----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 24 Agustus 1999

UNAMET Tolak 30 Kelompok Pemantau Independen dari Indonesia

DILI -- Misi PBB di Timtim (UNAMET) menolak akreditasi
sekitar 30 kelompok independen dari Indonesia yang
ingin berpartisipasi sebagai pengamat independen
pelaksanaan jajak pendapat Timtim. Alasan UNAMET,
mereka dianggap perpanjangan tangan pemerintah
Indonesia.

''UNAMET memiliki persepsi, kelompok-kelompok yang
mengajukan diri menjadi pengamat independen itu masih
terkait dengan pemerintah Indonesia, sehingga
diragukan independensinya,'' kata Jubir Satgas
Pelaksana Penentuan Pendapat Timtim (P3TT) Dino Patti
Djalal, kepada wartawan di Dili, Senin (23/8).

Ia menegaskan, kelompok-kelompok yang mengajukan
diri sebagai pengamat independen itu adalah organisasi
non pemerintah murni sehingga harus dihormati haknya
oleh UNAMET. Penolakan akreditasi itu merupakan
bentuk kecurigaan yang berlebihan, dan bertentangan
dengan upaya pelaksanaan jajak pendapat yang bebas dan
jujur.

Ridwan, dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
menjelaskan pengalamannya, seluruh persyaratan telah
mereka penuhi dan dinyatakan layak, tetapi belakangan
ada surat penolakan dengan alasan IMM masih terkait
dengan Pemerintah Indonesia. ''Kami organisasi non
pemerintah (NGO) murni, dan berbagai kegiatan dan
struktur organisasi kami membuktikan kami tidak
terkait dengan pemerintah RI,'' katanya.

Selain IMM, Dino mengungkap, UNAMET juga menolak
pemantau independen dari PDI Perjuangan dengan alasan
yang sama. Sementara itu Ketua Tim Pemantau Resmi
Indonesia Djamaris Sulaiman mengatakan, ada sekitar
30 kelompok independen dengan anggota sekitar 320
orang dari Indonesia yang ditolak akreditasinya oleh
UNAMET.

Saat ini, ujar Dino, banyak kelompok pemantau jajak
pendapat di Timtim yang mendapat akreditasi dari
UNAMET --dari dalam negeri maupun asing-- yang
jelas-jelas memihak kelompok anti integrasi. ''Sangat
sulit bagi kami untuk menjelaskan hal tersebut,
pemantau yang jelas-jelas anti integrasi diberi akreditasi,
tetapi pemantau independen dari Indonesia tidak
diakreditasi,'' katanya seraya berharap agar UNAMET
meninjau kembali kebijakannya, bersikap adil dan jujur.

Pada hari yang sama, Menhankam/Panglima TNI
Jenderal TNI Wiranto di Jakarta mengakui adanya oknum
petugas UNAMET di sana sini yang bersikap tidak netral,
lebih memihak anti integrasi, dalam memandang proses
jajak pendapat 30 Agustus mendatang. ''Itu tidak bisa kita
elakkan. Sebab, UNAMET itu terdiri atas beberapa
sukarelawan dari berbagai negara ... Mungkin saja masih
menempel kepentingan atau konsep-konsep pribadi,''
urainya ketika ditemui di DPR RI.

Wiranto berharap masyarakat tak mudah terhasut pada
serangkaian tuduhan yang ditujukan ke TNI karena
dianggap membantu milisi. ''Saya katakan secara
kelembagaan TNI netral. Tapi, saya tidak pungkiri masih
ada satu dua oknum yang masih melakukan
penyimpangan. Itu tentu akan ada sanksinya,'' katanya.(pri/ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Aug 1999 jam 03:37:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke