----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/26 September-1 Oktober 99
------------------------------

MAHASISWA SIAP GERILYA KOTA

(POLITIK): Sikap militer mulai dari Jendral Wiranto sampai prajurit jalanan
yang memukuli demonstran tidak bisa diterima oleh masyarakat. Mahasiswa
menyatakan siap melakukan gerilya kota.

Inilah gelombang demonstrasi (23/9) terbesar setelah Mei 1998 yang
menjatuhkan Soeharto. Mahasiswa dengan dukungan penuh dari masyarakat
aktivis dan penduduk yang tinggal di selingkaran Semanggi-Gedung MPR bersatu
melawan pengesahan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya.

Semula aksi berlangsung damai dan tertib. Para demonstran menyanyikan
lagu-lagu yang cukup provokatif seperti, "Bubarkan TNI" dan "Gantung,
Gantung, Gantung Wiranto. Gantung Wiranto di Ladang Ganja". Berbagai warna
bendera dan spanduk berkibar menandai berbagai barisan seperti FAMRED,
FORKOT, FORBES, GEMPUR, HMI, dan sebagainya. Banyak di antaranya yang
menggunakan jaket almamater dari puluhan kampus di Jakarta.

Suasana yang semarak itu berlangsung hanya tiga jam, mulai dari jam 14.00
WIB sampai 17.00 WIB. Setelah itu suasana mulai tegang saat PHH
mendorong-dorong barisan terdepan. Baku pukul terjadi dan gas air mata
lantas ditembakkan oleh pasukan. Massa demonstran sempat cerai-berai tapi
barisan pelopor mahasiswa segera melindungi massa dengan membalas serangan
sehingga pasukan tidak bisa mengejar massa. Represi oleh tentara makin kuat
hingga perlahan massa mulai mundur ke kampus Atmajaya dan kampung-kampung di
Bendungan Hilir. Tercatat 90 orang mahasiswa luka dan dibawa ke enam rumah
sakit jakarta seperti RSCM, RSAL Mintohardjo, RS Jakarta, dll. Tiga orang
meninggal pada hari itu.

Tak cukup memukuli mahasiswa dan masyarakat di jalanan, PHH bahkan menyerbu
kampus Atmajaya dan menghajar mahasiswa dan aktivis yang tengah istirahat.
Seorang korban yang dirawat di RS Jakarta, Nur Hamid Ketang dari Nahdatul
Ulama (NU) dan aktif di Masyarakat Profesional untuk Demokrasi (MPD)
mengisahkan bahwa dirinya saat itu sedang tidur lelap di bus karyawan
Atmajaya. Tiba-tiba ia dibangunkan dengan tendangan sepatu lars dan tanpa
sempat bicara apapun sepuluh PHH mengeroyok dirinya. Hamid kemudian
ditinggalkan begitu saja dalam keadaan lemas. Untung ia segera dilarikan tim
penolong ke RS Jakarta hingga mendapat tujuh jahitan di kepala, sementara
matanya lebam dan telinganya masih mengeluarkan darah.

Bentrokan tidak berhenti pada hari itu. Esoknya (24/9) bukan hanya mahasiswa
yang melawan, tapi juga masyarakat yang di antaranya terdiri dari para
pelajar dan karyawan yang diliburkan. Jendral Wiranto menghina kemarahan
masyarakat pada tentara itu sebagai campur tangan preman. "Ini bukan lagi
aksi mahasiswa, tapi preman," ujar Wiranto tanpa merasa bersalah.

Lebih menyedihkan lagi, Pangdam Jaya Mayjen Djaja Suparman secara diam-diam
menggerakkan Front Pembela Islam untuk menyerbu mahasiswa yang bertahan di
Atmajaya. Dan polisi pun menerjunkan personil Kamra yang baru saja selesai
latihan di Komdak Metro Jaya. Mengomentari hal ini, Sekjen Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyatakan, "Jangan sampai kita
terjebak dengan pengalihan isu! Ini bukan soal Islam dan non Islam, tetapi
justru kekuatan di antara masyarakat sipil diadu satu sama lain."

Perlawanan juga terjadi di Surabaya, ribuan mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi yang tergabung dalam GAM (Gerakan Anti Militerisme) dan
FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) berdemo menolak UU Darurat ini.
Bentrokan fisik terjadi ketika demonstran berusaha masuk halaman DPRD yang
dijaga pasukan gabungan Dalmas Polresta Surabaya Utara, Polwiltabes
Surabaya, Brimob, dan Kamra. Sembari mempertahankan pintu DPRD yang
terkunci, Dalmas juga menggunakan truk tanki militer penyemprot air.

Di Yogyakarta dan Jambi, demonstrasi mahasiswa berlangsung damai. Hal ini
bisa terjadi karena elit partai yang menjadi anggota DPRD di dua propinsi
itu mendukung suara mahasiswa. Lebih "aneh" lagi, Polresta Yogyakarta
menyatakan diri bahwa mereka satu aspirasi dengan mahasiswa. Alhasil, aksi
pun berlangsung damai dengan barisan yang panjang melibatkan masyarakat
sampai ke ibu-ibu tua pedagang pasar dan tukang becak.

Rupanya, TNI sendiri sakit telinga menyimak sodokan masyarakat yang begitu
luas. Kapuspen TNI, Mayjen Sudrajat mengumumkan lewat SCTV bahwa TNI menunda
pelaksanaan UU ini. Tampak dengan setengah hati, Sudrajat mengatakan, "TNI
mengharap para aktor-aktor intelektual seperti mahasiswa mensosialisasikan
UU ini ke masyarakat luas. Mahasiswa seharusnya mempelajari UU PKB ini
sebelum menyatakan protes."

Ada sedikit kelegaan ketika mendengar pernyataan Sudrajat tersebut. Tetapi,
seorang pentolan aktivis mahasiswa Forkot yang menolak dikutip namanya
mengingatkan untuk tidak begitu saja percaya dengan ucapan TNI. "Kami justru
mengkritisi kok TNI yang mengumumkan hal itu? Mengapa bukan Habibie lewat
Mensesneg/Menkeh Muladi? Pernyataan Kapuspen itu mengindikasikan bahwa
memang TNI lah yang berkepentingan dengan UU Darurat tersebut. Dan dia
jelas-jelas menyerobot wewenang Habibie yang mempunyai kekuasaan
menandatangani UU tersebut setelah DPR," ujar sang aktivis.

Selanjutnya ia mengemukakan bila mahasiswa siap melakukan gerilya kota untuk
terus menekan elit politik termasuk TNI agar mencabut UU yang disebutnya
biadab tersebut. Kewaspadaan memang diperlukan oleh para mahasiswa dan
segenap elemen masyarakat yang menolak UU tersebut.

Sejarah membuktikan bahwa tekanan militer justru membuat masyarakat menjadi
keras dan pada akhirnya melawan TNI sendiri. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 08:41:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke