----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Berita Buana, 5 Agustus 1999

Hilangnya Urat Sensitif Anggota KPU

ANGGOTA KPU tampaknya sudah kehilangan rasa malu akibat
kegagalan tugas mereka menetapkan hasil penghitungan suara. Rabu
(4/8), ketika keputusan presiden (keppres) mengenai hasil
tabulasi penghitungan suara turun, tidak ada 'ekspresi' yang
berarti.

Sebelumnya, Ketua KPU Rudini, Selasa malam, dengan keras
mengatakan, bila presiden mengeluarkan keppres, itu berarti
pemerintah mau jalan sendiri. Tapi, esok harinya, pernyataan itu
seakan ditelan kembali. "Sebab, sudah diambil alih oleh Bapak
Presiden," ujar Rudini di ruang sidang pleno KPU.

Ketika itu, tak satu pun anggota memprotes turunnya keppres.
Bahkan, tak ada yang mengajak rekan-rekannya mengoreksi diri
atas terjadinya kegagalan memutuskan penetapan hasil
penghitungan suara pada rapat pleno Selasa (3/8). Hanya anggota
dari wakil pemerintah, yakni Andi Mallarangeng dan Adnan Buyung,
yang mengatakan bahwa turunnya keppres itu telah menunjukkan
ketidakmampuan KPU menjalankan tugasnya.

Kendati demikian, rapat kerja Rabu siang tetap berlangsung
seperti biasa. Kegagalan tugas penetapan itu seolah tak
menjadikan pemicu untuk bekerja lebih serius. Buktinya, ketika
membicarakan masalah penyusunan dan pelantikan anggota DPRD I,
II, dan DPR pusat, masih saja ada anggota yang nyeletuk di luar
pembicaraan. Dampaknya, ada rekan sesama anggota yang
tersinggung, sehingga saling menghujat dan mengesampingkan tugas
utama.

Kejadiannya, saat itu anggota KPU dari PARI, Agus Miftah
mengatakan, "Afan Gaffar (anggota KPU wakil pemerintah, Red)
malas dan tidak pernah kerja. Hanya terima honor saja." Afan,
yang notabene adalah guru besar di Universitas Gadjah Mada,
langsung angkat bicara, "Saya minta Agus Miftah cabut ucapan
itu."

Karena Agus Miftah tak kunjung minta maaf, Rudini pun angkat
bicara. "Saya minta dalam sidang ini tidak ada hujat-menghujat
atau canda yang mengakibatkan seseorang tersinggung. Untuk itu,
sebagai Ketua KPU, saya minta maaf kepada Saudara Afan Gaffar
kalau tersinggung atas pernyataan saudara Agus Miftah," ujar
Rudini bijak.

Begitu selesai bicara, giliran anggota KPU wakil PUDI Sri
Bintang Pamungkas langsung nyeletuk, "Begitu saja tersinggung."

Andi Mallarangeng pun ikut membalas. "Saya minta, kalau ada
masalah, semacam pembagian jatah, dibuka saja, sehingga tidak
ada hujat-menghujat."

Sejumlah anggota KPU tampaknya 'alergi' dengan suara Andi,
sehingga langsung saling sahut. "Sudah. Saya heran. Kalau Andi
yang bicara, kok, semuanya langsung bereaksi," ujar Rudini.

"Saya sebagai ketua harus bagaimana? Kalau saya tegas, dibilang
jenderal. Berusaha demokratis, dibilang komandan parpol-parpol
dan bukan ketua KPU," ujar Rudini.

Usai mengatakan hal tersebut, Rudini langsung membuka kembali
pembicaraan rencana kerja KPU selanjutnya dalam penyusunan dan
pelantikan DPRD I, DRPD II, dan DPR. Dalam sidang yang kurang
lebih berlangsung dua jam, tim Komisi B KPU akhirnya ditunjuk
untuk mempersiapkan hal tersebut dan diminta mengadakan kontak
dengan Dirjen PUOD Depdagri. "Apalagi, Depdagri sudah
mengeluarkan instruksi tata cara pelantikkan," ujar Rudini, usai
sidang. (tie)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Aug 1999 jam 08:21:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke