---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (11/8/99)# POROS TENGAH UNTUK JEGAL MEGAWATI DAN NAIKKAN HABIBIE Oleh: Sulangkang Suwalu Ratyono, alumnus Florida Institute of Technology USA, melalui tulisannya "Poros Tengah Memusingkan" (Rakyat Merdeka, 30/7) mengatakan: "Main poros-porosan ini adalah tindakan yang menciptakan perpecahan, yang samasekali tidak diharapkan oleh rakyat. Mestinya semua pihak berkepentingan untuk meredakan suasana konflik yang telah berulangkali terjadi. Sebaiknya ribut-ribut yang tidak perlu terjadi, segera diredam, bukan dinyalakan." Dengan kata lain Ratyono hendak mengatakan dengan dimunculkannya Poros Tengah konflik bukannya diredam, malah makin dinyalakan. Apa latar belakang sampaiu Ratyono berkesimpulan demikian? AMIEN MENGGELIAT LAGI Menurut Ratyono, nama Amien Rais yang mulai hilang dari peredaran setelah pemilu, sekarang menggeliat lagi bersama Poros Tengahnya. Bahkan pencalonan dirinya sebagai presiden mulai terangkat lagi kepermukaan. "Saya pilih Mega, Mega pilih Amien Rais dan Amien pilih saya, 'kan bunder," ujar Gus Dur. "Bunder" yang disebut Gus Dur ini sama sekali berbeda dengan bundernya rotasi poros tengah, karena kelompok-kelompok yang membuat bunder di poros tengah, bukanlah bunderan yang disebut Gus Dur. Bundernya Poros Tengah ini tidak melibatkan Megawati sebagi pihak yang iktu dalam rotasi. Mungkin manuver Gus Dur ini bersifat imbauan kepada PDI-P untuk bergabung atau paling tidak mendukung apa yang disebut Poros Tengah. Di sisi lain ada yang mengatakan Poros Tengah perlu ditampilkan, karena Megawati dianggap tidak etis untuk terus berdiam diri. Dalam keadaan yang sudah riuh rendah dan membingungkan masyarakat, mestinya Megawati harus ngomong, tuntutan mereka. Mengapa harus riuh rendah dan mengapa harus bingung? Bukankah semua itu dibuat sendiri oleh mereka yang bingung dan mengajak bingung orang lain? Padahal kondisi yang sebenarnya adalah panik itu bukan rakyat, tapi para elit politik, yang obsesi politiknya belum surut. Bagi rakyat siapapun yang dipilih sebagai presiden tidak banyak dipergunjingkan. UNTUK KEKUASAAN GUNAKAN NAMA RAKYAT Bila kita benar-benar ingin menerapkan demokrasi, sambung Ratyono, yang baik dan benar di Republik ini, maka harus disadari bahwa pemilu hanya untuk mengantar caleg duduk di MPR dan DPR. Pemilu menurut sistem politik yang berlaku di Republik ini memang bukan untuk memilih presiden. Aturan itu belum dilaksanakan dengan baik oleh beberapa parpol, masih ada usaha-usaha untuk melakukan penyimpangan terhadap demokrasi. Pada saat pemilu dilaksanakan, semua pihak tampil sendiri-sendiri, terbukti dengan munculnya multi parpol yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Semuanya memperjuangkan rakyat, begitu kisahnya, meski yang sebenarnya dibalik itu semua, mereka terbukti lebih berjuang untuk kekuasaan. Hasrat kekuasaan itu ditampilkan lewat "reklame", bahwa parpol-parpol baru yang menyebut dirinya reformis, siap membela rakyat. Selama 32 tahun ini rakyat tertindas. Begitu yang diteriakkan hampir semua parpol. Opini tertanam di hati rakyat bahwa parpol akan benar-benar memperhatikan nasib mereka. Serta merta rakyat memberikan dukungan dalam pemilu. Namun ketulusan dukungan rakyat ini tampaknya belum terjawab oleh ulah parpol. Bahkan yang makin menggejala adalah berbagai rekayasa politik yang mengarah pada kekuasaan. KESALAHAN FATAL POROS Mimpi soal kekuasaan memang wajar, ujar Ratyono lebih lanjut, karena kekuasaan sangat erat hubunganya dengan politik. Mestinya obsesi kekuasaan itu boleh diperjuangkan oleh pihak manapun, namun harus taat pada peraturan perundang-udangan yang berlaku dan pas dengan konstitusi. Kekuasaan yang berhasil diraih harus diorientasikan kepada aspirasi rakyat, bukan asal berkuasa tanpa peduli nasib rakyat. Disadari atau tidak, proses demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia saat ini telah mengalami distorsi yang fatal. Fraksi-fraksi di DPR/MPR tidak mengenal poros-porosan. Fraksi