mengamankan proses dari demokratisasi. "Kalau TNI berpihak kepada satu kelompok, posisinya sebagai pengaman akan terganggu. Karena itu dalam menyongsong dan saat Sidang Umum MPR, TNI tetap mengambil posisi dan berusaha untuk tidak terjebak kepada suatu politik praktis yang berkembang untuk mendukung sana dan sini," katanya. Namun, tambahnya, jika di MPR, pilihan TNI akan berorientasi pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Sesuai dengan UU tentang Susunan Kedudukan MPR/DPR/DPRD, TNI mendapat jatah 38 kursi di DPR. Banyak pihak yang tidak rela jatah 38 kursi itu diberikan secara gratis kepada TNI, sehingga ada yang mengusulkan dalam pemilihan presiden di SU-MPR mendatang, anggota TNI sebaiknya tidak ikut memilih. (Yat/HA/L-2) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Aug 1999 jam 08:26:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
