----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

From: apt-timor apt-timor
SOSIALISASI OTONOMI : Tugas dan kepentingan siapa.

Kesepakatan tripartit bagi banyak pihak merupakan langkah maju dalam proses
penyelesain politik masalah Timor Timur. Namun bagi yang lain, teristimewa
para pejuang pro-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Partai Komunis
Portugal (baca : Pernyataan Sikap PCP), kesepakatan Tripartit merupakan
kekalahan diplomatis yang paling spektakuler dalam diplomasi Portugal.
Betulkah kesimpulan ini?

Boleh jadi dua-duanya benar semua! Namun baiklah, demi penarikan suatu
kesimpulan yang obyektif, mari kita membaca kembali pernyataan-pernyataan
yang relevan dalam keseluruhan dokumen kesepakatan tripartit. Coba
perhatikan, pada statement berikut ini yang termuat dalam dokumen
kesepakatan, yang secara ringkas adalah sebagai berikut : "Jika rakyat Timor
Timur setuju Otonomi, maka itu berarti tetap menyetujui pengabungan Timor
Timur dengan Indonesia; Bila tidak, itu berarti rakyat Timor Timur
menghendaki pemisahan Timor Timur dari Republik Indonesia" . Jika pernyataan
ini yang kita kembangkan dalam suatu analisa, maka kesimpulan yang dapat
kita ambil adalah Portugal dan PBB, dalam hal dan batas bahasa diplomatik
tertentu, telah menyatakan bahwa Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia
yang mau memisahkan diri, jika rakyat menolak otonomi. Jika ini yang
merupakan variabel atau permis dasar yang mendorong melahirkan sikap PCP,
maka sudah barang tentu PCP benar dalam penarikan sikap atas kesepakatan
tripartit.

Soal lain yang mungkin saja perlu kita perhatikan secara saksama pula adalah
beberapa istilah dan claussula dalam kesepakatan mengenai modalitas
pengamanan proses penentuan/Jajak pendapat. Terbaca bahwa Kesepakatan
Tripartit telah memberi KEPERCAYAAN- TUGAS-WEWENANG kepada Polisi Republik
Indonesia (juga ABRI) dalam tugas mengamankan wilayah Timor Timur. Sekiranya
kita secara obyektif melihat claussula ini, maka, sudah barang tentu, kita
dapat berpikir bahwa telah terjadi perubahan yang cukup fundamental dalam
MEREPOSISI kedudukan ABRI dan Pemerintah Indonesia dalam konflik Timor
Timur. Jika demikian, maka muncul pertanyaan : siapa yang diuntungkan? Ada
beberapa hipotesa atau teori atas pertanyaan itu. Pertama, mungkin saja
Rakyat Timor Timur yang diuntungkan.Hal itu karena telah terjadi perubahan
status keberadaan ABRI dan Pemerintah Indonesia di Timor Timur, yakni dari
penyerbu dan agressor menjadi penjaga kemanan. Menjaga keamanan mengandung
implikasi politik sebagaimana beirkut : a.) ABRI dan Pemerintah Indonesia
akan dimintai tanggung jawab oleh PBB dan masyarakat Internasional atas
segala kondisi yang berkembang di Timor Timur; b.) Perubahan status dimaksud
telah memungkinkan Indonesia keluar dari Timor Timur secara terhormat, maka
implikasinya adalah Indonesia (baca : regim) tidak akan
dipertanggungjawabkan secara yuridis atas segala tindakan kriminal yang ia
lakukan selama 23 tahun di Timor Timur. Dan keadaan ini merupakan nilai
politik atau dapat kita sebut sebagai kompromi politik yang kita berikan
agar Indonesia lebih gampang keluar dari konflik Timor Timur. Keuntungan
kita adalah hanya kemenangan politik, tanpa harus mengaharapkan atau
mengajukan "indeminizacao" (ganti rugi/kompensasi) selayaknya manusia yang
beradab. Namun apa daya, ketika strategi politik hanya ditentukan secara top
dowan (secara tidak demokratis dan oleh Institusi yang dibentuk secara tidak
demokratis) oleh pemimpin-pemimpin yang kita beri kepercayaan untuk mewakili
kita semua? Ini tanggungjawab siapa?

Kedua, mungkin saja Indonesia yang diuntungkan. Setuju? Bisa tidak, oleh
kaum euforistis! Tapi kenyataan yang kini berkembang, seperti intimidasi
yang merajalela, terror dimana mana serta persoalan lainnya yang membentuk
psikologi massa, semuanya mengindikasikan bahwa probabilitas kemenangan
otonomi cukup besar. Kenapa? Kita semua perlu menyadari bahwa bilamana baju
hijau tetap di Timor Timur, maka rakyat kita tidak akan sebebas mungkin
menentukan pilihannya secara obeyktif. Kesimpulan ini perlu kita tarik agar
kita dapat melihat persoalan secara jelas dan obeyktif dan menentukan sikap
politis yang jelas, lagi keras.

Selain dari faktor-fakotor seperti tersebut diatas, masih ada lagi faktor
lain yang dapat mempengaruhi cara berpikir orang-orang kita yang euforistis
dan subyektifistis untuk secara lebih akomodatif terjebak dalam alam
permainan politik yang bernuansa kompromistis. Faktor-faktor itu adalah
sebagaimana berikut :

Satu, rakyat kita belum begitu matang secara politis,artinya belum mampu
menganalisa secara obyektif segala permainan politik yang dimainkan oleh
para pihak-pihak yang berkepentingan dalam penyelesain dan pertahanan
konflik Timor Timur.

Kedua, sehingga cenderung melihat kehadiran Institusi (bukan individu) PBB
di timor Timur sebagai malaikat penyelamat Timor Timur. Oleh karena keadaan
ini, maka tawaran otonomi yang sedang mau disosialisasi oleh PBB merupakan
suatu jebakan politik yang pintar. Kenapa, karena orang Timor Timur akan
berpikir, dan mungkin saja

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 1999 jam 09:32:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke