----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

ANTARA, 7 Agustus 1999

Horta Tak Mungkin Tuntut Orang Indonesia Penjahat Perang

Lisabon, 7/8 (ANTARA)-Keinginan tokoh kemerdekaan Timtim di luar
negeri, Ramos Horta, untuk menuntut sejumlah orang Indonesia
sebagai penjahat perang sangat tidak mungkin dilakukan lantaran
Horta bersama Fretilin termasuk pencetus perang sipil di Timtim
pada era 1970-an.

"Sekalipun sudah menggenggam Nobel Perdamaian, Horta tetaplah
salah seorang pencetus perang sipil yang mengorbankan jiwa
saudara-saudaranya sendiri di Timtim, terutama periode 1974-1975,"
kata pengamat masalah Timtim di Portugal Prof. DR Nuno Rocha
kepada ANTARA di Lisabon, Jumat malam.

Penulis buku "Timor, O Fim de Imperio" (Timor, Berakhirnya
Imperium) itu mengemukakan, jika saja Horta tetap melanjutkan
gagasannya itu, maka dia justru akan berhadapan langsung dengan
masyarakat Timtim yang notabene telah menjadi korban kekejaman di
masa lalu.

"Saya kira Horta tetap memainkan cara lamanya, yakni propaganda
memojokkan sejumlah pihak di Indonesia untuk "mencuci" kesalahan
dirinya. Dia senantiasa memanfaatkan anugerah Nobel Perdamaian
sebegai "benteng" mencari kebenaran semaunya sendiri," Ujar Guru
Besar Ilmu Komunikasi-Politik di Universitas Independente (UnI)
Lisabon itu.

Rocha yang juga aktif di Amnesti Internasional (AI) berpendapat,
rumors yang dikembangkan Horta dalam pertemuannya dengan Presiden
Portugal bahwa pihak Indonesia merekrut sejumlah orang untuk
mendaftarkan jajak pendapat guna memenangkan otonomi juga menjadi
salah satu cara dalam upaya melanjutkan konflik di Timtim.

Horta pada Jumat siang mengadakan pertemuan dengan Presiden
Portugal, Jorge Sampaio, yang membicarakan permasalahan Timtim.
Pada jamuan makan siang di kawasan Pantai Armacao de Pera, Algarve
(kawasan Portugal selatan) itu, Horta menyebutkan sejumlah nama
dari kalangan militer sebagai penanggungjawab gerakan mengerahkan
orang non-Timtim dalam proses jajak pendapat 30 Agustus mendatang.

"Pertemuan semacam ini sebenarnya berdampak kurang tepat jika
dilihat dari Kesepakatan New York 5 Mei lalu, karena saat ini
masih dalam masa pendaftaran jajak pendapat. Bisa saja akan timbul
pertanyaan, mengapa pejabat Portugal tidak juga melakukan
pertemuan dengan wakil masyarakat Timtim yang pro-otonomi?,"
katanya.

Selain itu, Rocha yang juga penulis buku "Timor Timur, 27
Provincia da Indonesia" (Timtim, Provinsi ke-27 Indonesia)
menilai, tuduhan berkaitan dengan pengerahan massa non Timtim
untuk mengikuti jajak pendapat bisa bertujuan merusak kinerja Misi
bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timtim (UNAMET).

"Bukankan di UNAMET-Portugal juga ada ratusan pendaftar jajak
pendapat yang non Timtim asli? Tuduhan Horta bisa juga bertujuan
menutupi kegagalannya memnuktikan bahwa peserta jajak pendapat di
luar Timtim, terutama di Australia yang menjadi salah satu tempat
tinggalnya, kurang memenuhi target," demikian Rocha.

UNAMET-Portugal yang berlokasi di Rua (jalan) Jose Estevao No.
135-A Lisabon selama masa pendaftaran sejak 16 Juli 1999 terlihat
menerima ratusan warga keturunan eropa non Timtim asli. Para
pendaftar itu agaknya memiliki akte kelahiran di wilayah Timtim
saat masih bernama Timor Portugis.

Sementara itu, jumlah pendaftar di UNAMET-Portugal hingga Jumat
petang mencapai 2.127 orang yang sekitar 30 persen di antara
mereka secara fisik terlihat sebagai warga keturunan Eropa non-
Timtim asli. Bahkan, para pendaftar tersebut seringkali terlihat
saling bertukar saksi untuk membuat dokumen yang diperlukan dalam
proses registrasi.

(U.LPT-1/22:29/6/8/1999/ND07/09:20/tb01)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Aug 1999 jam 09:56:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke