----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 22 September 1999

Jika Hubungan RI-Australia Putus

Ribuan warga Australia pernah terancam mati karena kelaparan. Dan,
yang menyelamatkan mereka adalah kiriman bahan makanan dari
Jakarta. Ini bukan provokasi atau cerita fiktif, tapi kisah yang
tercatat dalam buku sejarah bangsa di Benua Kanguru itu.

Paceklik itu terjadi 209 tahun silam, di pantai timur Australia,
ketika panen gandum mereka gagal, dan Gubernur New South Wales,
Arthur Phillip, gagal mengatasi persoalan pangan. Jakarta yang
ketika itu bernama Batavia menjadi tumpuan bantuan luar negeri
untuk menyelamatkan sebagian warga benua itu dari ancaman
kelaparan.

Memang, Batavia ketika itu masih dikuasai Belanda. Tetapi, pasok
bahan makanan itu tidak hanya dapat ditafsirkan sebagai telah
adanya hubungan dagang yang baik antara Jakarta dan Australia,
tapi juga 'hubungan kemanusiaan' yang dapat menjadi akar hubungan
persahabatan yang menyejarah antar kedua bangsa.

Hubungan dagang itu pun berlanjut pada era Indonesia merdeka.
Banyak kebutuhan pokok warga negeri 200 juta jiwa ini yang
didatangkan dari Australia, dari buah-buahan sampai tepung gandum,
daging dan susu. Indonesia memang pasar sangat potensial bagi
produk-produk Negeri Kanguru. Sebaliknya, Australia juga merupakan
pasar cukup potensial bagi sejumlah penduduk Indonesia, seperti
produk kayu, kertas, sepatu dan garmen.

Namun, Australia lebih diuntungkan dalam hubungan dagang itu. Jika
nilai ekspor produk Australia ke Indonesia mencapai 2.12 miliar
dolar AS, maka milai ekspor produk Indonesia ke sana hanya 712
juta dolar AS. Dalam hal ini, Indonesia memang selalu defisit.

Itu artinya, jika hubungan dagang antar kedua negara itu sampai
terhapus, maka Australialah yang akan rugi besar. Apalagi, dengan
gampang Indonesia dapat mengalihkan kebutuhan import daging, susu,
gandum dan buah-buahan yang tidak seberapa besar itu dari negara
lain. Kebutuhan daging, misalnya, secara cepat dapat dipenuhi dari
India, Jerman dan Irlandia.

Sebagai negara tetangga terdekat di belahan selatan, antara
Indonesia dan Australia juga telah lama terjalin hubungan
persahabatan yang cukup hangat. Tetapi, hubungan baik itu kini
menuju titik balik, bahkan titik terburuk. Sementara pengamat
bahkan menilai Australia sengaja 'menusuk dari belakang' ketika
negeri itu dalam keadaan terjepit dan dilanda berbagai krisis.
Mereka tak mau tahu bahwa kerusuhan sesuai jajak pendapat adalah
dipicu oleh kecurangan UNAMET.

"Pemerintah Indonesia mencatat bahwa sikap dan tindakan Australia
mengenai masalah Timor Timur sangat berlebihan dan tidak membantu
upaya-upaya untuk memelihara hubungan bilateral atas dasar saling
menghormati," kata Presiden Habibie dalam sidang paripurna DPR RI,
kemarin.

Setelah Kerja Sama Militer kedua negara belum lama ini dibatalkan,
sangat mungkin kondisi memburuk ke putusnya hubungan diplomatik
dan perdagangan. Kita semua, jelas, tidak ingin itu terjadi, dan
berharap hubungan keduanya segera membaik kembali. Tetapi,
kalaupun itu harus terjadi, Australia yang akan lebih banyak
menanggung kerugiannya.

Getolnya Australia menista Indonesia dan berlagak kampiun
perdamaian serta hak asasi dengan mengirim pasukan dan tank-tank
serta persenjataan berat lain, rupanya mengharapkan 'perang'.
Seperti praktek di banyak negara, sukses operasi di luar negeri
umumnya dimaksudkan untuk mendongkrak popularitas seorang calon
dalam pemilihan umum. Terlebih, menurut kabar, kepopuleran John
Howard sedang tak begitu tinggi. Urusan Timtim tampak digunakannya
untuk menaikkan kembali pamornya di blantika perpolitikan
Australia.

Tetapi ternyatanya, situasi di Timtim aman-aman saja. Tak ada
tindak kekerasaan dan aksi kebrutalan oleh 'milisi pro Jakarta'
seperti diberitakan media massa. Jadi, apa gunanya tank dan
senjata mutakhir dikerahkan ke Timtim. Mereka mau berperang
melawan siapa?

Betapa perkasa pun seorang John Howard atau Alexander Downer,
mereka takkan mampu memindah benua mereka ke tempat lain yang
mereka inginkan. Australia, sampai kapan pun, akan tetap 'di
situ', dekat sekali Indonesia dan di kawasan Asia Pasifik.

Kita tidak perlu terpancing dengan meniru sikap dan ulah orang-
orang Australia termasuk para petinggi negara itu. Kita tunjukkan
bahwa kita tidak mau menurunkan harkat martabat kita dengan meniru
perilaku mereka. kita protes keras, dengan cara elegan, tidak
rendah. Kita tunjukkan bahwa kita lebih dewasa dari mereka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Sep 1999 jam 08:14:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke