---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk SYAFRIE DICURIGAI PIMPIN TIM SILUMAN DI ACEH. JAKARTA (MeunaSAH, 7/8/99), Dua unit satuan "pasukan siluman " yang berkeliaran di Aceh disinyalir Group 3 satuan elit Kopassus. Mayjend Syafrie Syamsudin (mantan Pangdam Jaya) dicurigai memimpin satuan itu. Unit yang dikenal dengan nama Tim Elang sampai saat ini masih menebar teror di Aceh. Beberapa pihak mensinyalir kehadiran Mayjend Syafrie Syamsudin, mantan Pangdam Jaya Di Aceh sejak Mei 1999 lalu bukan tanpa alasan. Syafrie yang dikenal sebagai tangan kanan mantan Pangkostrad Letjen (pur) Prabowo Subianto ini ditengarai melakukan tugas penetrasi intelijen, Munir koordinator Kontras menegaskan pada SiaR, Jumat(6/8)di kantor YLBHI. Mantan Pangdam Jaya yang dicopot akibat kerusuhan 13-15 Mei itu tidak mengenakan seragam militer melainkan berbaju preman. "Namun saya yakin ia bukan satuan liar melainkan operasi resmi TNI" tambahnya. Hal itu dibenarkan oleh Ghazali Abbas, anggota FPP, Komisi I DPR RI, Jumat (6/8). "Masyarakat Aceh pernah berhasil menangkap beberapa anggota militer dari Kopassus dan Kostrad yang diorganikkan ke sana," ujarnya. Namun hingga saat ini belum ada tindakan hukum terhadap mereka. Bahkan "mereka saling membela dengan alasan indisipliner," protesnya. Sependapat dengan itu Munir mengatakan, Kontras banyak menerima kesaksian masyarakat Aceh. Meski begitu tak ada satupun pihak yang berani mengkonfirmasi info tersebut. "Namun jika kita melihat pola pola kekerasan yang muncul, kemungkinan itu bisa terjadi," katanya. Apalagi jika melihat pola penghilangan rakyat di Aceh terlihat tidak ada kontrol untuk operasi militer yang terjadi. Seorang sumber SiaR menyebutkan, pasukan siluman tersebut dikenal dengan nama tim Elang. Kalangan aktivis Aceh menyebutkan tim tersebut berasal dari Group 3 Kopassus. " Dari group 3 Kopassus saja Aceh sudah seperti ini, bagaimana jika dari group 4 atau 5," ujarnya. (Group 4 = Sandi Yudha, group 5 = anti teror. Red) Menurut beberapa mahasiswa aktivis SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat) jumlah mereka tak lebih dari 20 orang. Bahkan Ghazali menambahkan "masyarakat masih mengenali anggota Kopassus yang pernah ditangkap itu," ujar anggota Komisi I asal Aceh ini. Ghazali menyesalkan jendral seperti Feisal Tanjung, Bennny Murdani dan Try Soetrisno yang lepas tangan dan dianggapnya harus bertanggung jawab atas kejadian di Aceh. Makin mengerasnya pola militer di Aceh berakibat meluasnya konflik antara tentara dengan masyarakat Aceh, simpul Munir. Sebagai dampak pendekatan kekerasan yang digunakan militer, maka perlawanan masyarakat meluas. Semula hanya dilakukan masyarakat bawah dengan mengungsi dari desa. Belakangan ini berkembang dengan dukungan dari lapisan menengah. "Bentuk aksi mogok massal 4-5 Agustus adalah bentuk dukungan dari kalangan menengah," ujar Munir. Sedang kalangan pemodal besar seperti Mobil Oil dan PT Arun sebagai bagian dari elite politik di Aceh ternyata justru memfasilitasi model kekerasan itu sendiri. "Misalnya lokasi tempat penyiksaan paling parah di Lhokseumawe justru berada di lokasi PT Arun," ujar Munir.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Aug 1999 jam 11:07:42 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
