----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 19 September 1999

Mempertaruhkan Nasib Bangsa

ADA dua sebab keluarnya propinsi Timor Timur dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Pertama terjadinya peristiwa Santa Cruz
yang berlanjut dengan bentrokan dengan milisi pro-integrasi dan
pro-kemerdekaan yang tidak kunjung selesai. Momen ini dimanfaatkan
oleh media barat untuk selalu memojokan dan membentuk opini
internasional bahwa Indonesia melanggar HAM. Opini ini dipertajam
dengan memberi hadiah Nobel perdamaian pada Uskup Belo dan Ramos
Horta.

Keduanya adanya skenario dari grand konspirasi negara-negara barat
(Australia, Portugal dll) yang sejak semula menginginkan Timtim
lepas dari Indonesia. Maka di bawah tekanan PBB, Indonesia
terpaksa memberi dua opsi, otonomi luas atau merdeka. Di sinilah
letak kesalahan, sebab kedua opsi ini masih dapat ditunda sampai
terbentuknya pemerintahan baru dan persetujuan MPR baru.

Apalagi opsi pertama belum sempat dilaksanakan. Jadi bila jajak
pendapat ditunda sampai Desember, Indonesia punya kesempatan
mensosialisasikan otonomi luas pada seluruh rakyat dan hasilnya
belum tentu seperti sekarang.

Unamet yang dibentuk PBB sebagai penyelenggara jajak pendapat
jelas memihak pro-kemerdekaan, bahkan mungkin melakukan
kecurangan. Tapi apa mungkin sidang umum nanti menolak hasil
tersebut, karena kecurangan. Pasti mereka akan membantah. Proses
jajak pendapat juga diikuti pemantauan Indonesia, jadi apa bisa
kecurangan sebesar itu. Maka alasan ini akan ditolak. Yang jelas
wibawa bangsa menjadi ambruk, puluhan ribu yang gugur menjadi sia-
sia, veteran menjadi kecewa karena merasa perjuangannya
dikhianati.

Pelajaran pahit ini membuktikan segala bentuk kekerasaan,
kerusuhan dan pelanggaran HAM akan mengundang intervensi asing
yang dikemudian hari menginjak kehormatan, harga diri dan
kedaulatan bangsa. Oleh karena itu segera hentikan kekerasaan
melalui pendekatan agama, budaya, adat, tokoh masyarakat, LSM.
Bila tidak, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi korban ketiga
setelah Uni Soviet dan Yugoslavia.

Setelah pro-kemerdekaan menang, maka sekitar 95.00 jiwa pro-
otonomi ditambah anak-anak menjadi terancam hidupnya dan memilih
mengungsi. Apakah pemerintah sanggup membantu mereka sampai
mendapat kehidupan layak? Rasanya sangat sulit karena para elit
politik asyik berkonsentrasi pada sidang umum.

Ditambah lagi berbagai manuver untuk membela kepentingan pribadi
dan kelompok seperti menggelar laskar sipil, pam-swakarsa, satgas
dll. Bahkan agamapun dijadikan komoditas politik.

Apabila terjadi merdeka Timtim menjadi boneka dari negara lain dan
dijadikan tempat untuk memata-matai, batu loncatan atau pintu
gerbang mengintervensi Indonesia di masa mendatang, maka negara
baru ini praktis manjadi ancaman. Dalam hal ini ada dua contoh
menarik.

Pertama bantauan RRC dalam perang Vietnam dan Korea yang
mengorbankan jutaan prajurit, termasuk seorang putra pimpinan RRC
waktu itu bukan semata-mata karena persamaan ideologi, tapi karena
menyadari resiko, kalau sampai negara tetangga dikuasai oleh
negara lain yang berpotensi sebagai ancaman.

Kedua konsistennya RRC pada prinsip satu Cina yang menganggap
Taiwan sebagai propinsi pembangkang dan tetap bagian integral dari
RRC, baik kultur, ras maupun geografis. Ini untuk mencegah pulau
itu merdeka dengan tetap menggangap sebagai urusan dalam negeri
yang tidak bisa dicampuri oleh negara lain.

Indra Kusuma
Sungai Penuh
Kerinci 37113.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Sep 1999 jam 11:33:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke