----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 23 September 1999

Timtim Dan Dilemanya
Oleh RM Totok Wijanarko

DUA opsi yang ditawarkan oleh pemerintah kepada rakyat Timor Timur
(Timtim), merdeka atau otonomi seluas-luasnya, terbukti telah
menimbulkan gejolak baru di negeri ini. Terlebih, opsi yang
ditawarkan oleh Presiden RI BJ Habibie itu, tidak dikonsultasikan
terlebih dahulu dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Gejolak itu muncul, ketika hasil jajak pendapat yang diprakarsai
Perserikatan Bangsa-Banga (PBB) melalui badan yang dibentuknya,
United Nation Assistance for East Timor (Unamet), dimenangkan oleh
kelompok pro-kemerdekaan. Namun keputusan itu ditolak oleh
kelompok pro-integrasi/otonomi. Mereka mensinyalir bahwa misi
Unamet selama di Bumi Loro Sae itu telah melakukan kecurangan dan
memihak kelompok pro-kemerdekaan.

Buntut dari rasa kecewa itu, Dili dan beberapa kota lainnya
menjadi kota mati kerusuhan dan pertikaian mewarnai hampir di
seluruh Bumi Loro Sae. Untuk mengantisipasi situasi-kondisi
keamanan di daerah itu, pemerintah memberlakukan Undang-undang
(UU) Darurat Militer. Lantas pasukan multinasional PBB atau yang
biasa disebut Peace Keeping Force yang dipimpin Australia, kini
sudah tiba di Timtim. Akankah kondisi keamanan dan rakyat Timtim
akan lebih baik setelah kedatangan pasukan multinasional?

Berbagai pendapat pro-kontra mengenai penerapan UU Darurat Militer
maupun kedatangan pasukan multinasional itu, mengalir deras. Namun
bila kita amati tentang kebijakan yang telah diterapkan pemerintah
itu, merupakan langkah untuk menyelamatkan "muka" pemerintah RI di
dunia internasional. Terkesan bahwa pemerintah bertindak dengan
sungguh-sungguh untuk memulihkan stabilitas keamanan di Timtim.
Karena usaha yang dilakukan ternyata tidak membuahkan hasil,
pemerintah akhirnya menyerahkan masalah ini ke PBB. Hal itu perlu
kita cermati, diberlakukan atau tidak diberlakukannya UU Darurat
Militer di Timtim, kerusuhan dan kekacauan tetap saja terjadi.

Saya memang lebih setuju bila kita serahkan saja permasalahan
Timtim sepenuhnya kepada PBB. Buat apa pusing-pusing
memikirkannya. Toh suka atau tidak suka, Bumi Loro Sae itu akan
lepas juga kesatuan kita.

Keputusan untuk mengundang multinasional ke Timtim memang legakan
kita, sebagai bangsa yang cinta damai. Mari kita tunjukkan kepada
dunia internasional bahwa permasalahan di Bumi Loro Sae tidak
semudah membalik telapak tangan. Biarkan rakyat Timtim menentukan
nasibnya sendiri.

Hal terpenting dari masalah itu, pemerintah harus lebih
memperhatikan pembangunan baik fisik maupun mental di wilayah
Indonesia Timur, sehingga kesenjangan ekonomi antara wilayah barat
dan timur tidak menjadikan pemicu munculnya gejolak disintegrasi
bangsa.

Jangan sampai kita dipermalukan, bila Timtim nantinya menjadi
negara maju dan makmur setelah lepas dari republik ini. Sementara
beberapa wilayah tetangga Timtim, seperti; Maluku, Nusa Tenggara
Timur, Nusa Tenggara Barat, Irian Jaya, jauh tertinggal
kesejahteraan masyarakatnya. Semoga disintegrasi bangsa hanya
retorika semata.

*(penulis adalah Mahasiswa UNAS, Pasar Minggu-Jakarta)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Sep 1999 jam 10:36:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke