---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Berita Buana, 9 Agustus 1999 Kesaksian Kapolda Aceh, Kolonel (Pol) Bachrumsyah : Jangan Samakan Aceh dengan Kosovo KITA sebenarnya berterima kasih kepada Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) yang punya kepedulian untuk kasus Aceh. Hanya saja, yang kita sayangkan, Kontras tidak melaporkan hasil temuannya kepada pihak yang lebih berwenang. Kontras justru lebih memilih langsung mengumumkannya kepada publik. Pola-pola kerja semacam ini yang kemudian membuat informasi simpang siur. Ada kesenjangan yang cukup besar pada jumlah korban versi kita dan Kontras, misalnya. Saya sendiri pernah mengikuti cara kerja Kontras pada kasus pembantaian di Ciamis. Kita menyebutkan jumlah korban tewas berdasarkan jumlah mayat yang berhasil kita temukan, sementara Kontras menghitung jumlah korban berdasarkan kesaksian orang- orang. Padahal, bisa saja lima orang saksi yang melihat satu mayat. Namun, karena Kontras menanyai kelima saksi itu, dan masing-masing dari mereka mengaku melihat mayat, Kontras mengatakan bahwa berdasarkan saksi mata ada 5 korban. Saya terkejut begitu Kontras mengumumkan kepada publik bahwa telah terjadi penculikkan terhadap 24 warga Aceh, termasuk empat warga di antaranya mahasiswi di beberapa perguruan tinggi Aceh. Kita memang sudah menerima data itu. Polisi, dalam hal ini, tidak serta-merta menyatakan bahwa mereka yang tidak pulang ke rumah adalah korban penculikan. Sebab, ada berbagai sebab kenapa seseorang tidak pulang ke rumah. Apakah menginap di rumah kawannya atau sengaja pergi. Segala macam kemungkinan bisa terjadi. Bila setelah dilakukan pencarian ternyata tidak ditemukan, saya lebih memilih mengatakan lebih dulu bahwa mereka hilang. Kalau kemudian ditemukan saksi dan bukti bahwa mereka diculik, baru bisa disebut mereka hilang akibat tindak penculikan. Di sinilah bedanya kita dan Kontras. Saya menyadari bahwa masyarakat mungkin masih trauma dengan aparat keamanan akibat masa DOM (daerah operasi militer), sehingga mereka enggan melaporkan kejadian yang dialaminya kepada polisi. Karena itu, kita inginkan kerja sama Kontras, dengan memberi data kepada kita sebagai aparat. Dengan laporan itu, kita akan segera mengecek, dan selanjutnya menentukan tindakan. Terus terang, saya juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa pengungsian di Aceh diibaratkan dengan apa yang terjadi di Kosovo. Saya katakan, jangan samakan keadaan Aceh dengan Kosovo. Memang, masyarakat Aceh melakukan pengungsian karena tidak tahan dengan berbagai macam tekanan yang diterimanya. Namun, jangan kemudian dibayangkan mereka mengungsi dari Aceh ke luar daerah. Sesungguhnya, masyarakat mengungsi hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggalnya. Ada juga informasi yang mengatakan bahwa Aceh tertutup bagi pendatang dari luar. Jangan sekali-kali berpikir bahwa kota Aceh hanyalah Lhokseumawe. Aceh luas. Mungkin sama dengan Jakarta. Lokasi keributan itu hanya di beberapa tempat. Di pusat kota, masyarakat masih hidup normal. Jadi, kalau Anda jalan kaki di Banda Aceh, saya jamin tidak ada apa-apa. Sebab, hanya tempat- tempat tertentu saja yang kita anggap rawan. (marmi panti hidayah) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Aug 1999 jam 09:34:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