itu adalah milik parpol atau utusan Golongan dan Daerah. Pemunculan Poros Tengah yang diproyeksikan untuk membangun Fraksi Reformasi terkesan sebagai alat untuk memberikan peluang capres alternatif. Dalam sistem politik yang berlaku di Republik ini, tidak mengenal fraksi gabungan parpol atau disebut Poros Tengah. Kesalahan fatal yang kedua adalah dengan sebutan Fraksi Reformasi. Ada potensi konflik berat yang dapat terjadi, bila fraksi reformasi benar-benar diwujudkan. Sebutan Fraksi Reformasi juga bertendensi menarik simpati rakyat lagi, karena kata reformasi telah mengalir dalam tubuh rakyat. Fenomena yang demikianlah tampaknya, yang menyebabkan Ratyono sampai pada kesimpulan bahwa main poros-porosan ini adalah tindakan yang menciptakan perpecahan. Sementara itu bagaimana keadaan Poros Tengan sendiri? POROS TENGAH TERANCAM BUBAR Di samping tulisan tersebut, dalam Rakyat Merdeka yang sama, juga diberitakan "Poros Tengah terancam bubar". Lengkapnya berita tsb, sebagai berikut: Ini kabar paling muktahir tentanbg Poros Tengah atau Fraksi Reformasi. Kelompok politik yang digagas Amien Rais dan Hamzah Has terancam bubar. Tanda-tanda perpecahan itu kini mulai muncul ke permukaan. Amien mulai dilawan Hamzah Has. Misalnya pernyataan Amien Rais tentang pencalonan Gus Dur menjadi presiden, dimentahkan lagi oleh Ketua Umum PPP itu. Menurut Hamzah, sampai kini Poros Tengah belum berpikir untuk menampilkan Gus Dur sebagai capres alternatif. Masalahnya juga belum dibicarakan, karena agendanya memang belum sampai ke sana. Kalau Amine Rais mencalonkan Gus Dur sebagai presiden, itu pendapat Amien sendiri. Untuk lebih jelasnya, tanya saja pada beliau. Kalau akan menampilkan capres alternatif, para pemimpin Poros Tengah perlu lebih dulu berkumpul untuk memutuskan masalah tersebut. Dimunculkan kaukus poros tengah, kata Hamzah, sebetulnya untuk memperkuat posisi tawar menawar dalam SU MPR mendatang. Hamzah mengaku, selaku salah seorang penggagas poros tengah, dirinya tidak tahu menahu Amien Rais memutuskan untuk mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Dengan demikian Hamzah tetap memandang keputusan Amien itu sepenuhnya merupakan sikap politik pribadi Amien. Kita tidak anti atau menentang pendapatnya, sambung Hamzah. Tapi saya katakan, Poros Tengah belum bertemu untuk membicarakan capres alternatif. Jangan diartikan saya menolak pernyataan Amien tersebut. Lebih lanjut dijelaskan oleh Hamzah bahwa inti kaukus poros tengah adalah faksi Isalm, yang memang sudah bersatu sejak tercapai kesepakatan stembus accoord delapan partai Islam, sebelum pemilu lalu. Faksi ini bersifat eksklusif, karena menyangkut partai-partai yang berazaskan Islam. Tetapi sesudah PAN bergabung --karena partai itu terbuka--, maka tidak mungkin lagi kaukus tersebut disebut faksi Islam. Untuk itu dinamakan sebagai Poros Tengah, yakni mengambil jarak dari kubu yang saat ini tengah bertarung merebut kursi kepresidenan, yakni kubu PDI-P yang mencalonkan Megawati dan partai Golkar yang mencalonkan Habibie sebagai presiden. Hamzah menandaskan, Poros Tengah tak mungkin mencalonkan Megawati, karena sesuai fatwa ulama, menolak wanita jadi pemimpin. Ini bukan masalah gender, tapi hanya ingin melaksanakan fatwa ulama. Jangan tuduh kami isu gender dan agama. TENTANG DUKUNGAN PADA HABIBIE Ditanya apakah Poros Tengah akan mendukung Habibie, Hamzah yang pada kampanye pemilu lalu menegaskan bahwa partainya tidak mendukung Habibie, mulai melunak. Dikatakan dukungan terhadap Habibie tergantung tiga hal: PERTAMA; Habibie harus menuntaskan kasus KKN Suharto, KEDUA; Habibie harus memutuskan dengan Orba, dan KETIGA; mampu mempersatukan Golkar yang di dalamnya terlihat penyempal, seperti Marzuki Darusman dan beberapa temannya. Itu yang kita tuntut pada Habibi. Mereka harus meyakinkan kita terhadap tiga hal itu. Jika sudah diselesaikan, barulah kita duduk sama-sama dengan kubu Habibie. Kan kita lucu dukung Habibie ternyata Golkar yang mensponsorinya ternyata tidak solid dan utuh. Hamzah Has yakin, kekuatan Poros Tengah cukup kuat dan mempunyai penyeimbang dua kubu yang sekarang berhadap-hadapan. Dijelaskan partai-partai Islam mendapat 84 kursi, PAN memiliki 35 kursi. Jaid cukup signifikan dibandingkan Golkar dan PDI-P yang masing-masing mendapatkan 124 dan 158 kursi. ARTI PERNYATAAN HAMZAH HAS Keterangan Hamzah Has ini di satu pihak menyudutkan Amien Rais, sebagai telah bertindak secara pribadi, dengan menggunakan nama Poros Tengah, padahal Poros Tengah tidak tahu menahu sama sekali tentang pencalonan Gus dur sebagai presiden. Pukulan Hamzah Has atas Amien Rais itu mudah dimengerti, karena bila faksi Islam berjalan terus, Hamzah Has-lah yang menjadi pimpinannya. Kini mendadak Amien menampilkan diri sebagai pemimpin Poros Tengah. Apalagi perolehan suara PAN di bawah PPP. Hamzah Has tentu saja tersinggung rasa kehormatannya. Adalah menggelikan seolah-olah Hamzah Has itu dulunya bukan orang Orba, yang orang Orba hanya Habibie saja. Padahal Hamzah Has dan Habibie sama-sama orang Orba. Bukankah PPP kepanjangan tangan Suharto di masa lalu? Malah dalam Kabinet Habibie bikinan Suharto itu, Hamzah juga salah seorang menterinya. Dia mundur sebagai menteri, karena adanya larangan menteri berkampanye. Jadi ucapannya supaya Habibie memisahkan diri dari Orba, sebaiknya Hamzah Has bertanya pada diri sendiri, apakah dirinya sendiri sudah memisahkan diri sepenuhnya dari Orba? Tentang penolakan Hamzah Has atas Megawati, karena ulamanya memfatwakan perempuan tidak boleh jadi pemimpin, itu hanya menunjukkan kedangkalan Hamzah Has atas ajaran agama Islam. Jika Hamzah Has mendalami Al Quran, ia akan menemui surat At Taubah ayat 71, yang tidak membedakan perempuan atau lelaki bisa jadi pemimpin. Ketidakbenaran tafsiran ulamanya Hamzah Has, juga telah dikemukakan ulama-ulama NU. Masalahnya masih khilafiah. Tentang angka kursi Poros Tengah yang cukup signifikan kata Hamzah, itu hanya sebuah dalih. Yang pasti suara Poros Tengah tidak akan bisa menang secara sendirian, baik dari Golkar apalagi dari PDI-P. Suara Poros Tengah baru berarti, jika diberikan kepada Habibie dan Poros Tengah ikut menang dan memperkuat status quo. Suara Poros Tengah bukan penyeimbang, melainkan untuk penjegal Megawati. Memang benar. Munculnya Poros Tengah telah memecah kelompok Ciganjur dan kini mulai menulari perpecahan itu dalam tubuh Poros Tengah sendiri. Perkembangan perpecahan dalam Poros Tengah ini akan dapat sama diikuti. Memang, bersikap netral dalam menghadapi dua capres: Habibie dan Megawati (pro dan anti status quo), sesungguhnya sesuatu yang tidak adil. Yang adil, memihak kepada salah satu. Jika merasa dirinya sebagai kelompok anti status quo, kalahkan Habibie. Jika dirinya merasa bagian dari status quo, menangkan Habibie. Mengatakan diri anti status quo, tetapi tidak mendukung Megawati, berarti memperkecil kekuatan anti status quo dan itu tidak berarti lain, selain mengkhianati perjuangan anti status quo. Lihatlah! Tuhan saja tidak bersikap netral dalam pertentangan antara kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) dengan kaum penindas dan kaya (mustakbirin). Tuhan secara terang-terangan memihak kaum mustadhafin. Hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin di bumi dan mewarisi bumi. Itu dikatakan dalam surat Al Qashash ayat 5-6. Dimunculkannya Poros Tengah, bukan lah dengan tujuan untuk membela kaum tertindas, melainkan agar mereka dapat masuk dalam kekuasaan. Dengan Poros Tengah mereka jegal Megawati, mereka naikkan Habibie kembali menjadi presiden. Dengan demikian Habibie dapat kembali melanjutkan politiknya guna menyelamatkan Suharto dari tuntutan pengadilan! Adalah merupakan penyalah-gunaan nama Reformasi, bila Poros Tengah sampai memakai nama Fraksi Reformasi, padahal mereka mendukung kelompok pro status quo. Atas nama reformasi mereka coba menghancurkan gerakan reformasi.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Aug 1999 jam 03:56:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
